Tentang Raka – Lima Tahun

Tanggal 19 Agustus kemarin, Raka berulang tahun yang kelima.

Jujur aja usia 3 dan 4 tahun tuh terasa menantang sekali buat saya. Rasanya melelahkan sekali tiap hari harus nego sama anak. Mau mandi nego, mau makan nego, mau sekolah nego, mau bikin PR nego, mau jadwalin nonton Youtube nego. Buat yang kenal saya, pasti tahu kalau saya ini lumayan konsisten soal jadwal dan aturan, tapi udah kaya gitu pun masih aja tiap hari nego-nego. Dan ini melelahkan banget.

Belum lagi emosinya. Kadang karena kemampuan komunikasinya masih terbatas sementara maunya udah banyak dan perasaannya semakin kompleks, dia marah kalau maksudnya tak tersampaikan.

Sampai sempet sekali saya minta Mas Ben pergi ajak Raka keluar dan hari itu rasanya saya resfreshed banget. Pernah juga saya sampai nangis karena rasanya no-clue harus gimana. Dan titik terendahnya adalah saya pernah loh sampai googling “I hate my kids” karena rasanya kesel banget tapi tahu saya ‘gila’ dan merasa bersalah (dan hasil googling-nya ternyata banyak loh yang pernah ngalamin perasaan kayak saya – temporary merasa kesal tak tertahankan sama anak sendiri walaupun sebenernya sayang banget nget).

Kalau diinget-inget… rasanya kecewa sama diri sendiri pernah punya perasaan macam itu.

Tapi sejak beberapa bulan menjelang ulangtahunnya yang kelima, saya merasa banyak perubahan pada diri Raka.

Rasanya frekuensi nego jauuuh berkurang. Cukup diingatkan saja, udah taat. Semacam sepertinya dia udah paham kewajibannya.

Frekuensi marah juga berkurang. Tadinya gampang banget marah kalau ditegur (yang berakibat ‘memancing’ saya buat marah balik). Sekarang ditegur pelan aja, dia nggak marah, malah keliatan sedih, yang akhirnya bikin saya bisa bilangin baik-baik, dan kesepakatanpun tercapai dengan baik-baik pula.

Apa yang mengubah Raka? Rasanya ada beberapa faktor, tapi itu nantilah saya sharing kapan-kapan.

Tapi salah satunya…. kalau kata Mami saya, ya udah lewat aja ‘fase’nya. Raka semakin dewasa aja. OK lah saya amini dan nikmati saja soal ini (sampai fase berikutnya. Haha)

Ulangtahun kali ini jatuh di long weekend, dan udah sejak jauh-jauh hari keluarga besar Mas Ben merencanakan nginep di villa di Cisarua (more on this in another post). Karena di luar kota, tentu saja saya nggak bikin kue sendiri.

Sempet sih terpikir mau bikin kue di Jakarta, lalu dekornya di villa. Tapi kok sepertinya sayang ya saya membuang quality-time sama anak dan keluarga demi memenuhi ambisi pribadi bikin kue buat anak. Apalagi mikir musti bawa alat dan bahan segambreng. Ya sudahlah, akhirnya saya cari bakul kue terdekat yang bisa bikin kue custom dan harga cocok di kantong. Ketemulah dengan Cakeoclock di Instagram, yang lokasinya di Bogor.

Kuenya dikirim pakai Gosend hari Sabtu malam (H-1). Abangnya pengertian, jalan pelan-pelan, sehingga kue saya sampai dengan selamat cuma dengan sedikit bocel di bagian belakang.

Di hari-H, saya bangun pagian, tiup beberapa balon, dan setting meja dengan kue dan beberapa kado yang saya bawa dari Jakarta.

Sekitar jam 7 pagi, si Birthday-Boy keluar kamar, disambut dengan ucapan “Happy Birthday” tapi dia malah kabur karena salting. Haha. Setelah itu Raka buru-buru dimandiin, karena beberapa anggota keluarga mau pulang duluan dan kita mau tiup lilin selagi masih lengkap personelnya.

Jadi pagi itu, dengan cukup ngebut, Raka cuma tiup lilin, foto-foto, lalu bagi-bagi kue. Dan acara selesai.

Sempat sedih karena pas pertama kali ngeliat kuenya, Raka langsung tanya “Mami beli atau bikin kuenya?”… yah… tahun depan ya, nak, mami bikin kue buat kamu.

Agak surprised pas pertama ngeliat kuenya. Pesen yang standard 20 cm kok rasanya gede banget. Mungkin karena kuenya tinggi ya. Dan itu full kue tanpa diganjel sterofoam. Mantap lah. Rasanya pun OK

Kaos yang dipakai Raka dan Kirana ini sekaligus jadi salah satu isi goody bag buat temen-temen sekelas Raka di sekolah. Ditulis nama masing-masing seperti “Incredible Raka” dan “Incredible Kirana”

Dirayain sekeluarga besar

Tanggal 20 Agustus (H+1), Raka ngerayain ulangtahun di sekolah. Walaupun anaknya maju-mundur kadang bilang mau, kadang bilang nggak, kami memutuskan tahun ini tetap dirayain karena ini tahun terakhir Raka di TK.

Perayaannya sederhana aja. Cuma tiup lilin, potong kue, lalu bagi-bagi goody bag. Isi goody bag nya: jelly, susu, Oreo, risoles, lemper, dan kaos custom bertema Incredible dari Kastem Haus tentunya.

Waktu saya lagi potong kue buat dibagiin, beberapa anak ngerumun mau ngambil topper kue-nya. Sejujurnya saya pengen simpen topper kue itu buat Raka. Tapi akhirnya saya bilang ke anak-anak itu: “tanya Raka dulu ya” dan…. tentu saja si anak murah hati bagi-bagi topper kuenya dengan sukacita sampai nggak bersisa. Hehe.

Dan yang bikin hati saya berbunga-bunga, saya sempet curi dengar Raka lagi ‘pamer’ ke teman-temannya: “My mom can make cake every day!” —> Padahal kalo saya bikin kue juga dia jarang makan. Sa ae lu, Tong!

Kali ini kuenya pesan di Profita Baking. Kalau kemarin berasa kuenya gede, kali ini berasa kuenya kecil, paaas banget buat bagi-bagi temen sekelas. Kami cuma kebagian sepotong, padahal sama-sama 20 cm. Tapi dengan budget saya yang terbatas, design kuenya memuaskan dan rasanya enaaak. Dapet bonus pisau kue (pisau beneran loh bukan plastik) dan tissue. Good service.

Temannya pimpin doa buat Raka

Maklum pengalaman pertama ultahin anak di sekolah, saya lupa pajang goody bag nya. Huhu

Ada yang udah nggak konsen, ngincer kue

Ini goody bag nya. Isi kaos, jelly, Oreo, dan susu

Selamat ulangtahun, anak sulung Mami… yang sedari bayi selalu penuh senyum, ramah, lively, dan ekspresif… anak Mami yang peka sama perasaan orang lain… Anak baik yang bikin orang berkomentar “kalau kaya gini mah punya anak 7 juga nggak apa-apa”. Semoga Raka selalu menjadi anak yang taat pada Tuhan, anak yang menyenangkan Tuhan dan sesama, yang bersinar dalam kegelapan seperti namamu: purnama.

 

 

 

 

10 thoughts on “Tentang Raka – Lima Tahun

  1. Met ultah, Raka! Sehat selalu ya, makin pinter di sekolah, makin sayang sama semua.
    Din, perhatiin deh, kayaknya pas di usia 5 ini, titik balik anak banget buat jadi “dewasa”, mendadak jadi anak gede, lucunya mendadak berkurang, pokoknya tiba-tiba jadi kayak hampir “selevel” sama kita kalau diajak ngobrol. Itu sih yang gue rasain pas Abby turned 5, tau2 beda aja gitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.