Harta Dari Raja

Suatu hari, seorang Raja yang sangat mulia dan berkuasa memanggil pangeran dan putri ke hadapannya. Mereka adalah anak-anak kesayangan-Nya. Raja memberi mereka masing-masing sebuah harta yang teramat berharga, sambil berpesan,

“Pangeran, putri, ini adalah harta-Ku yang Kupercayakan kepadamu. Aku hanya mentipkannya kepadamu. Kamu harus menjaganya dengan baik. Suatu saat nanti, Aku akan memberikannya kepada pangeran dan putri yang setia, yang kelak akan menjadi pasangan kalian.”

Demikanlah, pangeran dan putri masing-masing memegang sebuah harta yang teramat berharga. Mereka menjaganya dengan hati-hati sambil menanti hari dimana pangeran dan putri yang akan menjadi pasangan mereka tiba untuk menerima harta tersebut.

Namun itu tidak berlangsung lama. Mereka mulai bosan menjaganya. Harta itu mulai berlumut dan berkarat. Beberapa tahun kemudian, berbagai pikiran mulai berkecamuk dalam kepala pangeran dan putri.

Pangeran berpikir, “Apakah putri yang baik dan setia untukku itu benar ada? Toh, perempuan-perempuan di sekitarku juga cantik-cantik. Memang mereka penuh luka dan cacat di sana-sini, mereka juga bukan putri. Tapi sayang sakali kalau harta ini mubazir. Lebih baik kuberikan saja pada mereka”

Putri berpikir,”Apakah pangeran yang baik dan setia untukku itu benar ada? Bagaimana kalau Raja tidak pernah menemukannya? Bagaimana kalau ia tidak mau menjemputku? Pada siapa harta ini harus diberikan? Apakah aku harus sendirian menjaga harta ini hingga tua nanti? Apa salahnya kuberikan pada siapa saja yang mau? Daripada aku sendiri.”

Demikianlah, pangeran dan putri membagi-bagikan hartanya ke sembarang orang. Ternyata mereka yang menerima harta itu tidak menghargainya. Harta itu diludahi dan diinjak-injak. Hingga akhirnya Raja memanggil pangeran dan putri kembali untuk memperlihatkan harta mereka.

Harta-harta mereka telah menjadi onggokan sampah busuk.

Raja menegur mereka, “Harta itu milik-Ku. Mengapa kalian tidak menjaganya baik-baik? Apa yang akan kalian berikan jika pangeran dan putri pasangan kalian tiba dan meminta harta hak mereka?”

Pangeran dan putri mencoba membela diri, “Apakah mereka benar ada? Kami mencoba membagi-bagikannya tapi tidak ada yang menghargainya. Apa akan ada orang yang menghargainya?”

Raja menatap mereka tajam, “Harta itu milikku. Akan kuberikan kepada siapa aku berkenan. Tidak akan ada yang mengerti betapa berharganya harta itu selain pangeran dan putri yang telah Kupilih, karena mereka juga anak Raja. Harta itu adalah hak yang Kuberikan kepada mereka. Apa yang akan kalian berikan jika mereka tiba kelak?”

Pangeran dan putri mengakui kesalahan mereka. Raja bermurah hati membersihkan harta mereka, bahkan Ia mencucinya dengan darah-Nya hingga bersih dan wangi. “Aku bisa memulihkan keadaan harta kalian. Tapi Aku tidak akan mengembalikan kepingan-kepingan harta yang telah kalian bagikan kepada orang-orang lain,” kata Raja.

Ya, harta itu telah bersih tapi tidak lagi lengkap. Dan hanya harta yang tak lengkap itulah yang bisa mereka berikan kepada pangeran dan putri pasangan mereka kelak.

Kisah yang sedih? Ya, itulah kisah hidup kita, teman-teman.

Kita adalah anak-anak Raja. Tuhan menjanjikan kita bertemu pasangan hidup yang berkenan kepada-Nya suatu hari nanti. Tapi kita lebih sering hanya mempercayai janji itu setengah hati. Kita seringkali mempertanyakan apakah benar ada pasangan hidup yang Tuhan berkenan di luar sana?

Akibatnya, kita mencoba pacaran dengan siapa saja yang ada. Siapa saja yang mungkin terlihat cantik, menarik, baik. Kalau mulai nggak suka, kita jadi gonta-ganti pacar. Kecintaan pada Tuhan udah nggak jadi syarat utama untuk menemukan seorang pacar.

Teman-teman, Tuhan memberikan harta yang sangat berharga, yaitu hati. Ketika kita pacaran, kita memberikan kepingan hati kita kepada pacar kita. Waktu kita berantem, mungkin hati kita terluka. Ketika kita di-duain, mungkin hati kita diinjak-injak. Ketika kekudusan kita dilanggar, mungkin hati kita diludahi.  Semakin banyak pacaran dengan orang yang salah, semakin banyak keping-keping hati kita yang rusak berantakan.

Ingatlah bahwa hati kita adalah milik Tuhan. Dan suatu hari nanti, ketika kita mengucapkan janji pernikahan di hadapan Tuhan, Ia akan memberikan hati kita kepada istri atau suami kita. Akankah kita memberikan hati yang telah hancur kepada suami dan istri masa depan kita?

Jika kita sudah terlanjur membuang beberapa keping hati, Tuhan sanggup memulihkannya. Tapi keping-keping yang telah kita bagi-bagikan dengan ceroboh nggak akan kembali lagi, dan tinggallah hati kita yang nggak utuh buat suami dan istri masa depan kita.

Teman-teman, ingatlah bahwa kita adalah anak-anak Raja dan tentunya kita cuma pantas berdampingan dengan anak-anak Raja juga, karena hanya anak-anak Raja yang mengerti betapa berharganya hati kita dan betapa mulianya sang Pemberi Hati.

Soli Deo Gloria (DI)

Note: Tulisan ini terinspirasi dari ‘Keping-Keping Hati’ karya Grace Suryani. Saya tulis untuk dimuat dalam buletin remaja gereja saya edisi Desember 2008. Kalau muncul pertanyaan apakah Be pasangan yang Tuhan perkenankan untuk menjadi pangeran saya kelak? Saya juga nggak berani menjawab dengan pasti. Yang jelas, kami mengawali hubungan dengan doa mencari kehendak-Nya, terus mencari kehendak-Nya hingga hari ini, dan jatuh bangun dalam menjalin hubungan yang kudus dan memuliakan Dia.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s