Euro Trip – Venezia yang Fotogenic tapi Kurang Berkesan

Mungkin saya bakal dikomplen sejuta umat gara-gara judul posting ini. Tapi ini dari hati kami yang paling dalam… beneran deh… Venezia itu cantik sih… beneran cantik… tapi kok kurang meninggalkan kesan di hati ya? Dan kami berdua sepakat, cuma kota ini yang bikin kami nggak pengen balik lagi. Kenapa? Ayo lanjutin bacanya ya.

Kalau mau baca cerita sebelumnya, bisa klik… di sini: London, Luzern, Paris part 1, Paris part 2, Paris part 3

Setibanya kami di Venezia, 1 hal pertama yang menarik perhatian saya adalah soal rokok. Jadi tuh pas kereta udah berhenti, para penumpang kan pada siap-siap antre mau keluar. Saya ngeliat ada pasangan yang sambil  antre, sambil naro rokok di bibir masing-masing (tanpa dinyalain) dan begiu menginjakkan kaki di peron, yang pertama mereka lakukan adalah nyalain rokok! Ya ampun segitu gak tahannya… tapi memang di Italy inilah saya ngerasa paling sering terganggu sama asap rokok.

Eniwei… begitu sampai di stasiun, saya langsung menuju Tourist Center. Selain Luzern, Venezia juga kota yang saya hampir tidak survey sama sekali. Makanya saya rada no clue mau ngapain aja di sana. Di Tourist Center, saya  tanya jalan ke hotel kami, Hotel Bernardi. Saya juga minta peta, yang ternyata harus bayar! Karena nggak punya pegangan lain, terpaksalah saya beli itu peta *sambil ngedumel dalam hati*.

Dan ternyata kejadian peta itu hanyalah awal dari ‘pembuktian’ bahwa Venezia memang kota yang mahal.

Kita naik water bus ke halte dekat hotel. Water bus ini bentuknya kapal ukuran sedang yang jalan dengan rute dua arah sepanjang kanal. Haltenya berupa dermaga kecil. Tiket water bus bisa dibeli di mesin di depan halte atau di toko-toko rokok atau koran sepanjang jalan.

Hello, Venice!

Hello, Venice!

Di sebelah kiri itu halte waterbus di depan station. Ramainyaaaaa

Di sebelah kiri itu halte waterbus di depan station. Ramainyaaaaa

Penampakan waterbus

Penampakan waterbus

Turun dari water bus, kita mabok nyari hotel. Jalanan di Venezia kecil-kecil, bercabang, dan membingungkan. Sampai akhirnya kita ketemu papan petunjuk arah ke Hotel Bernardi *heran dari tadi nggak nyadar*. Dan sampailah kita di hotel.

Karena belum waktunya check in, kami cuma nitip barang dan langsung lanjut jalan.

Jalan utama menuju hotel

Jalanan utama menuju hotel

Banyak gang-gang sempit membingungkan kayak gini di Venezia

Banyak gang-gang sempit membingungkan kayak gini di Venezia

Pertama-tama… yang terpenting… mari isi perut. Sekali lagi, karena kurang survey, kita masuk aja ke resto yang kira-kira terjangkau. Maklum di titik ini, euro mulai terasa makin menipis… dan kita berniat kulineran di Roma. Hehe.

Di Venezia ini, perbedaan harga antara makan berdiri dan makan duduk sangat terasa. Memang sih di sebagian besar negara Eropa katanya emang kaya gini. Tapi… di Venezia rasanya paling jauh gap harganya. Bisa sampai EUR 2 per menu seinget saya.

Jadi kita udah ngeliat daftar harga nih… trus kita duduk deh nunggu makanan datang. Maklum capek ya booo. Sambil duduk, kita heran liat banyak orang yang minum dan ngemil sambil berdiri di counter deket kasir. Setelah bill kita keluar, baru deh ngerti…. hehe. Ya sudahlah ini namanya pengalaman.

Setelah makan, kita jalan ke arah Piazza San Marco yang katanya walking distance dari hotel kami tapi nyatanya lumayan jauhnya. FYI mungkin karena hari Minggu, Venezia ramenya bukan kepalang. Sering banget kita terpaksa jalan senggol-senggolan.

Ramenyaaaaa

Ramenyaaaaa

Di tengah jalan kita sempet berhenti karena ketemu Disney Store. Di sini saya beli kaos buat Raka karena pas di Disney Paris kemarin sama sekali nggak sempat belanja.

Baru setengah jalan sampai di Piazza Rialto, Mas Ben udah ‘rewel’ sambil tanya: “emang harus banget ya sampe ke San Marco? Ini juga udah ada piazza”.

Yaelah, sayang… Venezia ya tujuan utamanya si San Marco itu kan… masa gak ke sana sih….

Akhirnya kita duduk-duduk sebentar di Piazza Rialto di depan sebuah gereja. Waktu kita santai-santai ini, si Raka malah dapet temen main. Dengan bahasa tarzan, mereka bertiga bisa komunikasi dan main bareng. Seneng ngeliatnya. Saya sempet ngobrol sama Papinya anak itu, katanya merekapun turis dari Turin.

Hmm… mungkin seperti kata May, nyaris nggak ada orang lokal di Venezia. Semuanya turis.

Setelah melepas lelah, kita jalan lagi ke arah San Marco sambil makan gelato dan beli limoncello.

35 11 10 9 8 7 6

Mejeng sambil beli gelato

Mejeng sambil beli gelato

Sepanjang jalan, kiri kanan dipenuhi toko-toko. Mulai dari toko baju, toko mainan, restaurant, tapi yang mendominasi adalah toko-toko barang berbahan kulit. Jadi banyak tuh toko-toko dengan display penuh tas kulit bertuliskan ‘made in Italy’. Mungkin suasana kaya gini yang bikin saya kurang suka Venezia. Rasanya kaya jalan di dalam mal atau di Pasar Baru.

Tapi begitu sampai di San Marco, suasana langsung terasa indahnya. Yang bikin less pretty cuma jumlah orangnya yang kelewat ramai. Puyeng ngeliatnya…. Sekali lagi… mungkin karena kitanya yang salah, dateng ke Venezia di hari Minggu.

Kita lama duduk-duduk di sini sambil menikmati suasana.

44 43 42 37

Dengan background San Marco

Dengan background San Marco

31

Numpang foto sama gondola lewat

40 41 34 33 32

Anak yang takut kehilangan mamanya

Anak yang takut kehilangan mamanya

28

Jaket ini belum saya cuci sejak dari Paris, sepertinya ada sisa makanan burung yang nempel, sampai di Venezia pun masih dihinggapin gini.

Jaket ini belum saya cuci sejak dari Paris, sepertinya ada sisa makanan burung yang nempel, sampai di Venezia pun masih dihinggapin gini.

25 24 23 17 16 14

Suka banget foto ini. Cantik ya...

Suka banget foto ini. Cantik ya…

Tapi… ya gitu. Rasanya Venezia ya bagusnya cuma segitu aja. Mungkin juga karena ukurannya yang terlalu kecil ya. Semalam aja ke sana rasanya cukup. Mungkin juga, harusnya kita masuk ke dalam gereja-gerejanya yang cakep-cakep itu, baru berasa indahnya.

Dari San Marco kita jalan balik ke hotel buat istirahat sebentar. Kita dapat kamar di gedung tambahan. Kamarnya luas dan ranjangnya besar. Interiornya ala-ala Victoria which is saya kurang suka. Tapi hotel di Venezia ya rata-rata kaya gini modelnya. Kalo yang reviewnya bagus, ratenya mahaaal banget. Sedangkan kalo yg harganya terjangkau, reviewnya bisa ancur-seancur-ancurnya.

Kamar terbesar selama di Eropah

Kamar luas dan ranjang gede ala-ala Victoria

Hotel Bernardi ini lumayan recommended. Harganya sekelas private room di hostel tapi fasilitasnya lumayan.

Setelah tidur siang sebentar, malamnya kita keluar lagi buat cari makan.

Kali ini pinteran dikit, kita beli pizza take away lalu makan sambil duduk-duduk di piazza. Di sini Raka dapet temen lagi. Bahagia banget dia kejar-kejaran sampai sang teman diajak pulang papanya.

Setelah makan, kita jalan-jalan lagi. Sempat liat-liat tas tapi ragu sama kualitasnya. Jadi kita cuma beli tiramisu dan coklat buat makan di hotel.

Display gak menarik, tapi produknya menarik banget! hehe

Display gak menarik, tapi produknya menarik banget! hehe

Deretan tiramisu

Deretan tiramisu

Venezia di malam hari

Venezia di malam hari

Ada kejadian lucu di sini. Jadi si Raka kita kasih makan coklat sambil jalan. Saking asiknya dia jalan sendiri di depan kita. Eh kok dia pede aja gitu tahu-tahu belok ke salah satu gang kecil. Yang ternyata baru kami sadar kalau itu gang lokasi gedung utama Hotel Bernardi. Waktu kita pindah gedung, si Raka emang lagi tidur, jadi dia nggak ngeh kalau kita pindah gedung.

Wow… setelah itu saya jadi lebih sering merhatiin kalo memori spasial Raka sepertinya memang lumayan bagus *nggak kaya Maminya*

Malam itu kita habiskan di kamar sambil makan tiramisu, minum limoncelo, lalu tidur.

Limoncelo. Alkohol khas Italy. Harus nyoba kalo ke sini.

Limoncelo. Alkohol khas Italy. Harus nyoba kalo ke sini.

Besok paginya, kita breakfast di gedung utama Hotel Bernardi. Heavenly buat Raka karena ada susu free flow. Heavenly buat bapak emaknya karena ada chocolate spread rasa hazelnut yang juga free flow.

Setelah breakfast, kita ambil barang, check out, lalu beli tiket water bus. Raka sempet ‘malak’ saya beli mobil mainan. Dan karena sepanjang Euro Trip ini dia udah sangat kooperatif dan kami udah berkali-kali nolak permintaannya, akhirnya kita beliin deh tuh mobil. Padahal di Kidz Station juga ada, murah pula *haha*

Ada yang lagi malak mobil-mobilan

Ada yang lagi malak mobil-mobilan

Kita sampai di train station sekitar jam 9.30. Masih jauh dari jam keberangkatan kita jam 11.25. Ini emang sengaja sih, secara selama Euro Trip, kita selalu keburu-buru dan mepet naik pesawat maupun kereta, jadi kali ini kita berusaha spare waktu lebih banyak.

Sampe sana, platform kereta kita belum muncul di jadwal. Kita tenang-tenang aja window shopping di toko-toko stasiun. Sekitar 45 menit sebelum departure time… kok platform-nya tetep nggak keluar ya. Saya mulai gelisah berusaha cari information center, sementara Mas Ben dan Raka nunggu di sekitar platform. Akhirnya ketemu kantor penjualan dan informasi tiket.

Masuk ke sana, counter-counternya dibagi dua. Sebagian besar melayani penjualan tiket. Hanya 1 counter yang melayani informasi. FYI di counter itu ada 2 orang tapi yang satu sepertinya sedang nggak jadwal tugas, lagi sibuk dengan laptopnya.

Buat nanya ke informasi, kita harus ambil tiket antrian dan antriannya masih paaaaaanjaaaaang. Di belakang saya pun banyak yang ngantri. Senewen rasanya karena departure time semakin mendekat sementara nomor saya masih jauh. Di sekeliling saya, juga dipenuhi turis-turis yang gelisah. Mereka juga masing-masing mau tanya soal platform-nya. Ada beberapa yang mencoba tanya ke petugas yang lagi laptop-an, tapi si petugas cuma diam, rolling eyes, sambil nunjuk ke temennya yang tugas, suruh antri.

Dengan banyaknya orang yang kebingungan, keliatan banget memang informasinya nggak jelas (dan ternyata ini sering saya rasakan selama di Italy), jadi berasa mirip-mirip di Indonesia. Informasi suka ngga jelas atau telat di-update.

Luckily…. sekitar 20 menit sebelum jadwal keberangkatan, saya curi dengar ada turis yang naik kereta yang sama dengan saya, dan mereka lagi saling menginfokan tentang platform-nya ke satu sama lain. Saya pun ikutan numpang tanya. Setelah memastikan, saya langsung ngacir nyari Mas Ben dan Raka lalu buru-buru ke platform tujuan. Saya sempet ngelirik ke LCD berisi jadwal, platform kereta kita tetap belum muncul loh, padahal itu tinggal 10 menit lagi berangkatnya. *tsk*

Akhirnya… udah spare banyak waktupun, tetep aja boardingnya ngos-ngosan. Mungkin sudah takdir. Haha.

Dan setelah kurang lebih 4 jam perjalanan, kita pun tiba di tujuan terakhir kita: Roma!

Pemandangan cantik dari jendela kereta

Pemandangan cantik dari jendela kereta

Langsung tepar. Btw keretanya cakep ya...

Baru jalan, Raka langsung tepar. Btw keretanya cakep ya… *penumpangnya juga* *eh*

 

13 thoughts on “Euro Trip – Venezia yang Fotogenic tapi Kurang Berkesan

  1. Baru tau Din soal makan berdiri sama duduk itu beda harganya. Haha..

    Btw kanal2nya katanya bau ya? Gw selalu penasaran pingin ke sana cuma suami selalu ogah ke Itali gara2 denger cerita dari ortu pacar adeknya yg di rempok di jalan waktu liburan 😩. Langsung males dia 😞😞

    • Gw ga ngerti juga tuh soal makan duduk sama berdiri bener semua kaya gitu, atau nggak. Tapi kayanya si May pernah nyinggung juga soal ini. Dan emang di Italy sih gw paling ngeliat banyakan orang makan berdiri dibanding negara lain.
      Kanalnya gak bau sama sekali kok! Bolehlah lo cobain ke sana. Venezia gak se rawan Roma gitu kok wong isinya turis semua gitu… Kalo Roma memang rawan deh bener. Deg2an senantiasa.

  2. gilaaaa ramenya… gua palign pusing kalo ngeliat orang banyak begitu. hahaha.
    kalo poto juga jadi kurang ok ya karena kebanyakn orang.😀

    raka lucu ya bisa main2 ama anak lain. social banget anaknya ya😀

  3. Dulu pas gue ke Venice juga rame banget. Di setiap lorong isinya manusia semua. Manalah lorongnya mirip-mirip gitu. Buat day trip lebih ok kali ya, gak usah nginep.

  4. Lu kagak naek gondolanya, Din? Seru juga loh naek gondolanya, beda sama naek water taxi. Venice sih beneran cukup untuk day trip aja. Mending lu lamaan di Firenze daripada di Venice, tapi lu gak mampir Firenze ya krn langsung ke Roma. Next time kudu didikitin negaranya, tapi dibanyakin kota dlm satu negara, nampaknya lbh gak lelah. Anak kecil memang gampang akrab ya, sama siapa aja bisa pake bahasa dewa hihihi.

    • Gak naik gondola. Entah kenapa bahkan buat tanya harga aja gak kepikiran. Kita gak ke Firenze karena emang waktunya ga ada. Harus milih ya Roma deh. Itu aja lo liat jadwal gw padeeeet banget. Ini first trip emang buat overview aja dulu. Nanti second third dan seterusnya baru pilih yg suka aja lamaan. *amin*

  5. iya ya klo anak minta sesuatu rasanya ga tega nolak, gapapa deh ya raka dapet mobil2an mommy, dah being good slama di europe hahaha.

    gw perna dulu banget ke venezia ikut tour, seinget gw kayanya jg cuma nginap semalam, krn ga bgitu ada apa2nya juga. setelah dipikir2 naek gondola yang di The Venetian macau juga mirip2 malah kata org2 gapake bau huehueheu.

  6. Pingback: Euro Trip – Love Hate Relationship with Roma | Cerita Bendi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s