Kenapa Melbourne?

Pertanyaan itu terlontar dari banyak sekali orang begitu tahu kami memutuskan untuk honeyweek ke Melbourne (dan Goldcoast). Begitu mereka tahu kami nggak ke Sydney, makin banyak yang heran.

Buat yang ngikutin blog saya dari zaman dulu, saya pernah posting tentang obsesi saya, salah satunya ke Eropa:

Monggo di klik di sini

Mimpi ini udah ada, bahkan sebelum saya punya pacar. Sekitar tahun 2008, saya mulai berdoa dan mengimani kalo saya bakal honeymoon ke Eropa. Dan saya nggak sekadar mimpi. Saya berusaha mewujudkan dengan kerja, ambil side job di sana-sini, dan investasi.

Sementara Mas Ben, ternyata punya keinginan spesifik buat ke Italy. Kenapa? Karena dia cinta kuliner. Dan matanya selalu berbinar-binar ngeliat setting kafe kecil pinggir jalan di film-film. Berkali-kali dia menyayangkan kenapa nggak ada tempat semacam itu di Jakarta (kalo ada pun kayanya ga laku ya?). Dan berkali-kali dia bermimpi pengen punya tempat semacam itu (AMIN).

Jadilah, kita lalu mulai berusaha berdua supaya bisa honeymoon ke Eropa. Saya bahkan pasang background bergambar menara Eiffel di blog ini, remember? (sekarang udah dicabut hehe).

Tapi kenyataan berkata lain *tsah. Mas Ben nggak damai sejahtera untuk ambil cuti panjang karena dia baru masuk perusahaan ini, dan jenis pekerjaannya seharusnya bukan yang bisa ditinggal lama. Sebenernya boss nya udah approve loh, tapi kita ngerasa kurang bijak aja, sebagai pegawai baru, Mas Ben cuti panjang (untuk ke Eropa, butuh setidaknya 2 minggu, yang berarti 12 hari kerja Mas Ben).

Di sisi lain, saya juga udah merasa ide ‘ke Eropa’ ternyata nggak segitu pentingnya untuk diperjuangkan. Jadilah kita mencari tujuan lain yang lebih dekat.

Lalu saya teringat Gitta, yang tahun lalu S2 di Melbourne. Dia sering upload foto-fotonya di Melbourne, di tempat-tempat brunch, kafe-kafe, dan toko-toko kecil yang unik. Menarik buat saya. Lalu mulailah saya browse dan tanya-tanya Gitta soal Melbourne.

Hasilnya, saya tahu kalo Melbourne sekarang jadi semacam pusat art di Australia. Melbourne terkenal dengan budaya brunch (breakfast & lunch) nya. Yang mana, orang-orang di sana baru makan pagi (sekaligus makan siang) sekitar jam 10 atau 11 di kafe-kafe kecil di pinggir jalan dan gang. Mmm.. mungkin suasananya mirip dengan Italy (?)

Melbourne juga terkenal dengan kopi dan winery-nya. Kopi dan wine adalah hal yang bisa membuat mata Mas Ben berbinar-binar dan jadi bawel mendadak (karena ngomongin jenis-jenis kopi dan wine).  Mmm… mungkin tepat buat Mas Ben (?)

Jadilah, setelah ‘siap’, saya pun presentasi ke sang calon suami (waktu itu masih calon yee), yang langsung setuju. Yeay!

Sebagai tambahan, saya propose juga untuk mampir Gold Coast karena pengen ke theme park bareng suami (obsesi ngedate di Disney Paris gagal soalnya kan *hiks).

Saya tentunya sempet mempertimbangkan Sydney juga. Tapi karena waktu yang nggak cukup, dan rasanya nggak worth buat buru-buru dan gak menikmati trip kami, cuma karena ngejar bisa ke banyak tempat, kami drop Sydney.

Kenapa Sydney yang di-drop? Karena saya pernah ke sana, dan menurut saya, selain Opera House, nggak ada yang terlalu menarik di sana buat saya dan Mas Ben. Okeh, ini Subjektif. Dian jangan marah yaaaa. Hehe.

Dan ternyata, Melbourne sesuai ekspektasi kami!!! We love Melbourne soooo much. Kami pecinta kopi dan kopi Melbourne luar biasa. Mild banget sih…dan nggak bikin seger. Tapi taste-nya itu loh…

Belum lagi kafe-kafe lucu yang bisa ditemuin di mana-mana.

Belum lagi suasana kota yang sangat friendly, dengan orang-orang yang super-ramah. Bayangin, cuma nggak sengaja eye contact pas papasan waktu jalan di trotoar, bisa disenyumin! Padahal totally stranger loh! Dan waktu kita lagi sibuk baca peta di station, langsung disamperin orang yang dengan penuh inisiatif, bantuin jelasin transport apa yang harus kita pake buat ke tujuan.

Belum lagi makanannya yang enak-enak.

Belum lagi berbagai liquor murah meriah yang bisa dibeli di mini market dan diselundupkan ke kamar hotel.

Belum lagi gedung-gedung dengan arsitektur kolonial yang memang dilestarikan.

Belum lagi jalanan yang friendly, mudah dijangkau dengan jalan kaki dan tram.

Belum lagi taman-taman luas yang romantis.

Oooooh how we love Melbourne…. *pengen ke sana lagi deh, dan spend time lebih lama.

—————————————-

Di sisi lain, kita ternyata nggak terlalu enjoy di Goldcoast. Bukan tipe kita aja kali ya… Untungnya, hotel kita di Goldcoast teramat bagus jadi tetep ada point plus-nya.

Dan moment di Goldcoast yang kami paling suka adalah waktu ke jalanan berisi toko-toko souvenir kecil, Ripley’s Believe It or Not Odditorium, dan night market di tepi pantai.

Dan malah bukan pantainya atau theme parknya! (padahal 2 hal ini yang terkenal dari Goldcoast). Wong Mas Ben aja sama sekali nggak mau berkotor-kotor-ria kena pasir dan air laut kok.

—————————————-

Yah intinya…ketika banyak yang tanya “Gimana honeyweek-nya?”

Jawaban kami, selalu: “Perfecto!” *tentunya dengan mengeliminasi bagian cincin ilang ya!!!!!*

11 thoughts on “Kenapa Melbourne?

  1. Ahahahahaha^^ Tidak marah kokkk… Cuma tersinggung dikit. Heheheh^^ Ga denk. Emang banyak yg bilang melbourne lebih bagus daripada sydney kok Din. So, dirimu gak salah pilih🙂
    Gw juga pernah mempertanyakan hal yg sama, kok ga ada yg buka cafe brunch ya di jakarta?? Tapi dipikir2, makan telor orak arik, bacon sama roti dipanggang disuruh bayar 50rb juga orang pasti ga mau mampir kan??

    • Sesungguhnya…Sydney juga gw suka sih, tapi kalo harus milih, tetep lebih milih Melbourne buat Honeyweek. Ibaratnya Sydney itu kaya Jakarta, Melbourne kayak Bandung-nya. Ya gak?

  2. Pingback: Honeyweek Day 4 – Phillip Island « Cerita Bendi

  3. Pingback: Honeyweek Day 5 – Melbourne Culinary « Cerita Bendi

  4. Pingback: Honeyweek Day 6 – Movie World to Ripley’s Odditorium « Cerita Bendi

  5. Pingback: Honeyweek Day 7 – Tamborine Mountain « Cerita Bendi

  6. Mbak mau nanyak dong ke malbourne Pk travel ato Pk apa ni?klo Pk travel namanya apa?Dan biaya yg dikeluarkan brp?trs Penerbangan Pk pesawat apa yg murah Dan aman..share dong plisss ;(

    • Kita nggak ikut tour, cuma di sana ambil city tour ke Phillip island aja yang harian. Kita waktu itu pakai pesawat SQ (Singapore Airlines) lagi ada promo. Kalau pesawat yang aman, ya rasanya semua pesawat ya aman lah ya. Kalau murah, Air Asia udah ada penerbangan ke Melbourne, tapi pakai transit. Garuda Indonesia paling enak, karena nggak pakai transit, langsung Jakarta-Melbourne, jadi hemat waktu. Dan terakhir denger infonya, Garuda lagi ada promo untuk bulan Mei-Juni 2013.

  7. Pingback: Euro Trip – Prolog | Cerita Bendi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s