Japan Trip 2018 – Tokyo, Gyukatsu, dan Sakura Terakhir

Cerita Japan Trip 2018 sebelumnya bisa dilihat di:

Japan Trip 2018 – Backpacking, ANA, dan Stroller Tinyworld

………………………………………………

Jadwal penerbangan kita dari Soekarno Hatta adalah pk 21.25. Tapi karena takut kena macet jam pulang kantor, jam 3.45 sore kami udah berangkat dari rumah. Ternyata jalanan lancar blas. Jam 4.15 udah sampai di airport.

Makan di D’Cost Express (surprisingly enak loh makanannya), Raka sempet bikin PR dulu (iyes, saya minta PR buat selama liburan ke gurunya, dan dikasih segambreng, untung Rakanya patuh mau bikin), nongkrong di Starbucks, main di playground airport, akhirnya tibalah giliran kita boarding.

Full team – muka-muka bahagia mau liburan

Trio Bocah

Anakku yang top, disuruh bikin PR di airport, mau aja (walaupun ada komplen dikit-dikit sih)

Yeay boarding!

Ready to go!

Durasi penerbangan 7 jam. Semalaman itu Kirana tidurnya nggak nyenyak. Tidur sih, tapi maunya ngempeng terus dan setiap saya geser posisi sedikit, anaknya langsung kebangun dan mewek. Udah mana saya sendiri duduknya nggak nyaman, jadi bawaannya cepet pegel. Jadi Kirana cuma tidur sekitar 5 jam, sisanya makan dan nonton Coco bareng saya.

Sampai di Haneda Airport, yang kami lakukan pertama kali adalah beli Pasmo Card dan tiket airport limousine bus. Selama di Jepang, kami cuma pakai Pasmo, nggak pakai JR pass maupun day pass. Kenapa? Karena itinerary kami udah sangat rinci, jadi kami udah bisa ngitung perkiraan pengeluaran untuk masing-masing rute ke lokasi-lokasi tujuan kami. Dan setelah dibandingkan, kalau pakai JR pass malah rugi, sedangkan kalau pakai day pass (untuk di Tokyo), cuma untung sedikit. Menurut kami ribet lah kalau harus mikir gonta-ganti kartu, jadi ya sudahlah demi kepraktisan, pakai 1 kartu aja, yaitu Pasmo.

Bawaan kami

FYI, Pasmo ini adalah salah satu merk IC card yang ada di Jepang. Intinya semacam uang elektronik, seperti Flazz card di Jakarta atau EZ link di Singapura. Jadi kalau mau naik kereta atau bus tinggal tap saja, nanti nominalnya yang ada di dalam kartunya langsung kepotong. Pasmo (dan IC card lainnya) bisa dipakai di hampir semua kota-kota besar di Jepang. Repotnya, kalau sudah diisi, kartu ini cuma bisa di-refund di kota di mana kita beli. Jadi misalkan beli Pasmo di Tokyo, nggak bisa refund di Osaka (karena di Osaka IC card nya beda merk: Icoca).

Makanya kalau bisa, cobalah dikira-kira berapa kebutuhan transportasi kita selama di Jepang. Kalaupun masih banyak isinya, jangan kuatir, IC card juga bisa dipakai untuk belanja di konbini (mini market di Jepang seperti 7-Eleven, Family Mart, atau Lawson) dan banyak restoran (seperti Matsuya atau Matsunoya). Kalaupun masih tetap ada lebihnya, jangan galau karena IC card masih berlaku selama 10 tahun. Tinggal plan ke Jepang lagi aja dalam 10 tahun *eh.

… sekian sekilas info tentang IC card. Lanjut ceritanya ya…

Setelah tiket di tangan, kami langsung cari halte limousine bus. Begitu keluar langsung terasa dingiiiiiinnya Tokyo. Untungnya nggak pakai nungu lama, bus kami sudah datang. Bus-nya gede dan bagasinya ada di bagian bawah, jadi nggak perlu kuatir harus angkat-angkat barang ke dalam bus. Tinggal ditaruh aja di depan bus sebelum naik, nanti ada staff yang masukkin ke bagasi lalu kita dikasih nomor bagasi.

Begitu duduk di bus, kami bertujuh (yes, termasuk bocah-bocahnya) semua tidur bagaikan pingsan. Enaaaak banget rasanya. See… kursinya ANA bahkan kalah enak dibanding kursi bus. Untung nggak bablas ya.

Pagi itu, stop terdekat dengan AirBnb kami adalah West Exit Shinjuku. Dari sana, menurut Google Maps kami masih harus jalan 20 menit lagi. Bisa sih naik bus, tapi dengan pertimbangan lebih repot naik turun bus plus masih semangat sekalian sightseeing, kamipun jalan kaki sampai AirBnb.

Di tengah jalan sempat mampir 7-Eleven, nyobain onigiri, pork cutlet sandwich, dan chicken karaage. Enaaaak!!!!

Setelah sedikit nyasar, sampai juga di ‘rumah’ kami untuk 4 malam ke depan di Tokyo. Lokasinya di daerah Higashi Shinjuku. Setelah istirahat sebentar, kamipun langsung berangkat lagi. Ke mana?

Ke Gyukatsu Motomura yang jadi makanan favorit Dea selama di Jepang. Gyukatsu Motomura ada banyak cabangnya, jadi kami ketik aja di Google Maps dan cari yang paling dekat, dapetnya di Shinjuku-Kabukichou, di belakangnya Gracery Hotel.

Setelah jalan 20 menitan, menurut Google Maps kami udah nyampe di lokasi, tapi kami bingung, yang mana resto-nya. Sampai googling dulu logonya kaya apa, dan setelah mengamati sekeliling, ketemulah logo yang dicari-cari, dan ternyata restonya itu ada di basement. Pantesan aja dari tadi nggak nyadar.

Ini lo signage-nya. Resto-nya turun tangga ke bawah

Konon resto ini sering antri, tapi pas kami ke sana nggak pakai antri langsung masuk. Eh nggak lama setelah itu, di belakang kita mulai terbentuk antrian. Dan ternyata selama di Jepang kita sering banget ngalamin kaya gini, pas kita masuk sepi, setelah kita rameeeee. Mungkin kita bawa hoki? Haha.

Di pintu masuk kami langsung dikasih lihat menu. Menurut tips orang-orang, pesanlah yang harganya JPY 1400, nggak perlu pesan yang harga JPY 1500 karena ukuran dagingnya sama aja, cuma beda di side dish ada tambahan yam (ubi ungu ya kalo ga salah?). Jadi kita berempat pesan menu yang sama. Setelah pesan, langsung diminta bayar, baru dipersilahkan duduk.

Restonya mungil, hampir semua berupa meja bar, cuma ada 1 meja besar model family table, dan di situlah kami duduk.

Nggak pakai lama, tahu-tahu makanan udah datang, panggangan dinyalakan, dijelaskan sedikit mengenai bumbu-bumbu yang ada, lalu… kita makan. And it was YUM!!!! Saya dan Mas Ben sampai agak kurang rela bagi Raka pas dia minta-minta nambah daging *ortu macam apa kami ini* . Rasanya pengen pesen 1 porsi lagi kalau nggak inget harganya.

FYI selama kami makan di resto-resto di Jepang, hampir semuanya sudah menyediakan minum gratis, bisa air putih atau ocha. Dan begitu melihat kita bawa anak kecil, langsung dikasih alat-alat makan plastik. Di Gyukatsu Motomura malah kami langsung dikasih nasi tambahan buat anak-anak.

Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan dengan misi mencari ‘remahan’ sakura. HAHA

Jadi tuh ya pas awal beli tiket, kami sama sekali nggak ada ambisi buat ngejar sakura. Pilih tanggal itu ya memang karena dapet tiket murahnya di tanggal itu. Tapi waktu sakura forecast terbit, kami jadi excited karena pas tanggal kami ke sana, di Tokyo masih full bloom. Ternyata eh ternyata, forecast-nya meleset, musim sakuranya maju 2 minggu. Sebelum berangkat, kami rajin mantengin berita-berita tentang Jepang, berharap masih dapet sisa-sisa sakura.

Nah… menurut gosip terakhir, satu-satunya lokasi di Tokyo yang masih ada sedikit sakura adalah di Ueno Park. Maka pergilah kami ke sana.

Sampai di jalur sakura Ueno Park, sejauh mata memandang, semua pohon udah hijau. Yah sudahlah, kami pun pasrah dan menyerah. Berniat jalan-jalan aja menikmati taman. Eh tapi nggak sengaja mata saya ngeliat ada pohon berwarna pink di balik tembok. Yes! Sakura! Kamipun langsung cari jalan ke arah pohon tersebut, dan sepertinya pohon ini beneran pohon sakura terakhir di Tokyo, sampai dibatasi pagar tali.

Ternyata sakura memang cantik. Satu pohon aja udah bikin kami hepi. Pantesan banyak orang berbondong-bondong ngejar musim sakura.

Sakura terakhir (di Tokyo)

Setelah foto-foto, kami jalan-jalan sebentar di Ueno Park. Tapi anginnya guedeeeeee banget sampai akhirnya kita memutuskan bubar aja dan menuju arah pulang. Karena udah teler, Yohan, Vira, dan Ben pulan duluan. Kami lanjut jalan-jalan sekitar apartment buat cari makan malam. Malam itu kami makan Coco Curry Ichibanya. Menurut saya rasanya mirip sama yang di Jakarta, nothing special.

Selesai makan, kami langsung pulang. Hari itu memang kami nggak mau terlalu cape, karena besok pagi-pagi udah mau berangkat ke Disneysea. Yeay! Sayangnya hari kami di Disneysea harus diawali drama super-menyebalkan.

Nantikan ceritanya di posting berikutnya *eaaaa.

 

 

Advertisements

16 thoughts on “Japan Trip 2018 – Tokyo, Gyukatsu, dan Sakura Terakhir

  1. Eaaaaa… kudigantung…

    Disuruh ke Miyagi ga dibacaaa siiihh
    *lalu digebug backpack..loe kira tokyo ke miyagi tinggal koprol, Na?!?!*
    😆😆😆

    Mungkin sakura terakhir itu sengaja disemprotin pengawet din biar tahan lebih lama

  2. Huwooo kebayang itu nikmat dagingnya kayak apa…. 1400 yen itu brp rupiah ya? Ah udahlah ga usah diitung, tinggal baca aja, jejehehe…. ayo lanjutkan! Btw: aku suka strollernya deh.

  3. Eaaaaaaa kentang geelaaaaaakkk, tiba2 cerita serunya bersambungggg…

    Itu pohon sengaja di kasih tali pembatas supaya turis2 lenjeh macam gw yg kalo foto harus sambil pegang sakura, jadi gak bisa kali yeeee… hahaha. Buru ketik lg diìn.. kutaksabarneeeee!

  4. Pingback: Japan Trip 2018 – Drama Disneysea yang (Untungnya) Happy Ending | Cerita Bendi

  5. Pingback: Japan Trip 2018 – Kawaguchi, Sakura, Salju, dan Sushi Enak | Cerita Bendi

  6. Pingback: Japan Trip 2018 – Falling in Love with Takayama | Cerita Bendi

  7. Pingback: Japan Trip 2018 – Ryokan Asunaro, Aku Padamu | Cerita Bendi

  8. Pingback: Japan Trip 2018 – Tentang Hida Beef dan Berdiri di Shinkansen | Cerita Bendi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.