Bicara Jokowi #2: Usaha Terakhir

Di posting sebelumnya, saya kasih judul “Bicara Jokowi” tapi malah ngomongin Prabowo. Maksudnya sih  mau bikin posting sambungannya, tapi ternyata abis itu sibuk buk buk… *banyak alesan*.

Karena itu, kali ini, dua hari menjelang pilpres, saya meluncurkan usaha terakhir untuk memaparkan kenapa saya (terang-terangan) pilih Jokowi. Usaha terakhir di blog ya… kalo di socmed lain sih , gak janji. Hihi.

Kenapa pilih Jokowi?

1.

Karena menurut pendapat saya, beliau (bersama Pak Ahok) berhasil memperbaiki Jakarta. Yang saya liat dan rasakan sendiri sih ada beberapa poin. Pertama Waduk Pluit. Dulu tiap kali lewat Pluit dan ortu nunjukkin “Itu Waduk Pluit” saya nggak pernah mudeng. Di buku pelajaran, waduk itu kan kayak danau ya, ini kok kayak hutan? Mana airnya? Ternyata penuh ketutupan tanaman liar sepertinya ya. Belum lagi di situ terkenal rawan. Nah beberapa bulan lalu saya lewat dan terkagum-kagum ngeliat taman gede mengelilingi danau yang ternyata….waduk Pluit.

Kedua, pelayanan di kelurahan. Saya terkaget-kaget terakhir ke kelurahan kok berubah banyak ya. Kalo soal pelayanannya sih, kelurahan saya emang dari dulu udah OK. Tapi ini tempatnya jadi nyaman banget, mirip bank swasta. Ngambil nomor antrian pake mesin, lalu tinggal nunggu nomornya muncul di layar, terus maju deh ke counter. Tempat nunggunya pun nyaman dan indoor.

Ketiga, saya ngerasain sejak pemerintahan Jokowi-Ahok, waktu tempuh saya ke kantor sedikit demi sedikit semakin cepat. Memang masih macet sih, tapi saya merasakan perubahan. Sebenernya saya juga bingung apanya yang diubah, tapi efeknya terasa.

2.

Program-program yang diusungnya praktikal. Dan benar-benar diwujudkan dengan efektif. Sejak debat cagub Jakarta, Jokowi-Ahok langsung bawa perencanaan kampung deret. Dan gayanya ini dibawa terus sampe pencapresan sekarang. Salah satunya, ketika dia jadi ‘sales’ kartu di debat capres. Waktu itu saya sama Mas Ben jujur aja ikut ketawa ngece. Tapi setelah dipikir-pikir, ya emang dia begitu karena dia konsisten itu (menurut dia) solusinya. Nggak banyak ngomong yang ngawang-ngawang, langsung ke praktek.

Soal kekurangan dan cela dalam pelaksanaannya, itu lain soal. Ya namanya juga program baru, pasti banyak hambatan. Saya sendiri tadinya menyepelekan kebijakan KJS dan KJP. Kenapa? Bukan karena saya merasa idenya jelek tapi karena saya pesimis bisa jalan. Tapi ternyata, teman saya sendiri mengalami betapa bergunanya kartu itu. Papanya dilayani dengan cepat segala perawatan dan pengobatan di rumah sakit, sama seperti pasien lain yang membayar.

Seperti kata Anies Baswedan… (ini kutipan kurleb ya, saya nggak sempet cari link kutipan tepatnya): orang yang menertawakan kartu Indonesia Sehat pasti nggak pernah merasakan gimana rasanya bawa anaknya ke rumah sakit tapi nggak bisa bayar.

Bener juga ya.. saya kurang menghargai karena nggak pernah merasakan susahnya. Programnya bagus. Pelaksanannya kurang, tapi kalo Jokowi jadi presiden, dia akan lebih leluasa melancarkannya, kan?

3.

Revolusi Mental. Ini adalah ‘gerakan’ yang senantiasa diusung Jokowi dan timsesnya. Saya teringat beberapa tahun lalu, pernah ngobrol soal negeri ini sama temen. Kita merasa Indonesia nggak punya harapan karena korupsi udah begitu mengakar. Mungkin Indonesia baru bisa maju kalo satu generasi dimusnahkan.

Jujur saja, awalnya saya memilih Jokowi hanya karena dia bukan Prabowo. Tapi itu semua berubah waktu saya nonton klip Revolusi Mental. Pertama nonton itu, rasanya seperti ada semangat yang membuncah di dada. Saya tahu, itulah titik optimisme muncul lagi di hati saya. Akhirnya ada pemimpin yang sadar bahwa kekayaan negeri ini bukanlah SDA seperti yang sering digaung-gaungkan, melainkan SDM nya. Dan akhirnya ada pemimpin yang begitu kerennya, bisa bikin gerakan ini. Tambah keren lagi, karena dia sendiri udah jadi teladan.

Klip itu yang bikin saya dukung Jokowi, bukan lagi karena dia bukan Prabowo. Hehe.

4.

Karena Jokowi didukung orang-orang yang saya kagumi. Sebut saja… Dahlan Iskan dan Anies Baswedan.
Jokowi juga didukung PDIP, NasDem, dan Wiranto sih yang sebenernya kurang saya suka. Tapi waktu jadi gubernur juga Jokowi didukung PDIP kok, toh kinerjanya juga bagus. Urusan nanti disetir… menurut saya sih jadi presiden nggak mungkin bener-bener bebas dari tuntutan-tuntutan orang-orang di sekelilingnya. Realistis aja. Tapi minimal janjinya Jokowi bahwa koalisi ini bebas dari transaksi posisi di pemerintahan.

5.

Jokowi memberi banyak keteladanan. Bukan berarti dia sempurna, tapi banyak hal yang bisa diteladani dari dia sebagai pemimpin. Dan baru kali ini saya merasa memilih pemimpin karena memang kagum dan yakin, bukan karena ‘sepertinya dia paling mendingan di antara yang lain’. Haha.

Keteladanan apa aja?

Pertama, soal nepotisme. Dia ngelaran anaknya, Gibran, yang bisnis catering untuk ambil job di lingkungan pemda Solo.

Kedua, soal sikap ‘kalo mau pasti bisa’. Pernyataan ini beberapa kali saya dengar dari Jokowi dan Ahok. Seneng banget saya dengernya. Udah muak sama alasan-alasan para pemimpin. Dan mereka memang membuktikan kata-kata itu. Contohnya… lelang jabatan, bersihin waduk Ria-Rio, mewujudkan kampung deret, dan…masih banyak lagi. Kalo mau, bisa kan? Bayangin apalagi yang bisa beliau lakukan waktu memimpin Indonesia, dengan sikap seperti itu?

Ketiga, soal ketegasan. Saya bingung loh kalo Jokowi suka dianggap nggak tegas. Saya kok malah merasa dia tegas sekali ya. Tegas nggak mau koalisi kalo ada ‘titipan’. Tegas waktu sidak para PNS. Tegas sampe bisa bersihin kawasan waduk Ria Rio. Tegas bersihin Tanah Abang. Emang sih ada Ahok, tapi Ahok aja sempet mention kalo Jokowi itu tegas. Lah kok bisa kita yang nggak percaya? Hehe

………………………..

Udah lah 5 alasan aja ya, saya masih harus kerja soalnya.

Sebagai penutup, saya masih mau ngomong sedikit soal Prabowo. Gatel. Hehe.

Saya pernah diskusi sama beberapa temen, apa sih yang bikin orang dukung Prabowo? Saya sampai googling loh. Temen saya sampe bikin survei kecil-kecilan di FB. Lucunya, rasanya kok alasan orang milih Prabowo cuma karena nggak suka sama Jokowi. Kalo diminta menyebutkan kelebihannya Prabowo, pasti selalu dalam konteks kontra nya Jokowi.

Kalo dibandingkan, pendukung Jokowi-JK tuh aktif banget di socmed, saling sharing prestasi keduanya. Sedangkan pendukung Prabowo-Hatta, kalo sharing banyakan model meme-meme macam: “Jokowi-Jk adalah kita. Kita adalah rakyat. Jokowi-JK adalah rakyat”. gitu.

Termasuk Cameo.

Saya gatel pengen komen dikit tentang pilihan Cameo dan mengapa mereka dihujat massa. Menurut saya, bukan pilihan mereka yang salah (milih Prabowo-Hatta), tapi content video mereka yang menyinggung.

Masalahnya, mereka membawa isu yang sensitif: penculikan. Di situ mereka bilang kalo itu bukanlah penculikan tapi pengamanan. Sepertinya mereka mengutip dari salah satu artikel, di mana Prabowo bilang memang mengamankan, tapi lalu terjadi kesalahan teknis.Gimana bisa dibilang mengamankan kalo diciduk dengan paksa? Gimana bisa dibilang mengamankan kalo udah ada testimoni bahwa mereka disiksa? Gimana bisa dibilang mengamankan kalo sampe sekarang, masih ada keluarga yang menunggu anaknya pulang? Sensitif banget. Saya aja pas nonton bagian itu rasanya kesel, gimana keluarga korban?

Kalo timses nya Prabowo bilang ini kasus yang udah usang. Kenapa nggak diungkit pas Mega-Prabowo mencalonkan diri tahun 2009? Hei hei hei… Tahun 2009 itu elektabilitas Mega-Prabowo terlalu rendah, dan pilihan calonnya banyak. Kalo ada yang angkat isunya, juga rasanya nggak bakal rame. Sebagai buktinya, tahun itu SBY-Boediono terpilih satu putaran. Lagian gimana bisa usang sih kalo sampe sekarang belum terungkap dan masih ada yang hilang? *esmosi*

Udah gitu, alasan-alasan Cameo yang lain juga kurang persuasif sih menurut saya. Para pendukung nomor satu yang di TV, masih lebih cerdas-cerdas alasannya.

Jadi Cameo, dan para talent nya…. jangan sedih ya kalo dihujat massa. Abis emang kontroversial sih.

……………………….

Sekian segitu aja curhat malam saya. Apapun pilihanmu, jangan golput ya. Pilihanmu menentukan masa depan Indonesia.Terakhir, saya mau mengutip kalimat Angela yang kereeeen banget (sorry gak ijin ya, Ngel):

I know someone who will vote for a candidate just because she was fed up with the opposite candidate’s supporters and wanted to piss them off, and another one who will vote just for the irony. It’s just simply immature and an act of a child, there’s a reason why kids under seventeen years old are not allowed to vote.

So, kalo kamu sudah dewasa, gunakanlah hak pilihmu, dan memilihnya dengan bijak.

9 thoughts on “Bicara Jokowi #2: Usaha Terakhir

  1. Jujur sebenernya gue juga nggak peduli dengan program kesehatan dan pendidikan, toh nggak ada gunanya buat gue. Tapi buat mereka yang kurang beruntung, program ini sangat membantu banget lho.

    Contoh real yang gue tau banget: Mbak harian gue. Sekitar 20 puluh tahun lalu (udah lama banget deh pokoknya), si mbak jatuh dari tangga sehingga tulang panggulnya patah (atau gimana nggak jelas, karena udah lama banget), pokoknya si mbak jalannya jadi pincang. Karena nggak ada duit kan buat ngobatin, jadi ya cuma ke tukang urut aja. Terus makin ke sini kakinya makin sakit, akhirnya ke puskesmas, dan karena udah ada program KJS dirujuk lah ke RS pemerintah. Singkat cerita, si mbak harus dioperasi panggulnya, diganti mangkok-nya pake mangkok buatan gitu, dan guess what operasinya (dan biaya endebray endebreynya) itu gratis berkat KJS! Coba bayangkan setelah puluhan tahun, akhirnya si mbak bisa mengobati kakinya berkat KJS. Sungguh perubahan hidup ke arah yang layak.

    Itu baru satu orang di Jakarta, bayangkan kalo hal ini bisa diimplementasikan ke seluruh pelosok negeri. Berapa banyak orang yang kualitas hidupnya bisa menjadi lebih baik karena satu program ini tok.

    Makanya nggak salah deh pilih Jokowi. #salam2jari

    Btw… Kayaknya gue harus share nih di blog cerita si mbak.

    • Iya, Ngel… Bokapnya temen gw itu udah harus katerisasi dari 2 th yg lalu tapi nggak ada biaya. Akhirnya sekarang jadi bisa berobat, sampe operasi by pass nya bebas biaya sama sekali loh. Keren banget kan.

  2. Pingback: kerja nyata jokowi | domesticated life

  3. Hi Sis, numpang komen yah. Kalo gua merasakan nikmatnya naik KRL, skrg jadi murah meriah nikmat. Meskipun yg naik sudah berlipat ganda (karena tarif), tapi sistimnya masi terus diperbaiki dan sangat cepat. Dan ini juga bener2 terbukti setelah Jokowi-Ahok naik, stasiun2 KRL di Jkt berubah cantik, memakai sistem tap kartu spt di LN, pintu2 keluar diperbanyak. Luar biasa kerja mereka, two thumbs up

  4. cameo ini gw baru liat persis sebelom gw baca blog mu din. gw heran deh pertamanya ini kirain video netral tentang pilpres (karena mengungkap kelemahan masing2 kandidat), eh ternyata makin ke ujung baru kliatan ni video dukung kubu si anu, Emang isu terlalu sensitif sih yang dijadiin guyonan -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s