“Modal pernikahan adalah cinta”

Itu bukan kalimat dari sinetron atau telenovela. Kalimat itu keluar dari mulut Mami saya.

Sungguh ajaib ya. Orangtua biasanya justru menekankan sebaliknya: “Emang mau makan cinta?”. Begitu kira-kira. Tujuannya ya memang buat kebaikan para anak yang terkadang suka gegabah ingin segera dipersatukan di usia muda, hanya karena dimabuk cinta.

Jadi saya juga lumayan amazed waktu denger dia menasehati saya begitu, waktu saya curhat segala kekuatiran saya, gak lama setelah Mas Ben dan saya memutuskan untuk menikah. Dan kalimat yang klise itu jadi begitu nyata ketika keluar dari mulut Mami.

 

Saya lahir ketika usia Papi dan Mami udah di akhir 30-an tahun. Waktu itu kondisi ekonomi Papi sudah sangat stabil dan malah sedang di masa meningkat dengan pesat. Mami seorang ibu rumah tangga dan Papi seorang staff di perusahaan swasta sekaligus pengusaha, yang supersibuk tapi fleksibel waktunya. Biasanya Papi berangkat kerja agak siang tapi pulang sangat malam.

Dari kecil, saya nggak pernah melihat kemesraan di antara Papi dan Mami. Yang ada hanya Papi bekerja keras dan Mami melayaninya di rumah. Nggak ada bunga, hadiah, kecupan, rangkulan, genggaman tangan. Bahkan kata-kata manis atau pujian rasanya juga nggak pernah terdengar. Ya, mereka berkomunikasi, ngobrol ini itu, sambil Mami melayani Papi, tapi cuma itu. Tapi waktu itu saya masih kecil dan saya pikir memang seperti itu hubungan suami dan istri.

Saya bertumbuh besar, kami pindah ke rumah yang lebih besar, dan Papi semakin sibuk bekerja. Berangkat kerja tetap siang, tapi pulangnya bisa subuh. Karena saya semakin besar dan semakin punya pemikiran sendiri, semakin banyak rasanya ketidakcocokan antara saya dan Papi. Kami nggak pernah bertengkar karena saya cenderung menghindari topik-topik yang saya yakin nggak akan setuju dengannya. Sebenernya dipikir-pikir, ini karena karakter saya dan Papi yang teramat mirip, tapi pemikiran kami teramat berbeda. Haha.

Dan ketika saya mulai abege, dan mulai mengenal apa itu cinta-cinta-an dan pacar-pacaran dengan lebih ‘dalam’ (dalam sih waktu itu berasanya hehe). Saya mulai mempertanyakan, apakah sebenarnya masih ada cinta di antara Papi dan Mami? Atau mereka cuma melakukan tanggung jawab dan kewajiban aja karena udah terlanjut berkomitmen di hadapan Tuhan?

Tapi tentunya pertanyaan ini nggak pernah saya ajukan ke salah satunya.

Lalu saya beranjak semakin dewasa, hubungan dengan Mami makin akrab macam sahabat, sampai pernah saya tanya, “Kok dulu mau sih sama Papi?” —> jangan ditiru!!!!! Ini pertanyaan kurang ajar!!!! *anak durhaka * *pukul-pukul diri sendiri ala film kungfu * hehe

 

Jawab Mami: “Dulu Papi nggak kaya gitu….”

 

Ya mari kita flashback sedikit ke masa lalu.

Papi dan Mami pacaran di usia sangat muda. Waktu itu mereka baru aja lulus SMP . Dua-duanya aktifis di gereja. Papi dengan muka ganteng, selera humor, dan kebaikan hatinya, adalah idola para remaja wanita. Mami adalah gadis pendiam, nggak pandai bergaul, gemuk, dan hitam (ini deskripsi Mami sendiri, kalo menurut saya mah dia lebay aja wong cantik gitu Haha). Dan walaupun Engkong (papinya Mami) berusaha supaya Mami nggak buta karena satu pria dan tetap berteman sama teman-teman pria lain (nggak pacaran dulu), hati Mami terlanjur kepelet kayaknya.

Singkat cerita, mereka mereka menikah ketika usia Papi 24 tahun dan Mami 23 tahun. Tinggal di rumah di sebuah kampung, tanpa listrik dan telepon, di mana setiap pagi Mami harus nyiremin jalan depan rumah karena banyak anak-anak yang suka BAB di sana. Papi nggak punya penghasilan tetap, Mami ‘cuma’ membantu Emak (mamanya Mami) bikin kue.

Jangan salah…. sebelum menikah, hidup mereka lumayan nyaman. Setidaknya mereka tinggal di rumah yang nyaman, lengkap dengan asisten rumah tangga. So, setelah menikah itu mereka beneran downgrade sejadi-jadinya. Kok mau? Karena cinta, boooook.

Lalu, dengan berbekal hanya ijazah SMA, Papi akhirnya dapet pekerjaan tetap yang jujur aja ecek-ecek banget. Mami cerita kalo Papi bahkan nggak punya meja kerja sendiri. Tapi karier nya meningkat perlahan tapi pasti, dapet objekan-objekan lain yang menghasilnya, sampai akhirnya bisa membeli rumah dan mobil impiannya.

Siapa yang selama itu ada di belakangnya, mendukung, dan mengurus semua masalah rumah tangga yang nggak sempat Papi tangani? Mami tentunya.

Ya, dari jaman pacaran juga Papi nggak pernah romantis tapi Mami menyukai bentuk-bentuk perhatian dan humor-humor Papi. Dan hal-hal yang Mami sukai dari Papi ini ternyata memudar seiring waktu, seiring kesibukan yang semakin menggunung, dan seiring tuntutan hidup yang membebani.

 

Tapi begitupun, Mami selalu ngomong, cintalah yang membuatnya bertahan melewati semua tantangan.

 

Ajaibnya, nggak lama setelah saya melontarkan pertanyaan durhaka itu, pelan-pelan saya melihat perubahan dalam pola hubungan mereka. Waktu itu saya udah tinggal di rumah kontrakan di Karawaci dan cuma pulang kalo weekend. Dan hampir tiap kali saya telepon Mami, demikian percakapan yang terjadi…

 

Saya: “Mi, lagi nggak di rumah ya? Lagi di mana?”
Mami: “Lagi di Melrimba nih”
Saya: “HAH?! Ngapain?”
Mami: “Makan poffertjes”
Saya: “Sama siapa aja?”
Mami: “Sama Papi doang”

 

Dan begitulah di masa-masa itu, mereka nge-date mulu. Sering bener ke puncak pulang-pergi di hari yang sama cuma buat makan di Kedai Sunda atau makan poffertjes di Melrimba dan duduk-duduk. Sempet juga mereka ke negeri tetangga beberapa hari. Memang ada bisnis yang harus Papi urus sih, tapi dikit doang. Sisanya mah jalan-jalan.

Apakah Papi mendadak jadi romantis? Kaga juga sih. Separuh perjalanan-perjalanan itu diisi dengan adegan Papi sibuk nelpon rekan-rekan bisnisnya sementara Mami tidur di jalan. Hehe Tapi dua-duanya keliatan hepi kok walau cuma begitu doang.

Dan setelah dipikir-pikir… mereka kayak gitu setelah saya keluar dari rumah. Berarti saya penghalangnya dong yah selama ini? *JEDENG

 

Haha

 

Lalu fase berikutnya adalah… Juli 2009, Papi terkena stroke pertama.

Saya sedang dalam perjalanan dari Karawaci ke Dufan buat merayakan kelulusan, waktu dikabari kalo Papi stroke. Di Rumah Sakit, saya menemukan Papi yang udah nggak sadar, dan Mami yang nangis panik.

Sekitar seminggu (lupa tepatnya), Papi dirawat di ICU. Dan kalo ada yang belum tahu, pasien ICU harus ditunggu 24 jam karena kalo sewaktu-waktu terjadi apa-apa dan butuh ambil tindakan, harus ada keluarga yang kasih keputusan dan tandatangan. Dan ruang tunggu ICU adalah ruang tunggu massal. Selama seminggu itu, setiap malam saya cuma bisa menahan air mata, mikirin Mami harus tidur di tiker di atas lantai sebuah ruang untuk umum. Tapi selama itu Mami nggak ngeluh apa-apa, cuma mengutarakan kekuatiran-kekuatirannya sambil tetep tersenyum.

Dari ICU, Papi dirawat sekitar 3 minggu di kamar perawatan yang tentunya jauh lebih nyaman buat kami para penunggunya. Tapi jauh ternyata jauh lebih berat secara emosionil. Di sini nggak ada perawat yang stand by 24 jam sementara Papi yang udah sadar, depresi dan sering mengamuk mendadak dengan kondisinya. Selama ini, Mami hampir nggak pernah tidur pulas rasanya.

Setelah sebulan di Rumah Sakit, Papi akhirnya boleh pulang. Dan ini ternyata tantangan yang harus kami hadapi naik level lagi. Tanpa alat-alat dan tenaga profesional, kami keluarga yang buta tentang stroke ini, bingung harus gimana menghadapi Papi. Selama setahun rasanya seperti masa-masa kegelapan buat keluarga kami. Papi bisa mendadak mengamuk dan mengeluarkan kata-kata yang teramat menyakitkan.

Saya sering sakit hati, dan bukan sekali dua kali mikir untuk pergi dari rumah. Tapi ngeliat Mami, malu rasanya. Yang jadi sasaran kemarahan Papi selalu Mami. Mungkin karena Mami yang paling dekat di hatinya, jadi ke sanalah ia paling nyaman menunjukkan depresinya. Reaksi Mami? Ya marah, ya sedih, saat itu saja. Setelah itu, kembali melayani Papi dengan setia, lemah lembut, dan sabar.

 

Di saat yang hampir bersamaan, pacar dari sahabat saya juga terkena penyakit yang membuatnya lumpuh (walaupun sementara), dan Mami saya khusus nitip pesen buat sahabat saya itu:

“Cintai dia apa adanya, bukan ada apanya”.

 

Kalimat yang pasti familiar dan sering kita dengar. Tapi keluar dari Mami saya yang sudah membuktikannya, kalimat itu jadi sangat bermakna.

Setelah lewat ‘tahun kegelapan’, Papi berangsur-angsur membaik, mulai seperti Papi yang dulu. Pikirannya kembali rasional bahkan tetap cerdas. Ia tetap bisa mengambil keputusan-keputusan bisnis yang besar dan rumit. Hanya ada yang begitu berbeda.

Papi berubah jadi pribadi yang sangat hangat dan murah senyum. Ke mana-mana selalu tertawa, suka isengin orang, dan selalu menyapa orang dengan ceria, baik dikenalnya maupun nggak.

Hampir setiap malam, sepulang saya kerja, Mami bakal cerita dengan ceria sambil menahan-nahan tawa, “Papi tadi begini…” “Papi tadi begitu…”. Hal-hal yang dilakukan Papi yang menurut Mami lucu (walau menurut saya biasa aja), diceritakannya dengan sukacita. Dan ini bikin saya juga hepi.

Lalu fase berikutnya yang nggak pernah kami sangka akan datang secepat ini, Papi kena stroke kedua dan pulang ke hadirat Bapa.

Di kebaktian penghiburan, kebaktian tutup peti, dan kebaktian pelepasan, ketiga pendeta memberi highlight yang sama dalam kotbah mereka, bahwa Papi berubah lebih ramah dan ceria setelah stroke pertamanya. Bahwa Papi memberikan kesan yang indah buat orang-orang terdekatnya sebelum pergi. Bahwa Papi menjadi anak Tuhan yang lebih baik lagi di sisa hidupnya.

 

Memang benar, Papi bahkan sempat membantu beberapa orang di hari terakhirnya. *Gilingan Papi eke mah*

 

Tapi yang paling penting, Mami bikin pernyataan yang selama ini nggak saya pikirkan:

“Iya, heran ya… sepertinya Papi selama 2 tahun terakhir, kembali seperti Papi waktu masih pacaran. Papi memberi Mami masa pacaran 2 tahun lagi sebelum pergi.”

 

*Ada yang udah berkaca-kaca?* hehe

Beberapa hari lalu, Mas Ben dan saya baru mulai menghapalkan janji pernikahan yang bunyinya:

 “(nama pasangan) , di hadapan Tuhan dan jemaatnya, aku mengakui dan menyatakan, menerima dan mengambil engkau sebagai suami/istri-ku. Sebagai istri/suami yang beriman, aku berjanji akan memelihara hidup kudus denganmu, akan selalu mengasihimu dalam kelimpahan maunpun kekurangan, dalam keadaan sehat maupun sakit, dan akan melayanimu dengan setia sampai kematian memisahkan kita.

 

Menghapal janji ini, terus terang saya takut. Saya udah ngeliat sendiri kesetiaan Mami dan saya merasa itu sangat berat. Tapi sekali lagi, Mami bilang, modalnya adalah cinta. Hehe.

 

Dan yang terutama, saya cuma bisa beriman, ketika Tuhan yang memimpin, tak ada yang mustahil.

 

Some days your mother and me loved each other. Other days we had to work at it. You never see the hard days in a photo album… but those are the ones that get you from one happy snapshot to the next…”

– Mr. Leezak – Just Married movie

 

8 thoughts on ““Modal pernikahan adalah cinta”

    • Ya ampun bumil ini slalu cepet bener deh comment-nya hehe. Sama-sama, bu. Kayanya cuma dirimu yg mellow beneran (kalo Dian sama Aina ilfil di tengah hahaha)
      Powered by Telkomsel BlackBerry®

  1. Diiiiiiiiiiiiiinn!!! Hadoh….. gw udah lagi seru2, lagi berkaca2, tiba2 elo nulis gini:

    *ada yg sudah berkaca2??*

    Gubraaaakkk… lgsg ga jadi mellow.

    Thanks for sharing Din. Mami lo bener2 tau makna “cinta” yah. I learn a lot from this. From your Mami. I wish I can be one like her too🙂

    • Hehe. Kan biar ga tegang, diaaaan.
      Thank you!!! Eke juga ingin mencontoh dia sekali, tapi ngeri bayanginnya. Kayak susah bener. Hehe

      Powered by Telkomsel BlackBerry®

  2. klo dian ga jadi mellow di bagian “ada yg sudah berkaca2??*
    gue ga jadi mellow dibagian *Gilingan Papi eke mah*
    hahahahaha..
    tp bagus dehh ga jadi meweek..
    elu tuh yaaa.. ampir aja keluar nih aer mata berhubung gue aer matanya cetek banget deh ah.. liat apa sedih dikit nangis deh. (T__T)

    thanks for sharing.. IDUP CINTA!!

  3. Ciciiii, like this post a lot!! Aku sepertinya udah berkaca2 dr tengah2 cerita, hehehe🙂 thankyou for sharing yaa ciii!😀😀 Hope one day I can be like ur mother too, cii.. and, oh yaa, I loove the quote at the end of the post (y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s