Euro Trip – Paris (part1), Kesan Pertama Buruk Rupa, tapi Lalu Jatuh Cinta

Setelah tertunda sekian lama karena berbagai alasan (yang hopefully) akan saya ceritakan di posting berikutnya… mari kita lanjutkan cerita jalan-jalan Eropa. Buat yang mau baca cerita di kota-kota sebelumnya bisa klik di sini (London) dan di sini (Luzern & Titlis)

Day 1 – ‘Angkat Beban’ di Louvre, Hampir Kecopetan di Metro Station

Sekitar jam 13.30, sesuai jadwal, kereta kita tiba di Gare de Lyon station, Paris. Saya langsung cari tourist information buat beli Paris Museum Pass untuk 4 hari.

Luzern-Basel train

Luzern-Basel train

Basel-Paris train

Basel-Paris train

Waktu mau beli, petugasnya warning saya kalau besok dan lusa akan ada strike (mogok kerja), jadi ada kemungkinan museum-museum tutup walaupun belum pasti. Dan kalau museum tutup, mereka gak bisa refund uang saya. Si bapak sempet nawarin beli tiket satuan aja. Setelah mikir beberapa menit, saya putuskan tetap beli Museum Pass. Pertimbangan saya, menurut itinerary kita memang kita akan banyak pakai museum pass di hari pertama dan keempat (strike nya di hari kedua dan ketiga) kita di Paris. Sudahlah, gambling saja, semoga strike-nya batal.

Selesai beli museum pass, kita langsung ke metro station. Beli tiket mobilis yang berlaku untuk 1 hari, zone 1-2. Tiket mobilis berlaku untuk jalur Metro, RER, dan bus. FYI selain mobilis, ada beberapa jenis tiket lain di Paris (Paris Visite, atau beli tiket ketengan maupun karnet), tapi jujur saya kurang ngerti plus minusnya. Saya beli mobilis karena itu yang disaranin Celly, teman kami yang tinggal di sana. So… no tips buat hal ini ya, silahkan di-riset sendiri yang mana yang paling ekonomis dan sesuai dengan itinerary.

Lanjut… Romain, host kita di Paris udah kasih tahu cukup detail gimana caranya sampai di apartment dia. Dia ini host yang paling komunikatif dan ramah sejak awal. Sampai di metro station Odeon, kita mulai nyari-nyari apartment, dan tahu-tahu dipanggil sama seorang cowo yang ternyata kakaknya Romain (Romainnya sendiri lagi business trip jadi nggak bisa temuin kita).

Singkat cerita, apartment kita ada di bangunan yang keliatan bobrok dan tua. Tangganya ada bagian yang udah miring-miring dan ada jendela yang pecah. Belum lagi unit kita ada di lantai 5! (tepatnya lantai 6 karena lantai paling bawah dihitung lantai dasar). Bused dah semapuuuuuut rasanya.

Tapi begitu masuk apartment… ini jadi apartment favorit saya. Unitnya keciiiil banget tapi fasilitas semua lengkap. Ada washer, dryer, dish washer, microwave, TV, dan speaker. Ranjangnya berupa sofa bed yang kalau dibuka cuma 120×200 cm. Gile kan kita tidur bertiga di situ. Tapi entah kenapa saya berasa nyaman banget di dalam apartment ini. Apalagi kalo inget lokasinya, puas banget rasanya. Nanti saya akan cerita lebih jauh soal lokasinya.

Btw, Romain juga ninggalin berbagai amenities dan printilan dari yang umum sampai yang nggak terpikir macam softlenses solution dan tampon! Ha! Tapi favorit kita tentu mesin Nespresso-nya yang bikin kita lumayan ngirit uang kopi (maklum kami berdua rada lemot kalo nggak ngopi pagi-pagi).

Ini posisi saya foto udah dari pojooook ruangan. Jadi bisa bayangin ya segede apa unitnya

Ini posisi saya foto udah dari pojooook ruangan. Jadi bisa bayangin ya segede apa unitnya

Pemandangan dari jendela apartment. Gedung di Paris semua kaya gini modelnya. Cakep

Pemandangan dari jendela apartment. Gedung di Paris semua kaya gini modelnya. Cakep

Setelah taruh barang dan istirahat sebentar, kita langsung jalan lagi ke Musee du Louvre. Pakai Museum Pass, kita bisa langsung masuk tanpa ngantre, jalurnya beda sama jalur antrian umum.  Begitu masuk, yang pertama kali kita lakukan malah beli croissant di Paul karena Raka cuma makan siang sedikit. Iya, Paul toko roti, sama kaya yang ada di Jakarta, tapi di Paris, Paul itu ya bakery biasa yang di mana-mana ada… macam Holland Bakery lah. Hehe. FYI, croissant-nya murah meriah dan enaaaak pake banget. Eh lebih tepatnya sih di Paris, semua croissant itu enaaaak banget. Entah apanya yang beda.

Setelah makan, baru deh kita keliling Louvre. Saya sendiri gak punya tujuan khusus mau ngeliat apa, jadi ya kita ngikut aja jalur mainstream: cari Monalisa, sambil menikmati koleksi-koleksi apapun yang kita lewati.

 

Di dalam piramid kaca

Di dalam piramid kaca

33 32 31

Foto bareng lukisan-lukisan yang dulu cuma bisa saya kagumi di slide. Sekarang ada di depan mata *terharu*

Foto bareng lukisan-lukisan yang dulu cuma bisa saya kagumi di slide. Sekarang ada di depan mata *terharu*

27

Aktivitas Raka selama di Louvre. Nunjuk-nunjuk lukisan sambil ngoceh "Itu Ecus (Yesus)!" "Itu calib Ecus (salib Yesus)" "Itu Mami Yesus (Bunda Maria)"

Aktivitas Raka selama di Louvre. Nunjuk-nunjuk lukisan sambil ngoceh “Itu Ecus (Yesus)!” “Itu calib Ecus (salib Yesus)” “Itu Mami Yesus (Bunda Maria)”

23

Selama keliling Louvre, berkali-kali saya terkagum-kagum. Gila banget Prancis kok bisa ngumpulin begitu banyak karya hebat di satu tempat. Bener-bener gila. Saran saya, seperti saran banyak orang di blog lain, nggak usah buru-buru ketemuin Monalisa. Nikmatilah semua karya yang kamu lihat, karena Monalisa nya sendiri ya bagus.. tapi… biasa aja menurut saya dibanding karya-karya yang lain.

Mas Ben berkali-kali tanya saya: “kenapa sih Monalisa bisa terkenal banget?”

Foto bareng Monalisa! *hayo cari mana Monalisanya*

Foto bareng Monalisa! *hayo cari mana Monalisanya*

Dan saya nggak tahu kenapa! Jiah nggak ada gunanya nih belajar Sejarah Seni dua semester. Haha. Tapi untungnya esok harinya, pertanyaan ini dijawab sama tour guide-nya Sandemans.

Louvre sendiri guedeeeeeeeeee banget jadi nggak usah berharap akan ngeliat semuanya. Konon kalau mau ngeliat satu persatu, seminggu baru kelar tuh. Buat saya pribadi, Louvre sebenarnya nggak terlalu menyenangkan karena gedenya itu. Luasnya bener-bener nggak masuk akal dan denah ruangannya agak membingungkan. Dan… banyak tangga! Banyak banget! Buat kita yang bawa stroller, ini menyulitkan banget. Kenapa nggak pakai lift? Jujur aja buat nemuin lift-nya itu sendiri perjuangan (lokasinya seringkali terpencil dan jauh-jauh). Jadi kita banyakan gotong stroller. Encok sodarah sodarah!!!!!

Kedua… lokasi toiletnya jauh-jauh dan sepertinya jumlahnya kurang banyak. Di tengah-tengah Louvre, Raka pup. Saya langsung ke toilet terdekat eeeeh out of service. Toilet berikutnya? Jauuuuuh banget dan cuma ada 2 ruang di toilet wanita. Waktu saya masuk, pas nggak ada orang. Nah.. ibu-ibu tahu kan gimana repotnya bersihin toddler pup di WC reguler (bukan baby room)? Apalagi ini WC nya agak jorok dan becek *huhu*. Jadilah saya lumayan lama di dalem.

Eh tak dinyana… pas keluar, uda ada antrian, dan ibu-ibu di paling depan langsung geleng-geleng gak suka. Ya elah, madam… kalo saya bisa ke baby room juga saya maunya ke baby room… Yah sudahlah nasib…

Lanjut… setelah cukup lelah di Louvre, kita pun keluar. Keluarnya ini pun pake drama tersendiri. Karena kita bawa stroller, kita bisa naik lift khusus buat stroller dan kursi roda. Entah kenapa, waktu itu kok gak ada petugas yang stand by, sehingga terbentuk antrian. Sekitar dua menit kemudian baru petugasnya muncul, dan dia mulai mempersilahkan kursi roda dan stroller masuk, termasuk stroller Raka, tapi yang dikasih masuk cuma orang yang ngedorong, sedangkan family-nya (saya) nggak boleh masuk. Ini ngomongnya campur-campur Prancis jadi saya bingung dia suruh saya nunggu giliran berikutnya atau suruh saya lewat akses keluar biasa. Tapi, saya berasa nggak enak juga masuk kloter berikutnya sementara di belakang saya banyak kursi roda yang ngantri. Errr.. akhirnya saya cari akses keluar biasa yang ternyata terpisah lumayan jauh. Saya sempet bingung gimana cara hubungin Mas Ben supaya bisa ketemu. Untung kita bisa telepati dia pas ngeliat saya jadi saya bisa kasih kode-kode tarzan dari bawah. *sigh*

Keluar Louvre, kita mampir ke souvenir shop-nya buat ‘mecahin’ uang Euro dan saya terkagum-kagum liat barang-barang souvenirnya. Cakep-cakep bener kakaaak. Yang paling menarik perhatian saya… ada banyak seri buku anak-anak yang isinya tentang biografi pelukis. Dan pelukisnya bukan cuma Leonardo da Vinci atau Michaelangelo tapi juga Monet, Degas. Isinya bukan cuma kisah hidupnya, tapi lebih ke kenapa gaya lukisan dan objek lukisannya kaya gitu. Udah gitu…. ilustrasinya baguuuuus banget. Sekarang sambil ceritain ini, saya agak nyesel gak beli buku-buku itu. Haha. Gak apa berarti nanti musti ke Paris lagi *eh*.

20

Arc de Triomphe du Carrousel di kejauhan

19

Souvenir shop di sebelah kanan

Foto dulu bareng Louvre dan Piramid

Foto dulu bareng Louvre dan Piramid

35 18

Dari Louvre, kita naik Metro lagi ke Arc de Triomphe (Arc de Triomphe de l’Étoile tepatnya. karena yang namanya Arc de Triomphe di Paris ada 2). Kita berniat buat cari makan di Champs de Elysee yang persis di depan Arc de Triomphe, tapi berujung cuma jalan ke resto terdekat karena udah kelaperan dan keliatannya kok Champs de Elysee nggak seberapa menarik. Jadi kita random aja masuk ke salah satu resto Italy deket sana.

Dan sambil makan, topik obrolan kita adalah betapa nggak menyenangkannya kota ini. Metro station-nya keliatan tua, agak kumuh, lumayan banyak sampah, banyak pengamen, dan nggak rapih. Mau transit ganti jalur aja jalannya jauuuuh banget, dan harus bolak-balik lewatin gerbang buat tap ticket. Nggak efisien rasanya. Selain itu, metro station-nya banyak yang nggak dilengkapi lift atau eskalator. Tangga aja adanya. Belum lagi di dalam Metro, orangnya pada cuek-cuek. Kalau di London, ngeliat saya bawa anak, pasti ada aja yang kasih tempat duduk. Di sini, boro-boro deh, seringkali rame pula metronya. Di tempat wisata, banyak banget pedagang-pedagang ilegal. Udah gitu banyak sampah di kota ini, mirip di Jakarta. Di deretan depan apartment kita bahkan berjejer banyak tong sampah gede yang penuh dan sampahnya berceceran. (belakangan saya baru sadar, sampah yang numpuk itu karena ada strike, jadi nggak ada yang ngangkut) Beneran di titik ini kita kecewa sama Paris, jelek banget kesan pertamanya. Apalagi kita baru dari London dan Luzern yang mana kotanya dan sistem transportasinya rapiiiih banget. Jomplang banget rasanya.

59

Tapi… ternyata besok-besoknya saya jadi jatuh cinta sama Paris. Loh kok bisa? Makanya lanjut baca dulu ya.

Setelah makan, kita ke masuk ke Arc de Triomphe, naik ke atas. Sekali lagi, dengan Museum Pass, kita nggak perlu ngantri. Indahnya bawa stroller, kita langsung diarahkan buat naik lift. Kalo nggak bawa benda beroda, silahkan panjat tangganya yang beratus-ratus anak tangga itu. Keluar lift, masih harus naik tangga lagi sih, tapi cuma beberapa lantai *lupa tepatnya, mungkin 2-3 lantai ya*.

Keluar lift ada video yang menjelaskan tentang bangunan ini

Keluar lift ada video yang menjelaskan tentang bangunan ini

Tombol-tombol buat control video penjelasannya.

Tombol-tombol buat kontrol video penjelasannya. Miniatur Arc de Triomphe akan menyala lampunya di bagian tertentu, sesuai dengan bagian yang sedang ditayangkan

Dari atas, pemandangan cantiiiiiik banget. Saya nggak tahu sih apakah Arc de Triomphe memang lokasinya paas di tengah kota Paris, tapi yang jelas, kota Paris keliatan rapih banget dari atas, kayak potongan pizza dan kita ada di pusat lingkarannya. Dari sini juga Eiffel yang dipenuhi lampu keliatan jelas dan cantik di kejauhan. Esok harinya, tour guide kita dari Sandemans memagn bilang kalo salah satu tempat terbaik buat ngeliat Paris dari atas memang di Arc de Triomphe. Menurut dia sih jauh lebih cantik daripada dari Eiffel, lebih minim antrian pula.

Beginilah kalau udah punya anak. Ketemu tempat romantis, yang diinget anaknya. Saya cuma jadi tukang foto aja.

Beginilah kalau udah punya anak. Ketemu tempat romantis, yang diinget anaknya. Saya cuma jadi tukang foto aja.

15

Tata kotanya rapih, kayak potongan pizza

Tata kotanya rapih, kayak potongan pizza

Eiffel dari kejauhan *awww*

Eiffel dari kejauhan *awww*

Eternal flame

Eternal flame

11 10

Foto di tengah jalan, mumpung lagi lampu merah *haha*

Foto di tengah jalan, mumpung lagi lampu merah *haha*

Keluar dari Arc de Triomphe, udah sekitar jam 9.30 malam, foto-foto lagi di depannya, lalu pulang naik metro.

Di sinilah terjadi kejadian seru. Jadi kondisinya, Raka ketiduran jadi saya gendong. Mas Ben bawa ransel di punggung dan dorong stroller yang kosong.

Waktu tap kartu di metro station, pintu yang buat stroller/disable (yang pintunya lebih lebar) lagi out of order (FYI, di Paris sering banget nih pintu khusus ini out of order, atau kalaupun gak rusak, harus dibukain sama staff nya yang mana kadang suka lagi sibuk atau nggak di tempat). Karena toh strollernya kosong, Mas Ben maksa lewat pintu reguler yang ngepaaaas banget sama stroller Pockit. Alhasil, agak nyangkut jadi dia agak lama tuh di pintu itu. Sementara saya udah lewat duluan dan nunggu di depannya, dengan posisi menghadap Mas Ben.

Tahu-tahu, ada cowo bule lompatin pintu di sebelah Mas Ben sambil teriak sesuatu dalam bahasa Prancis. Karena nggak ngerti, saya pikir dia mau ngomelin atau ngasih tahu Mas Ben kalo harusnya dia nggak boleh lewat pintu itu.

Eh tapi tahu-tahu para petugas metro station berdatangan. Akhirnya si bule yang tadi teriak nyadar kalau kita turis, dan ngomong dalam bahasa Inggris: “Tas kamu dibuka orang di belakangmu”.

Bener aja itu kedua zipper di ransel Mas Ben udah menganga lebar! Dua-duanya! Padahal saya lagi ngeliat ke arah itu kok bisa nggak nyadar ya. Kita langsung periksa isinya, semua aman. Emang sih di tas itu, barang berharganya cuma kamera, itu pun paling bawah dan udah ditutupin sama tas kecil isi pampers Raka. Intinya nggak ada yang hilang, dan akhirnya orang itu dilepas. Dan kita pun pulang dengan agak shock.

FYI, sang calon pencopet itu remaja cewe, bule gypsy gitu. Katanya memang typical copet di Paris yang gypsy ini. Kalau mau tau seperti apa rupa mereka, coba deh search di Youtube.

Day 2 – Nyasar lalu Mulai Jatuh Cinta

Hari kedua ini kita ikut walking tour Sandemans lagi (satu group dengan walking tour kita di London). Meeting point-nya di St. Michel Fountain. Jam 9.45 kita sudah sampai, lalu breakfast dulu di Subway. Di sebelahnya, saya beli chocolate croissant buat Raka seharga EUR1. Lagi-lagi… enaaak! *dan murah*

Jam 11, walking tour-nya dimulai. Tour leader kita namanya Onno, asalnya dari Belanda.

Kita jalan menyusuri Seine River, ngeliat Notre Dame, Academie Francais, Pont des Arts yang dulu banyak gembok cinta-nya. Sekarang gembok-gemboknya udah dicopotin karena membahayakan konstruksi jembatan. Kata Onno, gosipnya gembok-gembok itu bakaln dilebur lalu dibikin karya seni bertema cinta, tapi udah beberapa bulan belum keliatan hasilnya. Btw, gara-gara jembatan itu udah nggak boleh pasang gembok, jembatan di sebelahnya mulai dipenuhi gembok. Hehe.

Meeting point di St.Michel Fountain.

Meeting point di St.Michel Fountain.

53

Daerah st. Michel. Ramai sekali!

Daerah st. Michel. Ramai sekali!

72

Seine River. Kata Mas Onno, naik cruise malam hari di Seine River ini cantik banget. Tapi kalo siang sih ga rekomen katanya.

51

9

Dari sana kita ke Louvre (lagi). Tentu saja nggak masuk ke dalamnya, cuma dijelasin di luarnya dan foto-foto aja. Jadi museum Louvre udah tua banget umurnya, Tapi si piramid kaca usianya masih muda (keliatan ya dari modelnya). Tujuannya simpel aja sebenernya, buat bikin akses masuk di tengah-tengah, supaya nggak jauh kalau jalan dari satu titik ke titik lain di museum. Mmm… sangat masuk di akal. Kenapa bentuknya piramid kaca? Memang style-nya si arsitek aja yang suka pakai material kaca. Jadi (menurut Onno) sama sekali nggak ada teori konspirasi Da Vinci Code di baliknya. Hehe.

Lalu… kenapa Monalisa bisa se-terkenal itu? Menurut Onno, Monalisa tadinya memang terkenal tapi nggak segitunya. Lukisan itu baru betul-betul terkenal waktu dicuri seorang Italia. Bahkan waktu dicuri pun, katanya setelah beberapa hari baru orang-orang sadar kalo lukisannya hilang dari Louvre. Monalisa sempat hilang 2 tahun sampai akhirnya ketemu lagi waktu si pencuri berusaha menjual lukisan itu ke museum lain. Nah gara-gara sempat hilang ini, dunia heboh, dan Monalisa terkenal deh.

Ada yang baru bangun dari tidur siang nya

Ada yang baru bangun dari tidur siang nya

Foto wajib ala turis

Foto wajib ala turis

Onno lagi seru cerita

Onno lagi seru cerita

Happy face udah seger abis tidur siang

Muka hepi bangun tidur

Mumpung ada yang fotoin bertiga

Mumpung ada yang fotoin bertiga

OOTD di Louvre *tsah*

OOTD di Louvre *tsah*

Dari Louvre, kita menyusuri Tuileries Garden, sampai di Place de la Concorde, ngeliat Obelisk, Eiffel, Les Invalides, dan Arc de Triomphe dari kejauhan.

FYI di Tuileries Garden, Mas Ben sempet disamperin ibu-ibu yang minta uang. Gara-gara hal ini plus hampir kecopetan di hari sebelumnya, Mas Ben jadi bete dan parno ke mana-mana.

Arc de Triomphe du Carrousel

Arc de Triomphe du Carrousel

Tuileries Garden - masih cerah

Tuileries Garden – masih cerah

Tuileries Garden. Setelah liat foto ini baru ngeh kalau awannya serem banget

Tuileries Garden. Setelah liat foto ini baru ngeh kalau awannya serem banget

Bersyukur nggak sampai turun hujan

Bersyukur nggak sampai turun hujan

Obelisk di kejauhan

Obelisk di kejauhan

Setelah walking tour berakhir, saya request ke Mas Ben buat ke Musee d’Orsay karena May dan Onno rekomen ke sana. Karena nggak jauh, kita jalan kaki sambil menyusuri Seine River. Kita makan di resto di belakang Musee d’Orsay. Typical resto Prancis yang suka ada di film-film deh. Resto kecil, meja kecil bertaplak putih, dan beberapa meja di teras dengan kursi yang menghadap ke jalanan (Hampir semua resto di Paris kayak gini modelnya).

Di sini, Raka banyak berulah. Gigit-gigit tissue, jatohin barang-barang. Saya udah kuatir aja bakal ditegor. Eh ternyata pas pulang, malah dipanggil sama waiternya lalu dikasih coklat dan biskuit. *lega*

47

yang kayak nasi merah itu namanya Steak Tartare. FYI itu daging sapi mentah… tapi rasanya enak!

Selesai makan, kita masuk Musee d’Orsay. Untungnya walaupun di banyak tempat betul-betul ada strike, Musee d’Orsay tetap buka. Lagi-lagi dengan Museum Pass, kita bisa ngelewatin antrean dan langsung masuk.

Dan lagi-lagi, di sini saya terngaga-nganga. Gile Prancis kok bisa ngumpulin segitu banyak karya terkenal di satu tempat. Padahal saya nggak menjelajah ke semua ruangan loh. Kita langsung by pass ke bagian impressionism.

Seperti kata orang-orang, Musee d’Orsay lebih menarik daripada Louvre. Mungkin karena ukurannya lebih kecil, atau pengelompokkan karyanya yang lebih menarik, tapi saya merasa lebih enjoy. FYI di lantai 5, ada Cafe Campana, resto yang rameee banget, setting dan dekornya sebnenernya biasa aja, tapi…. ada jendela besar sekaligus jam dinding (jam-nya menghadap ke luar gedung) yang menghadap ke pemandangan Sacre Coeur. Cantik!

Satu-satunya foto di Musee d'Orsay: Cafe Campana. Maklum fotografernya udah cape. Hehe

Satu-satunya foto di Musee d’Orsay: Cafe Campana. Maklum fotografernya udah cape. Hehe

Puas keliling museum, sebenernya itinerary kami adalah ke Eiffel. Tapi akibat hampir kecopetan hari sebelumnya, begitu denger kata Eiffel, Mas Ben langsung mendengus kesel sampil ngomong ketus “nggak!!!”. Pokoknya dia anti ke tempat yang terlalu touristy dan uda pasti banyak copetnya.

“Tapi… masa uda sampe Paris, nggak ke Eiffel sih, Ben? Ayolaaah… kan uda ga ada barang berharga di tas.”

“Nggak usah ke Eiffel”

“Emang kamu ga mau liat Eiffel?”

“Nggak”

“Tapi masa uda sampe sini, nggak foto sama Eiffel?”

“Ya udah foto aja dari situ (deket Tuilleries Garden). Kan keliatan tuh Eiffelnya”

*yaelaaaah. Kecil banget, kakaaaaaak*

“Yaaaaah…. ya kita ke station yang paling deket Eiffel deh…. keluar, foto, terus masuk station lagi, kita ke Mont Marte aja gimana? Pleaaaseeee”

Setelah beberapa jurus bujuk rayu berikutnya, akhirnya luluh juga si Mas Ben dan kita pun naik metro sampe station Champ de Mars. Harapan saya… station nya bener-bener deket Eiffel, kaya station Arc de Triomphe kemarin. Begitu keluar station, agak kecewa karena ternyata Eiffelnya masih jauh. Saya berusaha bujuk rayu Mas Ben lagi untuk mendekat, tapi gagal total. Dia ogah. Okelah saya harus puas dengan foto berikut.

Hasil usaha maksimal saya buat foto bareng Eiffel *hiks*

Hasil usaha maksimal saya buat foto bareng Eiffel *hiks*

Habis foto, kita bener-bener masuk station lagi. Saya ajak Mas Ben ke daerah Montmartre dan Sacre Coeur. Mas Ben sebenernya enggan karena lokasinya jauh. Malemnya kita janjian buat ketemu sama Celly, dia takut nggak keburu. Tapi saya yakinkan dengan berbagai cara, karena saya pengen liat Montmartre yang direkomen banget sama si May. Kalah lagi deh bapak suami sama bujukan istri. Hehe.

Di sinilah terjadi hal nyebelin… waktu itu keretanya rame. Waktu mau turun, orang-orang sama sekali nggak mau bergeser walaupun kita (dan 1 orang Prancis lain) udah teriak-teriak minta jalan. Alhasil pintunya nutup lagi dan kita dan orang itu gagal turun.

Turun di station berikutnya, kita memutuskan jalan kaki aja balik. Soalnya cape banget naik turun tangga untuk ganti platform ke arah sebaliknya, sambil nenteng stroller dan Raka.

Eh ternyata daerahnya terlihat kumuh. Beda banget sama daerah pusat Paris. Banyak grafiti, banyak toko-toko obral dan barang bekas, banyak orang berpenampilan mencurigakan nongkrong ga jelas…. dan di sini kita melihat sesuatu yang kita curigai sebagai kotoran manusia. Hiiiiiiy.

Berbekal peta, kita jalan cukup jauh dengan terburu-buru (karena takut diapa-apain orang) sampai station ‘sebelumnya’ hanya untuk menemukan kalo KITA SALAH ARAH!!!!

GROAR

Jadi kita bukan ke arah station SEBELUMNYA malah ke arah station SETELAHNYA. Yang berarti kita makin menjauh dari Sacre Coeur. Dodol kuadrat dua-duanya bisa-bisanya ngaco baca peta.

Di sinilah sempat terjadi ketegangan pertama selama Euro Trip…. Haha

Singkat cerita setelah mempertimbangkan berbagai opsi, kita memutuskan JALAN BALIK sampe ke Sacre Coeur. *nulisnya aja cape nih*

Untung aja selama kejadian ini, Raka bobo pules. Kalo kita lagi ribet, kecapean, ditambah anak rewel, bisa makin kacau dunia.

Setelah jalan sekian waktu, sampailah kita di depan Sacre Coeur. Kita berdua udah kecapean. Mas Ben mukanya udah asam kecut.

“Kamu mau masuk (Sacre Coeur)? Masuk gih, aku nunggu di sini (di cafe-cafe seberang Sacre Coeur) sama Raka.”

Saya terlaku takut diskors jadi istri dan kecapean juga, memutuskan untuk foto di depannya aja lalu ikut duduk-duduk di cafe itu. Minum espresso dan beli frozen food di minimarket sebelahnya.

Di depan Sacre Coeur. Puas? Nggak lah... Kapan-kapan kita balik lagi ya, Mas... :p

Di depan Sacre Coeur. Puas? Nggak lah… Kapan-kapan kita balik lagi ya, Mas… :p

Sacre Coeur yang merupakan titik tertinggi Paris cantik sekaliii. Tapi lingkungannya kumuh. Dan sampe sekarang saya nggak ngerti Montmartre yang katanya unik, banyak cafe kecil, dan artsy itu ada di sebelah mana? Kok keliatan serem gini ya daerahnya?

Jujur suasana waktu itu (plus waktu yang terbatas) bikin kami nggak ada niat untuk cari tahu lebih jauh tentang keberadaan Montmartre.

Lalu tau-tau udah hampir jam 6 (kita janjian sama Celly di station Odeon jam 7-an). Tau-tau Mas Ben mengeluarkan ide cemerlang. Ketimbang naik metro dari station terdekat, dia ngajak jalan kaki sampai station Gare du Nord, supaya kita bisa langsung sampe Odeon tanpa ganti jalur.

Langsung dong saya setujui! Saya lebih milih jalan kaki agak jauh daripada ribet naik turun tangga di metro station. Udah muak sama metro!!!

Dan keputusan ini yang ternyata mengembalikan mood happy kita. Ternyata kita emang lebih doyan jalan, sambil liat-liat dan komentarin ini itu. Hehe

Singkat cerita sampailah kita di Odeon. Celly ajak kita dinner di deket St. Michel (yang belakangan saya baru ngeh kalo itu adalah daerah Latin Quartier).

Tadi pagi kita ke St. Michel naik metro. Malam ini kita jalan kaki dan ternyata deket banget! *meratapi otot lengan yang lelah gotong stroller di station*

Celly ajak kita makan di salah satu resto yang menurut dia ‘French banget’.

FYI kalo makan di resto di Paris kita selalu dapet sekeranjang roti baquette gratis dan akan selalu di refill.

Mengenai menu, biasanya ada 2 jenis menu: a la carte dan formule. A la carte berarti kita bisa pesan per jenis/menu makanan. Sedangkan formule artinya paket menu, bisa 2 set (appetizer dan main atau main dan dessert) atau 3 set (appetizer, main, dan dessert). Biasa sih kita selalu pesen formule 2 set karena lebih hemat dan bisa coba lebih banyak jenis makanan.

Malam itu, kita coba makan moules (semacam kerang hijau dimasak dengan wine), escargot, beef stew, dan duck confit.

Rasanya gak terlalu istimewa tapi saya senang bisa nyoba jenis makanan baru.

Escargot

Escargot

Moules

Moules

Beef stew

Beef stew

Duck confit

Duck confit

Ini yang namanya Celly, fashion designer kondang masa depan. Hehe

Ini yang namanya Celly, fashion designer kondang masa depan. Hehe

Selesai makan, kita mampir ke Shakespeare and Company bookstore di sebelahnya. Nggak ada niatan beli buku sih…. tapi tau kan kenapa kita ke sini?

Tau film Before Sunset? Setting awalnya di toko buku ini!!!! Series ‘Before’ ini salah satu favorit saya! To be honest waktu diajak Celly ke sini, saya nggak ngeh. Saya cuma terkagum-kagum aja sama keunikannya. Pas udah pulang, baru saya recall kayanya pernah liat toko buku itu… ternyata di film favorit saya! *toyor kepala sendiri*. Seneng banget Celly ngajak kiat ke sana walaupun kita nggak request.

Mendadak ada yang duduk situ lalu minta difoto. Ck ck bakat narsis mulai keluar

Mendadak ada yang duduk situ lalu minta difoto. Ck ck bakat narsis mulai keluar

Ini toko bukunya. Sayang kita nggak foto-foto di dalamnya

Ini toko bukunya. Sayang kita nggak foto-foto di dalamnya

Pulangnya kita beli crepes, lalu jalan-jalan sedikit di sekitar apartment kita… lalu pulang dan tidur. Capenya puooool. Tapi karena banyak jalan-jalan sendiri (nggak naik Metro) seharian ini, kami jadi bisa ngeliat cakep dan uniknya Paris dan kami mulai jatuh cinta! *halah*

Besok kita harus berangkat pagi-pagi ke… The happiest place on earth!

Lanjut di postingan berikutnya ya.

 

Tips Paris:

  • Apakah Paris Museum Pass menguntungkan? Di kasus saya sih rugi. Saya cuma masuk ke Acr de Triomphe (EUR 9,5), Louvre (EUR 15), Musee d’Orsay (EUR 11), dan Pantheon (EUR 7,5). Saya rugi karena batal ke Versailles (EUR 18). Padahal kalau jadi ke Versailles, menguntungkan sekali, karena selain lebih murah, bisa skip the line juga (Louvre dan Versailles biasanya antriannya panjaaaaaaang). Jadi kesimpulannya… susun itinerary baik-baik, cek fee masuk masing-masing tujuanmu. Perhitungan saya sih, masuk ke sekitar 5 objek wisata aja biasanya sudah ‘balik modal’.
  • Kalau punya pecahan uang Euro yang gede (seperti saya yang waktu itu punya EUR 500), mecahinnya adalah di souvenir shop tempat wisata gede setelah jam 6 sore (karena kalo udah sore, cash mereka udah banyak). Saya mecahinnya dengan beli magnet di souvenir shop nya Louvre. *Magnet Eur5 dibayar dengan Eur500* *tebel-tebelin muka aja*
  • Isu maraknya copet di Eropa adalah benar adanya! Terutama di pusat-pusat turis. Sebenernya saya rasa sama aja kaya di Jakarta lah. Cuma masalahnya kalo jadi turis kan bawaan kita biasanya lebih banyak (kamera, paspor), jadi lebih repot jagainnya. Kalo saya dan Mas Ben kemarin masukkin semua barang berharga ke tempat yang nempel sama badan. Jadi sebagian uang dan paspor disimpan di moneybelt di balik baju, sementara HP dan sebagian uang lagi di kantong dalam jaket. Kamera digantung di leher, kalo ga dipake diselipin dalem jaket juga. Jadi ransel kami isinya cuma jaket sama barang-barang Raka. Kalo mau ambil, ambil deh sonoooo!!!! Parno? Emang iya! haha
  • Tips dari Onno… para pedagang tongsis dan minuman itu umumnya tidak berbahaya. Mereka beneran jualan cuma ilegal aja. Yang bahaya itu yang menyapa dengan dalih mau survey, charity, ngajak main (misalnya taruhan dadu), dan sebagainya. Jadi langsung cuekin aja.
  • Selama di Paris, saya pakai apps ‘Visit Paris by Metro’. Berguna banget bisa liat maps offline, bisa cek rute Metro offline point to point. Mempermudah hidup banget deh pokoknya.
  • Walau di menu nggak tercantum, hampir setiap restaurant punya Formule (set menu), jadi boleh tanyain ke waiternya, suka ada menu yang ditulis terpisah. Oh iya kalau menunya dalam bahasa Prancis, boleh juga minta menu dalam bahasa Inggris. Kadang ada resto yang menyediakan menu dalam 2 bahasa.

15 thoughts on “Euro Trip – Paris (part1), Kesan Pertama Buruk Rupa, tapi Lalu Jatuh Cinta

  1. Din.. Aku pun waktu ke Paris awalnya sebeeel banget. Abis untuk kota besar, bener2 ga ramah sama turis ya. Sakit kepala gitu deh naik kendaraan umum di sana kalau bawa2 koper. Untunglah dulu belum ada Jo jadi naik turum metro belum ribet sama stroller. Jadi kebayang bgt dirimu gimana deh.

    Dan untunglah ga ada yang diambil ya sama copetnya.

    Soal Monalisa, emaaaang.. Satu museum kayaknya yang penuuuuh nuh disitu doang ya.. Sisanya sepii.. LoL. Gw kmrn karena sewa multimedia tour guide jadi lumayan kearah ngeliatnya. Kalo ga, nyasar mulu kayaknya 😅😅

  2. Halo dina

    Raka cute bgt foto di depan piramid, untung raka good boy ya.

    Bagian pas zipper tas nya ben kebuka itu bikin jantungan deg! Untung ga hilang ya, cici ku kemalingan pas ngantri long champ di lafayette dompetnya hilang lumayan besar jumlahnya.

    Gak sabar nungguin posting disneyland. : )

  3. Akhirnya ci, postingannya keluar lagi setelah ditunggu-tunggu sekian lama🙂
    Aku suka banget ngeliat eiffel ntah kenapa, berharap suatu saat bisa kesana. Ternyata emang bener ya yang suka dibilang orang-orang kalau rawan copet disana, untung ga ada barang yang hilang ya ci.
    Raka ekspresinya bahagia sekali ci😀
    Ga sabar nungguin postingan selanjutnya nih ci🙂

  4. Hi din, aku biasa your silent reader nih, tp kali ini jd pengen comment, hihi
    Seru bgt sih kalian dan hebat banget bs bawa toddler jalan2 ke europe! Salut banget!! *sujudsembah*
    Soal copet diparis, kita jg ampir kena tuh pas terakhir kesana, didalam train dan yg mau nyopet itu segerombolan cw2 abg dan emank gypsy gitu, untungnya ada 1 ibu2 yg baik hati yg kasi tau kita, and u know what? Tuh ibu ditabok donk ama salah 1 anak cw, omg! Apparently kita denger dari salah 1 org france, disana banyak anak2 underage yg nyopet karena kalo ketangkep pun by law disana mereka ga bs dipenjara, paling cuma di bawa ke kantor polisi dan di kasi penyuluhan, ga tau deh tuh bener apa ga.
    Anyway untung kalian gpp yah, ditunggu banget next postnya, can’t wait!

    • Haaaa ditabok? Astaga. Tapi emang tuh anak kelakuannya keliatan tetep aja berani tanpa rasa bersalah. Malah galakan dia sambil teriak-teriak ngomong “Coba aja sana cek tas-nya!” Ya emang ga keambil apa-apa sih tapi kan… kaya udah biasa gitu

  5. Pingback: Euro Trip – Paris (part 2): Disneyland! | Cerita Bendi

  6. Seru jalan2nya Din, paling seneng liat muka hepinya Raka😀 Gilak ya, amit2 deh kena copet pas lagi jalan2.. Sering nonton tuh gw ditv soal modus2 penipuan di Paris. Ga nyangka dikota yang indah itu lu bisa lihat sesuatu yg seperti pup manusia.. Hih.. Tapi impian buat foto2 di Eiffel ga sirna sik..wkwkwkw.

  7. Pingback: Euro Trip – Paris (part 3), Jatuh Cinta pada Paris dan Sleeper Train! | Cerita Bendi

  8. Pingback: Euro Trip – Venezia yang Fotogenic tapi Kurang Berkesan | Cerita Bendi

  9. Pingback: Euro Trip – Love Hate Relationship with Roma | Cerita Bendi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s