Hunting Baby Gym Raka #1

Semakin besar, semakin keliatan Raka itu sangat eksploratif dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Dia perlu di-stimulus dengan hal baru terus-menerus dan dikasih tantangan supaya semangat dan hepi. Nah, ada masa-masanya saya ngerasa mati gaya. Bingung mau ngapain lagi. Kalo udah kaya gini, si little boss juga jadi bete deh. Keliatan banget dia juga bosan.

Akhirnya saya mulai mempertimbangkan buat daftarin Raka ke baby gym. Seminggu sekali aja lah, setidaknya saya juga jadi punya ide-ide baru. Padahal tadinya saya agak anti loh sama berbagai bentuk enrichment class (buat bayi dan toddler) dan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Saya tadinya mau masukkin Raka ke sekolah kalo umurnya minimal 3 tahun.

Yah… saya pikir, nggak ada salahnya lah ikut free trial dulu. Masalahnya… ikut free trial di mana ya? Di lingkungan rumah saya, pilihannya BUANYAAAAAAAAK banget *puji Tuhan*. Nggak ada pilihan, bingung. Banyak pilihan, bingung juga. Hehe.

Jadilah postingan ini sepertinya akan berseri (saya berencana memaksimalkan fasilitas free trial di semua pilihan baby gym/ preschool yang lokasinya terjangkau hihi). Semua review dan pengalaman trial Raka di sini, nggak akan saya sebutkan nama tempatnya, dan tanpa foto. Tapi buat ibu-ibu di luar sana yang perlu info jelasnya, bisa hubungi saya langsung via e-mail🙂

Mari kita mulai… *beware…postingan ini superrr panjang tapi pasti informatif buat yang membutuhkan* *wink*

PLACE A – Play Class

Ini salah satu franchise baby gym yang paling mainstream sepertinya. Makanya ini yang pertama kali saya datangi. Di sini ada 3 macam kelas: Play (6 bulan-3 th, dibagi dalam 3 level), Music (2-3 tahun), dan Art (14-28 bulan). FYI kelas di sini full english.

Trial pertama, kita ikutan play class. Hari itu kelasnya cukup ramai, mungkin hampir 20 anak (?). Setiap anak didampingi oleh 1 pendamping. Sekalipun ramai, ruangan gym nya cukup luas.

Pertama-tama, circle time. Biasalah nyanyi-nyanyi lagu absen sambil sebut nama masing-masing. Hari itu temanya warna, jadi gurunya tunjukin 2 warna kartu (biru dan merah kalo gak salah) sambil disebutin. Lalu kartu itu dideketin ke tiap anak satu persatu, diminta tunjuk yang mana warna biru, yang mana warna kuning.

Setelah itu, main di alat-alat gym nya. Udah dibikinin semacam jalur, pertama ke sini lalu ke situ dan seterusnya. Sambil jalan, sambil dibantuin oleh guru-gurunya dan diajak nyebutin warna-warna yang dilewati.

Lalu ada games dibagikan semacam klip warna warni. Di lantai diletakkan semacam bantal warna warni. Anak-anak diminta menaruh klip di bantal dengan warna yang sama.

Lalu games lain, dengan bola berwarna pelangi. Mereka harus ambil bola dari satu pos lalu dibawa ke pos lain dan dimasukkan ke dalam botol. Botolnya dipegang oleh salah satu miss, sebut saja miss. A. Yang menurut saya aneh, si miss ini bikin sound effect kaya orang kesakitan tiap ada anak masukkin bola ke botol (tangannya pegang botol di bagian mulut botol, jadi buat masukkin bolanya harus agak ditekan lewatin tangannya). Entah apa maksudnya. Apakah ngelucu? Kalo ngelucu, saya nggak liat ada anak yang ketawa-ketawa. Malah keliatan bingung. Dan buat Raka yang baru pertama kali, dia malah ketakutan dan jadi nggak mau masukkin ke botol. Ahahaha

Abis itu main-main dengan parasut warna-warni. Parasutnya dipegang para pendamping di atas kepala anak-anak. Lalu digoyang-goyang, lalu entah apa lagi, lupa. Yang saya inget, Raka ketakutan sama parasut ini dan ogah deket-deket. Dia cuma melokin kaki saya aja.

Setelah itu, kayanya ada nyanyi-nyanyi lagi sedikit, lalu tangan atau kaki anak-anak di stamp, lalu pulang deh.

(+)

  • Ruangan cukup luas dan (kelihatannya) bersih
  • Sound system bagus dan lagu-lagunya catchy. Raka langsung joged-joged begitu denger lagu.
  • Buat saya, cukup seimbang antara main dan belajar, dan terutama belajar melalui main.
  • Peralatan gym cukup variatif.
  • Games nya seru tapi juga edukatif.
  • Reasonable price
  • Satu group dengan preschool/kindergarten yang kualitasnya cukup OK.

(-)

  • Si miss. A itu agak-agak bikin Raka takut. Selain soal dia jerit-jerit pas games… si ms. A ini juga gaya dan logatnya agak kenceng meletup-letup gitu. Bukan salahnya sih, kebiasaan aja, tapi Raka yang yang nggak biasa kali ya.
  • Waktu untuk explore dan main dengan alat-alat gym nya cuma sebentar (karena durasi total juga cuma 45 menit), padahal Raka tertarik banget buat manjat sana sini.

Place A – Music Class

Kali kedua saya datang buat coba ikutan Music Class-nya. Di price list, ditulis music class untuk 2-3 tahun. Saya bilang Raka baru 15 bulan, tapi disuruh ikut aja. Karena free juga saya pikir boleh lah dicoba. Saya emang pengen kenalin Raka dengan musik sejak dini.

Saya nggak inget urut-urutan detail kegiatan hari itu. Ini saya sebutkan random aja ya.

Anak-anak dikasih 2 tongkat kayu. Mereka diajak mukulin stik kayu itu sesuai irama lagu yang diputar. Raka seneng nih walaupun mukulnya asal-asalan. Tapi waktu tongkatnya dikumpulin, dia ngamuk nggak mau kasih. Akhirnya tuh tongkat dipegangin sampe hampir akhir kelas.

Lalu ada lagi semacam story telling pakai lagu dan boneka. Anak-anak diminta duduk di bantalan, sambil pura-pura mendayung diiringi lagu “Row your Boat”. Lalu tiba-tiba ada ‘buaya’ muncul (pakai boneka buaya). Dan sumpeh ini si ms. A lagi, bikin adegan buaya nya bener-bener ngeri termasuk pake ‘gigit-gigit’ kaki anak-anaknya. Sebagian anak sih ketawa-ketawa sambil lari-lari kabur. Raka? kabur beneran sambil jerit. Dan setelah itu, tiap dia liat si buaya, langsung ketakutan. Haha kasian.

Lalu ada lagi anak-anak disuruh ‘perform’ nyanyi di atas panggung kecil. Intinya sih anak disuruh berdiri situ terus cuma ikutin gurunya senandung “la.. la.. la..” asal-asalan sambil pegang mic. Lebih ke supaya anak berani aja sepertinya.

Di akhir sesi, disediakan berbagai alat musi, anak-anak boleh pilih mana yang mereka mau lalu diminta memainkan alat musik itu mengikuti lagu yang diputar.

(+)

  • Alat-alat musik dan penunjangnya cukup variatif.
  • Lagu-lagunya seru dan ceria
  • Reasonable price
  • Satu group dengan preschool/kindergarten yang kualitasnya cukup OK.

(-)

  • Guru-gurunya terlihat bukan yang expert di bidang musik, apalagi musik buat anak-anak piyik gini. Jadi menurut saya sih kelasnya jadi kurang terarah.

Biaya Place A:

Registrasi: Rp 900.000 (1x saja di awal)
Membership: Rp 200.000/year
Monthly fee:
Rp 420.000 (1x per week)
Rp 550.000 – 620.000 (2x per week)
Rp 680.000-800.000 (3x per week)

Note: yang ada range harga itu tergantung dari berapa jenis kelas yang diambil.

Place B

Place B direkomen oleh salah seorang teman blogger. Tempat ini juga full english.

Begitu sampai, muridnya sama sekali belum ada yang datang. Raka diajak main di dalam gym nya. Kesan pertama saya adalah terpesona dengan alat-alat gym-nya yang banyak dan keliatan seru.

Gurunya ada 2 orang. Raka diajak main dan coba berbagai permainan di gym sambil diajak sebutin warna-warna di gym. Lalu murid-murid lain mulai datang. Jumlahnya mungkin belasan orang. Semuanya dibiarkan main dengan alat-alat pilihan masing-masing sambil di-challange.

Contohnya, waktu Raka mulai tertarik pada sebuah street cone, Raka diajak memasukkan tongkat-tongkat warna-warni ke dalam cone sambil diajak menyebutkan warnanya satu persatu.

Setelah beberapa waktu, murid-murid diajak masuk ke ruangan lain, ternyata inilah kelasnya. Ruangan ini cuma terisi lemari besar yang rapih, dan lantainya diberi alas busa empuk. Waktunya circle time.

Tema hari itu adalah ‘rocket’. Murid-murid ditunjukkan gambar roket. Lalu ada games yang setema. Murid-murid dibagikan piring plastik yang sekelilingnya dijepit dengan penjepit kertas. Lalu diputarkan lagu. Ketika lagunya berhenti, murid-murid diminta melepaskan satu penjepit kertas dan meletakkannya di tengah.

Lalu ada permainan dengan roket yang dibuat dari kertas. Tapi saya lupa permainannya gimana.

Lalu (sepertinya… saya lupa urutan pastinya), waktunya free play lagi. Murid-murid diajak ke gym dan bebas main lagi selama beberapa waktu lagi.

Lalu… diajak masuk kelas lagi. Kali ini waktunya music time. Murid-murid dibagikan triangle dan diajak main musik sesuai lagu yang diputar.

Lalu waktunya massage. Murid-murid ditaruh di posisi tengkurap, lalu dipijat oleh masing-masing pendamping dengan bola. Lah Raka mana betah suruh tiduran diem-diem. Yang ada dia kabur-kaburan dari saya. Haha. Kegiatan massage ini diakhiri dengan murid-murid diangkat dengan posisi kaki di atas. Raka girang banget. Sampe sekarang, dia suka ‘minta’ diginiin di rumah.

Setelah itu… parachute time. Saya nggak ngerti kenapa baby gym demen pake parasut warna-warni. Hehe. Raka udah nggak ketakutan tapi tetep nggak mau gabung di bawah parasut.

Lalu flash card. Murid-murid berbaris lalu ditunjukkan flash card satu persatu. Karena temanya roket, flash card nya juga tentang roket. Seinget saya, flash card nya cuma 2 Haha.

Setelah ‘belajar’ flash card, anak-anak diberi stamp di tangan atau kaki.

Di jadwal, durasi kelas harusnya 1 jam, tapi prakteknya 1,5 jam.

(+)

  • Peralatan gym-nya banyak, variatif, dan bisa dimodifikasi. Menurut marketingnya, tiap beberapa minggu, setting alat-alatnya diganti biar anak-anak gak bosan. Setelah kelas sih memang ada bapak-bapak lagi dijelasin sama guru-gurunya. Kata si marketing, ini lagi mau ganti setting buat kelas anak-anak yang lebih besar.
  • Saya suka ruangan kelas dan ruang gym yang terpisah karena anak-anak jadi lebih bisa fokus. Di Place A, Raka nggak betah circle time karena masih pengen explore alat-alat gym-nya.
  • Kegiatannya banyak, variatif, dan fun, tapi tetap edukatif.
  • Ruangan-ruangannya terlihat sangat bersih dan rapih. Nggak ada tumpukan benda-benda gak jelas.
  • Sound system dan lagu-lagunya seru dan ceria.
  • Marketingnya informatif. Dan cuma marketing Place B yang follow up saya seminggu setelah trial. Yang lain cuek-cuek aja.

(-)

  • Gurunya cuma 2 orang untuk belasan anak. Dan yang aktif cuma 1 orang. Yang satu lagi agak pasif.
  • Jadwal kelasnya dimulai jam 11 siang, terlalu dekat dengan waktu tidur siang Raka (sekitar jam 11.30) sehingga menjelang akhir kelas, Raka mulai cranky karena udah ngantuk.
  • Lokasi di dalam mall. Ini sih preferensi pribadi, saya kurang suka aja karena butuh waktu lebih banyak untuk parkir dan jalan melewati mall menuju lokasi.
  • Biayanya lumayan kakaaak. Hehe

Biaya Place B:

Registrasi: Rp 250.000
Membership: Rp 1.100.000
Resources fee: Rp 100.000/term
Monthly fee:
Rp 600.000 (1x a week)
Rp 800.000 (2x a week)
Rp 1.000.000 (3x a week)

Note: antara registration sama membership fee, saya nggak jelas mana yang sekali bayar mana yang tahunan, karena belum tanya-tanya lagi ke marketingnya.

Place C

Place C direkomen oleh temannya teman. Place C tidak menyediakan free trial. Kalau mau trial harus bayar Rp 50.000 tapi nanti kalau kita jadi daftar, uang registrasinya akan dipotong Rp 50.000. Nggak mau rugi nih ye…

Waktu googling tentang Place C, feeling saya udah kurang enak. Pertama, karena logonya sepertinya ngambil dari clip art entah di mana (soalnya saya berasa familiar banget), berupa seorang anak lagi tersenyum lebar sambil pegang kertas bertuliskan “A+”. Lalu ketika saya ngeliat seragam gurunya bertuliskan “Babies can read” saya makin gak napsu.

Kenapa? ya saya sih nggak menentang ya orang-orang yang pengen anaknya berprestasi secara akademis sejak dini. Tapi saya bukan tipe yang kaya gitu aja sih. Saya cari tempat belajar melalui bermain buat Raka.

Tapi ya karena udah sampe, nggak ada salahnya lah trial.

Waktu baru sampai, Raka dipersilahkan main dulu di sebuah ruangan. Ruangan ini agak kecil, isinya berbagai peralatan simulasi berbagai profesi dengan ukuran anak-anak. Ada meja rias dan alat-alatnya (salon), ranjang RS dan alat-alat kedokteran, truk pemadam kebakaran, kitchen set, kios sayur dan buah, sampai alat-alat janitor.

Lucuuuuu…. dan pastinya Raka betah banget main di sini sampe ogah saya ajak pulang. Waktu saya tanya marketingnya itu ruangan apa, katanya buat main aja selama anak-anak nunggu kelas atau nunggu dijemput. Agak sayang ya menurut saya, saya pikir bakalan ada semacam kelas role-play.

Kelas sudah mau dimulai, anak-anak diajak masuk kelas di lantai dua. Pegangan tangga sudah dibuat bersusun. Ada pegangan untuk orang dewasa, ada yang lebih pendek untuk pegangan anak-anak.

Di lantai dua, saya sempat ngintip toiletnya, semuanya dibikin mini buat ukuran anak-anak.

Masuk kelas, saya ilfil lagi. Ruangannya terlihat dekil. Di pinggir-pinggir ruangan banyak tumpukan barang-barang dan kotak container. Ada papan tulis kecil yang bahkan ketutup barang-barang itu. Lalu banyak bagian dinding dan peralatan yang dekil, bernoda, bekas selotip, dan sebagainya. Klimaksnya, hidung saya langsung gatal. Sebagai penderita rhinitis, hidung saya ini bagaikan detektor debu. Kalo masuk ruangan yang banyak debu, hidung saya langsung complain. Hmmm….

Muridnya total cuma 5 orang (sudah termasuk 2 anak yang trial) dengan satu orang guru. Dan…gurunya juga…bikin agak ilfil….*sorry to say* agak dekil. Bukan soal fisiknya jelek loh yaaaa, orangnya cantik padahal. Tapi dia pake baju seragam guru yang warnanya udah rada pudar, rambutnya di-ekor kuda tapi berantakan, dan mukanya berminyak. Tapi…saya berusaha nggak menilai dari sisi ini.

Kelas akan dimulai, kami yang trial dijelaskan tata tertib-nya. Pendamping kalo perlu bicara musti bisik-bisik. Cuma boleh minum air putih di dalam kelas. Dan kalau anaknya nangis, harus dibawa keluar. Mmm strict juga ya.

Lalu… si miss menjelaskan kalau hari ini adalah Chinese class.

*petir menyambar* *jeger*

*FYI saya SAMA SEKALI nggak bisa mandarin. Bahkan angka pun saya nggak tahu*

OK lah, dengan muka sok cool, saya mengangguk sambil tersenyum.

Dan selama setengah jam kemudian… full flash card!!!

Jadi metodenya gini….

Pertama, si miss nunjukkin flash card dengan tema tertentu di depan. Setelah selesai tiap seri, dia menghampiri tiap anak satu persatu dengan menunjukkan 2 buah flash card di antaranya, lalu disuruh menunjuk benda yang dia sebut.

Note: Semuanya ini dilakukan dalam bahasan chinese. Jadi awal-awal saya cengok sama sekali nggak ngerti. Tapi setelah beberapa kali, saya baru mengerti maksudnya, dan bisa membedakan kapan Raka salah dan kapan Raka benar.

Flash card-nya macem-macem. Mulai dari tema hari itu… yang mana temanya kebetulan roket juga (sama seperti pas trial Place B). Yang menurut saya, gambar di flash card nya mirip-mirip semua. Bahkan kalo saya disuruh sebutin itu gambar apa dalam bahasa Indonesia atau Inggris, saya nggak tahu itu benda apaan.

Lalu ada flash card yang berisi text lagu. Jadi sambil diputerin lagu dari player, sambil ditunjukkin flash card bertuliskan kata-katanya.

Ada juga flash card numeral/matematika. Bentuknya berupa dot-dot hitam dalam jumlah tertentu. Dan jumlahnya banyak loh ya bukan 1,2,3 dot gitu… tapi 20-an dot.

dan lain sebagainya.

Yang bikin saya amazed… Raka itu  nggak pernah denger bahasa Mandarin. Dan flash card nya menurut saya susah-susah. Tapi…. dia hampir selalu benar pas disuruh pilih. Dari segitu banyak set flash card, salah nya paling cuma 2-3 kali. Memang sih pilihannya selalu cuma 2, jadi peluangnya 50-50. Tapi masa iya, sering banget benernya.

Saya jadi mikir apa metode flash card memang se efektif itu ya? Ada yang mau sharing pengalaman?

Back to topic…

Dalam setengah jam itu, tentu saja anak-anak 2 tahun ke bawah ini pada nggak betah dong ya. Satu anak mulai keluyuran, yang lain ikut, tapi semuanya diarahkan untuk duduk dan fokus memperhatikan flash card.

Setelah selesai, barulah turun ke lantai 1 menuju gym. Ruangan gym nya cuma 1/3 Place A atau setengahnya Place B. Peralatannya cukup variatif, tapi sekali lagi… dekil. *helanafas*

Anak-anak diminta mengikuti jalur. Salah satunya jalan zig zag menghindari cone-cone. Yang ada, cone-nya diambil dan dikumpulin sama Raka. Haha.

Di sini, saya diajarin teknik buat megangin Raka supaya bisa belajar main di monkey bar.

Lalu, rasanya cuma sebentar nggak sampai setengah jam, sesinya selesai.

(+)

  • English class dan Chinese class bergantian setiap minggunya. Jadi bisa belajar Mandarin sekalipun Maminya ini butaaaa.
  • Ada ruang main role play yang Raka suka banget.
  • Diajarin gelantungan di monkey bar *haha*
  • Ada preschool dan kindergarten-nya jadi bisa nyambung terus.

(-)

  • Peralatan, kelas, guru…berantakan, dekil, kurang terawat.
  • Harus naik turun tangga antara kelas dan gym.
  • Terlalu mementingkan akademis. Buat ortu yang memang pingin anaknya berprestasi akademis sejak dini, Place C sih harus banget dicoba.
  • Durasi gym nya terlalu sebentar.
  • Muridnya terlalu sedikit, jadi kurang seru suasananya.
  • Di sebelah gedung, lagi ada bangunan yang di renovasi. Jadi berisiiiiiik

Biaya Place C:

Registrasi: Rp 1.800.000
Seragam: Rp 180.000
Term-ly Fee:
Rp 2.000.000 (1x a week)
Rp 2.800.000 (2x a week)

….

 

Sekian dulu… Udah malam sangat. Nanti kita lanjut lagi ya😀

 

 

 

 

 

 

10 thoughts on “Hunting Baby Gym Raka #1

  1. tnyata gt ya aktivitas di dlm baby gym..br tau nih hehe seru jg..byk jg ank2 tmn yg pd iktan sih tp gw buta bgt apaan..haha..tks atas sharingnya Din, lucu bgt si Raka..haha

  2. Parachute itu kayaknya an australian thing deh. Soalnya kalo ngeliat Hi5 suka ada tuh clip anak-anak main parachute di gym. Madeline sih seneng banget parachute, bahkan suka menggila kalo udah parachute time.

    To be honest, gue juga nggak suka sekolah yang ada di mall. Pas kapan itu gue ke LOVE, terus di lift ketemu sama anak piyik gitu pake seragam lagi dianter papanya, gue baca some kind of Montessori school. Dalam hati gue bilang: sekolah di dalem mall?!? Kasian banget ya, pertama nggak punya ruang outdoor untuk main, kedua dari kecil udah dididik konsumerisme. Terus gue juga nggak suka sekolah yang di ruko, untuk alasan nggak punya ruang outdoor. Dulu pernah iseng survey sekolah di daerah kuningan, sekolahnya di gedung perkantoran aja dong. Kalo mau ke library, gym/cafetaria-nya musti naik lift, pagi hari mau sekolah juga anak-anak kumpul di lobby dijemput guru untuk naik lift ke kelas masing-masing. Mungkin gue masih conservative yang pengen anak-anak punya area bermain outdoor. Pasti gue bakalan shock kalo pindah ke New York, kayaknya sekolahnya bakalan kayak ruko/gedung-gedung gitu (siapa juga yang mau ajak pindah ke New York).

    • Gw baru mao ngomong “mao pindah ke NY sama siapa, jeng?” Hahaha. eh udah sadar duluan :p

      Iya gw sama kok kaya lo. Agak ga suka sama sekolah yang di ruko/mall/apartemen/perkantoran dan sejenisnya. Tapi hampir semua yang di daerah sini kan kaya gitu, lo tau sendiri lah. Hehe

  3. Pingback: Tentang Raka – 17 Bulan | Cerita Bendi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s