Dear Rakaku yang Baik Hati

Dear my firstborn,

Sebenarnya cita-cita Mami mau posting yang bagus-bagus tepat di hari ulangtahunmu.

Tapi kenyataan tak sesuai harapan. Beberapa minggu terakhir ini kamu teramat sangat menguji kesabaran Mami. Sampai akhirnya draft yang baru ditulis beberapa kalimat, nggak dilanjut-lanjutkan karena hilang mood, dan postingan ini pun tertunda-tunda. Saat itu Mami lebih banyak inget jelek-jeleknya kamu daripada baik-baiknya.

Saking frustasinya, Mami sampai di titik ragu… apakah kamu masih sayang Mami? Apakah Mami terlalu galak? Terlalu keras? Kurang menyediakan quality-time buat kamu? Sampai-sampai kok rasanya ada atau nggak ada Mami juga kamu nggak seberapa peduli. ((eaaaa baper))

Sampai hari ini, Tuhan mengijinkan sebuah kejadian yang menjawab kegalauan Mami.

Tadi siang, kita akan merayakan ulang tahun Raka dengan makan siang bareng-bareng keluarga di restoran. Sehari sebelumnya, diam-diam saya bikin chocolate smash cake buat Raka. Kami ‘bohongin’ Raka, bilang kalo kami nggak beli kue karena kan Raka udah gede, jadi tiup lilin pake donat aja ya. Dan Raka tuh sediiih banget “Temen-temen Raka masih pake kue karakter-karakter kok…” Hehe kasian, tapi malam itu dia nggak bahas-bahas lagi lalu tidur aja biasa.

Chocolate smash cake Raka pas baru jadi

Di hari-H, sebelum berangkat ke restoran, Mas Ben diam-diam masukkin kuenya ke bagasi mobil. Sudah ditaro sedemikian biar aman. Rencananya, di lokasi nanti saya dan anak-anak turun duluan, masuk ke lokasi acara, lalu Mas Ben masuk bawa kuenya.

Tapi kenyataan tak sesuai harapan. Sampai di restoran, kami masuk ke ruangan duluan, lalu Mas Ben masuk ke ruangan dengan muka panik. Kuenya retak dan lilinya udah copot.

Memang retaknya di bagian samping agak ke belakang, jadi nggak terlalu kelihatan dari depan. Tapi ini retaknya lumayan gede, sampai ada bagian yang bolong. Dan karena ini dari coklat, kalau udah retak gini riskan banget bisa ambrol semua. Udah gitu, lilinnya juga kan ditempel pakai coklat cair ke bagian atasnya, karena copot, bingung nempelinnya gimana. Nggak bisa pakai tusuk gigi apalagi dengan kondisi udah retak, bisa memperparah situasi.

Bayangin ya… saya udah mikirin, cari ide, siapin semuanya selama 1-2 minggu, udah tidur subuh semalam sebelumnya buat eksekusi, di hari-H ada drama begini. Saya langsung down banget rasanya. Saya diem, mata berkaca-kaca, berusaha ngebenerin.

Rasanya hati saya ikut retak, mimpi saya pengen liat reaksi Raka yang hepi dan surprised pas ngeliat kuenya, ikut ambrol.

Di tengah situasi itu, Raka dateng menghampiri (tadinya dia lagi kami minta tolong sebarin balon di ruangan). Dan reaksinya….

Raka senyum lebar banget, “Keren banget, Mami! Thank you, Mami!”. Begitu katanya. Dia sama sekali nggak mengeluarkan ekspresi kecewa, bahkan nggak tanya soal kue yang retak dan lilin yang copot, seolah-olah dia nggak ngeh ada kerusakan itu. FYI ya… aslinya Raka ini sangat lugas, lumayan perfeksionis, dan mudah mengkritik. Jadi aneh banget dia nggak komen apa-apa.

Setelah memandang kuenya dengan bahagia dan melontarkan beberapa kalimat pujian, lalu dia pergi dan menata balon lagi. Seolah kuenya sempurna. Sepertinya dia sadar hati saya lebih hancur daripada kuenya, dan dia nggak mau bikin saya lebih sedih lagi.

Sepanjang acara, saya lihat beberapa kali dia diam-diam menghampiri kuenya, berusaha memperbaiki lilin yang miring atau retakannya. Kelihatan dia juga kuatir kuenya ambrol sebelum di-smash. Tapi dia tetep nggak ngomong apa-apa ke saya.

Retak di bagian kiri. Untungnya dari posisi frontal gini nggak kelihatan. Tapi lilinnya kelihatan banget miring dan tak bisa diperbaiki

Malam ini, sebelum tidur, barulah dia nanya, itupun terasa sekali dia tanya dengan hati-hati.

“Mami, tadi kenapa kok kuenya bisa retak?”
“Iya, mungkin tadi kegeser pas di mobil”
“Tapi nggak apa-apa, Mami. Raka suka banget kuenya”
“Thank you, Raka. Mami seneng banget loh… tadi pas mami sedih karena kuenya retak, Raka nggak complain dan tanya-tanya. Mami jadi lebih semangat. Makasih ya, Raka. I love you.”
“I love you, too, Mami”

Hari ini saya bersyukur sekali karena ternyata anakku yang luarnya cuek buanget ini, di saat genting justru punya hati yang sangat lembut.

Dan saya amazed karena Tuhan kasih saya satu kejadian kecil yang mengecewakan untuk memberikan sukacita yang lebih besar.

5 thoughts on “Dear Rakaku yang Baik Hati

  1. Happy Birthday, Raka! Manis banget bikin mama meleleh. Ternyata kejutan kecil aja bisa bikin dia senengnya bukan main ya. Tapi umur segini memang lagi nakal2nya sih Din. Lebih tepatnya suka ngelawan krn udah makin jago argumen. Tapi gak apa, itu tandanya anak cerdas. Semoga Raka sehat dan bahagia selalu, dan mama makin dikasih kesabaran seluas samudraaaa…

  2. Pingback: Pencitraan | Cerita Bendi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.