Be dan Fashion

Jaman-jaman pedekate, tiap kali ketemu Be, entah di gereja, pas main ke rumah, atau nonton sama keluarganya. Be hampir selalu pakai kostum yang sama: Kaos merah bertuliskan SOCCER, celana panjang jeans, dan sandal kulit warna biru tua hampir hitam. Saya heran sebenarnya, emang nggak punya kaos lain ya? Dan secara saya suka fashion, saya lumayan terganggu sama penampilan cowo yang berantakan atau aneh-aneh. Tapi saya nggak suka juga cowo stylish, saya lebih suka yang simple dan sporty. Jadi walaupun kaosnya bikin saya bertanya-tanya – dia pake terus kaos yang sama atau dia punya kaos yang sama sekodi? – style dia kaya gitu cukup okelah.

Tapi begitu jadian, entah kenapa, mungkin karena berasa udah posisi aman karena udah jadian, selera fashion nya jadi makin ekstrem. Kostumnya tiap kali adalah berbagai macam t-shirt dan polo shirt model oom-oom yang OVERSIZE (beneran sangat-sangat kegedean, mungkin sekitar 2-3 size di atas size dia seharusnya). Plus apa coba? Celana panjang kain warna coklat tua yang juga OVERSIZE. Dan celana kain coklat ini akan dia pake kapanpun dimanapun, tanpa peduli padanan atasannya. Bayangin kaos oversize hijau dan celana panjang kain oversize coklat tua? (Kalo warnanya item sih masih mending kali ya). Seperti saya bilang di atas, saya terganggu dengan penampilan yang berantakan atau aneh-aneh, dan menurut saya ini ANNOYING abis. Tapi secara baru jadian, saya masih enggan kasih masukan ini itu. Errr… sebenernya saya waktu itu sering juga sih kasih masukan dengan cara halus. Tapi si Be kayanya nggak ngeh tuh, atau mungkin terlalu nyaman dengan penampilannya, entah deh.

Kalau saya tanya: kenapa nggak pake kaos dengan ukuran yang bener? Kenapa harus kegedean banget gitu? Jawabannya: Nggak enak pakenya, kalo ngepas, pas bergerak kayak mepet di bagian ketek (armpit hihi). Dan kalau saya tanya kenapa nggak pakai celana jeans instead of celana kain? Jawabannya: Celana jeans berat. ?!*?*!?*!?*!?

Tapi secara saya ini orangnya pemaksa, penuntut, ekspresif, nggak bisa menyimpan sesuatu sendirian dalam hati, apalagi yang annoying bagi mata saya, sedikit demi sedikit, dengan cara yang halus sampai kasar, saya berusaha mengubah style si Be kembali ke jalan yang benar. Saya nggak inget pasti gimana caranya, tapi sepertinya, saya “memperkenalkan” dia sama majalah Esquire, terus saya suka komen-komen style-style cowo  lain yang OK (dia juga sering kok komenin cewe-cewe lain yang cantik dan berbody lebih OK dari saya, saya juga boleh dong! *balas dendam judulnya*), sampai sekali-sekali di kesempatan-kesempatan khusus beliin baju-baju pilihan saya, termasuk nitip baju buat Be waktu papa mama saya business trip ke luar negeri.

Hingga…. saya lupa kapan tepatnya, tapi sekitar di awal tahun ketiga hubungan kami (sekarang hampir menuju tahun kelima), di suatu point, saya tahu misi saya sudah mendapat titik cerah *hapus air mata dulu* yaitu waktu saya memaksa dia beli kemeja kotak-kotak (dengan bagian lengan yang bisa ditekuk dan saku berkancing di kiri dan kanan – tau ga?) yang lagi trend itu. Dia super enggan, malahan mukanya terlihat menderita waktu saya seret ke sana dan ke sini untuk milih. Tapi di fitting room, dia pake, dan lalu komentar dia: “Bagus juga. Ini ukurannya kegedean nggak sih?” (padahal ukurannya udah pas menurut saya, tapi dia masih nanya loh itu kegedean atau nggak!)

YEAY! *loncat loncat kegirangan!!!!* Akhirnya Be bertobat😀

Setelah point itu, progressnya cueeeepaaaaaaaat banget!!!! Hunting sendal dan sepatu aja rempong bener. Dan menurut saya, yang akhirnya dia pilih emang bagus. Salah satunya, sekarang dia punya sepatu semi pantofel (kaya pantofel tapi  lebih casual – saya nggak ngerti istilah-istilah barang fashion cowo) yang dipake ke-mana-mana. Celana kainnya kadang masih dipake, tapi yang warna hitam (yang coklat kayanya hilang entah kemana! THANKS GOD! *beneran bukan saya yang ilangin loh!!*). Tapi celana yang biasa dia pake adalah celana jeans atau celana Giordano favorit nya yang modelnya ngepas. Atasannya, macam-macam (ya! udah berkembang biak!) kemeja kotak-kotak, atau T-shirt yang lumayan pas badan. Dia juga rempong pas milih kacamata, tapi akhirnya saya suka banget kacamata yang jadi pilihannya dan dia pake sekarang. Soal tas, jam tangan, gaya rambut, juga dia centil banget.

Sekarang dia lagi mau bikin jas karena dia bakal jadi bestman di wedding sahabat saya. Dan dia rempong banget milihin bahan jas-nya, model jas-nya. Kerahnya harus begini lah, potongannya harus begitu lah, kancingnya harus dua lah, dan lain-lain.

Aduh! Saya kan nggak suka cowo stylish! Takut dandannya nanti kalah lama sama dia! Takut kalah centil sama dia! Aduuuuh dosis pelajaran fashionnya kayanya over nih. *oops*

2 thoughts on “Be dan Fashion

  1. hihihihih hayoloh desainerkepo, nanti kalo si mas be jadi cowo metro yg (terlalu) stylish gimana.. nyesel ga lo uda ngenalin dia ke fashion? nanti kalo dikomenin alisnya ga rapih gimana hihihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s