Bicara Jokowi

Jujur saja, sejak ada isu Jokowi bakal nyapres, saya kurang setuju. Saya cuma merasa sayang aja kalo prestasinya di Jakarta harus ‘dinodai’ dengan jadi presiden. Kenapa saya bilang dinodai? Karena jadi presiden udah pasti jauuuh lebih complicated, dan manusia nggak ada yang sempurna, jadi suatu saat akan ada cela yang menodai reputasinya yang sekarang bagus banget. Dan menurut saya, Jokowi masih perlu sedikit dipoles supaya lebih mantap jadi presiden, contoh soal public speaking. Yaaaa 5 atau 10 tahun lagi baru nyapres rasanya lebih pas.

Tapi lalu saya bersyukur banget Jokowi jadi nyapres tahun ini ketika pada akhirnya calonnya cuma dua!

Soalnya, IMHO kalo lawannya Prabowo (yang udah ‘kampanye’ bertahun-tahun), kayanya yang bisa mengalahkan di Pemilu, ya cuma Jokowi. Makanya saya bersyukur banget. Bersyukur karena masih ada peluang (besar) supaya presiden Indonesia bukan Prabowo.

Kenapa?

Awalnya, seperti yang saya tulis secara tersirat di posting 14 Mei, saya tidak memilih Prabowo karena belum terungkap dengan jelas keterlibatannya (atau ketidakterlibatannya) dalam kerusuhan 14 Mei ataupun dalam penghilangan para aktivis. Belakangan, banyak artikel yang memaparkan konspirasi dan fitnah di balik tertuduhnya Prabowo. Sekalipun saya nggak yakin sama kebenaran artikel-artikel ini (karena nggak ada yang ditampilkan platform berita resmi), saya merasa teorinya lumayan juga *kebanyakan nonton Scandal*, jadi ya saya BERANDAILAH Prabowo benar tidak bersalah. Dengan ini pun, ternyata saya masih punya banyak alasan lain kok untuk tidak memilih dia.

Saya juga nggak akan mengusik soal ketiadaan sosok istri di sampingnya. Buat saya ini alasan yang kurang penting. Sekali lagi, saya masih punya banyak alasan lain kok untuk tidak memilih dia.

Saya nggak pandai (dan lagi nggak punya banyak waktu) buat menguraikan pemikiran saya secara sistematis. Tapi saya merasa perlu aja menuliskan ini, sebagai bukti kepedulian saya pada masa depan Indonesia. Jadi, saya akan mengeluarkan isi pikiran saya point per point, tentang mengapa saya (sangat) enggan memilih Prabowo.

1.

Silahkan baca CV Prabowo dan googling tentang Prabowo. Di Pemilu 2004, dia ikut konvensi Golkar buat nyapres, kalah sama Wiranto. Tahun 2008 dia bikin Gerindra. Tahun 2009, dia mau nyapres lagi (jadi kelihatannya bikin partai supaya bisa nyapres *ini asumsi pribadi*), tapi akhirnya setuju untuk jadi cawapres Megawati. Tahun 2014, akhirnya berhasil nyapres. Jadi, Prabowo sudah berambisi jadi presiden Indonesia selama (setidaknya) 10 tahun. Tapi anehnya, selama itu, nggak pernah dia masuk dalam pemerintahan. Nggak pernah jadi mentri, atau walikota, atau lurah-lah… Jadi dia nggak pernah diminta oleh Presiden yang sedang menjabat untuk menjadi bagian dari kabinet (kenapa? kurang kompetenkah?). Dia juga (sepertinya), nggak pernah mencalonkan diri atau terpilih sebagai bupati atau walikota misalnya. Bukankah ambisinya ini jadi mencurigakan? Belum ada pengalaman tapi kenapa fokus sekali langsung ingin jadi presiden?

2.

Dia berkoalisi dengan orang-orang ‘kurang terpuji’ (tersangka korupsi, lumpur lapindo, dan barisan sakit hati).

3.

Terang-terangan menjanjikan jabatan. Apalagi pas baca berita soal jabatan ‘menteri utama’. Ya elah ni orang maonya apaaaaa. Sebenernya transaksi jabatan sih biasa ya di politik, tapi karena lawannya nggak jual jabatan (setidaknya pengakuannya sih gitu, gatau benerannya), tentu lebih menarik lawannya dong. Setidaknya ada itikad untuk menempatkan orang-orang yang tepat di posisi yang tepat, bukan hanya karena udah terlanjur transaksi.

4.

Terlihat jago ngomong dan kharismatik, bahkan saya pun sempat terbuai (walaupun nggak sampe bikin pindah pilihan sih)… tapi isi omongannya banyak yang dipertanyakan kebenarannya. Yang saya tahu (dari hasil baca dan nonton berita), soal ngaku jadi ketua umum HKTI (padahal udah nggak menjabat). Lalu soal pernyataan KPK soal kebocoran keuangan negara sebesar 7200T/ tahun (Padahal Abraham Samad nggak lagi ngomongin kebocoran). Lalu soal perannya dalam memprakarsai undang-undang alokasi dana minimal 1 M ke tiap desa (Padahal salah seorang tim yang bergabung dalam pengajuan undang-undang tersebut menyatakan bukan dia pemrakarsanya, dan cuma ada 1 orang Gerindra di tim tersebut).

5.

Soal TPID pas debat capres 15 Juni kemarin. Jujur pikiran pertama saya adalah: “Ih, Jokowi curang amat nih daritadi pake singkatan-singkatan di pemerintahan. Mentang-mentang dia gubernur jadi ngerti. Prabowo ya wajar aja nggak ngerti.”

Lah justru itu point-nya! Justru (tim) Jokowi cerdik loh, bukannya curang!

Sekarang gini ya analoginya… Misalkan saya sedang melamar kerja jadi graphic designer lalu ketika interview, ditanyain tentang istilah-istilah dan shortcut Adobe yang nggak akan dimengerti orang awam. Kalo saya nggak bisa jawab, yang salah saya yang kurang menguasai, atau si penanya yang rese?

Ya jelas saya yang salah! Berarti saya kurang kompeten di bidang saya.

Sama aja sama Prabowo, dia sedang ‘ngelamar’ jadi Presiden RI loh. Kalo dia ditanya istilah pemerintahan yang rumit lalu dia nggak ngerti, apakah salah Jokowi yang tanya? Ya nggak lah, salahnya dia nggak bisa jawab berarti kurang kompeten atau kurang persiapan.

Ditambah lagi, ternyata TPID ini koordinatornya adalah Menko Perekonomian loh…which is…. cawapres nya sendiri. DOENG

…………………..

Sekian.

Udah? Lima alasan aja? Iya cukup lima alasan aja, alasan yang cukup prinsip buat saya nggak memilih Prabowo.

Tapi kan judul postingan ini ‘Bicara Jokowi’ ya? Kenapa saya malah jadi bicarain Prabowo? Ya gak apa lah ya, kan intinya saya milih Jokowi karena tidak memilih Prabowo. Sekian dan terimakasih.

…………………..

WARNING: Silahkan komen, termasuk jika pilihanmu berbeda. Tapi mari tetap saling menghormati pilihan masing-masing. Komen yang kasar, bernada SARA, atau saya nilai menggangu akan saya hapus.

 

 

 

 

10 thoughts on “Bicara Jokowi

  1. latar belakang aku mendukung jokowi juga bukan karna aku suka banget sama dia..
    Sblm jokowi nyapres, pilihannya cuma prabowo n Arb yg kuat dan saya gasuka 22nya.. Ga perlu dijelasin alesannya hehe
    Untungnya ada jokowi nyapres jd Arb mundur dan berkoalisi sm prabowo.. Seengganya ada peluang 50% indo dpt presiden yg baik🙂
    Anyway tpid adalah tanggung jawab pemerintah pusat karna diatur oleh bank sentral (BI).. Bukan wewenang kepala daerah seperti yg diucapkan prabowo saat debat..
    Siapapun yg menang semoga indo lebih baik deh!🙂

  2. Awalnya juga aku ga setuju jokowi nyapres krn kesannya nanggung beresin jakarta aja belom beres uda mau urusin Indonesia…Tapi karena lawannya mr.bowo yah tentu aja lbh dukung jokowi & setelah baca postingan dirimuu jadi makim mantep pilih jokowow…

  3. Gue sih udah pasti nggak akan milih Prabowo. Gue pun nggak masalah kalo Jokowi nggak jadi Gubenur DKI, karena wakilnya si Ahok sangat kompeten untuk beresin Jakarta. Sebagai orang keturunan Chinese dan beragama Katholik, gue ini sangat minoritas lah di Indonesia, jadi gue cuma mau pemerintah di masa depan menjamin kebebasan gue untuk beribadah, dan nggak mempermasalahkan garis keturunan gue. Itu tok. Masalah pendidikan gratis, kesehatan gratis, endebray endebrey sih cuma bonus aja buat gue.

    Tambahan alasan yang semakin menguatkan gue untuk milih dia: Prabowo didukung oleh FPI, apapun alasan dukungannya (yang katanya nggak bersyarat, dan menurut Hashim, kita sebagai orang Kristiani harus memaafkan, endebray endebrey), menurut gue seseorang yang bersedia didukung oleh kelompok preman, berarti mendukung atau paling nggak menerima tindak laku kelompok tersebut. Prabowo bisa aja lho menolak untuk didukung FPI, tapi nggak kan? Sekarang aja FPI yang di atas kertas nggak didukung oleh pemerintah sudah merajalela, bayangkan kalau mereka didukung oleh presiden?

  4. Alasannya sama hehee. Gw juga awalnya merasa jokowi pantesnya nyapres 5 taon lagi. tapi daripada ga ada pilihan laen (bowo dan arb) ya sudah la milih jokowi aja.
    Tapi makin menjelang pilpres gw juga siap2 hati kalo misalnya akhirnya bowo yg jd presiden. Ya sudahlah, smoga Indonesia tetap maju dan aman sentosa, siapapun presidennya. Yang penting suasana Indonesia tetap kondusif dan ga ada rusuh2 pasca pilpres. aminnn..

  5. Kalo menurut gue sih ya, yah ga perlulah sampai Prabowo jadi gub atau bupati atau walikota or menterilah. Tapi dia kan bisa ambil jalan non pemerintahan kayak Anies Baswedan. Misalnya HKTI.. Do something dong ama itu himpunan kalo emang bener dia ketuanya. Ampe bisa diakui dunia atau se Indonesia tau apa itu HKTI dan apa yang dia lakukan melalui HKTI. Kan dia selalu mengulang2 kalo dia punya hati di bidang pertanian Indonesia, pangan dll.. Apalagi dia uda nyiapin diri nyapres selama 10 tahun.. Kalo dia emang punya hati, gue yakin 10 tahun banyak yang bisa dia lakukan di bidang pertanian lewat HKTI…

  6. Paling membuka pikiran yang mr.bowo udah mau nyapres dari 2002 dan dia kurang banyak mengisi CV nya selama 10 tahun trakhir.. Tapi langsung ingin di posisi teratas…
    Kalau dulu mr.jkw gak nyapress dan saingan dia tuh macam arb, gw prefer ke dia loh.. Karena promosi dia yang ingin membuat Indonesia jadi macan asia, dia tegas dll.. Tapi… karena dia di dukung sama kawanan si berat (lumpur, sapi, barisan sakit hati), pastinya gak akan ke dia dhe.. Apa lagi mr.jkw juga nyapress… hoho.. Dan makin lama makin serem dia didukung sama FP* lah, F*R lah… ormas” yang……….

  7. Pingback: Bicara Jokowi #2: Usaha Terakhir | Cerita Bendi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s