The Most Romantic Place

Finally, saya memenangkan VnC playing cards dari Arterie. Untung saingannya nggak banyak, jadi saya menang gampang. Hehe. Btw, karena di kartu ini kita bisa nulis nama kita, saya minta ditulisin alamat blog ini aja. Jadi nanti pas saya kasih blog ini jadi hadiah buat Be, saya bakal kasih playing cards ini dibungkus kado. Harapan saya, dia bakal excited terima playing cards spesial ini, dan lalu jadi dobel excited waktu ngeh ngeliat alamat blog-nya.😀. Kartunya kayak gini… Nanti kalo udah dapet barangnya, saya upload ya.

Yang saya mau ceritain, gara-gara ini, saya jadi inget lagi peristiwa hampir dua tahun lalu, di the most romantic place buat saya: RS Mitra Keluarga Kelapa Gading.

Tepatnya 2 Juli 2009, kalo gak salah hari Kamis. Hari itu saya harus ke kampus untuk ngurus kelulusan dan ngambil barang-barang dari rumah kontrakan bareng si Kittenholic. Jauh hari sebelumnya, kita dan beberapa sahabat di gereja udah ngerencanain mau main ke Dufan. Jadi plan-nya, saya dan Kittenholic dari Karawaci akan langsung ke Dufan dan ketemu dengan mereka di sana. Be hari itu memang nggak bisa ikut karena masih ada ujian.

Menjelang masuk pintu Taman Impian Jaya Ancol, saya menerima telepon dari Koko saya. Katanya, Papa saya kena stroke. Saya yang emang dari sananya terbiasa tenang dan calm, tanpa emosi ngasih tahu ke Kittenholic. Saya bilang, saya akan nganter dia sampe Dufan (saya yang bawa mobil), tapi saya nggak ikut turun. Saya masih sempet minta tolong dia buat ‘ngebohong’ ke temen-temen lain dan bilang aja kalo ternyata saya nggak bisa ikut karena ada urusan yang belom kelar sama dosen pembimbing TA saya. Waktu itu pikiran saya, cuma nggak mau mereka jadi nggak bisa enjoy mainnya karena merasa nggak enak sama kondisi saya.

Jujur saat itu, saya nggak kebayang seperti apa kondisi Papa saya di RS. Saya punya sedikit pengetahuan tentang stroke, tapi saya tahu ada juga jenis stroke ringan, di mana pasiennya nggak sampe harus lama-lama opname, dan bahkan nggak sampe lumpuh. Tapi apa yang saya temui di RS jauh dari bayangan saya. Papa saya terbaring di sana, nggak berdaya. Beda banget sama Papa saya yang biasanya tegap dan selalu ngomong dengan suara superkencang. Di sana, saya denger Koko saya cerita kejadiannya, gimana dia menemukan Papa saya udah tergeletak di bak mandi. Dari cerita-cerita itu saya mulai ngeri ngebayangin kejadiannya, dan mulai panik dalam hati memikirkan kemungkinan-kemungkinan apa yang bisa terjadi.

Nggak banyak airmata yang mengalir waktu itu. Sesekali Cici saya (yang emang paling cengeng di antara kami) nangis. Lalu Mama saya nangis sebentar waktu Papa saya didorong ke ICU (ya, akhirnya Papa saya langsung digiring ke ICU dari UGD). Dan nggak pernah saya bayangkan, ternyata ini semua hanya awal dari rangkaian peristiwa, perubahan, dan tantangan yang harus keluarga kami hadapi.

Hari itu, saya baru kabarin Be tentang hal ini setelah saya yakin dia udah kelar ujian. Lalu dia langsung ke rumah sakit menemui keluarga saya. Dan sejak itu, nyaris tanpa absen, selama mungkin setiap harinya, dia menemani saya di RS.

Kalo nggak salah, Papa saya seminggu di ICU, yang bikin saya dan Mama harus tidur di ruang tunggu keluarga pasien selama seminggu, dengan gelaran tikar dan kasur, dengan tas yang kami tindih badan karena takut hilang, bareng sama keluarga-keluarga lain yang juga nunggu pasien. Beberapa kali kami terbangun dengan keributan keluarga pasien karena ada yang meninggal di ICU. Kondisinya bener-bener nggak nyaman. Bersyukur peristiwa ini terjadi ‘tepat’ setelah saya lulus kuliah, jadi saya bisa full-time temenin Mama. Setiap malam sebelum tidur saya berkaca-kaca karena mikirin Mama saya yang udah paruh baya ini harus ngalamin tidur di tempat yang kurang layak. Tapi kita emang nggak punya pilihan lain. Cici dan Koko saya udah punya keluarga sendiri yang harus diurus. Tapi inipun ternyata baru awalnya.

Setelah seminggu, Papa akhirnya dipindahin ke kamar perawatan. Dan ternyata di sinilah mulainya rangkaian tantangan yang sebenarnya. Di kamar perawatan, nggak ada lagi perawat yang stand-by 24 jam. Mereka hanya datang kalo dipanggil. Jadi, untuk urusan yang ‘ringan’ kayak buang air kecil dan minum obat, keluarga diharapkan bisa membantu pasien. Dan urusan ini ternyata nggak gampang sama sekali. Karena stroke, Papa saya menjadi orang yang berbeda. Bisa jadi karena stress harus menerima keadaan tubuhnya yang mendadak lumpuh sebelah (tadinya Papa saya itu sangat sangat aktif dan workaholic), dia jadi sangat mudah mengamuk, dan menolak segala jenis pengobatan, bahkan nggak segan bertindak kasar (padahal aslinya dia paling anti ‘main’ fisik).

Begitu banyak hal yang menguji kesabaran dan ketahanan saya (yang bareng Mama hampir 24 jam temenin Papa di RS).

Mulai dari Papa yang ngamuk dan narik paksa sonde (selang untuk masukin zat makanan lewat hidung)-nya.
Papa yang bangun tengah malam dan marah, lalu ngelempar Mama pake guling.
Papa yang tengah malam nolak minum obat, Mama udah tidur kelelahan, dan saya jadi yang harus membujuk dan memaksa dia minum obat.
Papa yang menolak dirawat salah seorang perawat karena dia berpikir perawat itu punya niat jahat padanya (ini semacam halusinasi).
Papa yang mengamuk karena ditinggal Mama pulang ke rumah sebentar untuk mandi dan ambil barang.
Papa yang nuduh Mama selingkuh sama salah seorang fisioterapis (ini juga semacam halusinasi).

Lalu ada juga sepupu yang ‘judul’nya mau jenguk tapi malah ngobrol dengan berisik dan nggak pulang-pulang.
Dan teman Papa yang setengah maksa mau temenin Mama nungguin Papa padahal Mama udah nggak nyaman dan ingin dia pulang.
Dan berlusin-lusin orang-orang yang tiap harinya datang dan pergi menyatakan simpati. Sungguh baik hati tapi cukup melelahkan buat kami, keluarganya.

Belum lagi ditambah pekerjaan dadakan yang tiba-tiba harus saya lakukan: mengurus keuangan dan pembukuan untuk perusahaan Papa saya. Pekerjaan yang sangat berat buat saya yang latar belakangnya desain, jauh dari hitung-hitungan dan angka-angka.

Dan semua ini nggak selesai ketika Papa pulang dari RS sebulan kemudian. Tapi berlanjut terus sampai masa-masa dia rawat jalan di rumah.

Semua perubahan, ketegangan, dan tekanan itu, bikin saya lelah luar biasa (bahkan barusan saya menghela napas waktu selesai ngetik ini semua). Apalagi baik Mama, Cici, dan Koko saya curhat ke saya, membuat saya merasa beban saya tambah banyak. Saya jadi sangat mudah marah, sangat mudah sedih, sangat mudah tersinggung. Saya marah setiap hari, menangis setiap hari, tapi nggak pernah saya tunjukin ke keluarga saya dan orang lain.

Jadi ke siapa?

Ke Be.

Be, yang dengan sabar, tanpa menyerah, selalu mendampingi saya walau di masa itu saya bener-bener berubah jadi pribadi yang mungkin nggak dikenalnya. Semua potensi karakter buruk yang ada di dalam diri saya saat itu  keluar. Segala kata-kata kasar, kemarahan, frustasi muncul ke permukaan. Hal-hal baik yang dia lakukan ke saya bisa saya balas semprot dengan kemarahan cuma karena mood saya berantakan. Tapi dia tetap memilih untuk ngapelin saya tiap hari, walau saya yakin, lebih mudah buat dia untuk nggak ketemu saya dan menghadapi ‘monster’ dalam diri saya yang keluar di masa-masa itu.

Be juga yang nemenin Mama dan Papa saya di RS waktu saya harus ke kampus ngurus surat kelulusan. Be juga yang temenin saya ke Pasar Pramuka, beli barang-barang yang dibutuhkan untuk persiapan Papa rawat jalan di rumah. Be juga yang setiap hari menghibur, menguatkan, sesekali diam mendengar dengan sabar, dan sesekali melucu memancing tawa. Sempat juga keluarga Be khusus jemput saya buat makan di mall, sempat juga ngajak saya nginep di Gunung Geulis. Dan mereka nggak banyak bertanya tentang Papa, seolah mereka mengerti saya sungguh butuh refreshing, dan ogah ngebahas itu.

Di masa itu, saya berubah jadi tertutup. Nggak ada teman saya yang tahu keadaan saya sesungguhnya, bahkan sahabat saya si Kittenholic. Saya tersenyum ketika ketemu mereka, saya bahkan bisa ketawa. Saya bisa jawab pertanyaan dengan cool. Tapi cuma kepada Be, saya bisa ngamuk dan nangis bersamaan. Saya sampe sempet mikir bisa-bisa dia putusin saya karena nggak tahan. Tapi di sini kita, dua tahun kemudian, masih dengan status yang sama: pacar. Hehe

Sebuah hal yang saya syukuri luar biasa, karena Tuhan mengijinkan kejadian ini terjadi di waktu yang sangat amat tepat:
1. Tepat ketika saya baru aja menyelesaikan kuliah. Udah kelar sidang, jadi udah tenang, tapi belum kerja, jadi nggak perlu pusing mikir cuti.
2. Tepat ketika hubungan saya dengan Be sudah cukup stabil, sudah cukup dekat, dan cukup membuat saya nyaman untuk menjadi diri saya sendiri di hadapannya.

Memang, rancangan Tuhan nggak ada yang sembarangan. Semua indah pada waktunya.🙂

4 thoughts on “The Most Romantic Place

  1. ah Di, gw jadi ingat masa-masa itu.. ingat masa2 yg berat buat lo, dan ngebingungin buat kita, karena ga tau harus kaya gimana ke lo…Rasanya jadi pengen bilang thanks juga ke Be karena udah ada di sisi lo terus selama masa2 sulit :p

  2. Pingback: Akhirnya Si Kartu Tibalah « Cerita Bendi

  3. Pingback: 24 Hal Manis | Cerita Bendi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s