Raka dan Kirana ke Kota Tua

Entah sejak kapan Raka tertarik sama wayang. Dan sejak dikasih tahu kalo ada yang namanya Museum Wayang, Raka minta diajak ke sana. Jadi bulan Maret lalu, kami pergi ke Kota Tua dengan tujuan utama ke Museum Wayang.

Hari itu, kami ke Museum Wayang, Museum Fatahillah, snacking di Cafe Batavia, lalu terakhir makan siang di Locarasa.

Museum Wayang

Ini bukan pertama kalinya saya ke Museum Wayang, tapi pertama kalinya buat Raka. Sejak dulu kayanya Museum Wayang nggak banyak berubah.

Sejujurnya sih saya merasa presentasinya sangat kurang menarik dan suram. Tapiiii koleksinya menarik. Ada banyak koleksi wayang dari berbagai material, yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari berbagai negara. Menarik buat saya dan ternyata sangat menarik buat Raka.

Hampir setiap display, Raka tanya “ini siapa? Ini ceritanya apa?”. Masalahnya kadang teks penjelasannya nggak terlalu informatif dan pengetahuan saya sendiri minim banget. Haha.

O iya, di sini kita juga bisa nonton pertunjukan wayang. Pertunjukannya dalam bahasa Jawa sehari-hari, jadi saya masih bisa ngerti sedikit-sedikit. Tapi tentu saja Raka nggak ngerti. Setelah nonton sebentar, dia minta keluar. Lumayan lah sudah memenuhi rasa penasarannya.

Kami keluar lalu beli 1 wayang kulit buat Raka. Kali ini dia pilih Duryudana, seorang tokoh antagonis, supaya bisa jadi lawan wayang Arjuna (yang kita udah punya di rumah).

 

Cafe Batavia

Setelah itu, kami ke Cafe Batavia, cuma karena Mas ben pengen foto-foto. Interiornya emang cakep tapi saya merasa service-nya kurang, harganya mahal, dan makanannya biasa aja. Kami pesen bitterballen dan pouch pear. Enak, tapi biasa aja.

Museum Fatahillah

Kami nggak terlalu lama di dalam sini karena udah cape, kepanasan, dan lumayan rame. Saya cuma inget ada beberapa prasasti, lalu kami sempet ke penjara bawah tanah, liat-liat sebentar ruangan-ruangan di dalam, ke toko souvenir, lalu jalan-jalan di luar sambil cari tempat makan.

Btw pas kami share foto-foto di depan penjara bawah tanah, ada beberapa yang komen nggak berani ke sana atau nggak berani foto di sana. Kami emang nggak ada yang peka sih…. tapi buat kalian yang peka, emangnya di sana serem ya? Di foto kami tapi bersih kan, nggak ada apa-apanya? ahaha kuatir.

 

Locarasa

Kami udah kepanasan, anak-anak mulai cranky karena ngantuk, kami jalan cari makan, ngelewatin beberapa resto tapi penuh semua sampai akhirnya sampe di depan Locarasa. Posisinya udah agak ke ujung, kami terlalu lelah buat balik lagi, jadi kami masuk aja.

Menunya berbagai mie dengan citarasa Indonesia. Menarik dan rasanya lumayan enak. Tapiii kami salah pesen waktu itu, hampir semua yang kami pesen pedas. Cuma ada 1 yang anak-anak bisa makan. Mau pesan lagi, restonya ramai dan lama masaknya. Jadi setelah itu  kami pulang.

Nah, kami parkir di area parkir depan Gedung Kerta Niaga. Waktu mau menuju mobil, kami melewati Magic 3d Art Museum. Raka walaupun udah ngantuk dan cape, ngotot banget minta ke sana. Akhirnya saya dan Mas Ben bilang, OK next time deh kalo ke Kota Tua lagi, kita ke sana.

Magic 3D Art Museum

Saya sebenernya kurang tertarik sama wisata-wisata selfie model gini, apalagi menurut saya harga tiketnya lumayan. Tapi Raka udah 2x minta ke tempat semacam ini. Pertama kali di Ancol, kedua kali di Kota Tua. Lalu pas ultah Jakarta Juni lalu, Traveloka discount gede-gedan berbagai tiket atraksi di Jakarta. Jadilah kami cuma spending Rp 92.000 untuk 3 tiket (Kirana masih gratis).

Kami pergi hari Minggu lalu (7 Juli) dan ternyata, museumnya sangat menghibur. Koleksinya banyak dan lukisan-lukisannya bagus-bagus, nggak abal-abal. Sebelum masuk, barang-barang, makanan, minuman, dan sepatu harus dititipin. Jadi kita masuknya telanjang kaki. Good thing jadi di dalam terjaga kebersihannya. Selain itu para staff-nya juga sangat helpful, siap membantu foto-foto juga.

Selain lukisan-lukisan optical illusion, di dalam juga ada ruangan seperti rumah kaca dan rumah miring di Dufan. Yang jelas di sini anak-anak seneng banget. Udah mana adem ber-AC pula.

Minusnya… kayanya toilet cuma ada di luar, gabung dengan toilet food court Kerta Niaga. Yang mana toiletnya kotor dan becek.

Malacca Toast

Keluar dari 3D Art Museum, waktunya makan siang, kami pilih ke Malacca Toast karena tempatnya terlihat cukup nyaman. Tapi begitu di dalam, beuh baru rokoknya…. Ternyata non-smoking area cuma di dalam ruang kaca yang ukurannya mungkin cuma 1/4 keseluruhan resto. Jadi kami kebagian meja di area smoking.

Sedih banget ya, di resto di salah satu tempat wisata utama di Jakarta, budaya merokoknya parah banget. Selain di resto ini, sepanjang area Kota Tua tuh rokoknya ampun-ampun deh ngebul di mana-mana. Sebel banget.

Btw review makanannya…. cuma sampe level edible tapi tidak enjoyable. Haha.

Parade Ondel-Ondel

Pas kita keluar dari Malacca Toast, di tengah lapangan Fatahillah kok rameeee banget. Ternyata lagi ada parade ondel-ondel. One of the many things yang ditakuti Kirana adalah Ondel-Ondel. Dan ini ada puluhan jejeran. Hahaha. Saya nengok ke belakang, kok Kirana digendong Benny menuju gerombolan ondel-ondel mukanya cool aja. Eh tapi begitu eye contact sama saya, mendadak dia mewek. Haha.

Tapi endingnya lumayan loh, dia berani pegang-pegang Ondel-Ondel yang nggak ada isinya.

BTW acara ini cukup menarik loh. Kita bisa lihat berbagai macam ondel-ondel, berbagai model, berbagai kostum.

Entah kenapa cuma ada foto ini aja di parade Ondel-Ondel

Museum Bank Indonesia

Abis liat ondel-ondel, kami bingung mau ke mana. Saya ngajak pulang aja tapi Raka nggak mau. Dia masih mau ke museum, malah minta ke Museum Wayang lagi. Yaudah sayapun ngalah. Tapi daripada ke Museum Wayang lagi, mending ke yang belum pernah. Jadi kami ke Museum Bank Indonesia.

Bagus loh museum ini, dan tiket masuknya cuma Rp 5.000. Isinya berbagai informasi tentang sejarah Indonesia, terutama yang berhubungan dengan ekonomi, serta sejarah Bank Indonesia itu sendiri. Mulai dari jaman perdagangan rempah-rempah, lalu mulai ada uang daerah, lalu uang RI, lalu sampai era digital saat ini (online shopping, cashless shopping) juga ada.  Ada beberapa bagian yang punya fitur-fitur interaktif, jadi sangat menyenangkan buat anak-anak.

Selain itu gedungnya juga cakep deh. Tipikal gedung-gedung Eropa.

Tapiiii ada dua hal yang saya sebeeeel banget. Yang pertama, kita sama sekali nggak boleh bawa tas ke dalem. Even handbag pun nggak boleh. Jadi kalau mau bawa dompet atau HP ya dipegang di tangah. Duh di saat kami harus gandeng/gendong anak, ini ngerepotin banget. Dan karena udah repot sama HP dan dompet, saya nggak bawa tissue. Mak emak pasti tahu kan pentingnya keberadaan tissue pas bawa anak???

Kedua… toiletnya cuma ada di luar di area lobby, sebelum pemeriksaan tiket, dan nggak bisa puter arah. Saya nggak ngerti deh kalo di tengah-tengah pengen ke toilet tuh harus gimana? Sementara area museumnya lumayan luas loh. Kita aja nggak perhatiin detail satu persatu menghabiskan waktu lumayan lama di dalam.

Untungnya Kirana pengen pipis pas udah menjelang mau keluar. Itupun saya harus buru-buru cari jalan keluar ke toilet. Trus sampe di toilet, ngantri. Pas dapet giliran, di dalem bilik nggak ada tissue. Dan karena saya belum ambil tas di tempat penitipan, saya nggak punya tissue. Hal simpel tapi ngeselin. Sampe sekarang saya nggak bisa confirm sih sebenernya, di dalem ada toilet atau nggak. Tapi waktu saya tanya ke petugas, memang diinfonya toilet ada di luar. Grrrr.

Tapi Museum Bank Indonesia tetap layak dikunjungi. Edukatif dan menyenangkan. Cuma tips dari saya, tuntaskan urusan di toilet sebelum masuk, dan pakailah pakaian dengan banyak kantong. haha.

Naik Bajaj

Keluar dari museum, kami menemukan kantin (masih di dalam area Bank Indonesia). Numpang ngadem, numpang ngemil. Minumannya enak-enak tapi makanannya… nggak usah dipesen deh. Hehe.

Selesai ngemil, udah sore, dan kami udah cape banget. Mobil kami diparkir jauuuh banget, sekitar 10-15 menit jalan kaki menurut Google Maps. Akhirnya kami ke mobil… naik bajaj! Haha anak-anak seneng banget diajak naik bajaj. Sampe di mobil, nggak lama, keduanya langsung tepar.

What a day full of new experience and adventure!

Dan kami perhatikan, walau di tengah kelelahan dan kepanasan, sepanjang hari itu Raka jaraaaang mengeluh. Jauh lebih jarang daripada diajak ke mall. Kami memang berusaha mengajarkan dia buat kenal dan suka ke museum tapi sejujurnya sih nggak menyangka dia beneran bakal tertarik. Tapi ternyata dilihat-lihat, Raka emang cukup enjoy ke museum.

So, more museum visits to come!

7 thoughts on “Raka dan Kirana ke Kota Tua

  1. Kalau penjara bawah tanah ga serem Ci, yg lebih serem penjara air ha..ha..ha..
    Btw iya ci museum BI dalamnya bagus, cuma banyak peraturan, bawa alat yg buat standing kamera aja ga boleh wlpn pegang ditangan 😅

  2. Wah gue kalah jauh deh sama Kirana n Raka. Ternyata banyak juga yang bisa dilihat. Tiap kali mau ke Kota Tua, dari dulu ada perasaan yang bikin ga kepingin. Lebih ke arah perasaan kurang aman sih kayaknya. Padahal ga boleh apatis ya. Dulu pernah ke Kota Tua cuma pas SMA, karena kebutuhan foto year book. Mestinya gue pergi pas jaman Pak Ahok masih gubernur ya, kayaknya lebih kondusif. Semoga suatu hari bisa coba ke sana dan semua makin terawat (plus bersih dan aman).

  3. Pingback: 2019 – Tahun Quality Time | Cerita Bendi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.