Netherland Trip 2018 – Strolling Amsterdam

Tentang Netherland Trip 2018 sebelumnya bisa dibaca di:

Netherland Trip 2018 – Prolog

Kami berangkat dari Jakarta tanggal 23 November 2018 malam. Penerbangan dengan Garuda Indonesia selama sekitar 14 jam. Penerbangan panjang tanpa anak ternyata lumayan enjoyable. Saya bisa marathon berbagai judul film yang selama ini pengen saya tonton tanpa ‘gangguan’ anak rewel. Saya juga bisa atur jam tidur semau saya tanpa harus mikirin ngatur jam tidur anak. Akibatnya saya sama sekali nggak jetlag baik pergi maupun pulang. Betapapun liburan tanpa anak itu lumayan pedih, jujur aja banyak moment yang sangat saya nikmati. Haha. Jangan cerca saya, buibu panutan…

Let the adventure begin!
(btw rambut w bagus amat ya di sini)

Sampai di Amsterdam sekitar jam 8 pagi, langsung disambut suasana natal di Schilphol Airport. Kami beli sarapan hot dog di Hema lalu naik kereta ke Amsterdam Centraal.

Suasana Natal langsung terasa

Naik kereta ke hotel

Kamar di Ibis Central. Ini saya foto dari pojok udah mentok. Kamarnya mungil tapi pas.

Kami menginap di Ibis Central, persis di sebelah stasiun Amsterdam Central. Keuntungan jadi member Accorplus, kami langsung dikasih early check in dan voucher welcome drink. Kamarnya standard aja, no complain lah. Setelah istirahat sebentar, kamipun jalan ke tourist center buat beli travel ticket. Kalo ga salah saya ambil yang 3 days.

Setelah itu, Mami pengen cari Longchamp, hasil googling, saya ketemu yang paling deket di Pieter Cornelisz Hoofstraat. Karena jaraknya sekitar 2 km, kamipun memutuskan jalan. Dan ini adalah keputusan yang salah. Baru juga nyampe, Mami saya udah nyesel kayanya pergi sama saya. Saya salah perhitungan. Ternyata jalan segitu bikin Mami saya kecapean banget. Apalagi udara sangaaaat dingin, bikin napas rasanya lebih sesak dan lebih cepet cape.

Amsterdam kota sepeda. Sepedanya ngebut-ngebut pula dan nggak ada yang pake helm. Jadi pejalan kaki ngeri banget di sini, takut ditabrak sepeda ngebut.

Beautiful view, beautiful mom ❤

Istirahat dulu. Pegel dan kedinginaaaaan.

Kanal dan sepeda, ciri khas Amsterdam

Di sebuah perempatan

Di Longchamp, kami langsung ketemu orang Indonesia. Sales assistant-nya awalnya ngomong Inggris tapi begitu denger kami ngomong Indonesia, dia langsung ngomong Indonesia. Hehe. Lumayan, mau nanya-nanya jadi lebih gampang sampai akhirnya Mami dapet tas yang dimau walaupun udah nggak ada di display. Sambil belanja, sambil numpang duduk istirahat.

Setelah itu giliran saya berburu parfum Maison Francis titipannya pak suami. Sudah rela ditinggal jalan-jalan plus dititipin anak, tentu saja request-nya adalah sebuah titah yang harus dikabulkan. Haha.

Kami sempat lewat di sebuah bakery, entah apa namanya saya lupa. Yang jelas roti-rotinya sungguh menggoda. Kami coba beli beberapa sebagai cemilan pengganti makan siang. Duh roti-roti di Belanda tuh enak-enak banget deh.

Lalu kami jalan ke arah Rijskmuseum. Kami emang nggak berencana untuk masuk. Cuma mau liat-liat suasana di sekitar situ dan foto dengan logo I Amsterdam. Walaupun rame banget, saya merasa cukup beruntung sempet ngeliat sign ini karena di awal Desember, logo ini dicopot karena katanya dianggap terlalu individualis, nggak sesuai lagi dengan ideologi kota.

Di jalan, kami sempet jajan freshly-made-stroopwafel. Jadi wafelnya beneran dibuat pas kami pesen, lalu dikasih karamel, ukurannya gede, dan makannya anget-anget di udara dingin. Sedaaaaaap.

Lalu kami pulang dan istirahat lagi.

Foto wajib, walau sebenernya logo I amsterdamnya ketutupan manusia

Di belakang logo I amsterdam itu Rijksmuseum.

Di seberang Rijkmuseum ada skating arena. Kaya di film-film

Ini kanal dekat Hardrock Cafe Amsterdam. Lepas topi biar cakepan difotonya, padahal setengah mati kedinginan

Yang penting ada tulisan ‘Amsterdam’nya

Stalls di sekitar Rijkmuseum

First stroppwafel in Amsterdam

Stoopwafel my luv. Entah berapa banyak stroopwafel yang saya makan selama di sini.

Malamnya, kami memutuskan naik tram ke Hema di jalan Nieuwendijk buat window shopping. Hema ini konsepnya semacam perkawinan antara Ikea, Daiso, dan H&M. Di toko ini, segala ada mulai dari pakaian, aksesoris, stationary lucu, makanan dan bakery dan ada restonya dengan konsep mirip Ikea. Nah di sini sekalian kita makan malam erwtensoep. Erwtensoep adalah makanan khas Belanda, berupa sup kental dari kacang polong. Walaupun ‘cuma’ sup, tapi makan ini mah kenyang dan kebutuhan kalori dan macros bakal terpenuhi karena karbo, sayur, dan protein semua tumplek blek di dalamnya. Enak deh, saya dan Mami suka banget. Selama di Belanda, berkali-kali kita nyoba erwtensoep di berbagai tempat.

Nieuwendijk, jalan setapak dipenuhi toko-toko

Hema, si toko segala ada. Mulai dari snack sampai kebutuhan bayi sampai baju

Food court Hema, konsepnya mirip Ikea

Di jalanan yang sama dengan Hema, ada Primark dan H&M. Pengen sih window shopping, tapi udah cape. Jadi kamipun memilih pulang soalnya besok kami ikut tour yang mulainya cukup pagi. Lanjut next posting ya.

 

 

 

 

4 thoughts on “Netherland Trip 2018 – Strolling Amsterdam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.