Kepada Para Penabur Kebencian

Kepada kalian…para penabur kebencian…

Sesungguhnya bukan keyakinanmu yang kami ‘permasalahkan’. Kami memahami jika kalian mengharamkan pengucapan ‘Selamat Natal’. Mungkin bagi kalian, itu sama saja dengan merayakan hari lahir Kristus dan menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan.

Dan sesungguhnya kami tidak ingin menyalahkan . Karena ini masalah keyakinan. Seandainya kami ada di posisi kalian, kemungkinan besarnya kami pun melakukan hal yang sama, demi untuk taat pada apa yang namanya keyakinan.

Kepada kalian…para penabur kebencian…

Yang membuat kami ‘heran’ adalah mengapa kalian harus menyerukan keyakinan kalian di ruang publik? Melalui pesan ‘keras’ dalam sebuah spanduk, lengkap dengan ‘ultimatum’ bagi siapapun yang berani menurunkannya.

Dan yang membuat kami ‘heran’ adalah mengapa tidak cukup bagi kalian menghimbau umat dalam tembok-tembok rumah ibadah, lalu melakukan himbauan itu dengan ketenangan tanpa muka garang penuh ancaman.

Kepada kalian…para penabur kebencian…

Sesungguhnya kami tak akan marah, apalagi tersinggung jika kalian enggan menyelamati kami di hari Natal. Kata ‘Selamat’ tidaklah terlalu penting bagi kami dibandingkan keselamatan yang dibawa Juruselamat kami yang menjadi manusia di hari Natal.

Dan sesungguhnya kami jadi tersinggung karena pesan (yang menurut kami) ekstrem itu dipajang di sebuah spanduk, lalu difoto dan di-share teman-teman kami di media sosial, lengkap dengan komentar-komentar negatif-nya.

Kepada kalian…para penabur kebencian…

Sungguh hebat kalian, karena berhasil membuat kami tergerak untuk mengomentari dan men-share foto sebuah spanduk, sekalipun kami tidak mengetahui kebenarannya, apakah spanduk itu betul eksis dan di mana lokasi pemasangannya.

Dan hebatnya foto spanduk kalian itu, karena sekalipun masih misterius siapa yang membuat dan di mana keberadaannya, berhasil memancing puluhan bahkan ratusan komentar negatif yang pada akhirnya men-generalisasi seluruh umat muslim.

Kepada kalian…para penabur kebencian…

Mungkin awalnya kalian ingin memprovokasi kebencian umat Islam kepada penganut Kristen yang merayakan Natal. Nyatanya kalian malah memancing kemarahan umat Kristen pada umat Islam.

padahal jauh di lubuk hati kami, kami tahu kalian hanyalah oknum…segelintir…tidak mewakili suara saudara-saudara kami yang muslim.

padahal kami harusnya tahu, kalian hanyalah para penabur kebencian, tidak layak dikomentari, ditanggapi, atau di-share-kan ke orang lain… yang pada akhirnya hanya memancing kemarahan lebih banyak lagi orang.

Kepada kalian…para penabur kebencian…

Meskipun mungkin tidak sesuai rencana awal, nyatanya kalian berhasil menaburkan kebencian.

Bukankah memang itu tujuan utama kalian? Kalau begitu, Selamat!

10 thoughts on “Kepada Para Penabur Kebencian

  1. gw sampe geleng2 kepala lho saking ga ngerti ..
    gw aja masih inget betul UUD pasal 29 itu soal kerukunan umat beragama ..
    di, doain aja lha .. bener kata arman jangan sampe kita ikut ketularan🙂

  2. Ah well… Males lah nanggepin kayak gini. Udah makanan tiap tahun. Nggak usah diselametin juga nggak papa kok, nggak akan mengurangi esensi Natal sama sekali. Gue sih mendingan nggak usah diselametin daripada diselametin tapi nggak ikhlas.

  3. Kalo komen banyak sih gpp lah, yang penting sing waras tetep waras. Kitanya jangan kepancing hehehehe. Gue sih ngerasa itu cuma provokasi kok.

  4. Yang gw heran sih yah, kenapa justru kejadian2 kek gini muncul didaerah yg notabene deket sama Ibu Kota Negara. Bukannya krn dekat dgn peradaban malah lebih pinter yah? knp orang2 didaerah lebih bisa mengerti arti toleransi? di Kotamobagu, hometown gw. Tiap Natal akan banyak dtg tamu Muslim ke rumah. Mereka dtg bukan hanya sekedar ngucapin selamat Natal. Tapi dtg bersilahturahmi. Menjaga kekerabatan. Begitu juga sebaliknya. Saat Natal para pemuda muslim membantu polisi ut mengamankan Gereja. Demikian juga saat Sholat Ied, pemuda gereja bersama-sama menjaga lancar nya ibadah mereka. ahh.. Heran gw.. Krn beberapa oknum bikin seolah2 seluruh kaum nya mendukung aksi mereka.🙂

    *ini komen apa postingan yak? :p*

  5. gueh belom liat tuh din spanduk yg lu maksud…tapi tw di berita soal haram mengucapak “selamat natal” di Aceh…sedih sbenernya klo kek gituh yaaa…

    secara sahabat n kerabat jg banyak yg muslim, tp mereka tidak sampe segitunya deh…oknum-oknum aja nih yg sukanya ngerusakin toleransi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s