Japan Trip 2018 – Jadi Model Sehari di Kyoto

Akhirnya kembali ke cerita Jepang! Setelah sibuk musim ulangtahun dan drama mbak-less, akhirnya saya sempet lagi mengupdate blog yang berdebu ini. Semoga abis ini lancar sampai seri Japan Trip 2018 selesai *lapkeringet

Cerita Japan Trip 2018 sebelumnya bisa dilihat di:

Japan Trip 2018 – Backpacking, ANA, dan Stroller Tinyworld
Japan Trip 2018 – Tokyo, Gyukatsu, dan Sakura Terakhir
Japan Trip 2018 – Drama Disneysea yang (untungya) Happy Ending
Japan Trip 2018 – Kawaguchi, Sakura, Salju, dan Sushi Enak
Japan Trip 2018 – Keliling Tokyo yang Ramai
Japan Trip 2018 – Falling In Love with Takayama
Japan Trip 2018 – Ryokan Asunaro, Aku Padamu
Japan Trip 2018 – Tentang Hida Beef dan Berdiri di Shinkansen

………………………………………………

Buat perjalanan ke Jepang ini, kami kembali pakai jasa Frame A Trip. Booking-nya barengan sama foto di Bali akhir tahun lalu, dan tentunya dapet harga discount dong! Good deal banget deh pokoknya. Kali ini kami pilih Javier sebagai fotografer.

Awalnya kami pengen sewa kimono sehari dan foto-foto pakai kimono. Tapi semakin dipikirin, semakin terasa ribet ngebayangin nanti kami udah jalan susah pake kimono, harus gendong-gendong atau lari-lari kejar bocah. Akhirnya dengan berat hati, kami pilih pakai baju casual aja dan berdoa, semoga nanti kalau anak-anak udah agak gedean, kami bisa ke Jepang lagi dan foto-foto pakai kimono.

Sejujurnya saya sedikit menyesal sih sama keputusan ini (apalagi mengingat saya nih yang lebih persuasi buat pakai casual aja) karena pas di sana, si Kirana sempet liat anak seumur dia pake kimono dan Kirana mupeng banget. Haha. Ya sudahlah, sekali lagi, iman kami suatu saat nanti kita ke Jepang lagi, ya nggak, Vir? *colek

Sehari sebelum jadwal foto, saya udah contact Javier via WA. Kami sepakat janjian ketemu di Yasaha Shrine. FYI, Yasaka Shrine ini lokasinya deket banget sama Air BnB kami, tinggal jalan dikit lalu nyeberang jalan.

Pagi-pagi, setelah heboh sarapan, dandan, dan dandanin anak-anak, kamipun ketemu Javier di depan Yasaka Shrine, lalu langsung dimulailah sesi foto-foto.

Yasaka Shrine dari seberang jalan

Tempat berdoa

Nggak difoto malah pose

Pemandangan bagus? ku tak peduli. Asal ada burung, aku hepi *err.. sounds wrong

Perjuangan berfoto bersama balita (1)

Perjuangan berfoto bersama balita (2)

Lagi melongo aja ganteng *bias

Itu bola-bola buat ‘kirim’ doa

Ini jelang akhir sesi,anak-anak udah mulai bete dan laper. Itu Kirana lagi makan kripik pisang

Di-upload karena dagu saya lancip banget di sini *receh

Emak-emak yang mencoba bergaya ala-ala abege kekinian

Apa? Mami suruh aku senyum? NYOOOOOOH. Puas? Puas?

Bukan sedang disetrap. Ini pose arahan Raka.

Javier ini tipenya nggak terlalu banyak foto candid atau nangkep moment. Dia lebih suka nunjukkin kita spot, suruh kita pose di situ, lalu dia foto. Jadi jujur aja tadinya kita sampai berasa fotonya kok dikit banget, udah mana kita banyak gaya ngaco-ngaco karena harus sambil bujukin bocah, apa nanti bakal ada yang bagus?

Kita foto-foto sambil jalan-jalan lihat-lihat komplek Yasaka Shrine dan daerah Gion. Menyenangkannya ambil jasa travel fotografer gini, karena sekalian semacam dapet private guide. Sambil jalan, Javier sambil cerita-cerita. Btw Javier orang Eropa Timur (saya lupa negara mana) tapi udah lama tinggal di Kyoto. Javier kasih kita kenang-kenangan berupa foto polaroid… tapi…. begitu tuh foto jadi, kedua anak saya rebutan dan fotonya rusak *sebel.

Setelah foto ini, anak-anak rebutan dan rusaklah tu foto polaroid. Bye!

Nggak lama setelah kita sampai Jakarta, foto-fotonya pun selesai di-edit daaaaan sekali lagi saya hepi banget sama hasilnya Frame A Trip. Berikut beberapa foto favorit saya.

Sending prayer

Bukan foto prewed

Bukan foto maternity

Lupa tahan perut *bodoamat

 

 

Selesai foto, Raka sempet jajan soft ice cream (dari sejak sesi foto, anak ini udah bawel minta ice cream) dan beli roti di sebuah bakery. Lalu kami cari makan siang.

Kalau sesuai itinerary, siang itu kami mau coba kaiseki lunch. Kaiseki ini bisa dibilang fine dining ala Jepang, dan menu lunch-nya jauh lebih murah daripada dinner. Tapi waktu ke lokasi, ternyata restonya kecil banget, antri panjang, dan kalau anak-anak nggak pesan menu, harus dipangku. Duh ribet ya.

Jadi kami batalkan nyobain kaiseki lunch. Nanti aja kalau ke Jepang lagi *eeaaaaa. Jadinya kami telusuri aja jalanan di Gion, cari-cari resto yang menarik dan nggak antri, masuklah kami ke sebuah resto udon dan soba yang rasanya enaaaaaak. Eh entah enak atau laper sih.

Ice cream break

Nissin soba. Ini cuma model dari menu yang saya pesan, tapi bentukan aslinya mirip banget sama ini, dan rasanya enaaaaak

Setelah makan, kami jalan ke arah Kiyomizu Dera. Jalannya jauuuuuuh, tapi karena di kiri kanan banyak bangunan dan toko yang menarik, jadi kami banyak berhenti, lihat-lihat, jajan, nyobain tester, sempet mampir juga ke %Arabica yang hits itu buat beli kopi…. jadi nggak terlalu berasa udah jalan jauh.

Bohong deh… sebenernya berasa banget karena sebagian besar rute tuh tanjakan semua. Bayangin aja sambil dorong stroller dengan total berat 40 kg, kan lumayan. *Puk-puk, Mas Ben. Eh puk puk diri sendiri juga deh, soalnya setengah jalan anak-anak menolak duduk di stroller, jadi saya kebagian gendong Kirana.

Sukaaa foto ini. Haha

Banyak banget orang-orang pakai kimono seperti yang di background itu. Jadi jangan salah sangka, itu bukan Geisha ya… Mereka turis-turis aja yang jalan-jalan sambil pakai kimono sewaan

Kiri kanan toko souvenir

Atap-atap rumahnya cakep ya

Aduh cape, udah jalan jauh nggak sampe-sampe. Duduk dulu ya

Perbedaan ‘cuma’ 4 bulan tapi di sini mereka terlihat masih bayi sekali

Eaaa colek-colekkan

Akhirnyaaa sampai di komplek Kiyomizu Dera. Raka excited banget. Di sini saya semakin sadar kalau Raka beneran tertarik sama hal-hal berbau culture dan sejarah. Sungguh unik anak ini. Baru lihat-lihat sebentar, bahkan kami belum masuk temple-nya, tahu-tahu hujan turun deras. Langsunglah kami buru-buru masuk ke temple, sekalian berteduh.

Akhirnya sampai!!!! *betis berotot!

Taman di dalam komplek Kiyomizu Dera

Eaaa abang sama eneng pegang-pegangan tangan aja sih ah

Ada menara merah di kejauhan, ngumpet di balik pohon-pohon

Spot foto favorit di Kiyomizu Dera. Foto sambil ujan-ujanan, Raka konsisten… selalu camera-ready. Haha

Dengan background kota Kyoto dan Kyoto Tower

Di dalam temple, Benny ngambil ramalan, namanya Omikuji. Jadi ada counternya. Kita kasih koin persembahan di situ lalu petugasnya kasih kita semacam tabung kayu yang ada lubang di bawahnya. Tabungnya dikocok-kocok sampai keluar bambu kecil bernomor. Nanti kita dikasih kertas ramalah sesai nomor di bambu kecil tersebut. Kalau hasilnya jelek, kertasnya diikat di semacam pagar di kuil (disediakan tempat khusus). Kalau hasilnys bagus, silahkan disimpan dan bawa pulang.

Karena isi ramalannya (tentu saja) dalam bahasa Jepang, kami cari-cari turis lain di situ buat minta tolong ngebacain. Kenapa nggak tanya petugasnya? karena petugasnya jutek banget. Haha. Dan ternyata minta tolong turis lain pun bukan perkara mudah karena tulisannya konon bukan dalam bahasa Jepang sehari-hari. Akhirnya ketemu satu orang yang bacain, ngerti, tapi dia nggak terlalu bisa terjemahin ke bahasa Inggris, dia cuma bilang, intinya isinya bagus sekali! Yeay!

Omanya galak. Mungkin dia lelah menghadapi turis-turis clueless seperti kami

Ada yang bisa terjemahin?

Sementara itu, di luar masih aja hujan. Ditunggu-tunggu sepertinya nggak ada pertanda akan berhenti dalam waktu dekat. Akhirnya kita putuskan menerobos hujan. Raka dan Kirana ditaro di stroller lalu ditutupin rain cover. Yohan Vira pas-pasan hari itu lupa bawa rain cover, jadi Ben digendong pakai Ergo, stroller dilipat, lalu payungan.

Karena hujan ini, saya nggak terlalu menikmati Kiyomizu Dera. Saya nggak inget liat apa aja di sana, yang jelas pemandangannya memang bagus. Hiburan saya justru kedua bocah kecil saya yang sepanjang jalan nyanyi-nyanyi berdua dengan girang di dalam rain cover. Haha.

Sampai keluar kompleks Kiyomizu Dera, masih aja hujan. Cape, dingin, kami pun (seperti kebanyakan turis lain), masuk ke salah satu souvernir shop buat berteduh dan istirahat. Di sini kami beli soft ice cream lagi, lalu nyoba-nyobain tester gratis sampai hujan mereda.

Ke-gap lagi nyobain tester satu persatu

Tapiiii hujannya nggak reda-reda, kawan. Sepanjang kami di Jepang, cuma di hari ini kami ngalamin hujan dan nggak tanggung-tanggung, hujannya dari siang sampai malam. Tapi Tuhan sayang banget sama kami, tuh hujan baru nongol setelah sesi foto kami selesai. NIkmat mana lagi yang bisa kudustai?

Balik ke cerita… karena hujan tak kunjung reda, Yohan beli jas hujan dan kamipun memutuskan menerobos hujan.

Sempat terpikir mau mampir di Starbucks Kyoto yang terkenal karena berada di sebuah bangunan tradisional Jepang tapi urung karena di tengah hujan gini, pasti rame banget.

Akhirnya kami langsung ke tujuan akhir hari itu, sesuai itinerary: dinner okonomiyaki.

Btw, di perjalanan kami sempat ketemu geisha lagi jalan diiringi semacam pengawal gitu, entah lagi jalan ke mana. Konon ini termasuk beruntung loh, karena nggak setiap kali kita bisa ketemu geisha. Biasanya cuma bisa ketemu pas jam pulang kerja mereka.

Okonomiyaki adalah salah satu makanan khas Kyoto. Kami makan di Okonomiyaki Kiraku. Saya sih emang suka okonomiyaki dan menurut saya rasa okonomiyaki di Jakarta (Okirobox) lumayan mirip sama di Jepang. Tapi selain saya, sepertinya yang lain kurang suka. Kalo buat saya sih enak, yang nggak enak cuma harganya. Makanan di Kyoto relatif lebih mahal daripada di Tokyo.

Keluar dari Okonomiyaki Kiraku, hujan masih deras. Seperti biasa, kami mampir di Family Mart buat beli breakfast besok. Eh di sini ada kursi-kursi buat makan di tempat. Jadi kami duduk agak lama di sana sambil ngemil-ngemil.

Saya sempat ke toiletnya, dan menemukan benda ‘ajaib’ : changing board. Jadi tu platform mirip seperti baby taffel yang suka ada di toilet umum, dalam keadaan terlipat nempel ke dinding, tapi posisinya di bawah menempel ke lantai. Kalau mau digunakan, dibuka, kita bisa berdiri di atasnya. Jadi kalau mau ganti celana, celana dan kaki kita nggak kena langsung ke lantai toilet. Ya ampun Jepang, segala macem dipikirkan inovasinya.

Udah basah kuyup, sekalian saya ‘suruh’ main di genangan air.

Ngemil di Family Mart, belum kenyang makan okonomiyaki

Changing board

Akhirnya Ben disarungin bareng strollernya. Mau aja lagi ni anak

Dari Family Mart, kami balik ke AirBnb. Beres-beres dan istirahat.

Kalau mau disimpulkan, Kyoto tuh cantiiik banget. Asal jeprat jepret aja jadinya cakep. Foto di gang-gang-nya aja Instagramable. Makanya foto di postingan ini buanyak banget. Tapi karena kami cuma sebentar banget di Kyoto, plus hujan seharian pula, Kyoto kurang berkesan di hati saya.

Waktu saya pilih-pilih foto buat postingan ini, saya jadi terkenan cakepnya Kyoto. Yah sekali lagi, mari beriman suatu saat bisa balik lagi buat mengeksplor Kyoto.

Besok pagi kami berangkat ke Osaka. Bersambung ya…

 

 

16 thoughts on “Japan Trip 2018 – Jadi Model Sehari di Kyoto

  1. bisa elu frame dong Din fotonya trus pajang di rumah #eaaaa…gw suka yang foto keluarga sisi kiri kanannya rumah gaya jepang, jadi sekali liat foto itu orang udah tau kalau itu di Jepang hehehe……gw tadinya sempet kepikir mau pake jasa gitu2an tapi gak jadi deh, kaga ada budget wahahahahaa….syukurnya ketemu turis baik hati yg nawarin foto keluarga dengan hasil bagus (lumayan deh)
    kalau ke Jepang lagi lamaan Din di Kyotonya tar lu sewa kimono dari pagi trus jalan2 seharian pake kimono biar gak rugi udah sewa mahal2 😀

  2. Pingback: Japan Trip 2018 – Belanja di Osaka | Cerita Bendi

  3. Pingback: Japan Trip 2018 – Universal Studio! | Cerita Bendi

  4. Pingback: Japan Trip 2018 – Playground di Osaka Castle dan Drama Boarding di Airport | Cerita Bendi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.