Japan Trip 2018 – Falling in Love with Takayama

Cerita Japan Trip 2018 sebelumnya bisa dilihat di:

Japan Trip 2018 – Backpacking, ANA, dan Stroller Tinyworld
Japan Trip 2018 – Tokyo, Gyukatsu, dan Sakura Terakhir
Japan Trip 2018 – Drama Disneysea yang (untungya) Happy Ending
Japan Trip 2018 – Kawaguchi, Sakura, Salju, dan Sushi Enak
Japan Trip 2018 – Keliling Tokyo yang Ramai

………………………………………………

Pagi ini kita mau pindah ke Takayama. Karena tahu diri kalo saya mandi dan siap-siapnya lama (plus semalem belum kelar packing), hari itu saya bangun jam 5 pagi.

Kelar mandi, Kirana ikutan bangun. Jadilah saya lanjut packing sambil direcokin anak bocah. Eh nggak lama dia malah ketiduran di lantai, di antara barang-barang kami. So cute. Haha.

b0

tak kuasa menahan kantuk

Abis itu kami sarapan ramen instan Tsuta. FYI, Tsuta ini adalah resto ramen pertama yang dapet Michelin Star. Saya sebenernya pengen banget nyobain aslinya, tapi memikirkan lokasinya yang jauh dari objek wisata lain, plus harus antri ambil nomor dulu, kami memutuskan skip dan menghibur diri dengan ramen instan-nya aja.

Image result for tsuta 7eleven instant

Jadi Tsuta Ramen kerjasama dengan 7-Eleven memproduksi ramen instan ini. Trus gimana rasanya? Enaaaak. Ada daging aslinya pula. Ini model ramennya yang berkuah bening, bukan yang rich macam Ikkudo atau Ichiran, dan ternyata saya emang lebih suka tipe ramen kaya gini. Duh ngetik ini aja bikin saya ngeces lagi. Huhu.

Next time kalo ke Jepang lagi saya mau coba aslinya ah *eaaa kapan ke Jepang lagi-nyaaa?

b1

Ramen instan terkenal dari Jepang tuh biasanya Ichiran. Tapi ini juga enak banget loh. Cobain deh!

b2

Sambil nungguin para ortu beres-beres, mereka lagi ‘absen’ rides apa aja yang belum dimainin di Disneysea. Lalu komplen. haha

 

Sekian cerita ramennya. Lanjut cerita perjalanan ke Takayama.

Sebenernya kami berencana berangkat jam 8 teng dari apartemen biar keburu nyampe di Takayama sebelum jam 1 siang. Kenapa? Karena kami udah booking food walking tour di sana yang mulainya jam 1 siang. Dan karena pengen ngeliat spring festival yang mulainya jam 2 siang.

Apa daya… keberadaan 3 bocah bikin kami lebih lelet dalam persiapan dan perjalanan. Alhasil kami baru naik Shinkansen jam 10 pagi.

b3

Bye, apartment! Ini foto dari pintu depan ke arah sisi kanan. Di sisi ini ada 1 kamar, dan dapur (sekaligus ruang makan)

b4

Ini foto dari titik yang sama, ke arah sisi kiri. Iye segini doang luas apartmentnya. Di sisi ini ada 2 kamar, 1 toilet, 1 kamar mandi

Dari Tokyo ke Takayama kami harus naik 2 kereta. Yang pertama Shinkansen ke Nagoya. Lalu lanjut wide view express ke Takayama. Total perjalanan sekitar 3,5 jam. Tiket kami beli langsung di loket stasiun sebelum berangkat.

Kami beli un-reserved ticket, berarti kami bisa duduk di kursi mana aja yang kosong, selama itu ada di gerbong un-reserved. Puji Tuhan kami semua dapat tempat duduk dan deketan. Mas Ben dan Raka duduk di sebelah seorang opa-opa baik hati. Tadinya si opa duduk di dekat jendela, tapi dengan bahasa tubuh, dia suruh Raka duduk deket jendela biar bisa liat pemandangan. Oh so sweet….

Perjalanan naik Shinkansen berlangsung baik-baik aja. Nggak terlalu ada hal berkesan. Tapi memang sepanjang jalan, apalagi mendekati Takayama, pemandangan cakep banget.

FYI di Shinkansen ada yang jual bento dengan trolley tapi cuma lewat sekali (nggak kaya di KA sini yang bolak balik melulu). Tapi kalau kelewatan mungkin bisa beli di gerbong restorannya. Sementara itu, kereta wide view express nggak jual makanan. Jadi kalau perjalanan jauh, jangan lupa prepare makanan ya. Dan sayangnya hari itu kami kurang prepare makanan. Cuma bawa 1 onigiri dan beberapa snack. Niatnya mau beli bento pas di wideview express tapi ternyata nggak dijual. Nasib.

b5

Siapa tahu ada yang mau liat segede apa backpack saya. Ya segitulah. Backpack Mas Ben 20 liter lebih besar

b6

Hiburan di Shinkansen: Selfie

b7

Di wideview express, kami dapet gerbong paling depan, jadi bisa liat masinisnya. Lumayan hiburan sekaligus tambahan pengetahuan buat anak-anak.

b8

Diupload karena Raka manis di sini. Haha

b9

Pemandangan dari kereta

b10

Mendekati Takayama. Ada penganten lagi foto-foto tuh.

Sampai di stasiun Takayama. Kami mampir sebentar ke Family Mart, beli onigiri buat makan siang, lalu langsung ngebut ke Ryokan Asunaro.

Ryokan adalah penginapan khas Jepang. Ryokan Asunaro adalah akomodasi pertama yang kami book, bahkan sebelum itinerary kami fix. Dan ryokan ini berkesan banget. Rencananya cerita soal Ryokan Asunaro mau saya jadikan postingan sendiri setelah postingan ini. Jadi…sabar ya.

Singkat cerita, kami check in, titip backpack, lalu langsung jalan lagi ke Takayama JInya (semacam alun-alun kota) buat ikut food and culture walking tour.

Satoyama Foor and Culture Walking Tour

Jadi ceritanya, saya dan Mas Ben menikmati banget ikut food walking tour di Roma. Jadi pas kita plan mau ke Jepang, saya langsung coba cari-cari tour sejenis dan ternyata ada di Takayama. Pas banget karena kita emang ada plan mau ke Takayama. Ngeliat review Satoyama Tour juga bagus-bagus banget, semakin napsulah saya.

Tapi napsu semata, saya malah nunda-nunda booking. Pas mau booking, udah full booked karena ternyata dia cuma buka maksimal untuk 7 orang perhari, dan hari kami datang itu bertepatan dengan Spring Festival, jadi peminatnya lebih banyak. Saya sempat patah hati rasanya. Eh tapi mereka menawarkan dibikinin private tour. Harganya tentu aja jatohnya lebih mahal, tapi karena setelah kami hitung-hitung masih affordable, akhirnya kami booking private tour.

Dan ternyata ini menjadi blessing in disguise.

Karena ternyata kami ketelatan naik kereta, jadi nyampe di Takayama juga telat. Untungnya kami booking private tour jadi lebih mudah buat reschedule. Saya cuma e-mail mereka selama di Shinkansen, kasih info kalau kita bakal telat tiba di Takayama, dan langsung di-approve. Coba kalo kami ikut regular group tour, mana bisa re-schedule, yang ada kami ditinggal dan tour fee kami langsung hanguslah.

Tuh kan… anak Tuhan selalu ada yang disyukuri. Haha.

Di Takayama Jinya, kami bertemu dengan tour guide kami, Miyuki. Hari ini bertepatan dengan hari kedua (sekaligus penutupan) Takayama Spring Festival (Takayama Matsuri), salah satu festival terbesar di Jepang. Jadi, tour dimulai dengan penjelasan Miyuki soal festival ini.

Di penjuru kota Takayama, tersebar beberapa tempat penyimpanan yatai (semacam tandu hias besar).  Dua tahun sekali, yatai-yatai dan mikoshi (portable shrine) dikeluarkan dan dipajang di Takayama Jinya.

Di antara yatai yang dipamerkan, ada beberapa yang punya puppet di bagian atasnya dan sebenernya ada puppet performance siang itu. Tapi karena kami ketelatan, pas kami nyampe Takayama JInya pas baru kelar puppet show-nya. Jadi kami cuma foto-foto aja sama yatai dan mikoshi.

b13

Yatai dari berbagai sisi

b11

Tiga buah Yatai di tengah lautan manusia…dan sakura!

b12

Yang ada rambut kemerahan itu puppet-nya

b14

Full team

b15

The details

b16

Mikoshi

Setelah itu kami diajak ke tempat pembuatan sake, dan dalam perjalan ke sana, kami ketemu…. SAKURA!!! Sakura masih lumayan banyak di sini dan lebih rimbun daripada di Kawaguchi. Apalagi ditambah pemandangan old town, sungai, dan jembatan yang cantik banget. Hilang deh segala lelah abis manggul bakcpack bolak balik naik kereta sepagian tadi.

b17b18b19

Di lokasi pembuatan sake, kami bisa sampling macam-macam jenis sake dan beberapa jenis cheese cake dan snack lainnya. Karena ikut tour, kami bisa coba beberapa sake yang sebenernya nggak boleh di-sampling untuk regular customer. Enak-enak loh sakenya. Tapi karena mungkin hari itu lagi capek dan kurang makan, walaupun cuma sampling sedikit, keluar dari sana saya rada nge-fly. HAHAHA. Parah.

Dari sana Miyuki nunjukkin kedai yang jualan hida beef croquete, kami beli (ini di luar paket tour soalnya, jadi nggak dapet sampling). Rasanya? Enak tapi gak berasa kalo isinya hida beef yang fenomenal itu. Mungkin karena dagingnya dicincang kan ya, jadi rasanya ya seperti makan croquete yang enak aja.

b20

Lagi dijelasin tentang salah satu tempat penyimpanan yatai, tapi kok saya malah ga ketemu foto tempat penyimpanannya ya.

b21

Sake brewery. Gelas kecil yang buat sampling itu boleh kita bawa pulang sebagai souvenir

b22

Got berair jernih dan deras

b23

Muka mabok sambil makan croquete

Lalu kami diajak ke sebuah toko permen. Lebih mirip cookies sih sebenernya, tapi mereka bilangnya itu Japanese sweets. Di sini juga dapet sampling dan anak-anak dikasih sekantong kecil cookies buat kenang-kenangan. Cookiesnya mirip kue satu. Tahu nggak? Enak tapi saya nggak doyan-doyan banget.

Perhentian terakhir adalah di sebuah kedai kopi. Di sini kami boleh pilih kopi atau teh plus seporsi sate mochi. Kopinya standard, teh hijaunya enak, mochinya enak, tapi saya bukan penggemar mochi sih.

b24

di depan toko permen

b25

Sok serius pas dijelasin soal permen-permennya, padahal saya nggak nangkep sama sekali – once again… masih nge-fly. Haha

b26

Nih, mirip kue satu kan?

b27

Warung kopi

b28

Ini mochi-nya. Dipanggangnya di bagian depan, jadi bisa keliatan dari luar. Enak sih, cuma kalo makan 1 tusuk gitu kenyang banget

b29

Sakura lagi!

b30

Selama di kota ini, Raka hepi banget loh. Liat deh di semua foto, senyumnya manis bener

b31

Foto sama abang

Setelah perhentian ini, seharusnya tour udah selesai, tapi Miyuki masih anterin kami ke festival market (semacam bazaar) yang jual banyak jajanan. Sayangnya kami udah kesorean dan kebanyakan stall udah tutup. Kami cuma beli chocolate frozen banana buat Raka.

Sebelum berpisah dengan Miyuki, kami minta rekomendasi tempat dinner dan Miyuki anterin kami ke Kajibashi Soba. Jujur aja ya pas di sana, saya nggak tahu nama restaurant ini apa karena sama sekali nggak ada huruf latin-nya. Saya baru tahu namanya pas mau nulis blog dan googling nyari nama tempatnya sambil bandingin sama memory saya. Haha.

Karena kami datang pas masih sore sebelum jam makan, cuma waiting list sekitar 2-3 nomor. Tapi nggak lama kemudian, di belakang kami buanyaaak yang antri. FYI cuaca sore/malam Takayama waktu itu dingiiiiiin buanget. Sungguh sesuatu nunggu giliran makan sambil kedinginan.

Di sini kami pesan hida beef soba dan hida beef sushi. Sobanya enak! Tipe yang saya suka dengan kuah bening. Sushinya not recommended. Agak alot. Gara-gara kurang puas sama sushinya (dan sejak dari Jakarta memang saya udah kepengen banget nyobain hida beef sushi), setelah dari resto saya berniat cari kios hida beef sushi yang terkenal itu.

b32

hida beef sushi – hida beef soba – tonkotsu soba

Lalu si Yohan kasih tahu bahwa kios hida beef sushi yang terkenal itu sama dengan tempat kita beli hida beef croquete tadi siang. Si Miyuki tadi udah ngejelasin. LAH! Tahu gitu saya beli tadi! Inilah akibat saya mabok tadi, jadi nggak terlalu merhatiin. Tambah sebel karena pas sampe di kios tersebut, udah tutup dong. FYI toko-toko di Takayama udah mulai tutup sekitar jam 6-7 malam.

Okelah, besok kita coba lagi berburu hida beef sushi.

Sebelum pulang ke ryokan, kami mampir ke Family Mart buat beli snack buat malam itu dan breakfast besok pagi. Keluar dari Family Mart, hampir semua toko terlihat sudah tutup dan Takayama terasa sepiiii dan dingiiiin banget macam kota mati. Nggak masalah, karena memang malam ini sudah dialokasikan untuk menikmati ryokan!

Lanjut ke posting berikutnya ya.

 

 

 

 

11 thoughts on “Japan Trip 2018 – Falling in Love with Takayama

  1. Din, gue gak sanggup…. Gak SANGGUP LIAT BACKPACK LU! hahahahaha…
    Kalo gitu, sebelum foodies walking tour, kuncinya adalah: Kudu isi perut dulu secukupnya demi menghindari mabok.

  2. Pingback: Japan Trip 2018 – Ryokan Asunaro, Aku Padamu | Cerita Bendi

  3. din itu yg foto di jembatan keren banget deh, gw jadi inget film anime samurai x hahaha. anw, gw baru tau ada food walking tour gini. utin pasti suka deh. harusnya next time kalo jalan2 ke tempat yg makanannya enak cari tau soal ini ya.. hahaha.

  4. Pingback: Japan Trip 2018 – Tentang Hida Beef dan Berdiri di Shinkansen | Cerita Bendi

  5. Pingback: Japan Trip 2018 – Jadi Model Sehari di Kyoto | Cerita Bendi

  6. Pingback: Japan Trip 2018 – Belanja di Osaka | Cerita Bendi

  7. Pingback: Japan Trip 2018 – Universal Studio! | Cerita Bendi

  8. Pingback: Japan Trip 2018 – Playground di Osaka Castle dan Drama Boarding di Airport | Cerita Bendi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.