Pencitraan

Waktu saya upload postingan sebelumnya, saya mendapat cukup banyak respon positif baik itu di blog atau personal. Kebanyakan muji Raka, tapi ada juga yang puji-puji kami sebagai orangtua, macam: “Gue musti belajar sama lo nih, gimana caranya bisa didik anak kaya Raka dan Kirana”

Nggak banyak yang tahu kalau dua hari sebelumnya, saya baru aja nangis gara-gara kesel sama Raka. Saking parahnya, rasa keselnya awet seharian, sampe rasanya pengen batalin bikin pinata cake.

Atau ada yang terkagum-kagum ngeliat Raka dan Kirana makannya pinter , makan daging dan sayuran, makan sendiri pula sampai habis, sementara anak mereka GTM.

Padahal ya nggak gitu juga. Ada masanya anak-anak saya males makan dan saya biarin aja mereka snacking apa yang mereka mau saking lelahnya.

Ada juga yang memuji-muji karena Kirana rajin belajar, pinter, suka nulis.

Padahal ya nggak tahu perjuangan saya tiap mau sekolah dan SK (sekolah bina iman Sahabat Kristus), harus menghadapi Kirana yang nangis-nangis ngamuk-ngamuk sambil megangin tembok karena nggak mau masuk kelas. Setiap hari.
Jadi apakah saya pencitraan?

Waktu Raka pertama kali dibagiin hasil quiz (ulangan), banyak ortu temen-temen Raka yang posting nilai quiz anak-anaknya di IG story dengan nilai 90 hingga 100. Saya lumayan down waktu itu karena nilainya Raka jauh di bawah KKM (kriteria kelulusan minimal). Harap maklum ya ini quiz pertama, I don’t know what to expect. Saya tahu Raka nggak menguasai subject tersebut tapi tetep aja lah ya deep down saya berharap yang baik-baik.

Waktu itu saya sedikit membatin, duh berat ya jadi anak sekolah masa kini dengan adanya sosial media. Zaman dulu saya sekolah, dapet nilai 100 nggak mungkin kan saya berdiri di depan kelas pamer-pamer supaya semua orang tahu. Tapi zaman sekarang, semua orang bisa pamer tanpa harus merasa pamer (dengan argumen) toh di sosial media sendiri.

Saya jadi inget case beberapa tahun lalu, ada sebuah postingan yang lumayan viral, yang bernada ‘mengecam’ busui yang suka pamer kulkas penuh ASIP, karena katanya itu bikin ibu-ibu yang ASI nya sedikit jadi down.
Padahal mah coba dibalik sudut pandangnya.

Mungkin ibu-ibu yang kulkasnya penuh itu juga merasa perjuangannya teramat berat untuk menyediakan ASIP yang cukup buat anaknya. Saat sudah bisa mencapai goal yang ditargetkan, apakah salah kalau mereka ingin mengabadikan perjuangannya di sosial media?

Sama seperti mama-mama temennya Raka. Seperti saya, mereka juga pasti nggak punya ekspektasi yang jelas tentang hasil quiz pertama anak-anaknya. Jadi ketika mereka ngeliat score yang sangat memuaskan, kemungkinan mereka juga surprised dong… Lalu apakah salah kalau mereka sharing sukacita di sosial media mereka?

Ya nggak dong ya.

Tapi kenyataannya memang, apapun postingannya, selalu ada potensi bisa membuat orang merasa terganggu.

Orang yang bisa jalan-jalan ke Eropa dianggap pamer oleh orang yang ‘cuma’ bisa jalan-jalan ke Singapura.
Orang yang bisa jalan-jalan ke Singapura dianggap pamer oleh orang yang ‘cuma’ bisa jalan-jalan ke luar kota.
Orang yang bisa jalan-jalan ke luar kota dianggap pamer oleh orang yang belum punya dana liburan.
daaaaan seterusnya.

Jadi buat saya sih, daripada mereka-reka regulasi postingan mana yang acceptable dan mana yang pamer, lebih baik kita filter siapa yang kita follow. Kalau postingan orang-orang yang kita follow terasa menggangu, ya langsung saja unfollow.

Prinsip saya sederhana saja.
Pertama, kalau saya melihat sebuah postingan lalu saya mulai sering membatin ngomongin orang tersebut dalam hati, itu waktunya saya unfollow dia. Dosa saya sudah banyak, tak perlulah saya menambah dosa (dan drama kehidupan) dengan mengomentari hidup orang lain.
Kedua, kalau saya melihat postingan-postingan orang tertentu secara konstan membuat saya rendah diri dan tidak bersyukur atas hidup saya, itu juga pertanda saya harus unfollow dia.
Jadi kembali lagi, apakah saya pencitraan?

Saya punya dua alasan sih kenapa sosial media (termasuk blog) saya isinya cuma yang bagus-bagus aja.
Argumen pertama adalah ketidaksengajaan. Saya inget buat dokumentasi (foto atau video) anak ya jelas kalau mereka lagi manis dan baik dan lucu dong. Kalau mereka lagi bikin saya naik darah ya mana inget dokumentasi. Yang ada saya keluar tanduk dan jerit nada tinggi.
Argumen kedua ya sering juga memang sengaja. Buat saya, sosial media macam prasasti. Dengan penuh kesadaran, saya memang maunya mengisi dengan hal baik-baik saja. Jadi kalau saya baca ulang ‘prasasti’ ini, saya bisa mengingat berkat-berkat Tuhan dalam hidup saya. Hal buruk ya nggak mau saya inget-inget, biasanya saya curahkan dengan nulis di note ponsel lalu hapus.

Jadi bisa dibilang saya pencitraan? Harus diakui, dalam kadar tertentu memang ada unsur pencitraan di sana.

Rasanya nggak akan ada yang bisa merumuskan regulasi yang cukup legit untuk mengklasifikasi postingan dengan motivasi pamer (atau pencitraan) dengan yang motivasi sekedar sharing aja. Menurut saya mah orang yang main sosmed ya udah pasti ada sedikiiiit (dan ada juga yang banyak) niatan untuk pamer. Kalo nggak, ya ngapain posting-posting buat diliat orang?

Menurut saya sih itu nggak salah ya.

Yang salah kalau pencitraan orang lain mengganggu damai sejahtera kita. Pilihannya dua, unfollow atau perbaiki hati kita sendiri.

Pencitraan: selalu kompak. Kenyataan: alamak

15 thoughts on “Pencitraan

  1. Ibu Dinaaaaaaa! I heart you dan postingan inihhhh! Tau gak sih, akutuh jd mantep untuk gak buru2 masukin Mas B ku ke sekolah, krn baca postinganmu dulu yg ttg Raka. Ttg postingan, ya dikit banyak pasti kita semua pernah ada (atau sering) curating atau mengkurasi lah, apa aja yg mau dibagi di sosmed, hehehe.

  2. Kalau liat socmed dirasa udah mengintimidasi alih-alih menginspirasi sudah saatnya ditutup nggak usah dilihat, rumput tetangga memang keliatan lebih hijau bisa aja rumputnya imitasi.

    Kalau gw liat foto jalan-jalan orang di Eropa sih seneng2 aja Din jd walau blom pergi ikutan seneng dari foto2nya haha yang gw malas adalah liat foto pencitraan sehari2 bak artis tapi gw tau real life nya ancur lebur, ini yg gw gak mau liat.

    Semangatlah Din, KKM tuh bukan harga mati, NKRI yang harga mati 😂😂😂 (keseringan dapat KKM gw udah biasa jadinya hahaha)

  3. curahan hati ibu2 banget ini mba, dan kata-kata support diri sendiri yang mba tuliskan juga bermakna banyak buat yang baca.

    Untuk filter siapa yang di unfollow, mute atau follow udah berhasil dijalanin, malah sekarang saya di fase setiap mau post mikir dan pertimbangkan bgt, ” ntar orang anggap ini pamer ndak ya?”, hahaha..

  4. pamer atau enggak, pencitraan atau tidak semuanya tergantung pada yang melihatnya dan selamanya bakal subjektif. susah buat objektif dan capek sendiri buat maksain standar orang ke kita gitu juga sebaliknya.

    emang mending unfollow sih kalo mengganggu banget, tapi kalau mau lebih ekstrim, ga usah buka sosmed seharian, bukanya youtube aja *lah

  5. Ku suka dengan postingan ini Din, thanks ya ❤ buat jadi pelajaran en pengingat juga 😃
    pencitraan tow ga, pamer tow ga, en hal lainnya balik lg c ya ke pola pikir tiap org. Qta ga bs bendung mrk. Yg bs qta lakuin ya ke diri sendiri, kyk yg lo blg. Kl emank ga suka tow itu uda buat ga damai, unfol aja 😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.