Uneg-Uneg Banjir

Bukan, saya bukan mau uneg-uneg karena terjadi banjir di Jakarta. Itu mah, ya gak usah diomongin lah ya. Lagian saya mah masih jauh lebih nyaman daripada banyak korban banjir di sisi lain Jakarta. Saya mau uneg-uneg tentang hal-hal yang bikin saya ‘gatel’ selama banjir kemarin. Note, karena ini uneg-uneg, semuanya hanyak personal opinion saya sebagai pemirsa TV dan warga Jakarta awam.

Uneg-uneg saya adalah tentang TV ON*. Dan bukan cuma 1 hal, tapi 3 hal yang bikin ‘gatel’!!!

1. Jokowi dan TV On*

Pada tahu kan soal kasus Jokowi marah sama wartawan TV On* setelah di-interview? Link-nya bisa di-klik di sini dan di sini

Sebenarnya, karena nggak banyak channel berita resmi yang bahas soal hal ini (salah satu link di atas asalnya dari Kompasiana, bukan Kompas. Dan Kompasiana bisa berisi sharing dari warga awam/bukan reporter kan? CMIIW), saya nggak yakin dengan kebenaran dan akurasinya. Apakah benar memang TV On* melanggar kesepakatan sebelumnya. Tapi, lepas dari benar/tidaknya kesepakatan yang dilanggar itu, saya udah liat tayangannya, dan menurut saya sih sang reporter (atau interviewer? apa namanya?) nggak OK banget. Beda dengan Najwa Shihab di Mata Najwa yang bisa ‘menjebak’ nara sumber dengan pertanyaan pintar, interviewer ini, menurut saya lebih terasa nyari-nyari kesalahan dan nyindir-nyindir. Belum lagi gesture nya yang terlihat kurang menghargai (contohnya nunjuk-nunjuk muka).

Rrrr… mentang-mentang Pak Jokowi senyam senyum terus, jadi ngelunjak yak?

*Eh eh….btw saya nulis gini bukan karena saya cinta mati Jokowi ya…saya bahkan tadinya termasuk yang skeptis banget dia bisa mimpin Jakarta*

Kalau mau lihat interview nya, bisa liat di video berikut. Ternyata interview dengan pak gubernur dijadikan bagian dari evaluasi 100 hari kinerja Jokowi-Ahok. Kalau mau lihat interview nya aja, bisa diliat kira-kira mulai dari menit ke 00:45.

2. Reporter Nggak Simpatik

Masih dengan stasiun TV yang sama. Selama banjir, saya dan Mas Ben emang bolak balik ganti channel antara TV ini dan Metro TV. Di suatu liputan, sang reporter mengunjungi beberapa pos pengungsian. Jadi, dalam 1 liputan itu, mereka mendatangi banyak pos pengungsian dan mewawancarai salah satu pengungsi. Dan di tiap pos, pertanyaan mereka kurang lebih sama:

“Sudah berapa lama di sini?”
“Apa saja yang dibutuhkan?”

Sampai sini masih standar ya pertanyaannya….. tapi lalu, di tiap pos, sang reporter bertanya:

“Apakah sudah cukup nyaman di sini?”

MENURUT LOOOOO?!?!?!?

Jelas aja tiap sampe di pertanyaan ini, yang ditanya sampe agak gelagepan dan mikir dulu harus jawab apa.

Heran. Jelas-jelas waktu jawab pertanyaan sebelumnya, sang pengungsi udah cerita kalo mereka kekurangan air bersih, nggak ada MCK, dan dengan melihat kondisi pos pengungsian yang apa adanya itu, apakah perlu dijelaskan lagi kalo mereka sebenarnya tidak nyaman tapi apa boleh buat?

Dan di tiap pos, dia mengulang lagi pertanyaan yang sama.

*tepok jidat* *lalu ganti channel*

3. Pahlawan Kesiangan

Masiiiih di TV yang sama. Kamis malam, saya mampir lagi di TV On* ini, dan ada adegan interview special yang menurut saya awalnya agak lucu. Jadi, interview ini berlangsung lumayan lama (lupa, tapi mungkin sekitar 30 menit atau lebih), dan sang interviewer dan nara sumber, berdiri dengan celana digulung, di tengah banjir sedengkul, di bunderan HI.

Hehehehe….nggak ada yang salah sih, tapi buat mata saya waktu itu lucu aja. Kita semua tahu ada bagian yang lumayan kering di bunderan HI, tapi mereka malah sengaja nyelupin kaki sambil berdiri mejeng, pamer banjir, lalu melakukan interview.

Itu sih gak bikin saya ‘gatel’. Yang bikin saya gatel adalah bahwa si nara sumber adalah pemimpin Jakarta di masa lalu. Kenapa? Karena di sana dia ditanya-tanya soal solusi banjir seolah dia adalah pahlawan yang berhasil memimpin Jakarta di masa lalu, dan secara tersirat, ia pun membanggakan kepemimpinannya lebih baik daripada yang sekarang (OK lah kalo yang ini manusiawi hehe).

Terus…kenapa saya sewot? Karena menurut saya, faktor-faktor yang memperparah banjir Jakarta, terjadi di masa pemerintahannya.

Note lagi, ini saya rada sewot sama dia bukan karena ngebandingin sama Jokowi aja ya…Saya udah sewot sama dia dari sejak dia memerintah *padahal saya waktu itu masih anak SMP sok tahu* hihi.

Ya maklum soalnya saya ngerasain sendiri, dan lalu membandingkan sendiri banjir siklus 5 tahun-an ini.

………………

Banjir besar pertama, saya rasakan tahun 1996.

Waktu itu saya masih SD, dan baru sekitar 2 tahun tinggal di Kelapa Gading. Hari itu, seperti biasa saya sekolah di Gunung Sahari. Pulangnya, ternyata banjir meninggi, Mama saya nggak bisa jemput, jadi saya dijemput Engkong yang rumahnya di daerah Senen. Agak siang, banjir sedikit surut, Mama saya memberanikan diri jemput saya dengan sedan yang usianya lumayan tua (waktu itu nggak punya mobil lain). Dan di daerah Cempaka Putih, sang sedang akhirnya nggak tahan lagi, air pun masuk ke dalam mobil, menggenangi kaki saya, dan saya pun terpanik-panik takut mogok. Thanks God, walau tua, si sedan dan drivernya (Mami saya dong ya tentunya) teramat perkasa, jadi kami nggak sampe mogok, bisa masuk Kelapa Gading dengan selamat.

Dan betapa tenangnya kami begitu masuk Kelapa Gading, karena Kelapa Gading bagaikan pulau di tengah danau. Kering kerontang. OK, ada titik-titik langganan banjir yang memang udah banjir, tapi sebagian besar Kelapa Gading kering.

Waktu itu, di Kelapa Gading cuma ada 1 mall. Namanya Kelapa Gading Plaza (sekarang MKG 1). MOI dan Kelapa Gading Square masih berupa sawah dan kebun sayur, tempat Mami saya belanja kangkung, dan tempat saya rekreasi mata setiap pagi menuju sekolah. Artha Gading? Sepertinya tanah kosong saja.

Banjir besar kedua, saya rasakan tahun 2002.

Kali ini saya udah SMP. Kalau nggak salah, MKG udah sampai MKG 3, MOI dan Kelapa Gading Square sedang dibangun, Mall Artha Gading baru aja mau buka. Bye-bye sawah dan kebun sayur.

Untuk pertama kalinya, Kelapa Gading terendam parah. Lumayan dalam, walau di beberapa jalan masih bisa diakses dengan Kijang. Saya ingat waktu itu menembus banjir dengan Papi Mami saya buat beli bahan makanan. Dan di jalanan penuh orang yang ngobok banjir atau naik gerobak, juga sambil nenteng belanjaan.

Banjirnya jelas lebih parah daripada tahun 1996. Kali ini, komplek rumah orangtua saya yang jadi bagaikan pulau di tengah danau. Kelapa Gading danaunya.

Banjir besar ketiga, tahun 2007.

Nah yang ini nggak saya alami, karena saya lagi kuliah di Karawaci. Tapi saya ngikutin berita dari TV, dan ngeliat foto-foto Kelapa Gading.

Di tahun 2007, yang jadi pulau adalah sekitaran rumah orangtua saya, sekitaranya udah jadi ‘danau’. Ya, kali ini, komplek rumah yang 5 tahun sebelumnya masih kering bagaikan pulau, sudah direndam banjir sampai ketinggian selutut orang dewasa.

…………………

Banjir tahun 2013, nggak usah diceritain lah ya….

Sebenernya sih khusus untuk daerah Kelapa Gading, 2007 lebih parah karena banjirnya lebih merata, lebih dalam, dan lebih lama surutnya (sampai hampir seminggu). tapi dari cerita saya, bisa disimpulkan dong, kalau banjir semakin lama semakin parah. Dan di tahun 2002, saya menyadari banget kalau salah satu faktor utamanya adalah karena kurangnya lahan serapan!

Saya waktu itu inget pernah ngedumel ke temen dan ortu saya, kenapa pemerintah kok kasih ijin bangun-bangun ini itu terus-terusan, seperti nggak mikirin bahwa kita butuh lahan serapan. Soalnya saya inget banget, pas masa pemerintahan gubernur ini, kok kayanya ijin bikin bangunan dan real estate tuh gampang banget ya. Kayaknya di masa-masa itu, terasa banget, buanyaaaaaaaak pertumbuhan mall ini dan mall itu, perumahan ini dan perumahan itu….di SELURUH JAKARTA.

Jujur, seinget saya, pas jaman gubernur sebelumnya, dan setelahnya (si abang kumis), kayanyan pembangunan nggak sampe se-signifikan itu deh lajunya.

Ya emang buat ekonomi pasti bagus banget ya. Tapi gimana dengan tata kota? Udah tahu dari jaman Belanda aja, ni kota langganan banjir, kok malah nambah nambah masalah yang bikin banjir?

………………

Mangkanya itu saya sebel ngeliat mantan gubernur yang ono seolah-olah adalah contoh gubernur sukses, padahal menurut saya ya andil dia guede banget dalam memperparah banjir Jakarta. Udah gitu, besok harinya, dia malah di-interview dan ditanyangkan secara bersamaan di 2 acara berbeda di 2 stasiun TV berbeda (yang satu live, yang satu tapping). *tepokjidat*

Jangan-jangan ini modus menuju 2014? *eh kok jadi nyenggol politik* *ngerti juga kaga* *toyor diri sendiri*

Sebenernya waktu itu, saya pikir cuma saya aja yang sebel sama adegan interview itu, jadi saya cuma ngoceh-ngoceh ke Mami dan Mas Ben. Ehtapi setelah menyimak linimasa, ternyata banyak juga seleb twit yang nggak seneng. Hihi jadi berasa dapet pendukung *apasih*

……………………

Eh note lagi, walaupun saya misuh-misuh gini, bukan berarti saya bilang pemerintahan dia jelek banget ya. Walaupun saya juga saat ini males sih nyari-nyari kebaikannya. HIhi.

Nah penutup nih dari postingan uneg-uneg ini…

Saya rada tersentak pas baca postingan Mel yang ini. Iya ya, kita ini orang Indonesia (Jakarta tepatnya), memang sangat pelupa dan pemaaf. Kita menganggap banjir itu betul-betul 100 persen bencana alam, musibah. Dan kita cuma marah-marah dan kritik-kritik pas deket kejadian, abis itu lupa, sampai 5 tahun berikutnya terjadi lagi. Eh tapi coba dipikirin, kalo banjirnya udah jadi siklus, apa masih bisa dibilang musibah? Bukannya itu berarti pemerintah (dan kita masyarakat) kurang maksimal dalam menanggulangi masalah yang sebenernya emang udah ada?

Dan walaupun Epi bilang bahwa kita salah sendiri buang sampah sembarangan……Ya emang bener sih, kita banyak salahnya juga yang bikin kita sendiri menderita. Tapi ya kalo banjirnya satu kota mah kayaknya emang ada yang salah sama kota ini nggak sih? ya sistem drainase nya, ya sistem lahan serapan airnya, ya pengelolaan sampahnya, ya edukasi masyarakatnya. Semuanya deh.

Jadi…apakah kita diem-diem aja nunggu pemerintah beraksi? ya jangan juga dong. Yuk buat perubahan. Gimana caranya? Next posting saya bakal ceritain ‘ilmu-ilmu’ anti banjir yang saya dapat dari para pakar di linimasa (plus pendeta saya) selama banjir kemarin :p . Beberapa di antaranya mungkin bisa kita lakukan di rumah, dan saya juga berencana melakukannya. Ya semoga aja, kalo banyaaaaaaaaaaaak warga Jakarta yang akhirnya sadar, kita buat kegerakan, dan banjir Jakarta bisa tuntas dalam…mmm… 10-20 tahun lagi? *senyum optimis*

Semoga tidak terjadi lagi - Foto milik Kompas.Com

Semoga tidak terjadi lagi – Foto milik Kompas.Com

………………………………………………….

*PS: ada yang liat interview Jokowi, di mana beliau membenarkan pernyataan sang interviewer kalo dia nggak pernah mengijinkan pembangunan mall di Solo? Beberapa minggu lalu, saya liat iklan di koran, iklan sebuah developer yang akan memasarkan mall terbesar di Solo. Tepokjidat nggak sih? Duh duh…baru ditinggal sebentar….jadi deh tuh mall. *senyum pahit*

16 thoughts on “Uneg-Uneg Banjir

  1. gua ga pernah nonton tv yang satu itu, eh….ga pernah nonton tv lokal juga sih hehehehe…

    kalo yg tahun 96 rumah gua ga kena banjir… tapi yang taon 2002 mulai kena banjir, setelah ada mall taman anggrek hahahaha… sekarang setelah ada central park dan apartemen2nya beserta gedung2 perkantorannya, tiap ujan gede di grogol pasti banjir… malah di grogol kayaknya uda ga ada tanah kosong… abis semua buat gedung2…

  2. gua baru baca di kompasiana tuh tentang si wartawan tv on* itu! huahaha konyol abis ya!! kayak gitu kok bisa jadi wartawan sih? trus kok bisa2nya dipilih buat mewawancara jokowi gitu lho. emangnya gak ada yang lebih bagus apa wartawannya ya… bener2 malu2in…😛

    ngomongin banjir. th 96 itu pengalaman pertama gua ngerasain banjir masuk rumah. mana rumah bonyok gak ada loteng. sengsara dah. kita gak ngungsi juga. jadi ya basah2an di rumah. kaki pake dibungkus kresek! gila dah! udah gitu kelar banjir, baunya minta ampun!!!!

    th 2002, sunter aman terkendali lho. gak banjir at all.

    th 2007 parah. tapi kita udah rumah sendiri dan rumahnya tinggi, jadi gak masuk banjirnya. cuma ya terkurung, karena banjir di jalan udah sepaha. gua ngerasain keluar juga sih, karena mertua gua nganterin makanan, tapi gak bisa masuk mobilnya, jadi gua harus jalan kaki keluar gang. hahaha. rumah bonyok masuk lagi tuh airnya, jadi mereka ngungsi ke rumah koko gua. cici gua ngungsi di rumah gua. bagi2.😀 yang sedih.. kelar banjir, kan jadi banyak penyakit tuh, si andrew jadi kena demam dengue!😦

    • Hehe padahal itu reporter tuh termasuk jagoannya TV On* loh. Tapi emang dia suka gitu sih kalo interview orang.
      Iya gue sebenernya belom pernah ngalamin banjir masuk rumah. Koko gw tuh yang ngalamin, kasian waktu itu anaknya baru 3 bulan-an, akhirnya digendong naik gerobak ke pengungsian. Ngeri bayanginnya. Untung nggak kenapa-kenapa dan nggak sakit parah juga.
      Kalo soal banjir 2002, emang ada gosip di Sunter ada orang penting yang bikin pintu airnya dibuka dan dialirin ke Gading. Hwahhahahahaha gatau deh bener nggak tuh.

  3. Wooooww… Lo ternyata kritis juga ya din!! Kasian si jokowi, banyak kena limpahan sampah dr gubernur2 yg lalu. Thanks link2nya Din, gw jd bisa ngikutin berita2..

    • gw baru nonton separo yang video di atas, din, tiba2 error di tengah gitu nggak bisa jalan lg videonya… duh nyolot bgt ya wartawannya… pgn dicocolin cabe ih mulutnya…😛 makanati banget ya jadi pejabat harus nanggepin pertanyaan2 skeptis dr para wartawan gitu, apalagi kalo emang pas pejabatnya yg emang bener kerja, kesannya kyk dituduh2 gitu… emang makin parah deh negri ini, yg bener jadi salah, yg salah jadi bener… >.<

      • Hehe makanya si Ahok bilang. Kalo kerja bawa wartawan, dibilang pencitraan, dibilang kok kerja sendiri, gak percaya sama staff-staff nya. Tapi kalo gak bawa wartawan, dibilang gak kerja.

  4. idihh gemes yahh sama pertanyaan2 reporter nya…..nyari gara2 …konyol ajaa nanya2 yang gak penting dan kesannya nyari kesalahan gitu yah? apalagi yang wawancarain korban banjir….hadeuhh …gak ada pertanyaan laen apa?
    yahhh emang semua harus dari kita sih yang mulai gerakan anti banjir…gimana pun caranya yah harus berusaha , jangan sampe setaon ato 5 taon ke depan begini lagi ya

  5. wahhh ternyata emang gede ya beritanya.. gw sama laki gw nonton tuh pas lagi interview dan akhirnya kita mencak2 karena pertanyaan2annya dodol abiss. Akhirnya setelah setengah jam kita matiin tv nya, abis sebel banget sama wartawannya.. kesannya memojokan.. Tapi mungkin itu pertanyaan2 titipan ya, secara TV ON* kan punyanya pemimpin partai lawan :p

  6. Perhatiin deh, Jakarta ini banjirnya yah…. gak selalu daerah yang banjir tuh pernah banjir sebelumnya, begitu pula sebaliknya. Problemnya Jakarta itu, ada gula ada semut, yaitu, semua orang maunya tumplek blek di Jakarta. Dan udah bukan rahasia umum lagi, banyak pendatang yang terlalu malu balik ke kampungnya, akhirnya hidup miskin dan bangun rumah asal jadi di bantaran sungai/ perkampungan kumuh lainnya. Developer juga tambah gila bangun ini itu, sehingga ga ada tanah resapan. Tata kota brantakan gak karuan, dan ngarep jokowi beresin sekejap? Dikira Bandung Bondowoso kali, bangun candi dlm sekejap?

    • Hehe iya bener. tapi klo ngeliat reaksi orang-orang pas banjir, sedikit loh yang menyalahkan Jokowi-Ahok. Malah gue liatnya, sebagian besar tetep banyak yang mendukung. Hehe. Gue pribadi juga jadi suka sih liat cara-cara mereka bertindak. Hwahaha

  7. Jakarta sedang dalam darurat banjir. Pasca banjir, wajib hukumnya bagi pemerintah untuk melakukan perbaikan-perbaikan dengan cepat atas fasilitas-fasilitas yang rusak. Hal tersebut memang tepat dalam konteks jangka pendek. Namun lebih tepat lagi jika Pemda DKI, juga Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah di seluruh Indonesia memikirkan secara jangka panjang bagaimana mencegah banjir yang selalu terjadi. Untuk itu perlu dipikirkan solusi penanganan banjir dengan memperhatikan semangat Reforma Agraria sesuai UUPA 1960. Perlu diketahui UUPA 1960 tidak hanya mengamanatkan redistribusi tanah demi keadilan rakyat, tapi juga membicarakan tentang tata guna tanah. UUPA mencantumkan tantang tanggung jawab untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup pada lahan agraria. Pasal 15 berbunyi: “memelihara tanah, termasuk menambah kesuburannya serta mencegah kerusakannya adalah kewajiban tiap-tiap orang, badan hukum atau instansi yang mempunyai hubungan hukum dengan tanah itu, dengan memperhatikan pihak yang ekonomis lemah”. Sedangkan Pasal 6 menyebutkan bahwa “semua hak atas tanah mempunyai fungsi sosial”. Pasal ini dapat ditafsirkan kehilangan kesuburan maupun hilangnya fungsi tanah dapat mengganggu aspek sosial masyarakat akibat aktifitas terhadap tanah tersebut. Jadi kalau kita sepakat bahwa banjir terjadi akibat adanya pelanggaran terhadap penggunaan pemanfaatan tanah, maka, dalam segala pembangunan atau penentuan kebijakan ke depannya, mulai saat ini reforma agraria dan UUPA 1960 harus segera diimplementasikan dengan sungguh-sungguh…..maaf bukan menggurui…sekedar berwacana saja…

    • Setuju! Jadi setiap pemilik tanah harus menjalankan kewajiban memeliharanya juga, kira-kira begitu? Gw pribadi sebagai rakyat, bersedia mematuhi. Tapi dari Pemda juga mungkin perlu ada sosialisasi yang jelas, hal konkret apa yang harus dilakukan. Misalnya di tiap rumah wajib ada sekian lubang biopori, harus ada sumur resapan. Di tiap mall harus ada taman/lahan terbuka untuk serapan dengan luas sekian persen dari luas tanah mall *misalnya*. Juga perlu ketegasan hukum dalam pelaksanaannya. Menurut gue pribadi, solusi seperti ini memang yang paling simple, aplikatif, dan efeknya jangka panjang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s