Japan Trip 2018 – Tentang Hida Beef dan Berdiri di Shinkansen

Cerita Japan Trip 2018 sebelumnya bisa dilihat di:

Japan Trip 2018 – Backpacking, ANA, dan Stroller Tinyworld
Japan Trip 2018 – Tokyo, Gyukatsu, dan Sakura Terakhir
Japan Trip 2018 – Drama Disneysea yang (untungya) Happy Ending
Japan Trip 2018 – Kawaguchi, Sakura, Salju, dan Sushi Enak
Japan Trip 2018 – Keliling Tokyo yang Ramai
Japan Trip 2018 – Falling In Love with Takayama
Japan Trip 2018 – Ryokan Asunaro, Aku Padamu

………………………………………………

Sebelas tahun yang lalu, saya ke Jepang untuk yang pertama kalinya. Waktu itu, bareng sama sepupu saya, kami ikut rombongan tour dari Indonesia. Di sana, local tour guide-nya nawarin, apa ada yang mau coba Kobe Beef. Ini di luar itinerary tour. Kalau mau, dia kirim langsung daging mentahnya dari Kobe ke Tokyo, buat dimakan di hari terakhir, yang mana jadwalnya memang makan di resto yakiniku all you can eat (mirip Hanamasa).

Karena harganya yang mahal banget, yang pesen tentunya cuma beberapa keluarga aja. Salah satu keluarga yang memang murah hati, kasih sepotong kecil buat kita coba. Daaaaan….rasanya berkesan banget. Uwenaaaaak banget Kobe Beef itu! Daging sapi kok bisa meleleh pas masuk mulut. Can you imagine?

Karena memory yang luar biasa itu, saya berhasil membujuk mas Ben dan Yohan Vira buat memasukkan ‘Kobe beef’ ke dalam itinerary. Sekalipun harganya sekitar JPY 15.000/porsi, mereka akhirnya setuju.

Untunglah, saya punya seorang teman yang penuh informasi, namanya jeung Aina. Hanya beberapa hari sebelum saya berangkat, dia kasih saya info soal Hida beef.

Sebenernya saya udah pernah denger soal Hida beef, tapi saya pikir Hida Beef itu levelnya di bawah Kobe Beef. Rasanya kok nggak rela udah jauh-jauh ke Jepang terus kita ‘cuma’ nyobain yang nomor dua? Cobain yang nomor satunya dong.

Tapi jeung Aina memberikan pencerahan melalui review seorang selebgram yang bilang kalau Hida beef (yang harganya 1/4 Kobe beef) rasanya juga enak banget, bahkan lebih enak daripada Kobe beef.

Jadilah hari itu kami mantap mencoret Kobe beef dari itinerary. Kebetulan banget pusanya Hida beef itu ya di Takayama. Jadi hari kedua di Takayama, setelah check out dan titip koper, kami keluar dari hotel dengan mengemban misi: mencoba hida beef sushi dan hida beef BBQ.

d4

Good morning from Takayama. Masih pagi, dingiiiiin banget, toko-toko baru aja pada buka, tapi udah ramai turis.

d3d2

d1

Sakura di mana-mana. Cantik banget kota ini.

Di Takayama ada beberapa kios hida beef sushi yang terkenal dan jujur aja saya nggak tahu saya pergi ke yang mana. Waktu itu saya cuma googling, cari yang reviewnya paling bagus, lalu ikutin direction-nya. Nah di satu jalanan kecil itu ada 2 kios seberang-seberangan yang dua-duanya antri. Akhirnya kami pilih salah satu.

Ada 3 jenis Hida Beef sushi: hida beef lean meat, hida beef, dan premium hida beef. Makin mahal tentunya makin berkualitas. Saya dan Mas Ben beli satu yang hida beef dan satu premium hida beef. Kesimpulannya, kalau emang mau coba hida beef sushi, belilah yang premim, karena yang premium rasanya spektakuler, sementara yang biasa rasanya langsung biasa aja, nothing special. Toh walaupun lebih murah, yang biasa tetep mahal juga, jadi kalau memang udah niat nyoba, cobalah yang paling enak daripada nanggung udah jauh-jauh, nggak nyobain yang paling spesial.

Selain sushi, kami juga beli bapao hida beef buat anak-anak. Ini juga enak dan mereka doyaaaan banget.

d6

Kios hida beef sushi yang saya nggak tahu namanya apa, soalnya nggak ada huruf latinnya.

d5

hida beef biasa seharga JPY 600 (kiri) vs premium seharga JPY 800 (tengah)

d7

Yang saya makan itu cracker yang tadi jadi ‘piring’ hida beef sushi. Bulet-bulet yang nempel di dinding itu replika bapao hida beef.

d8

Dua anak rebutan giliran mamam bapao hida beef

Selesai ngemil berat, kami jalan-jalan menikmati Takayama yang dingin dan cantik, sambil mengarah ke tujuan berikutnya: Ajikura Tengoku.

Di Takayama ada banyak banget resto hida beef barbeque tapi rata-rata restorannya mungil banget. Mengingat kami bawa 3 bocah, akhirnya kami milih resto yang lebih luas dan kids friendly.

Tapi ternyata, pas kami sampai di Ajikura Tengoku, ketiga bocah ini bisa-bisanya tidur nyenyak barengan (which is jarang banget terjadi selama kami di Jepang, biasanya mereka beda jadwal bobo siangnya). Mungkin karena perut kenyang dan cuaca dingin, puleeees semuanya.

Kenyataan ini sekaligus melengkapi kenikmatan kami: bisa makan hida beef yang super-enak itu tanpa ‘terganggu’ bocah-bocah yang senantiasa minta diladeni. Surga dunia rasanya. Bukannya nggak sayang anak ya, tapi setiap emak-emak pasti paham betapa mewahnya bisa menikmati makan enak sepenuhnya tanpa harus nyambi sibuk main pesawat-pesawatan atau ngebujuk anak makan.

Ajikura Tengoku adalah resto yakiniku di mana kita bisa pesen daging lalu panggang sendiri di meja. Jadi nggak seperti Kobe Beef yang biasanya disajikan 1 porsi untuk 1 orang, di sini kita bisa sharing. Jadinya tambah ekonomis lagi karena kita bisa combine sama jenis daging yang lebih murah dan nyoba lebih banyak jenis.

Lalu gimana verdict-nya Hida Beef?

UWENAAAAAAAAAAAAAK BANGET. Dibanding Kobe beef di ingatan saya sih rasanya sama enak atau bahkan lebih enak. Duh enak deh pokoknya, gak pake bumbu apa-apa cuma dicocol ke garam aja udah mantap jiwa. *lalu nulis ini sambil ngeces

Dan tambah enak pas ngeliat bon-nya. Total kerusakan perorang nggak sampai JPY 4000. Bandingkan kalau kita jadi makan Kobe Beef.  *kekep dompet

d9

Sekali lagi, nggak ada huruf latinnya. Yang jelas lokasi Ajikura Tengoku ada di sebelah stasiun dengan lapangan parkir luar di depannya

d10

Ini 3 jenis daging yang berbeda. Yang kiri sirloin. Yang tengah saya lupa apa. Yang jelas yang kanan itu super-premium-hida-beef yang orang-orang bilang sama (atau bahkan lebih) kualitasnya dibanding Kobe Beef.

d11

Muka-muka bahagia. suatu kemewahan bisa makan enak tanpa harus nyambi nyuapin anak

Perut kenyang, hati senang, kami jalan balik ke ryokan buat ambil backpack, lalu jalan balik lagi ke stasiun.

Sampai stasiun, beli tiket ke Kyoto. Mirip seperti kemarin, kami harus naik Wide View Express ke Nagoya, lalu ganti Shinkansen ke Kyoto. Dari Takayama ke Nagoya sekitar 2,5 jam dan berlangsung baik-baik saja.

d12

Ada eksibisi kecil di stasiun Takayama. Ini penampang samping kapal festival. Bisa didorong juga kalau di darat. Di sini saya tambah ngeh, Raka bener-bener tertarik sama seni dan budaya. Dia betah berlama-lama ngeliatin eksibisi ini dan tanya macam-macam ke saya.

d14

I’m so blessed having this little man. Seringkali dia yang sibuk menghibur dan ajak main dedenya biar nggak rewel selama di kereta. Btw sebelum ada yang tanya, itu gigi Kirana begitu karena habis makan coklat

Nah…menurut jadwal di tiket kami, kami cuma punya jeda 7 menit buat pindah kereta. Begitu turun, kami langsung ngaciiiiiir angkut anak-anak dan barang masing-masing, lari kencang ke platform berikutnya. Udah manalah kami mau naik lift tapi lift-nya ditap sama rombongan turis dari negara yang turisnya terkenal paling menyebalkan itu. Hehe.

Jadi kami gotong-gotong lari-lari naik turun tangga. Laluuu pas ketemu keretanya, pintunya udah ngebuka dan udah ada antrian buat jadwal kereta berikutnya. Kami langsung ngacir masuk dan nggak lama setelah itu, pintu keretanya nutup. Wuih seru.

Nah lebih seru lagi pas udah di dalam kereta, kami menyusuri gerbong dan menemukan kenyataan bahwa nggak ada satupun kursi kosong. Jadilah kami berdiri di connector antar-gerbong, di space kecil di depan toilet, lengkap dengan segala perlengkapan heboh kami: 4 backpack guede, 2 backpack kecil, 2 handbag, dan 2 stroller.

Kirana saya gendong pakai Boba-Air sementara satu tangan saya pegangin Raka yang berdiri di samping saya. Mas Ben sibuk pegangin stroller dan 2 backpack.

Sambil berdiri, setelah tenang, barulah kami bahas, sepertinya kalau kami naik kereta berikutnya juga bisa-bisa aja deh, kan ini un-reserved-seat-ticket. Haha. Kesalahan bodoh. Ya udah lah ya, gak apa-apa, seru kok. Dan untungnya perjalanan kali ini cuma sekitar 40 menit.

Dan saat itu saya bersyukuuuuur banget punya anak yang baik-baik dan kooperatif. Kirana walaupun biasanya nggak suka digendong tapi saat itu diem-diem aja anteng. Raka yang pasti sebenernya cape, berdiri tanpa terlalu banyak complain sepanjang perjalanan. We are so blessed having this kiddos.

Nah… sayangnya…. pas turun kereta malah Kirana ngamuk karena nggak mau ditaro di stroller. Udah berusaha saya bujuk tapi nggak berhasil. Repot kan soalnya saya lagi bawa backpack. Kirana jejeritan membahana sampai kami diliatin orang-orang. Akhirnyaaaa saya gendong backpack di belakang, gendong Kirana di depan dong. Super-mommy-mode ON!

d13

Ternyata ini manfaat rajin latihan dumbell di rumah

d15

Ketika Kirana ngamuk

Kalau di Tokyo, kereta bisa menjangkau sampai pelosok-pelosok kota, di Kyoto agak berbeda. Jangkauan kereta tidak seluas itu. Jadi kalau ke mana-mana lebih banyak harus pakai bus. Termasuk ke Air-BnB kami.

Yang namanya naik bus tentunya lebih sempit daripada naik kereta ya. Udah mana bus-nya penuh bangetttttt. Bersyukur sih saya dan anak-anak masih dapet duduk, tapi duduknya itu bener-bener empet-empetan. Warbiasah deh. Untungnya perjalanan nggak jauh-jauh amat.

d16

Situasi di dalam bus. Itu yang di foreground adalah roda stroller kami. Di belakangnya ada nongol dikit kepala Kirana, ada kepala Raka, lalu di belakang kami penuuuuh sama manusia

Sampai di Air-BnB, hari sudah gelap. Air-Bnb ini adalah listing terluas selama kami di Jepang. Nyaman banget lah. Dan kami (terutama Mas Ben) sangat bahagia karena di sini ada lift. Haha.

Setelah duduk-duduk istirahat sambil ngemil sebentar, masukkin baju kotor ke mesin cuci, kamipun keluar lagi cari makan malam. Kami nggak ada plan sama sekali mau makan apa hari itu. Jadi kami cuma menyusuri jalanan Gion yang memang dipenuhi restoran-restoran berderet-deret, dan masuk ke salah satu yang nggak terlalu antri.

Kami makan di sebuah restoran ramen yang… nggak mengesankan. Yaa bisa dimakan sih tapi kurang bisa dinikmati. Ini sepertinya makanan paling kurang enak selama kami di Jepang.

Setelah makan, seperti biasa, jajan-jajan di mini market, lalu pulang. Lelaaaaah.

Lanjut ke postingan berikutnya ya, ketika kami menjadi model sehari di Kyoto.

 

 

 

 

 

10 thoughts on “Japan Trip 2018 – Tentang Hida Beef dan Berdiri di Shinkansen

  1. Peer untuk yang bawa anak tuh Din, harus reserve Shinkansen, apalagi kalau pas rush hour. Untung lu cuma 40 menit, jadi nggak terlalu gempor hihihihi. Nanti suatu hari balik lagi ke Kobe, makan Kobe Beef-nya Din, biar gak terlalu lama jeda mamamnya, jadi bisa lebih ngerasain bedanya, terus direview lagi hihihihi (Ini artinya didoain biar balik lagi segera ye, Din).

  2. Senang bisa membantu.

    Sooookk ya gue kasih rekomendasi padahal nyentuh tanah jepang aja belom pernah. Hahahahahahaha.

    Jadi senapsaran ama si Hida.

  3. Din…gw nggak kebayang elu berdiri bawa ransel gede plua gendong anak….apa kaga ada yg iba trus nawarin tempat duduk ke kalian …waktu itu gw juga berdiri karena yg gw reserved pas delayed eh nggak beroperasi gara2 hujan besar dan angin kenceng trus sungainya meluap katanya. Jadi hoki pas ada yg turun trus dia kasih gw duduk gitu (tentu aja gw kasih anak gw yg duduk) hehehee dan gw duduk di atas koper yang ditaro depan anak gw hahaha

    Bakpao beef elu gw liatnya ngeri kaya 2 lidah lg menjulur 😝😝😝

  4. Pingback: Japan Trip 2018 – Jadi Model Sehari di Kyoto | Cerita Bendi

  5. Pingback: Japan Trip 2018 – Belanja di Osaka | Cerita Bendi

  6. Pingback: Japan Trip 2018 – Universal Studio! | Cerita Bendi

  7. Pingback: Japan Trip 2018 – Playground di Osaka Castle dan Drama Boarding di Airport | Cerita Bendi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.