Honeyweek Day 7 – Tamborine Mountain

Baca dulu cerita honeyweek sebelumnya di:
– Cincinku Sayang Cincinku Malang,
– Kenapa Melbourne, dan
– Honeyweek Day 1,2,3,
– Honeyweek Day 4 ,
– Honeyweek Day 5 ,
– Honeyweek Day 6

Awalnya, waktu nyusun itinerary, saya pengen ke 2 theme park waktu di Gold Coast: Movie World dan Dream World. Tapi setelah menerima celaan dan hinaan dari seorang sahabat yang katanya saya lagi hanimun kok malah ke theme park kayak abege *emang masih abege kan yaaa*…. keraguan itu pun muncul. Setelah discuss sama Mas Ben, ternyata dia juga prefer ke tempat lain aja, jangan ke theme park 2x. Dan setelah survei-survei, jadilah kita ikut day tour ke Tamborine Mountain.

Pagi itu, kita melakukan hal bodoh sekali lagi. Ceritanya, karena hari sebelumnya udah pengalaman kelaparan karena nggak sarapan, pagi ini kita udah siap dengan cup noodle yang dibeli kemarin malam. Pagi itu, kami menyadari di kamar hotel nggak ada teko buat masak air panas. Tak hilang akal, saya coba memasak si cup noodle pake hot water dari tap (jangan jijik dulu…. tap water di sana kan emang aman buat diminum). Waktu itu saya pikir, nothing to lose lah. Kalo mie nya nggak ngembang, ya udah, ga usah dimakan, kita cari makanan lain.

Dan…. mie nya ngembang! Okedeh, kita pun makan dengan bangga dan gembira, lalu segera siap-siap dan turun ke lobby hotel buat nunggu dijemput tour-nya.

Di sini lah kami menyadari kedodolan kuadrat kami. Setelah DUA MALAM nginep di QT hotel ini….baru nyadar kalo pagi tuh ada kafe yang buka di lobby hotel (FIXX cafe namanya) yang menjual kopi dan breakfast menu yang lebih ‘manusiawi’, dengan harga yang OK lah (mirip harga di cafe-cafe biasa). DODOL!!!!! Udah gitu ya…itu cake sama pastry nya sih menggoda banget. Tapi secara perut udah full sama cup noodle, okelah kita beli latte aja….yang mana enyak latte-nya, kawan! *hiks hiks* *tadi pagi baru minum kopi instan gak enak hasil nyolong dari pesawat* Ya suda lah.

Fixx Cafe

Merchandise shop QT Hotel

 

Kita dijemput di hotel sekitar jam 9.30 pagi, langsung menuju Tamborine Mountain. Rombongan kita kali ini bener-bener Asian semua, dan mostly orang Jepang. Mungkin karena itu juga, tour guide nya dipilih seorang bule yang jago berbahasa Jepang. Tour guide kali ini sangat talkative dan terlihat passionate sama profesinya sebagai tour guide. Dan entah gimana, dia tahu kalo kita lagi honeymoon, jadi sering goda-godain dan nawarin untuk fotoin kita berdua. Lumayaaaaaan….

Dalam perjalanan ke Mt. Tamborine, kita mampir di sebuah jalanan yang kiri-kanannya penuh toko-toko ‘kecil’ (bukan kecil ukurannya, tapi style-nya seperti toko rumahan) yang jual souvenir-souvenir khas sana, seperti toko teh dan kopi, toko kacang macademia, toko cuckoo clock , bakery dan kafe, dan…. toko wine!

Tentu saja, perhentian pertama yang dipilih Mas Ben ya si toko wine ini. Dengan AUD 5, di sini kita bisa wine tasting sepuasnya. Dan kalo kita akhirnya beli wine yang mereka jual, AUD 5 ini jadi potongan harga. Bener-bener nggak rugi deh *nyegir lebar*.

Jalanan penuh toko-toko lucu

Wine Tasting

‘ceritanya’ mabok abis wine tasting

Bakery depan toko wine *di-upload karena rambut saya keren disini haha*

Cuckoo clock. Keren-keren yaaaaa

Puas wine-tasting… kita mampir ke toko cuckoo clock, cuma liat-liat sebentar secara harganya gak kebeli! Lalu… ke toko teh dan kopi! Hwaaa kopinya wangi-wangi banget! Dodolnya, kita cuma beli 1 bungkus (yang mana sekarang udah abis) kopi rasa Macademia, yang wanginya wangi coklat. Ada yang lagi di sana? Nitip!!! Itu kopi sih bener-bener deh…kalo saya bikin di coffee maker, hidung Mas Ben langsung notice begitu dia keluar kamar. Wangiiiii *macam iklan Kapal Api*

Kita cuma dikasih waktu sekitar 1 jam di daerah pertokoan ini. Tujuan utama kita adalah ke O’Reilly – semacam tempat wisata terkenal di Mt.Tamborine – tapi di perjalanan, kita sempet mampir di peternakan alpaca, yang sekaligus juga jual souvenir dari bulu alpaca.

Bersama sang alpaca *yang mukanya kayak senyum terus*

Berhenti di tengah jalan buat foto-foto

Kita makan siang di O’Reilly (yang ternyata rasa makanannya agak kurang ya)… dan dilanjutkan ‘acara puncaknya’…. jalan-jalan di tree top walk. Jadi tree top walk ini sebenernya semacam jembatan gantung. Tapi bukannya menyeberangi sungai, jembatan ini untuk ‘menyeberangi’ hutan. Jadi kita nanti jalan di ketinggian, setinggi  pohon-pohon raksasa di hutan tersebut.

Saya sukaaaaa sekali dengan ide ini. Di Indonesia kenapa gak dibikin jenis wisata kayak gini ya? Di Indonesia, kalo kita mau jalan-jalan di hutan, jatohnya harus trekking kan? Tentunya harus tenaganya kuat, harus kotor-kotoran, harus pegel-pegel…. Dan yang pasti anak-anak kecil dan orang-orang yang udah lanjut usia bakal kesulitan. Nah dengan adanya jembatan gantung ini, kita bisa jalan-jalan ‘cantik’ di tengah hutan. Gak usah pake repot, bisa liat alam yang sebener-benernya. It was fun!

Selama jalan ini, kita si tour guide ngejelasin dengan excited. Tour-nya jadi terasa menyenangkan. Kayaknya tour guide ini emang pecinta alam, dan emang seneng banget ngejelasin tentang alam. Dia bahkan sampe punya klip sample suara burung buat narik burung-burung liar di sana supaya deketin kita. And it works!! Terus dia juga banyak ngerti soal alam, dan nggak ragu buat pegang-pegang ular liar yang kita temuin. Haish.

Strangled tree – pohon aslinya ‘diserap’ kehidupannya sama pohon yang melilitnya. Jadi bagian dalamnya berongga (karena pohon aslinya udah mati)

Treetop walk

Kiri kanan saya adalah bagian atas dari pohon-pohon superbesar

Akhirnya bisa foto berdua hehe

Nemu ular yang lagi sun-bathing

Cuma pose aja di depan gerbang Lamington Park

Penampakan sang tour guide yang excited

Kalo ada yang pernah liat-liat foto di facebook saya, dan beneran pengen tahu cerita di balik foto itu, sekarang bakal saya jelaskan. Pertama kali ngeliat, kami juga pikir ini cuma kumpulan sampah biasa. Tapi kok bisa warna biru semua? Ternyata…. benda-benda berwarna biru ini memang sengaja dikumpulkan oleh jenis burung tertentu untuk menarik lawan jenisnya (mereka tertarik dengan warna biru). Dan tumpukan jerami di latar belakang itu ‘sarang cinta’ mereka… alias tempat mereka berkembang biak (bukan tempat tinggal). Jadi…burung jantan jenis ini bakal ngebangun ‘sarang cinta’ lalu ngumpulin benda-benda warna biru di sekelilingnya. Si betina ngeliat biru-biru itu akan datang menghampiri, dan kalo udah kaya gini, si jantan bakal menari-nari, dan dimulailah proses prokreasi. Sayangnya….saya lupa jenis burung apa?!?!?!!?!? Ada yang tahu? Hehe

Sarang cinta sang burung

Dari O’Reilly, kita langsung kembali ke Surfers Paradise. Hari ini malam terakhir kami di Australia. Kami minta didrop di deket pantai (bukan di depan hotel). Sang tour guide lucu ‘berpesan’ sama Mas Ben supaya ‘buy something good for your wife.’ Dan dia mention LV, Prada… *lirik tajam Mas Ben*. Hahahahaha lucky him, saya nggak hobi belanja. Saya cuma pengen ke pantai!!!

Tadinya saya cuma pengen liat-liat aja pantai Goldcoast yang cantik, tempat saya ditembak ‘pria ke-enam’ dulu (FYI: Mas Ben itu pria ketujuh. Kapan-kapan saya posting ceritanya). Hahahahaha. Tapi mau gimana ya, emang banci pantai, gak tahan banget, akhirnya saya lepas sepatu-gulung celana pula *walaupun atasnya tetep jaketan lengkap* *heran sama cewe-cewe berbikini*. Hwaaaa senang pantaiiii!!!!!! Pantainya bersih, dan hawanya dingin. Perpaduan yang nggak akan kita dapetin di Jakarta.

Nampaknya kegirangan hehe

Masben ogah kotor-kotoran. Nggak tergoda saya, dia tetap bersepatu lengkap

Karena hari itu Jumat malam, ada night market di sepanjang pantai yang jual benda-benda lucu dan karya seni unik. Kita cuma beli gantungan kunci dari kulit, sisanya liat-liat aja.  Jam 6.30-an, Mas Ben udah ngajak cari makan. Kita udah ngeplan makan steak hari itu. Muter-muter, akhirnya milih salah satu tempat makan secara random: Central Dining. Mmmm not recommended. Saya minta dimasak medium, jadinya overcooked, dan kok dagingnya alot-alot juga, sama aja kayak di Jakarta.

Dinner! Keliatan yummy ya…tapi rasanya so so

Dan malam itu kita belajar sesuatu: “Jangan cari tempat buat makan malam sebelum jam 7 malam!”

Karena ternyata… semua tempat makan yang recommended tuh baru buka jam 7 malam! Setelah kelar makan, kita muter-muter keliling Surfers Paradise dan nemuin resto-resto recommended yang ada di TripAdvisor. Pantesan aja tadi kita muter-muter nggak dapet tempat yang menarik. Ternyata tadi pas kita cari makan tuh belom buka *cih* Sama aja kayak kasus Brother Baba Budan. Haha.

Hari itu diakhiri dengan mampir ke Cellarbration lagi… Beli wine dan coklat lalu selundupin ke kamar hotel. Haha. Dan itulah malam terakhir honeyweek kita. Hari berikutnya (hari terakhir), bisa dibaca di Cincinku Sayang, Cincinku Malang.

Honeyweek kami pun berakhir dengan perfect. Semuanya berjalan menyenangkan dan sesuai rencana *tentunya minus bagian cincin ilang yaaaa* Hehe. Nggak salah kami pilih Melbourne dan Goldcoast jadi tempat tujuan honeyweek kami. Tapi sebenernya kalo lagi minggu madu mah… ke mana aja juga rasanya nggak ada yang salah kali ya, soalnya kan kita pergi dengan orang yang tepat *cieeeeeh*.

Next… mungkin saya bakal cerita soal ‘pria kesatu’ sampai ‘pria keenam’… Gimana gimana? Setujuhhh????

7 thoughts on “Honeyweek Day 7 – Tamborine Mountain

  1. Pingback: Honeyweek Day 6 – Movie World & Ripley’s Odditorium « Cerita Bendi

  2. Neng, tap water yg panas kan gak boleh diminum. Btw gue tinggal 3 tahun di Brisbane kok malah gak pernah ke Mt. Tambourine ya, dasar kurang adventurist.

    • Ya ya ya… Udah 3 orang yg kasitau. Bwahahaha maklumi keudikan kami. yauda uda masuk perut *berdoa ga ada apa2* Coba sebelom minum nge-tweet dulu, mungkin banyak yg panik ngasi tau ya :p
      Powered by Telkomsel BlackBerry®

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s