“Cina Gadungan”

Mengapa saya sangat menginginkan kebaya ini?
Karena saya bangga disebut Cina gadungan. Ya, bukan sekali-dua kali saya dipanggil Cina gadungan.
Karena berwajah oriental tapi lebih banyak mengerti istilah Jawa daripada Mandarin
Karena lebih menyukai batik, bahkan lebih daripada teman-teman saya yang Jawa asli.

Mengapa saya sangat menginginkan kebaya ini?
Karena saya bangga disebut Cina gadungan. Ya, bukan sekali-dua kali saya dipanggil Cina gadungan.
Karena sejak kecil saya selalu bersemangat berlari menuju TV ketika ada tari tradisional ditampilkan di TVRI.
Karena waktu batik belum jadi trend, saya sudah mengajak Bunda keliling Jakarta untuk mendapatkan batik yang cocok untuk remaja.

Mengapa saya sangat menginginkan kebaya ini?
Karena saya bangga disebut Cina gadungan. Ya, bukan sekali-dua kali saya dipanggil Cina gadungan.
Karena waktu teman-teman memakai gaun ke pesta, saya memilih kebaya modern dipadukan dengan celana.
Karena saya tetap bangga menyatakan saya suka kebaya dan batik, sekalipun teman-teman remaja saya mengernyitkan dahi.

Mengapa saya sangat menginginkan kebaya ini?
Karena saya bangga disebut Cina gadungan. Ya, bukan sekali-dua kali saya dipanggil Cina gadungan.
Karena saya menemukan calon suami yang sama oriental-nya dengan saya, tapi tak kalah ‘gadungan’-nya.
Karena dia terus memarahi temannya yang mendukung Cina ketika negara itu melawan Indonesia di sebuah pertandingan bulutangkis.

Mengapa saya sangat menginginkan kebaya ini?
Karena saya bangga disebut Cina gadungan. Ya, bukan sekali-dua kali saya dipanggil Cina gadungan.
Karena ketika remaja, kami diminta memakai jas dan gaun untuk sebuah acara formal gereja, kami memilih batik dan kebaya.
Karena saat itu kami dengan bangga tampil beda, sekaligus mencoba mempopulerkan kebaya dan batik di antara remaja.

Mengapa saya sangat menginginkan kebaya ini?
Karena saya bangga disebut Cina gadungan. Ya, bukan sekali-dua kali saya dipanggil Cina gadungan.
Karena kami berniat mengadakan pernikahan dengan tema, dekorasi, musik, dan makanan Indonesia.
Karena konsep pernikahan kami itu tentu tak akan lengkap tanpa sebuah set kebaya cantik.

Dan tentunya, karena kebaya karya Anda tentu akan terlihat lebih unik dan menjadi pusat perhatian
jika dikenakan di sebuah pesta pernikahan pasangan keturunan Cina.
Bagaimana menurut Anda?

–o0o–

Bingung? Udah lama absen posting, tau-tau posting nggak jelas gini. Hehehe. Jadi begini ceritanya… saya emang dari dulu suka kebaya, tapi nggak pernah mikir kalo suatu saat saya akan merid dengan pake kebaya. Ehtapi… makin ke sini, saya merasa makin ‘diteguhkan’ secara banyak yang bilang saya pantes pake kebaya, dan secara Be juga cinta budaya Indonesia, dan juga…ternyata ortu kami nggak keberatan deh sepertinya.

Lalu, sekitar bulan lalu, Femina terbit dengan bonus sisipan tentang pernikahan tradisional, dan ada sayembara berhadiah kebaya pengantin dari Yasra. Jadi nanti pemenangnya bakal dijahitin kebaya pengantin sama sang desainer. Jiaaaaaah ngiler doooong!!!! *ngelap mulut*. Ketentuannya cuma satu: bikin tulisan tentang kenapa saya sangat menginginkan kebaya ini. Sejujurnya, belum ada rencana pasti sih soal pernikahan, tapi saya pede aja, demi kebayaaaaaaa. Hihihihihihi

Jadi, setelah merenung-renung, mau ikut atau nggak, saya memutuskan untuk ikut aja… toh nggak rugi apa-apa juga kan. Dan saya langsung kepikiran topik yang mau saya angkat, ya tentang saya dan pacar yang keturunan Tionghoa (saya akhirnya pake kata ‘Cina’ karena rasanya lebih catchy. Tionghoa terdengar terlalu formal) tapi sangat cinta budaya Indonesia walaupun yang lain mungkin mengangkat alis *gapapa asal jangan angkat ketek hahaha* saking bingungnya. Di kantor bahkan saya terkenal sebagai “cina KW2” atau “cina gadungan” karena cuma tahu tentang budaya Tionghoa tapi nggak ngejalanin, karena bisa mual-mual cium bau minyak babi, karena lebih bloon bahasa Mandarin-nya daripada temen saya yang dari Sunda, dan karena saya sukaaaaa batik dan kebaya.

Eniwei, saya bersyukur banget loh, punya pasangan yang sepaham soal ini. Salah satu bagian di mana saya dan Be berusaha ‘mempopulerkan’ kebaya dan batik di kalangan anak-anak remaja di gereja kami, beneran tuh. Waktu itu, kami belom lama jadian, diminta jadi pembaca nominasi di acara gereja yang sebenernya dress-code-nya formal. Yang mereka maksud formal ya… cocktail dress dan jas. Ehtapi…. kami milih pake kebaya dan batik, trus abis baca nominasi, kami macam mengkampanyekan budaya Indonesia ke audiens. Hehe lucu kalo inget kejadian itu… padahal waktu itu, batik belom booming kayak sekarang loh…. belum ada hari batik nasional… belum ada trend batik gara-gara mau direbut negara tetangga. Wong, cari batik yang pas buat Be aja susah kok, saking nggak ada yang jual… Tapi kita memang sehati dan udah terlanjur cinta budaya Indonesia.

*mendadak inget seorang pria yang pernah deketin saya di masa lalu, mengernyitkan dahi tanda tak setuju waktu saya bilang suka batik dan kebaya. Untuk nggak jadi sama dia, tersiksa kali ya saya…* *ehem*

Jadi, setelah baca tulisan di atas, menurut kalian, kira-kira saya bakal menang nggak ya?

Yah… setidaknya…doakan kami yaπŸ™‚

Doakan kebaya-nya jadi milik kami!!!

7 thoughts on ““Cina Gadungan”

  1. Gue nggak terlalu suka kebaya sih (although they are very pretty) but I like Batik, terutama yang udah mbladus-mbladus.

    Tapi gue lebih suka dipanggil orang Indonesia ketimbang orang Cina. For the most obvious reason, gue lahir dan besar di Indonesia, ngomong sehari-hari pakai bahasa Indonesia bahkan Jawa dan nggak bisa bahasa Mandarin sedikitpun, ngerti budaya-nya aja juga nggak. I’m not denying my heritage but I am Indonesian.

    Dan kayaknya entri lo cukup unik dan berpotensi untuk menang *sok tahu* Good luck ya!

    • Semoga juri2 di sana juga berpikir yang sama dengan dirimu. Hihi. Btw iya loh, sebenernya gw juga nggak suka dipanggil2 cina. Makanya ada ‘kebanggan tersendiri’ waktu dibilang Cina gadungan. Dan makin seneng kalo ada yang tanya: “Lo sebenernya ada keturunan Cina-nya nggak sih?”. Dan ini beneran kejadian, ditanyain sama temen yang udah temenan sekitar setengah tahun. Dia bilang: “awalnya liat lo, gue uda mikir lo ada cina-nya, tapi makin lama kenal kok makin ga kaya Cina.”. Hehe senang diperhitungkan sebagai orang Indonesia, dan memang saya orang Indonesia kok!!!! *galak*

  2. Lycka Till!! (maaf gaya pake bhs swedia..πŸ˜› hehehe) anyway it means Good Luck!!

    Tulisannya bagus banget.. semoga menang yaa.. ^__^

  3. Pingback: Kalah….tapi menang « Cerita Bendi

  4. Pingback: It’s Official: We Are Engaged « Cerita Bendi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s