#4: Saya (memang) Seorang Model

Postingan merupakan perwujudan komitmen saya buat nulis 1 post per minggu (yang faktanya sih ngaret melulu) sampai akhir April 2014, dengan topik kiriman dari teman-teman. Topik kali ini, request dari Gillian.

Apakah saya pernah bermimpi jadi model? Waktu kecil, sebagai gadis cilik nan centil, saya mengaku dengan penuh rasa malu: PERNAH!

Saya bahkan pernah secara khusus request satu sesi foto ke Mami. Kostum pertama saya pake kimono yang dipesen Mami saya di tukang jahit (yang sebenernya lebih mirip kimono mandi), rambut dikuncir-kuncir ala pemeran To Liong To, lengkap dengan bedak dan lipstik. Kostum kedua pake dress you can see dengan topi pantai lebar.

Saya bergaya-gaya tanpa diarahkan, di beberapa lokasi di dalam dan sekitar rumah, dan Mami jadi fotografernya. Sukses menghabiskan satu roll film. Waktu itu saya 7 tahun.

Umur bertambah, saya pun sadar… tidak mudah membuat tubuh bulat ini menjadi langsing, apalagi mengubah tinggi pas-pas-an ke standar pramugari, tak mungkin juga mengubah hidung hoki jadi mancung tanpa operasi plastik.

Intinya makin tau diri, makin menginjak bumi, dan gak ada lagi tuh cita-cita pengen jadi model. Malah sempet ada suatu masa di mana saya benci banget difoto (biasa…masa-masa puber tuh). Hihi.

Tapi… sekalipun sudah tidak bermimpi dan tidak berusaha, ternyata takdir menjerumuskan saya dalam lembah permodelan.

Jadi gini ceritanya….

Begitu lulus kuliah, pekerjaan pertama saya adalah sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan fashion yang memasarkan produknya secara MLM. Karena itu mereka jualan dengan cara cetak katalog per 3 bulan.

Pada proses pembuatan sebuah edisi… ada produk yang baru masuk beberapa hari setelah sesi photo shoot dengan model. Bisa aja sih hire model lagi tapi tentu biaya produksi jadi mahal. Dan bisa aja foto produk-nya aja tanpa model, tapi biasanya yang kayak gitu jadi kurang menjual.

Jadilah si boss punya ide cemerlang: suruh saja salah seorang karyawannya jadi model!

Boss pengen modelnya berkulit putih, biar gak jomplang sama model aslinya yang bule. Di seluruh kantor, hanya ada 2 wanita berwajah oriental berkulit kuning. Yang satu tentunya saya. Yang satu lagi adalah karyawan senior yang ngotot gak mau difoto. Saya, sebagai karyawan junior pun terpaksa nurut request boss.

Jadilah, besoknya saya pun mendadak jadi model. Dan hasil fotonya terpampang di beberapa edisi katalog waktu itu.

Itu semua kaki saya loh!

Itu semua kaki saya loh!

IYA SAYA JADI MODEL KAKI!!! *tebar confetti*

Ya iya lah wong muka gak pantes jadi model. Terus, kakinya pantes jadi model? Kalo kata fotografernya sih, kaki saya lebih mulus daripada Asmirandah loh (Asmirandah jadi model katalog edisi sebelumnya) *senyum malu-malu*

Terus itu betis yang kayak talas bogor gimana? Ya kan ada Photoshop.

Moral of the story: Jangan suka terintimidasi sama foto-foto cewe-cewe cakep dan langsing di majalah. Mungkin anda sedang tertipu.

13 thoughts on “#4: Saya (memang) Seorang Model

  1. Hahaha bener-bener Din, jangan terlalu percaya sama tampang langsing majalah. Belum tentu asli ya :p Eh saya sudah memperkenalkan diri belum ya??? Maaf lupa, saking excited bacanya, jadi main komen aja kan tuh ah. Salam kenal ya Din🙂

  2. eyaampun Din, jadi maksudnya waktu jaman To Liong To alias pedang pembunuh naga ituh…umurmu baru 7 tahun gituh?
    Aku ngikutin tuuuh…dari jaman Sin tiaw hiap Lu..*aduh kayaknya itu ngaco nulisnya*…pokoknya mah Pendekar Rajawali Sakti aja lah…hihihi..

    Ya elah, berasa tua banget dakuh…hihihi…

    Dan dirimuh pantes kok jadi model kaki Din, mungkin bisa ditingkatkan jadi model kuku dan tangan kali yah…hihihi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s