Tips membuat E-Paspor

Sampai sekarang, postingan saya tentang bikin e-paspor anak dan bikin paspor via online, masih cukup banyak pembacanya. Malah saya jadi sering ditanya soal topik ini. Karena sepertinya ini topik yang berguna, saya mau sedikit berbagi tips lagi tentang pembuatan paspor ya. Supaya infonya lebih update juga.

Saya mengurus pembuatan e-paspor di Kanim Jakarta Utara pada akhir September 2017. Di posting ini saya bakal memberikan tips-tips untuk memperlancar dan mempercepat proses pengurusan E-Passport menurut pengalaman saya.

1. Daftar Online

Kanim Jakut sudah tidak melayani pendaftar walk-in (kecuali bayi di bawah 2 tahun atau lansia di atas 65 tahun).

Daftar lewat apps Antrian Paspor. Apps bisa di download di Google Playstore ya. Di apps ini bisa pilih tanggal dan waktu yang masih available. Tidak bisa pilih jam. Cuma bisa pilih pagi atau siang. Sepertinya sih pagi=sebelum jam 12. Siang=setelah jam 13.

Udah gitu aja. Nanti di apps bakal keluar QR code antrian kita.

Image result for antrian paspor

2. Datang 30 menit sebelum jadwal.

Jadi begitu datang, kita diarahkan ke sebuah ruangan kaca berisi mbak-mbak cantik tapi jutek serta seperangkat komputer dan printernya.

Tadinya saya mikir… oh scanner QR-code-nya di sini. Ternyata oh ternyata… Kita disuruh log in sendiri di komputernya, lalu nanti QR code kita di print dari situ (nggak sekalian aja suruh print di rumah yak?). Lalu saya tanya, terus QR code-nya nanti baru di-scan dari kertas? Eh mbaknya bilang: “Nggak mbak, nggak di-scan. Kita nggak ada alatnya.”

DOENG…. sistem pakai aplikasi dengan QR code tapi kanim-nya nggak dikasih alatnya. Gimana toh? Kenapa ya kantor-kantor pemerintahan kok gini amat? *sedih*

Back to topic… Jadi setelah di-print harusnya kita bisa ambil formulir. Tapi jangan senang dulu…. Mungkin Anda seberuntung saya pas-pasan internetnya down. Lamaaaaaa banget buat login aja macam pake modem toneng-toneng jaman dulu. Jadi gimana dong? Akhirnya nomor QR code saya ditulis tangan aja gitu di kertas kecil. Haha.

Sekarang saya maklum kenapa si mbak jutek amat.

3. Pen hitam dan meterai

Setelah sukses print (atau ditulisin) QR code, pergilah ke front desk yang dijaga security buat minta formulir.

Isi formulirnya dengan pen hitam. Penting banget karena saya denger sendiri ada yang diomelin karena pake pen biru.

Lebih baik bawa meterai dari rumah. Lemnya bisa pinjam di security. Koperasi Kanim jual sih meterai tapi lokasinya di lantai 5 tanpa lift. Jadi mendingan bawa sendiri daripada repot-repot ke atas lalu ketinggalan ambil nomor antrian.

4. Posisi menentukan prestasi

Waktu ambil formulir, saya diberitahu baru bisa ambil nomor antrian jam 10 sesuai jadwal saya. Waktu itu baru jam 9.45 jadi saya santai aja. Eeeeh jam 9.55 tiba-tiba ada security bergerak menuju mesin antrian dan mengumumkan kalo yang jadwal jam 10 udah bisa ambil antrian.

Dan tiba-tiba sekelompok orang dari berbagai arah langsung ngebut membentuk antrian. Saya kalah cepet tapi untungnya ga buntut-buntut amat.

So… Setelah print QR code, sebaiknya segeralah cari lokasi mesin antrian dan jangan jauh-jauh dari situ. Kalau mau sambil isi formulir juga duduklah deket-deket mesin, dan ‘buka’ telinga baik-baik. Hehe.

5. Rapikan Dokumen

Kalau soal dokumen yang dibawa, rasanya udah banyak yang bahas ya: KTP, paspor lama, surat lahir, surat nikah, KK. Ini yang utama. Semuanya di-copy di kertas A4 tanpa dipotong-potong.

Dari hasil pengamatan saya, banyak banget orang yang lupa sama dokumen pendukung lainnya di luar dokumen utama di atas. Biasanya disebut harus bawa ijazah terakhir, dan biasanya yang dibawa itu ijazah S1. Nah, kadang ini jadi masalah karena biasanya ijazah S1 tidak mencantumkan nama orangtua. Saya tiap kali ke kanim, pastiiiiii selalu denger ada yang lagi ngotot-ngototan diminta dokumen pendukung yang ada nama orangtuanya, sedangkan yang bersangkutan nggak bawa.

Jadi, carilah dokumen yang mencantumkan nama orangtua kita. Bisa ijazah SMA atau surat baptis.

Tips lainnya, rapikan dokumen-dokumennya. Semua fotocopy di-klip jadi satu, bareng sama formulir pengajuan perpanjang paspor. Semua dokumen asli juga dimasukkan dalam satu map.

Hal yang sepele, tapi sangat mempercepat dan memperlancar proses.

6. Jangan Jiper

Eh masih ada yang ngerti jiper nggak sih? HA HA HA.

Jangan merasa terintimidasi sama para petugas di Kanim. Mereka emang galak banget kalo lagi debat sama para pengurus paspor. Tapi saya maklum sih yang ngurus juga banyak yang ndableg. Udah dibilang kurang, dibilang nggak bisa, masih aja berusaha nawar ini itu.

Kalau kitanya baik-baik, mereka helpful sekali kok. Saya ngeliat sendiri seorang petugas yang sabaaaaar banget ngebantuin Ibu-ibu yang mau ngurus paspor anaknya, tapi surat-suratnya di Manado. Intinya dikasih opsi-opsi biar lancar, dijelasin dengan sabar dan manis. Hihi.

Yang kedua… kalau kita bilang mau bikin E-paspor, jangan jiper kalau jawaban mereka adalah: Sistem e-paspor sedang down, jadi prosesnya bisa lama. Paling lama 1 bulan.

Tenang… kami udah ngurus 3 e-paspor (mas Ben, Raka, Kirana). Yang pertama diurus itu Raka, 4 tahun lalu. Dari 4 tahun lalu selalu lagu lama dibilangnya sistem down, paling lama 1 bulan. Waktu Kirana, 1 tahun lalu juga dibilang gitu. Intinya, itu semacam template jawaban kali ya, supaya nggak diburu-buruin? hihi.

Pada kenyataannya, e-paspor yang saya urus selama ini, selesai dalam 1 minggu-an.

7. Smile!

Setelah urusan dokumen selesai, tinggal nunggu dipanggil buat foto, ambil sidik jari, dan tandatangan. No tips for this part… Tinggal senyum aja biar fotonya cakep ya.

8. Langsung Bayar

Jangan lupa segera bayar setelah selesai foto karena pembuatan paspor kita baru diproses setelah kita bayar. Pembayaran bisa dilakukan di teller bank mana saja dengan uang cash.

Nah… inilah enaknya bikin paspor di Kanim Jak-Ut. Selain diapit resto, minimarket, dan coffee shop, tinggal ngesot sedikit, langsung ketemu BCA. Kelar deh semua urusan. Tinggal balik lagi buat ambil paspornya kalau udah selesai.

FYI biaya pembuatan E-paspor adalah Rp 655.000,-.

Kesimpulan

Saya bersyukur banget, pas paspor saya udah mau habis, eeeeh pas udah ada apps. Antrian Paspor ini. Nggak ada lagi musti antri subuh-subuh. Nggak ada lagi nunggu penuh-penuhan nggak kebagian tempat duduk. Nggak ada lagi nunggu giliran foto sampai sore.

Dari saya masuk sampai keluar Kanim, cuma menghabiskan waktu 1,5 jam. Total prosesnya sendiri cuma 1 jam-an saja (Setengah jam lagi karena saya emang datang kepagian).

Walaupun belum sempurna (segera beli QR code scanner dong… masa kalah sama Kidzoona yang bisa langsung scan voucher dari HP? hehe), tapi saya bangga banget pelayanan publik kita semakin menuju ke arah yang lebih baik. Semoga semakin lama semakin maju dan nggak kalah sama swasta, ya.

 

Advertisements

10 thoughts on “Tips membuat E-Paspor

  1. Nggak lama setelah gw bikin pake travel (karena gak sanggup antri pagi) dan daftar paspor online udah kaga bisa ampe sebel sendiri…mendadak keluar antrian online…KZL

  2. wah, pas banget aku lagi mau perpanjang paspor plus bikin paspor ibuku dan sedang nyari2 info Jadi terbantu dengantulisan ini. Terimakasih ya mba. Salam kenal dari saya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s