Bendirana ke Yogya – Ullen Sentalu dan Raminten Cabaret

Cerita sebelumnya bisa dibaca di:
Bendirana ke Yogya – Phoenix Hotel dan Borobudur

(Masih) Jumat, 21 Desember 2018

Ullen Sentalu

Nggak lama setelah masuk mobil, kedua bocah pules. Kami langsung menuju Ullen Sentalu dan berniat makan siang di sana. Udah googling dan dapet info kalau di sana ada restaurant.

Sampai di lokasi, kami baru tahu kalau restonya western fine dining. Kok rasanya nggak pengen ya makan western di Yogya. Akhirnya kami memilih ngebaso aja di depan Ullen Sentalu. Sekedar ganjel (Sambil berdoa perut anak-anak saya kuat makan pinggir jalan gini. Haha)

b1

Pertama kalinya mereka makan baso pinggir jalan. Di Jakarta aja nggak pernah. Lahap banget. Pas mau nambah, basonya abis. Kasian.

Saya milih ke Ullen Sentalu karena ada beberapa orang yang rekomen banget. Jadi saya nurut aja tanpa tahu sebenernya isi museumnya tentang apa.

Kami beli 2 tiket dewasa (Rp 40.000) dan 1 tiket anak (Rp 20.000). Kirana masih gratis. Tiket ini sudah termasuk tour guide yang sifatnya wajib. Jadi kita nggak bisa main masuk sendiri ke dalam tanpa tour guide. Dan saya suka sistem ini. Oh iya, di dalam sama sekali nggak boleh foto-foto ya. Makanya kalau googling, informasi tentang museum ini termasuk sedikit. Tapi beneran bagus banget…. jadi harus dateng ya biar nggak penasaran.

Kami diminta menunggu sejenak sampai terkumpul beberapa group, baru masuk barengan sambil dijelasin oleh seorang guide.

Ullen Sentalu adalah sebuah museum swasta. Lorong-lorong dan ruang-ruang di dalamnya berkelok-kelok seperti maze karena mereka tidak mau menebang pohon yang sudah ada.

Isi museumnya ternyata bertema kehidupan raja-raja di Jawa Tengah (dan keluarganya-terutama putri-putrinya) dari masih 1 kerajaan hingga terpecah menjadi 4 sekarang ini (2 di Yogya dan 2 si Surakarta).

Jadi para pengunjung diperkenalkan dengan gaya hidup, budaya, dan konflik di istana. Saya akui pengemasannya apik sekali. Sama sekali nggak membosankan.

Yang paling berkesan buat saya adalah sebuah ruangan kecil berisi banyak surat-surat. Tiap surat berisi puisi pendek dan dilengkapi dengan pasfoto pengirimnya. Tiap surat ditulis tangan (tentu saja) dan tulisannya masih calligraphy style jadul. Baguuuus banget.

Dan tahu nggak… surat-surat itu ternyata adalah surat-surat berisi hiburan buat Putri Tineke waktu patah hati karena jatuh cinta pada pria yang tidak direstui ibunya. Keren banget jaman dulu semua orang musti puitis ya. Menghibur aja pakai puisi.

Pas ngeliat surat-surat itu, di otak saya langsung kebayang WA grup masa kini waktu kita lagi menghibur teman yang patah hati.

Mungkin nanti 50 tahun lagi ada museum berisi screenshot WA grup temen-temen Kaesang di masa kini? Haha.

Kesimpulannya… Ullen Sentalu recommended banget kalau kamu tertarik dengan budaya Jawa atau cerita princess-princess-an. Museumnya apik dan terawat. Sayangnya, kayanya nggak terlalu menarik buat anak-anak. Raka yang biasanya tertarik sama museum dan hal-hal berbau budaya, nggak betah di sini. Mungkin karena pace-nya cepat, kita harus ngikutin guide-nya (ini minusnya pake guide), dan dia nggak ngerti apa yang diomongin. Nggak ada cukup waktu buat kita jelasin satu persatu dengan bahasa sederhana ke Raka.

Tapi mungkin kalau anak-anak yang lebih besar (usia SD mungkin) bisa banget menikmati museum ini.

Keluar dari Ullen Sentalu, sudah turun hujan. Rencana awal kami adalah ke Abhayagiri. Tapi karena hujan, pemandangannya pasti nggak bagus. Kayanya sayang ke sana hari itu. Akhirnya kami memutuskan langsung cuss balik ke Yogya buat ngejar Raminten Cabaret.

b2

b3

Satu-satunya spot foto di Ullen Sentalu

Raminten Cabaret Show

Saya tahu tentang show ini dari Py. Di dunia maya, review cabaret ini pun bagus banget. Saya jadi penasaran, apalagi mengingat Raka suka banget nonton pertunjukan model teater atau musikal.

Jujur saya sempat maju mundur karena cabaret ini kan banyak diperankan oleh para lady-boy. Bukannya saya anti ya, tapi saya belum siap menjelaskan tentang gender kalau sampai Raka tanya terlalu dalam. Sampai akhirnya beberapa hari sebelum berangkat , kami mencoba booking ticket via WA, tapi udah full-booked. Masih bisa beli tiket on-the-spot tapi tergantung ketersediaan.

Driver kami kurang tahu soal cabaret ini, jadi kami sempet nyasar, dibawa ke resto Raminten, padahal show-nya di lantai paling atas Hamzah Batik Malioboro. Kami sampai di lokasi jam 6 sore (kabaret mulai jam 7 malam). Langsung beli tiket seharga @Rp 50.000 (dapat free kentang goreng) lalu dipersilahkan duduk di meja mana saja yang masih kosong.

Bentuk teaternya mirip resto 2 lantai (lantai bawah dan mezanine). Ada meja-meja kecil tapi panjang dan pengunjung duduk lesehan di menghadap meja-meja ini. Panggungnya tinggi sejajar mezanine, jadi lokasi terbaik sebenarnya di lantai atas. Sayangnya waktu itu sudah penuh, kami dapat meja di lantai bawah. Kalau mau secure tempat duduk di atas, monggo booking lewat WA beberapa minggu sebelumnya, karena tiketnya cepet abis.

b4

Mejanya kaya gini, duduknya lesehan

b5

Jarak dari panggung ke meja kami

b6

Ada tari tradisionalnya juga

Karena memang jam makan malam, kami pun memesan makanan. Jujur aja pilihan makanannya nggak terlalu menarik buat saya. Rasanya pun standar saja. Cukup lah buat mengisi perut.

Jam 7 tepat, cabaretnya dimulai. Penampilan, special effect, dan kostum-kostumnya sebenarnya keren. Tapi…berbeda sama review orang-orang yang bagus banget, saya nggak terlalu menikmati. Bagus sih, tapi rasanya agak membosankan, apalagi ruangan terasa agak gerah, dan show-nya cukup panjang. Raka juga nggak betah dan minta pulang. Sampai jam 8 malam show-nya belum juga selesai, akhirnya kami pulang duluan. Kalau kata waiter sih harusnya selesai jam 8.30 malam.

Btw, ini pendapat saya subjektif ya. Tetep menarik dan unik kok, cukup layak dicoba. Mungkin… saya kurang menikmati karena harus sambil ngangon 2 bocah sementara tempatnya kurang nyaman buat anak-anak.

O iya, menurut saya memang show-nya kurang pas buat anak-anak. Untungnya Raka masih terlalu kecil jadi nggak terlalu banyak ‘ngeh’ sama hal-hal yang ágak-agak’. Hehe.

Kami langsung balik ke hotel dan segera tidur, karena besok harus bangung pagi buat Merapi Lava Tour.

b7

Good night! Dari bocah-bocah yang nggak pernah betah pake selimut dan emak-emak yang nggak bisa tidur tanpa selimut.

 

5 thoughts on “Bendirana ke Yogya – Ullen Sentalu dan Raminten Cabaret

  1. Gw dulu mau ke Ullen Sentalu tuh tapi nggak keuber dan bener cari reviewnya susah karena nggak boleh moto2 di dalem hahahaaa, kayanya menarik tuh dari cerita lu pasti Clarissa demen

  2. Pingback: Bendirana ke Yogya – Merapi Lava Tour, Jejamuran, Iconic Gelato | Cerita Bendi

  3. Pingback: Bendirana ke Yogya – Abhayagiri dan Alun-Alun Kidul | Cerita Bendi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.