Hunting Baby Gym Raka #2

Part-1 bisa dibaca di sini.

Place D – 1st Trial

Place D ini adalah preschool, bukan enrichment class. Dan ini memang di luar rencana.

Jadi waktu saya dan temen saya lagi cari-cari berbagai pilihan kelas baby gym di daerah rumah kami, ketemulah review tentang Place D di sebuah forum. Katanya Place D ini full montessori.

Saya nggak banyak tahu tentan metode montessori. Tapi waktu hamil dulu pernah nggak sengaja baca dan tertarik. Saya cuma tahu kalo metode ini memfasilitasi anak-anak untuk belajar sesuai minatnya. Jadi nggak ada tuh dipaksa belajar. Selain itu, metode ini terkenal mengajarkan anak untuk mandiri, dan melatih motorik melalui kegiatan sehari-hari, seperti nyapu, ngepel, nyuci piring, lap jendela, sikat kamar mandi, dan sebagainya.

Wah menarik nih, secara kemandirian adalah salah satu point penting yang pengen saya ajarkan ke Raka sejak dini. Dan karena penasaran buat tahu lebih jauh metode ini, kami pun (saya dan teman saya) mendaftarkan anak-anak kami untuk ikut trial. Kami dapet free trial sebanyak 2x.

Ok langsung ya ke pengalaman first trial kami.

Kelas-kelas di sini dibagi berdasarkan kelompok usia. Raka masuk ke kelas nursery, untuk usia 1-3 tahun. Durasinya 2 jam dan kelasnya full-english.

Waktu baru tiba, saya langsung dikasih name tag visitor. Saya diminta mengganti sepatu dengan sandal yang disediakan. Raka diminta ganti dengan sandal bersih (memang sudah di infokan sebelumnya).

Kami diantar ke kelas. Di situ ada beberapa anak yang sedang sarapan ditemani pengasuh masing-masing. Lalu salah satu guru mengantar kami ke playground.

Playgroud untuk usia 3-6 tahun terpisah dengan usia 1-3 tahun. Untuk usia nursery, playground nya empuk-empuk semua. Hehe. Mainan-mainannya cukup variatif walau tidak terlalu banyak. Herannya, kalau kemarin-kemarin Raka cenderung nempel sama saya, di sini dia langsung ngeloyor aja main sendiri. Nyaris nggak peduli sama kehadiran saya.

Di situ saya baru ngeh kalo anak-anak lain nggak ada pendampingnya. Saya boleh masuk sampai ke playground karena masih trial ternyata.

Selama sesi main ini, ketiga guru kelas nursery ikut menemani. Salah satu guru sangaaaaat ceria. Heboh ngajak anak lompat dari balok, nyanyi-nyanyi, ayun-ayun anak-anak. Sedangkan yang 2 lagi cenderung mengamati.

Di sini saya mulai memahami pembagian tugas mereka. Ms. A (yang ceria) sepertinya yang tugas utamanya mengajar. Ms. B terlihat seperti supervisor (belakangan saya baru ngeh dia sepertinya semacam wakil kepsek). Ms. C agak pasif dan pendiam. Ms. B dan Ms. C cenderung share tugas lebih ke memperhatikan dan meladeni anak-anak.

Waktu sesi playground, Raka sempet narik-narik pintu pagar area playground dan berusaha keluar. Kuatir mengganggu dan memancing anak lain berbuat sama, saya mencoba menegur Raka. Eh malah saya yang ditegur sama Ms. A. Katanya: “Biarin aja, Bu. Diawasi saja.”

Oh gitu… Gak apa-apa ya. OK. Saya jadi tenang.

Dan karena saya ngikutin nasihat si Ms. A, hari itu saya baru tahu kalo si Raka udah bisa main perosotan sendiri tanpa bantuan, ,mulai dari manjat tangga, naik ke platform, lalu duduk dan ubah posisi kakinya ke depan lalu meluncur. Wow. *biasanya saya masih agak-agak bantuin*

Setelah hampir 30 menit, sesi playground selesai. Anak-anak diajak membereskan mainan kembali ke tempatnya. Setelah itu, mereka masing-masing pakai sendal sendiri lalu berbaris. Saya kagum lagi, ih anak-anak piyik ini pada pinter banget pake sendal sendiri.

Lalu masuk kelas deh. Di kelas, anak-anak kembali diminta membuka sandal.

Kelasnya cukup luas, terbagi dalam beberapa area. Pojok pertama area buku, jadi ada rak buku dan sofa kecil. Pojok lainnya berisi rak-rak terbuka berisi nampan-nampan berisi mainan. Pojok satu lagi adalah sink dan alat-alat masak. FYI, semuanya ini dalam ukuran anak-anak. Jadi ada juga gantungan baju, sapu, dan pel dalam ukuran mini.

Di bagian tengah dekat pintu, di lantai dibuat lingkaran dari lakban hitam. Di bagian lainnya, ada beberapa meja dan kursi kecil.

Di dekat pintu, ada meja kecil tempat menaruh botol minum dan tempat makan.

Pertama-tama circle time. Anak-anak diminta duduk di atas lakban hitam. Kelas diawali dengan doa, tapi nggak merujuk ke agama tertentu. Posenya sih doa agama Kristen/Katolik, tapi Ms.A juga menginstruksikan seorang anak untuk mengangkat tangannya waktu berdoa.  Mungkin karena anak ini muslim.

Lalu, 15 menit pertama diawali dengan pelajaran bahasa Mandarin. Sekali lagi, saya nggak ngerti, tapi saya merasa cukup menarik karena menggunakan lagu-lagu yang catchy, dan gurunya juga cukup ceria dan seru (guru Mandarin nya beda lagi).

Setelah itu ada brain gym. Diputar lagu, lalu anak-anak mengikuti instrusinya. Kadang berjinjit, kadang berlari, kadang berjalan biasa. Anak-anak terlihat senang.

Tapiiiii….selama circle time ini, Raka malah keluyuran sendiri. Sekali lagi saya panggil Raka supaya ikut circle time, tapi sekali lagi Ms. A ingetin saya supaya biarin dan awasin saja. OK kalo gitu. Saya pun ngawasin dari pojok ruangan.

Saya lihat, cuma Raka yang nggak mau ikut circle time. Dia ngambil mainan dari salah satu rak. Oleh Ms.B, Raka diarahkan untuk main di meja, sambil duduk di kursi dengan rapih. Karena posisinya jauh, saya cuma mengira-ngira apa yang terjadi. Tapi yang saya tangkap, anak-anak diijinkan main yang lain, asalkan mereka main dengan rapih sambil duduk.

Dan ajaib! Anakku yang pecicilan itu bisa main lumayan lama sambil duduk rapih.

Belakangan… beberapa anak mulai bosan ikut circle time dan ikutan ambil mainan dari rak. Semuanya main sendiri-sendiri dengan rapih di atas meja. Saya sempet lihat Raka ambil mainan anak lain, tapi anak itu nggak marah, dan belakangan, dengan bimbingan Ms.B, Raka mengembalikan mainan tersebut dengan damai dan sukarela.

Selesai circle time, adalah cooking time! Biasanya sih (kalo saya liat jadwalnya di tembok), ini waktunya pelajaran sesuai tema. Tapi hari itu pas-pas-an kegiatannya cooking time. Anak-anak diajak pakai sandal, cuci tangan di sink yang imut-imut, lap tangan, lalu duduk di kursi mengelilingi meja panjang.

Pengajar ‘masak’ adalah oma salah satu murid. Menunya adalah sandwich! Jadi anak-anak diberi roti tawar, lalu dicetak bentuk kupu-kupu atau mobil. Lalu mereka diberi margarin dan stik es krim, diajari mengoles margarin ke roti, lalu ditambah selai dan telur dadar. Ewwww. Agak aneh ya perpaduannya.

Apapun yang berhubungan dengan makanan, tentu saja bikin Raka girang. Dengan bahagia dia ngolesin margarin lalu jilat-jilat sendiri. Hihi. Dan dia makan dengan lahapnya.

Selesai cooking time, anak-anak diajak latihan menari di depan kelas untuk Christmas performance. Tapi anak-anak yang nggak mau ikut dan tetap makan dibiarkan saja. Salah satunya…tentu saja Raka! Hehe. Bodo amat semuanya pada di luar, dia tetep makan dengan lahap ditemani Ms. B.

Waktu Raka mulai bangun dari kursi dan jalan-jalan, Ms. B langsung tanya apa Raka masi mau makan atau nggak. Kalau mau makan, harus sambil duduk di kursi. Kalau udah nggak mau, cuci tangan. Saya suka banget Ms.B ini, bisa tegas dan bikin Raka nurut sama dia, tanpa jadi galak sama sekali.

Akhirnya Raka selesai makan, cuci tangan, lalu keluar mau ikut menari… tapi pas-pas-an menarinya udah selesai. Haha masuk kelas lagi deh. Dan begitu masuk kelas, apakah yang saya dengar?

“It’s eating time! Get your placemat!”

Lah perasaan baru makan!!! Saya sampe bingung.

Ya ternyata emang cooking time tadi kan itungannya bagian dari kelas. Setelah selesai kelas, 15 menit terakhir memang waktunya makan bekal (kami sudah di-info untuk bawa bekal makanan).

Si Raka ya girang banget, abis makan disuruh makan lagi. Haha.

Setelah selesai makan, nggak ada penutupan lagi, langsung boleh pulang setelah cuci tangan dan beresin meja masing-masing.

Berikut ini point plus dan minus hasil pengamatan saya selama first trial.

(+)

  • Fasilitas dan ruangannya lengkap, di-design khusus untuk anak-anak.
  • Playgrund nya seru. Apalagi yang buat 3-6 tahun. Raka sampe udah nyelonong aja mau main di sana.
  • Guru-gurunya terlihat OK. Terutama Ms.B sangat bisa handle anak dan Ms.A. bisa bikin anak-anak ceria.
  • Kegiatan di kelas menarik.
  • Menanamkan kebiasaan-kebiasan baik (cuci tangan, mandiri, makan di meja, beresin mainan, main dengan rapih)
  • Ada 2 anak berkebutuhan khusus di kelas.🙂

(-)

  • Suara music player nya kurang keras jadi anak-anak kurang antusias. Mungkin karena takut mengganggu kelas-kelas di sebelahnya.
  • Setelah cuci tangan, mereka diajak lap tangan dengan lap yang disediakan (terlipat di rak samping sink). Saya ragu sama kebersihan lap itu.
  • Botol minum ditaruh di meja pojok, dan anak-anak diijinkan minum sendiri. Saya menguatirkan higienitasnya. Kalo anak-anaknya udah gede sih nggak masalah ya. Ini kan ada anak 1 th-an loh. Belum tentu mereka kenal botol minum sendiri. Untuk kasusnya Raka, sekalipun dia tahu botolnya, dia tetep berusaha buka dan nyedot botol minum orang lain *tepokjidat*. Dan bener aja, hari itu ada kejadian salah minum dan anak yang salah minum itu lagi batuk.

Place D – 2nd Trial

Hari kedua, kami ikut trial di group yang berbeda. Trial pertama kami datang hari Jumat (ikut grup anak-anak yang masuk 3x seminggu). Trial kedua kami datang hari Selasa (ikut grup anak-anak yang masuk 2x seminggu). Karena itu sebagian besar anak-anaknya berbeda.

Sepertinya… di grup ini banyak anak-anak yang baru masuk, jadi masih boleh didampingi pengasuh/ortu.

Karena di first trial saya beberapa kali ditegur untuk ‘lepas’ Raka, 2nd trial ini saya berencana bener-bener ngelepas Raka dan cuma mengawasi saja, saya mau seolah-olah Raka memang udah sekolah di sana (yang berarti nggak ditungguin), sekalian ngeliat gimana guru-gurunya handle Raka.

Jadi, di playground saya nggak ikutan masuk. Seperti trial pertama, Raka langsung cuek aja masuk playground, main dan nggak nyariin saya. Sempet sekali dia keliatan agak limbung di atas perosotan. Saya liat nggak ada yang jagain, tapi Ms.C berdiri di belakangnya sambil mengawasi. Akhirnya Raka nggak jatuh sih…. tapi saya wondering ada nggak ya yang pernah kecelakaan di sini? Secara anaknya belasan, gurunya 3 orang. Sekalipun materialnya empuk-empuk semua, kalo kebentur tembok atau kaca, kan lumayan ngeri.

Waktu main di playground hari itu rasanya jauh lebih sebentar. Entah apa itu cuma perasaan saya aja.

Keluar playground, anak-anak diajak berbaris untuk masuk kelas. Raka menolak karena masih mau main. Dan guru-gurunya agak cuek aja gitu Raka ketinggalan. Akhirnya saya pun maju, pakein sandal, dan gandeng dia (tepatnya setengah nyeret) menuju kelas.

Sampai di kelas, seperti kemarin, dimulai dengan doa, lalu pelajaran bahasa Mandarin. Guru Mandarinnya beda dengan first trial kemarin dan menurut saya yang ini kalah semangat dan kurang bisa meng-handle kelas dibanding yang kemarin.

Setelah pelajaran Mandarin, kembali ada brain gym. Hari ini brain gym nya super aneh menurut saya. Diputerin musik dan anak-anak diajak ngikutin instruksi musiknya. Musiknya tempo slow dan gerakannnya rada nyeleneh. Contoh: duduk silangin kaki sambil pijet kuping. Menurut saya anak-anak seumuran ini nggak bakal ada yang ngikutin kecuali diarahin satu persatu. Ini gurunya cuma diem aja loh sambil contohin gerakannya. Alhasil, hampir gak ada anak-anak yang ikutin. Mereka cuma duduk bengong ngeliating gurunya.

Setelah brain gym, masuk ke pelajarannya. Temanya tentang birds. Jadi Ms. A mengeluarkan 1 tray berisi mainan burung-burung dan menyebutkan namanya satu persatu. Di sinilah saya baru notice kalo inggrisnya si miss ini pas-pas-an. Cukup sering salah grammar. Masih OK kalo untuk enrichment class. Tapi untuk preschool yang mengaku full-english dengan biaya yang demikian WOW…saya ngerasa kurang ya. Tapi mungkin saya yang terlalu perfeksionis (?).

Selama circle time ini, ada waktunya Raka pergi ke rak mainan dan mau main sendiri. Tadinya saya diemin aja dan perhatiin dari ujung. Tapi Raka mulai niat ngambil mainan yang lagi dimainain anak lain, dan herannya nggak ada satupun guru yang mendampingi di area itu. (FYI hari itu Ms. B yang kemarin banyak handle Raka, sering nggak di kelas. Mungkin ada kesibukan lain).

Btw, aturan main di kelas adalah… kalau mau main harus ambil table mat, taro di meja, taro tray mainan di atasnya… dan main sendiri. Nggak boleh ambil mainan anak lain, dan gak boleh ambil lebih dari satu mainan sekaligus. Setelah itu, kembalikan ke tempatnya, baru boleh tukar mainan lain…. dan seterusnya.

Nah suatu waktu…Raka lagi main dengan mainannya, lalu dia tertarik dengan mainan anak di sebelahnya, mulailah pegang-pegang. Si anak itu lagi didampingi Ms.C.

Yang bikin saya bingung… si Ms.C ini cuma ngomong “Excuse me, Raka” lalu ngomong ke saya sambil senyum awkward: “Bu, kalo di sini mainnya harus sendiri-sendiri, nggak boleh share. Kalau main juga harus satu persatu mainannya.”

Lah… saya bingung deh. Kok dia seperti berharap saya yang handle Raka? Sementara itu Ms. A di meja lain, terlihat sibuk sendiri dengan anak-anak di meja itu dan nggak peduli sama meja lain. Dan Ms. B entah ada di mana.

Akhirnya Raka saya setengah tarik paksa.

Trial kedua ini, saya pulang dengan perasaan cape dan nggak puas. Saya mikir dengan metode ini, Raka bisa explore hal-hal baru sesuai minatnya, sesuai arahan guru.

Tapi yang saya rasakan di trial kedua ini, Raka bukannya dikasih kesempatan buat explore, malah jadi harus dilarang ini itu, ditarik ini itu.

Bukan metodenya yang salah, tapi saya merasa yang benar-benar capable untuk mengarahkan anak sesuai metode ini kok cuma Ms. B ya? Ms. A sepertinya cuek aja, sibuk sama tugas mengajarnya. Sementara Ms. C terlihat kurang wibawa sehingga kurang ditaati anak-anak.

FYI hari itu ada anak yang ngamuk karena disuruh beresin mainan (sama ms.C) padahal dia mau baca buku. Saya tahu didikannya benar, harus beresin mainan dulu, biar tahu aturan. Tapi caranya itu…sepertinya Ms.C bener-bener nggak tahu harus gimana. Akhirnya tuh anak diangkat dengan paksa ke area mainan, setengah diseret bawa tray ke rak nya, baru dibalikkin ke area buku. Pastinya dengan kondisi tambah ngamuk.

Hari itu, saya memutuskan untuk tetap pada keputusan kami, bahwa Raka nanti masuk sekolah minimal umur 3 tahun. Ha ha ha. Untuk sekarang, fokus cari enrichment class dulu aja deh.

Untuk point plus dan minus trial kedua, nggak saya tulis ya. Karena jujur aja, pengalaman saya hari itu rasanya hampir semuanya negatif. Hahahahaha.

Biaya Place D:

Registration fee: Rp 12.000.000 (kalau masuknya pas umur 1 th)
Fees/term:
Rp 5.5000.000 (3x a week)
Rp 4.350.000 (2x a week)
Rp 7.200.000 (5x a week)

 

 

Sekian untuk saat ini. Nanti kita lanjut lagi…😀

12 thoughts on “Hunting Baby Gym Raka #2

  1. Hahhhhh??? gak salah liat harganya??????? *tetiba pengen tau nama sekolahannya*😀

    *eniho din, dulu pernah kerja disalah satu sekolah didaerah kelapa gading. Namanya Eureka Christian School. Dideket sport mall, dan memang rata2 yang handel kelas 2-3 guru dengan rata2 anak 10-15 anak. jadi menurut gua perbandingan guru dan murid masih oke sih. gua malah terkejud, yang 1 anak ada 1 pendamping.

    • Secara general gw ga masalah sih dengan perbandingan murid dan guru tersebut. Cuma di skul ini gw ngerasa mereka ga bisa handle muridnya aja. Eh tapi tetep aja sih ini kan 1-3 th ya… anak 1 th an kan jalan aja masih pada oleng2. Gw sih wondering dengan prbandingan kaya gitu apa ga prnah ada insiden ya?

  2. wah gw jadi ikut belajar nih tipe2 skolahan macem2 ya..

    klo gw ni dulu anak pertama langsung masuk semacem preschool pas umur 2 taon.. Gw perna trial dia pas umur 1,5 taon tp gw liat anaknya blom siap jd gw kasian n pending masukinnya. Kalo knapa gak 3 taon? hmmm soalnya di kota gw kok rata2 anak mulai masuk skolah umur 2 ya, meski cuman kelasnya maen2 doank (namanya nursery class). Gw pikir yaa buat blajar sosialisasi aja.

    Kalo pas anak gw James, mulai ada baby gym di kota gw yang terkenal di kalangan temen2 gw, mereka pada masukin anaknya kesitu meski umur masih 6 bulan keatas. Kelasnya maen-maen doank di playground dan ada guru2nya. Tapi gw masi tetep mau masukin James pas umur 2 taon aja ke skolah biasa.

    Soalnya nih ya, gw inget dulu pas wesley awal masuk skolah umur 2 taon, sering banged ketularan sakit dr temen2nya.. Padaal slama setaon itu dia didampingi gw ato nanny lo di kelas (emang cuman kaya kelas mom and baby gitu) jd mestinya kan cukup hygiene. Tapi gatau ya mungkin blom biasa kumpul di tempat umum jd daya tahan tubuh blm bagus. Selaen itu, hmmm harganya cukup mahal wakakakak

    Ayo kutunggu review2 berikutnya ya, lumayan infonya nih soalnya disini ga banyak tipe skolah seperti di Jakarta

    • Iya emang kalo uda mulai sekolah pasti lebih gampang sakit ini itu deh. Di sini juga rata-rata udah pada masuk preschool pas umur 2 tahun, bahkan kurang. Tapi gw pengennya ya itu… minimal umur 3 th aja lah. Sekarang mao yang baby gym aja buat main2 dan sosialisasi.

  3. hahahaha … ga tau juga kenapa gw malah ketawa hahaha😀
    semua keputusan ada di loe sih din, mau masuin raka umur berapa .. mostly parents masukin early cuma buat promote social emotional skills aja, .. dan seperti pengakuan diri sendiri .. loe emang cukup perfeksionis dari review loe dan ga ada yg salah dengan itu karena loe kan mau yang terbaik buat raka🙂

    komen gw cukup ga penting yaaa HAHAHA .. apa mau pindah sini aja, sekolahin raka di tempat HOHOHOHO😀

    • Haha rese lo!
      Sebenernya sih dari semua plus minus yang gw tulis itu, banyak juga yang gw ‘cari-cari’ secara ada yang sebenernya udah sreg sih. Tapi kalo gw terlalu personal nanti info nya kurang berimbang buat orang lain #eaaaaa.

      Gw juga cuma buat promote social-emotional skill aja sih. Makanya cari yang main2 aja lah.

  4. Sayang banget ya padahal first trial-nya cukup OK. Tapi malah second trial-nya flop banget. Gue beberapa kali trial juga di sekolah yang berbahasa pengantar inggris, bahasa inggris para guru ini emang banyak yang gak perfect sih. Kadang-kadang gue juga suka gemes. Tapi yang berulang-ulang kali gue bilang ke diri gue sendiri: nggak ada sekolah yang sempurna.

    Btw… Owner baby gym-nya Madeline mau buka preschool di daerah Pluit. Jadi baby gym tapi ada lanjutannya gitu. Katanya buka tahun depan. Gue kan happy banget ya sama baby gym-nya Madeline, berkali-kali mikir kalo ini sekolah formal pasti gue mau masukin Madeline ke sini. Sayang bukanya di Pluit. Sebagus-bagusnya itu sekolah nggak akan gue jabanin juga sih anter jemput sampe ke Pluit.

    • Iya gw juga biasanya tutup mata sih buat urusan bahasa Inggris selama ga parah2 banget. Tapi khusus buat preschool ini yang levelnya setara sekolah inter (walaupun gw lupa tanya dia inter ato nasional plus), ekspektasi gw lebih, jadinya kecewa juga ngeliat gurunya ya gitu aja…

      Gw juga suka banget tuh baby gym Madeline. Agak di atas budget yang udah kita setting sih tapi yang lebih bikin gak sreg adalah lokasi dan jam nya yang mepet jam tidur Raka. Jadi galau. Lagi promo pula tuh di groupon. *tergoda* haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s