Japan Trip 2018 – Playground di Osaka Castle dan Drama Boarding di Airport

Cerita Japan Trip 2018 sebelumnya bisa dilihat di:

Japan Trip 2018 – Backpacking, ANA, dan Stroller Tinyworld
Japan Trip 2018 – Tokyo, Gyukatsu, dan Sakura Terakhir
Japan Trip 2018 – Drama Disneysea yang (untungya) Happy Ending
Japan Trip 2018 – Kawaguchi, Sakura, Salju, dan Sushi Enak
Japan Trip 2018 – Keliling Tokyo yang Ramai
Japan Trip 2018 – Falling In Love with Takayama
Japan Trip 2018 – Ryokan Asunaro, Aku Padamu
Japan Trip 2018 – Tentang Hida Beef dan Berdiri di Shinkansen
Japan Trip 2018 – Jadi Model Sehari di Kyoto
Japan Trip 2018 – Belanja di Osaka
Japan Trip 2018 – Universal Studio!

………………………………………………

Hari terakhir di Jepang… *huhu.

Flight pulang kami terjadwal malam hari, tepatnya jam 9 malam. Jadi kami masih punya waktu hingga sore hari sebelum harus ke airport. Tapi, karena sudah harus check out dari AirBnb jam 11 siang, sejak pagi kami sudah bawa seluruh barang sekalian ke luar.

Kami menitipkan barang-barang kami di tempat penitipan koper di sebuah gedung perkantoran dekat Namba Station. Sebenarnya di stasiun-stasiun juga tersedia locker-locker yang bisa disewa, tapi mengingat backpack kami besar-besar, lebih baik ke tempat penitipan koper aja.

Kami waktu itu nitip barang di Namba Hands-Free Center. Bisa liat informasi jelasnya di sini. Biayanya JPY 500 untuk koper besar dan JPY 200 untuk tas/koper kecil.

b1

properti foto di tempat penitipan koper

b2

seneng banget Raka bisa mainan ‘samurai’

Setelah nitipin barang, kami balik ke stasiun buat ke Osaka Castle.

Jadi sebenernya kami rada bingung hari terakhir ini mau ke mana karena nggak ketemu destinasi yang cukup menarik buat kami di Osaka. Akhirnya memutuskan ke Osaka Castle aja karena lihat fotonya bagus-bagus, dan dari hasil googling, di sana ada outdoor playground.

Keluar dari stasiun, kami semua udah lapar. Setelah milih-milih random resto yang dilewati, kami masuk ke sebuah resto udon. Nggak tahu namanya apa karena nggak ada huruf latinnya. Konsepnya mirip-mirip Marugame Udon tapi ini rasanya enak banget! Nggak heran restonya ramai.

b4

Ini restonya. Namanya apa tuh? entahlah

b3

Waktu kami datang, bisa langsung masuk gitu aja, belum terlalu ramai. Pas kami keluar, udah ngantri kaya gini. Selama kami di Jepang, sering loh kejadian kaya gini. Bawa hoki mungkin?

Setelah makan, kami lanjut jalan ke Osaka Castle. Cuaca hari itu panas banget deh. Jadi baru sampe di gerbangnya aja, ketemu mini market, langsung mampir buat jajan es krim. Makan melulu ya…. kan jalannya banyak *pembenaran.

Lalu kami lanjut jalan ke arah castle yang ternyata lumayan jauuuuuh dari gerbang. Sepanjang perjalanan ketemu anak-anak TK yang lagi karyawisata. Lucu-lucu deh. Seragamnya bener-bener mirip yang di komik-komik, lengkap dengan topinya.

Castle masih terlihat di kejauhan, kami ketemu dengan photo booth, bisa pinjam kostum prajurit Jepang. Raka langsung tertarik. Sebenernya buat numpang foto aja gratis loh. Fotografer mereka tetap fotoin tapi nggak wajib diambil. Tapi…. suamiku kan manusia baik hati yang nggak enakan ya, jadinya dia beli juga tuh foto. Lupa harganya berapa, tapi lumayan mahal deh. Hehe. Nggak apa-apa deh, buat kenang-kenangan.

b6b7b8b9b10b11

Selesai foto, kami melihat ke arah castle, kok masih jauh ya. Mana udara panas banget dan waktu kami sempit…. akhirnya kami memutuskan nggak masuk ke dalam castle, dan langsung belok arah, cari playground.

Dan ternyata jalan ke playground-nya jauh bener dan walaupun udara cukup adem, matahari hari itu lagi terik-teriknya. Untungnya sepanjang jalan yang jauh itu, pemandangan di dalam area Osaka Castle ini lumayan cakep dipenuhi pohon-pohon hijau. Kalau lagi musim sakura, pohonnya pink semua loh. Cantik banget ya pasti. Oh iya, kita juga nemuin banyak bunga dandeliion. Hepi banget rasanya tiup-tiup dandellion, mengingatkan pada komik Doraemon yang saya baca waktu kecil. Sungguh bahagia itu sederhana.

Akhirnya sampai juga di playground. Playground-nya cukup luas tapi ternyata lebih cocok buat seumuran Raka. Buat Ben dan Kirana mah rada bahaya karena banyak area yang tinggi, celah-celah di mana mereka bisa nyelip, dan panjat-panjatan.

Tapi namanya anak-anak mah ketemu area luas seneng-seneng aja ya, bisa lari-larian.

b12b13b14b15b16b17b18

Yang unik, di sini ada perosotan yang terbuat dari pipa-pipa besi yang dijejerin secara horisontal dan masing-masing bisa muter. Jadi nggak ada namanya seret meluncur di sono, pasti langsung syuuuuung meluncur cepet ke bawah. Hehe.

Setelah pada lelah, kami main-main dan kasih makan burung yang emang banyak banget di situ. Ini aja juga udah bikin anak-anak hepi. Anak-anak yang tadinya nggak berani sampai akhirnya berani kasih makan dari tangan sendiri. Tapi Kirana tetep aja panik kalo burungnya deket-deket.

b19b20

 

Lalu tibalah waktunya kami harus jalan ambil backpack dan ke airport. Untungnya di dekat playground ini ada stasiun juga, jadi kami nggak perlu jalan balik ke pintu utama yang ajubile jauhnya.

Kami naik kereta ke Namba Station. Walaupun masih sore dan belum terlalu lapar, kami memutuskan buat makan dulu di sekitar situ. Kami makan katsu, kalau nggak salah di Katsuya (dan rasanya enak! murmer pula). Setelah makan, saya nemenin Raka berburu mainan di mesin Gashapon. Jadi tadi pagi Raka sempet naksir mainan di salah satu mesin Gashapon tapi mainannya udah abis, jadi saya udah janjiin sebelum pulang, kita bakan hunting Gashapon.

Setelah Raka berhasil dapat mainan, kami ambil backpack, lalu naik kereta lagi ke Kansai Airport. Kami naik Kansai Airport Rapid Service yang semuanya reserved seat (ada nomor kursi di tiap tiketnya). Lumayan bisa duduk nyaman karena perjalannya lumayan jauh. Walaupun sedikit lebih mahal, saya merasa pilihan ini tepat, apalagi di saat kami bawa banyak barang, bawa bocah, dan sudah lelah.

b22

Keretanya cakep banget

b21

Muka kucel tapi hepi (1)

b23

Muka kucel tapi hepi (2)

Sampai di airport, kami wrapping backpack (di mana petugasnya kerjanya lama bener deh…. kalah jauh sama petugas wrapping di Soetta), lalu buru-buru ke counter check in.

Di sinilah drama dimulai.

Awalnya kami masih ceria-ceria aja, masuk counter check in dengan hepi-hepi. Tapi lalu kok… kami diminta nunggu. Nunggunya nggak tanggung-tanggung… sampai kami disuruh duduk aja dulu, nanti mereka panggil kalau udah selesai proses check-in-nya.

Inipun kami masih tenang-tenang aja, nggak ada prasangka apa-apa. Walau sempet agak kesel karena staff di bagian check-in-nya nggak terlalu bisa bahasa Inggris, sampai dia perlu bolak-balik panggil rekannya buat ngomong sama kita.

b24

Masih tenang-tenang dan hepi-hepi

Tapi lalu jam terus berjalan… kami nggak dipanggil-panggil. Bubar sudah rencana mau beli oleh-oleh tambahan di airport. Tahu-tahu udah jam 8 malam (flight kami jam 9 malam). Setelah kami desak akhirnya mereka kasih tahu masalahnya.

Menurut mereka, pesawatnya penuh, dan karena kami bawa anak kecil, mereka lagi mau mengusahakan supaya kami bisa duduk bareng perkeluarga. Tapi susah karena pewatnya penuh itu, kursi yang tersisa tinggal sendiri-sendiri.

Masalah kedua, ada problem pas check-in, namanya Kirana malah nempel ke tiketnya Yohan, jadi mereka harus urus biar Kirana bisa ganti nempelnya ke tiket saya.

Kami diminta nunggu lagi. Lalu sekitar jam 8.15 malam, akhirnya boarding pass-nya terbit, kecuali punya saya dan Raka. Lah??? Duh aneh banget deh. Seumur-umur saya naik pesawat, baru kali ini ngalamin kaya gini. Akhirnya saya suruh semua masuk duluan. Saya pikir andaikata sampai ketinggalan pesawat, minimal cuma saya berdua Raka.

Untungnya Raka mood-nya baik selama nunggu ini, jadi saya nggak makin senewen (padahal dalam hati saya udah senewen setengah mati).

8.30 malam saya samperin lagi counter check in setengah ngomel. Gila apa ini 30 menit sebelum departure, saya bahkan belum ngelewatin gate. Belom nanti proses cek-cek tas kan. Duh stress banget rasanya. Saya memastikan ke dia kalau crew di pesawat tahu soal permasalahan saya dan nggak akan terbang sampai saya masuk. Dia bilang tunggu sampai 10 menit sebelum departure.

b25

Sempet main dulu di area boarding sambil menunggu ‘nasib’ saya dan Raka

Dan beneran dong 8.50 malam baru keluar boarding pass kami. Saya langsung lari sambil narik Raka. Melewati gate pemeriksaan, udah ada seorang staff yang nungguin kami dan secara halus nyuruh kami lari secepet-cepetnya. Masalahnya saya udah lari-lari dari tadi, bawa tas, narik anak, saya cape, mbak!!!! huhu.

Sampailah kami di pesawat. Dan ternyata kami semua duduk tersebar terpisah-pisah (kecuali saya dan Raka dapet sebelahan)… dan semuanya duduk di BUSINESS CLASS.

Lah akhirnya kami semua malah di-upgrade ke business class, itu pun tetap nggak bisa bareng. Sampai sekarang saya masih bingung apa iya ANA bisa overbooked? Duh sebel deh kalo inget-inget ini.

Tapi selalu ada yang bisa disyukuri, karena kami bisa menikmati business class walau hanya 1 jam-an (dari Osaka transit dulu di Tokyo). Tapi walaupun business class, nggak disediakan entertainment loh untuk short haul. Jadi TV nya nggak nyala. Buat denger musik aja, saya harus minta dulu pinjem earphone karena nggak disediakan di kursi. Kalah ya sama Garuda, ke Bali aja pilihan film-nya banyak *aku cinta Garuda!

b26

Kenang-kenangan menikmati kelas bisnis. Minuman buat anak-anak dikasih lid dan sedotan. Sungguh tidak ramah lingkungan, tapi sangat convenient jadi nggak takut tumpah. Btw sepanjang jalan, itu lampu di tengah dimainin sama Kirana , seolah-olah dispenser sabun, terus dia pura-pura mandi. LOL.

Setelah drama boarding tadi, untungnya nggak ada kejadian-kejadian aneh lagi. Dari Tokyo ke Jakarta, kami duduk di kelas ekonomi sesuai tiket dan bisa duduk bareng. Semua berjalan lancar, sampai kami di Soekarno Hatta, sambil berusaha menata hati buat kembali ke tanggung jawab dunia nyata.

Till we meet again, Japan! We’ll be back!

 

 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Japan Trip 2018 – Playground di Osaka Castle dan Drama Boarding di Airport

  1. ternyata jepang tidak sebagus itu ya management nya, buktinya pesawat aja bisa overbook. sayang ya yang business class bukan flight ke jkt nya. kalo iya lumayan buanget tuh!

    • Iya gw juga ga paham deh itu kenapa bisa overbook atau entah kenapa. Gw juga langsung mikir kok gw malah ngalamin kaya gini di Jepang, yang katanya semua2nya rapih banget. Btw iya gw juga ngarep pas ke Jakarta dapet bisnis pula. Apa daya hanya harapan kosong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.