Unforgettable Pesona Alam

Horeeeee akhirnya kembali nge-blog. Semoga ini awal dari postingan-postingan lain yang tertunda ya.

Selama ini udah sering banget bikin draft tapi nggak pernah sampai selesai. Kendalanya karena saya terlalu perfeksionis, maunya lengkap dengan foto-fotonya sementara waktunya bentrok terus. Sekarang saya sudah memutuskan, ga usah perfeksionis. Lebih baik ada postingan tanpa foto sekalipun daripada nggak ada sama sekali. Soalnya ini buat kenang-kenangan saya pribadi.

Jadi, doakan saya semoga setelah ini lebih sering menulis lagi.

Pesona Alam… Sejak disebut-sebut jeung Aina beberapa tahun lalu, saya udah naksir sama hotel ini. Walaupun naksir, tetap tidak menjadi prioritas karena lokasinya. Maklum saya agak trauma dengan jalanan menuju Puncak. Singkat cerita, akhirnya kami memantapkan diri liburan kali ini ke Pesona Alam.

Taman Safari Indonesia (TSI)

Kami menginap Sabtu sampai Senin (29 Juni – 1 Juli 2019). Sabtu pagi kami berangkat pukul 5.30. Jalanan macet tapi masih bearable. Pagi itu kami mau mampir ke Taman Safari dulu.

Tamu Pesona Alam dapet voucher discount 10% untuk tiket masuk TSI. Jadi sebelum ke TSI, kami ke hotel dulu buat ambil voucher. Kebetulan lokasi Pesona Alam memang sekitar 500 meter sebelum gerbang TSI.

Tiket masuk TSI Rp 230.000 (dewasa) dan Rp 210.000 (anak), plus mobil Rp 20.000 (tidak discount). Total kerusakan Rp 812.000. Sekarang semua tiketnya sudah termasuk Istana Panda ya. Padahal kami sih nggak mau ke Istana Panda karena tahun lalu sudah pernah.

Setelah melewati area binatang, Raka naik gajah, lalu kami makan siang di Rainforest Restaurant (yang dekat Plaza Gajah). Rasa makanan nggak ada yang enak dan cumi bakarnya kerasa banget nggak fresh sampai kami nggak bisa makan. Saran saya lebih baik bawa makanan dari luar. Toh memang diijinkan, tidak ada pemeriksaan.

Selesai makan, kami mau pindahin mobil ke parkiran atas karena mau nonton show lumba-lumba dan harimau. Tapiiiiii parkirannya penuh banget sodara-sodara, sampai kami dapetnya di area parkir curug. Udah paling atas banget dah tuh.

Jalan kaki dari parkiran ke tempat show lumba-lumba sih aman ya, karena jalannya menurun jadi nggak terlalu berasa. Show lumba-lumbanya yah seperti biasa, tapi ruameeee banget di dalam sampai dudukpun tak nyaman. Setelah itu kami langsung ngacir ke tempat show harimau, tapi sudah full sampai yang berdiri pun sudah berdesakan. Anak-anak sudah cranky. Akhirnya, kami memilih jajan ice cream lalu pulang saja.

Waktu mau pulang, antrian yang mau ke Istana Panda tuh udah hampir sampai parkiran curug. Buat yang inget layout di TSI, itu puanjang banget antriannya. Ya ampun.

Pokoknya pengalaman kali ini ke TSI kali ini cukup traumatik. Haha. Ramenya sungguh di luar batas kewajaran. Kayanya saya nggak akan balik lagi dalam waktu dekat.

Nonton bird show sambil nunggu Mas Ben ambil mobil. Ruame pol

Pesona Alam

Jujur saja, kesan pertama kurang impressive walaupun lobby-nya sebenernya sungguh sangat membuat jatuh cinta. Pemandangan cakep, udara dingin… Love!

Lobby area

Lobby area

Posenya kirana….

Proses check in lancar jaya, kami book 2 kamar superior dan 2 kamar deluxe, akhirnya di-upgrade ke deluxe semua supaya bisa selantai. Soal ini keren service nya. Tapi… nggak dijelaskan mengenai fasilitas hotel, tidak ada welcome drink, tidak dijelaskan mengenai jam dan lokasi breakfast. Pokoke kasih kunci kamar trus udah aja gitu.

Masuk kamar juga nggak terlalu impressed. Saya merasa lantai seperti bekas dipel tapi kurang bersih. Tapi selain itu, kamarnya cukup nice. Ada balkonnya yang walaupun menghadap ke parkiran dan taman kecil, tapi lumayan bisa menghirup udara segar puncak. Kamar mandi OK. Everything just OK.

Balkon di sebelah kamar. Gemes sama area ini

Lalu kami langsung renang. Sekali lagi nggak terlalu impressed karena kolam renangnya kok mungil amat. Di kolam anak airnya hangat tapi di kolam dalam air dingin. Udah kolamnya kecil, airnya dingin… akhirnya saya batal renang. Duduk-duduk aja di pinggir kolam nemenin anak-anak main air. Point plus ada staff yang waspada banget mengawasi kalo ada anak-anak yang mau ke kolam dalem. Raka pun sempat dilarang. Setelah saya bilang nggak apa-apa, anaknya udah bisa renang, baru diijinkan. Keren! Saya minta handuk 4 pcs pun langsung dikasih. Nggak kaya hotel yang ono tuh (masih dendam LOL).

Kolam renang anak. Di balik pagar ada kolam renang dalam. Mini size semua.

Malam itu, kami dinner buffet di hotel Rp 198.000 nett per pax. Temanya bbq. Menunya cukup banyak. Nggak cuma bbq saja tapi sampai menu timur tengah juga ada. Dessertnya pun sangat variatif. Rasa makanan OK, bukan yang enak banget tapi no complain.

Jadi hari pertama itu saya tutup dengan impresi… yah OK juga ni hotel, tapi kenapa ya, kok tetep nggak ngangenin kayak Padma Bandung….

Naaah impresi saya ini berubah di hari kedua.

Hari kedua, kami breakfast di kids room. Jadi di restaurant ada satu ruangan buat yang bawa anak-anak. Di situ ada playground mini. Lumayan nih membuat anak-anak anteng waktu mereka udah kelar makan sementara kita belum. Setelah breakfast, anak-anak main mini golf, mini soccer, dan mini badminton. Sempet main sebentar di outdoor playgroundnya.

Lalu kami ke game room di lantai 5. Di sini ada billiard (khusus 13 tahun ke atas), table soccer, Uno Stacko, catur, scrabble, pingpong, playstation, dan karaoke room (semua gratis kecuali karake ada minimum spend on food kalo ga salah). Nah kami tahu ruangan ini juga gara-gara iparnya Benny udah cari review tentang Pesona Alam. Front office nggak kasih info, nggak ada info di kamar… Cuma ada info di lift yang nggak terlalu eye-catching pula. Makanya area ini sepi serasa milik pribadi.

Keliatan ya siapa yang paling girang

Siangnya, kami makan siang di Lake House. Lake House adalah restaurant di luar hotel tapi masih di dalam area Pesona Alam. Ke sananya naik buggy car gratis, fasilitas dari hotel. Naaaah di sinilah saya baru ter-Pesona oleh Alam. *eaaaaaa. Jadi bangunan hotel tuh dikelilingi hutan pinus dan restonya ada di tengah hutan pinus. Duuuh cakeeeep ijo-ijo… udara segar… maklum ya anak Jakarta, ketemu ijo-ijo aja seneng.

Restonya cantik, makanannya pun enak dan harganya reasonable. Setelah makan siang, kami balik hotel untuk tidur siang.

Di depan Lake House

Sorenya, kami balik lagi naik buggy, tujuannya buat main ATV. Jadi di area hutan pinus ini ada beberapa aktivitas berbayar. Ada ATV (Rp 100.000), naik kuda (Rp 90.000), paint ball (lupa berapa Rp 150.000 perorang kalo ga salah), dan Archery (Rp 150.000/10 anak panah). Dari semua aktivitas itu, kami merasa yang paling worth it dan anak-anak senang ya ATV.

Naik ATV-nya boleh 2 putaran dan anak-anak diijinkan naik bertiga bareng Mas Ben. Lumayan loh jalurnya bukan sekedar muter-muter di tanah lapang, tapi agak masuk ke dalam hutan dan naik turun (saya nggak bisa lihat tracknya karena kecil dan masuk di antara pepohonan, ini kesaksian Mas Ben aja) dan anak-anak seneng banget. Kedengeran dari jerit-jerit mereka. Minusnya, nggak dikasih pengaman apa-apa, jadi safety-nya kurang meyakinkan.

Keisengan yang tertangkap kamera. Siblings… ckck

Setelah main, kami ke cafe-nya. Namanya Clubhuis. Sebagai tamu hotel, kami dapet free black coffee, lalu kami juga pesan wedang uwuh, poffertjes, dan jagung bakar. Duduk-duduk ngemil, menikmati cakepnya alam ciptaan Tuhan. Duuuuh… heaven!

Papi… papi….

Papi….?????

Akhirnya kode diterima juga

Menjelang malam, kami sempet balik lagi main di game room hotel. Lalu makan malam kembali ke Lake House karena tadi siang kami cuma makan berempat, malamnya mau bareng sama keluarganya Mas Ben.

Besoknya, hari terakhir, aktivitas kami ya mirip-mirip: breakfast, renang, game room. Tapi… agak kecewa karena hari itu kolamnya dingin semua, katanya sih pemanas airnya lagi diperbaiki. Huhu.

Singkatnya, review saya… Pesona Alam ternyata memang mempesona. Hotelnya punya sangaaaat banyak fasilitas anak. Anak-anak pasti puas deh. (Selain yang saya sebut tadi, masih ada petting zoo dan jalur sepeda juga tapi kami nggak sempat ke sana). Raka aja udah bilang, kalo ke Puncak lagi maunya nginep di situ lagi. Fasilitas OK, kebersihan OK, service so-so, makanan not bad. Tapiiii yang juara adalah hutan pinusnya. Ooooh I don’t mind spending the whole day sipping wedang uwuh and gazing into the trees. Or maybe having picnic and collecting pinecones. I’ll definitely be back for the pine forest!

The Ranch Cisarua

Setelah check out dari hotel, kami mampir ke The Ranch Cisarua. Wow… aku suka aku suka aku suka. Tempatnya cakeeep… jauh lebih cakep daripada yang di Bandung, mungkin karena baru ya. Makanannya juga enak. Di sini banyak aktivitas, tapi anak-anak cuma naik kuda aja karena Mas Ben udah capek dan mau pulang.

Saya amazed banget Kirana berani naik kuda sendirian. Padahal biasanya dia nggak mau. Ini langsung mantep, duduk, dan hepi-hepi aja naik kuda tanpa ditemenin.*mamakterharu.

The Unforgettable Part

Now the unforgettable part….

Staycation kali ini sangat unforgettable, bukan cuma karena menyenangkan dan karena indahnya hutan pinus, tapi karena saya sakit dan sakitnya teramata tak elegan. Diare. HAHAHA.

Jadi, hari Kamis saya udah nggak enak badan. Sedikit diare, mual, dan mulut saya terasa pahit. Akibatnya, saya tidak nafsu makan. Saya makan sedikit sekali tapi tetap beraktifitas seperti biasa. Jumat, saya sudah merasa jauh lebih baik walaupun saya mulai merasa ada gejala vertigo karena tiap lagi jalan saya merasa oleng ke kiri. Sorenya saya mulai packing. Di tengah-tengah packing, saya berdiri terlalu cepat (dari posisisi duduk di lantai) dan DHOENG datanglah si vertigo.

Saya udah lama nggak vertigo tapi ini terasa parah banget. Akhirnya saya cuma bisa baring di ranjang dan nggak sanggup ubah posisi sama sekali karena kalau saya ubah posisi kepala sedikit aja, dunia langsung rasanya muter dan mual luar biasa. Jadi saya minum antimo lalu tidur.

Besok paginya, saya masih vertigo. Walaupun nggak separah semalam, tapi masih muter-muter banget. Duh gimana mau pergi kalau begini. Packing belum selesai, gimana saya nanti di mobil? Lalu saya inget pernah baca metode terapi untuk mengatasi vertigo. Saya cari di Youtube, saya ikutin, dan…. gile itu magic loh… bener-bener vertigo saya langsung hilang!! Kepala masih kerasa ngambang sih tapi udah nggak muter-muter. Bersyukur banget dengan adanya internet. Setelah itu saya bisa packing dan berangkat.

Btw kalau ada yang mau tahu gerakan buat hilangin vertigo, bisa search Epley Maneuver. Katanya sih nggak semua jenis vertigo bisa pakai metode ini. Tapi buat case saya waktu itu, bener-bener efektif.

Vertigo pergi, datanglah diare.

Hari pertama kan ke TSI tuh. Semuanya berjalan baik-baik saja. Nah sorenya setelah kami masuk kamar hotel, mulailah saya merasa mules-mules, laluuuu dimulailah drama diare. Tiba-tiba saya diare parah banget dan perut sakit banget. Seriously, ini diare terparah sepanjang hidup saya. Dari sore itu sampai besok paginya (sekitar 12 jam) sepertinya ada 20x saya harus ke toilet. Sampai sekarang saya nggak tahu apa penyebabnya.

Diare dan perut sakit banget di sebuah hotel di Cisarua…. Tanya persediaan obat ke hotel, nggak ada. Mau ke dokter? itu hari Sabtu malam, jalanan Jakarta-Puncak baik arah naik maupun turun, warnanya merah tua semua di Google Maps. Duh nggak mungkin deh. Saya cuma bisa paksain aja minum air yang banyak biar nggak dehidrasi dan minum Norit yang memang saya bawa buat persediaan.

Sekali lagi, di tengah kericuhan itu, saya bersyukur kejadiannya pas udah sampe hotel. Bukan di jalan, bukan di TSI. Dan… saya bersyukur ada yang namanya ojol. Akhirnya Mas Ben pesenin obat di apotek terdekat lewat Gojek. Duh pokoknya Tuhan baik banget deh.

Malam itu luar biasa banget rasanya. Maag perih, mual, melilit, lengkap kap. Semalaman mungkin saya cuma tidur 2 jam karena bolak balik ke toilet.

Sampai hari terakhir, walaupun frekuensi berkurang, saya belum sembuh benar. Tapi sekali lagi Tuhan itu baik… selama setelah check out sampai kami mampir di The Ranch, sampai kami tiba di Jakarta, saya nggak sakit perut sama sekali.

Yah itulah yang membuat perjalanan ini unforgettable… tentang bagaimana saya juggling antara menahan sakit dan menikmati liburan. Daaaan di tengah-tengah itu semua, masih aja ada suami tercinta saya yang menuntut saya untuk siap sedia jadi model fotonya. Duh untung ku sudah kadung cinta…. Haha.

Sekian review Pesona Alam. Buat yang masih galau, gih cepetan booking!

Pose nahan sakit perut

Pose nahan sakit perut

Pose nahan sakit perut

Pose nahan sakit perut

5 thoughts on “Unforgettable Pesona Alam

    • GIH! Haha… cakep banget itu Lake House, Clubhuis, dan pine forest di sekitarnya. Dan iya.. ajuin cuti ya. Kalo weekend najong banget loh belakangan jalanan

  1. Pingback: 2019 – Tahun Quality Time | Cerita Bendi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.