Mimpi

Waktu abege, saya ‘bermimpi’ dianter Papi saya ke altar waktu pemberkatan pernikahan. Ceritanya gaya barat gitu. Maklum kebanyakan nonton pilem kali ya… Padahal di gereja saya biasanya pengantin pria dan wanitanya masuk barengan dari gerbang ke altar. Menurut saya, dianter ortu itu seperti simbolisasi Papi mempercayakan putrinya ke si pengantin pria, seperti Allah mempercayakan Hawa kepada Adam.

Waktu cerita mimpi ini ke Mami, dia cuma bilang: “Papi mana mau?!” Maklum ye, Papi saya emang orangnya rada kaku gitu. Saya dengan pedenya, cuma bilang, “Harus mau ah, aku paksa nanti.”

Tahun 2009, Papi kena stroke yang melemahkan tubuh bagian kirinya, sehingga langkahnya nggak bisa sempurna. Emosinya juga terkadang kurang stabil

Sejak saat itu, saya merasa mimpi saya nggak penting lagi. Saya pikir, udah pasti dia nggak mau, dan kasian juga kalo harus tertatih-tatih jalan ke altar sambil diperhatiin sekian banyak pasang mata. Yah, dia bisa hadir dengan sehat aja udah cukup buat saya.

Lalu… Tepat 3 bulan sebelum tanggal pernikahan saya dan Mas Ben, Papi terserang stroke kedua, sejak itu dia tak pernah sadar lagi, hingga 5 hari kemudian dijemput Tuhan.

Hari itu tadinya saya berencana ke percetakan buat nyetak undangan, nggak pernah menyangka sekarang harus merevisi semua, menambahkan tanda salib di belakang namanya…

Ternyata Papi bukan sekedar nggak bisa mengantar saya ke altar, tapi bahkan untuk hadir secara fisik juga kini ia tak bisa.

Kalau mau bertanya pada Tuhan: “kenapa harus sekarang?”
Rasa-rasanya saya hampir bisa mendengar Dia menjawab: “kenapa tidak sekarang?”

Ya, karena nggak pernah ada waktu yang ‘tepat’ untuk kehilangan sosok yang begitu penting buat kita.

Tapi indahnya iman adalah ketika dalam dukacita saya tetap bisa meyakini, rancangan-Nya selalu indah dan tak pernah salah.

Sekalipun pikiran bertanya-tanya, hati ini bisa dengan damai menerima rencana-Nya.

Selamat jalan, Papi. Sampai jumpa di sana *entah kapan*

Setiadie Koeswoyo
(14 Mei 1950 – 2 Februari 2012)

10 thoughts on “Mimpi

  1. Turut berduka cita, Di!

    I can’t honestly imagine how it feels to lose someone very important like a father, but stay strong, ok? My prayers are with you and your family.

  2. Dear,
    I am so sorry to read this post. May the good Lord gives strength to you and your family in a hard time like this. *hugs*

  3. Oh my.. gw turut berduka cita ya.. Hope you and your family will stay strong. We hardly know each other except for a chance encounter online.. but I feel a deep sadness even trying to just imagine what if… About 2.5 months to go.. stay strong & be brave. my prayers are with you all…

    p.s. gw jg lg nunggu final design utk undangan…. really. all the best.

  4. My deepest condolences for you and your family ya Di. Semoga beliau bahagia disisi-Nya. I believe from above, he will smile when he sees you walking down the altar. Stay strong.

  5. Pingback: Dua di Dua Februari | Cerita Bendi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s