Netherland Trip 2018 – Giethoorn, Zaanse Schans, Volendam

Tentang Netherland Trip 2018 sebelumnya bisa dibaca di:

Netherland Trip 2018 – Prolog
Netherland Trip 2018 – Strolling Amsterdam

Hari kedua ini, saya udah booking ikut tour Serbalanda milik bapak Eka Tanjung. Pak Eka adalah orang Indonesia yang udah lama tinggal di Belanda dan menyediakan layanan tour. Sejak pertama tahu tentang Serbalanda, saya langsung pengen booking. Mami saya pasti seneng ikut tour dengan tour guide berbahasa Indonesia.

Menanti jemputan di lobby hotel

Lobby Ibis Central

Yang surprise ternyata hari itu peserta tournya cuma berempat. Jadi saya dan mami saya plus 2 orang Indonesia lagi. Teman tour kami ini kakak beradik perempuan yang abis keliling Eropa dan tujuan terakhirnya ke Belanda. Adiknya seumuran saya dan juga ninggalin 2 anak diurus suaminya. Ternyata banyak suami warbiasah dan baik hati ya.

Karena cuma berempat, kami naik city car dan Pak Eka sendiri yang nyopir. Sekitar jam 8 pagi kami jalan langsung menuju tujuan pertama: Giethoorn.

Perjalanan ke Giethoorn hampir 2 jam. Sepanjang jalan, Pak Eka cerita macem-macem tentang Belanda. Pak Eka ini mengingatkan saya sama Engkong saya (papanya mami saya) yang udah meninggal. Auranya mirip. Mami saya juga setuju.

Sampai di Giethoorn, harusnya bisa langsung naik perahu tapi kami semua lapar. Akhirnya berhenti dulu di restonya buat makan. Saya dan Mami makan erwtensoep lagi. Mumpung di Belanda, puas-puasin ya. Setelah semua selesai makan, kami naik perahu yang dikemudikan oleh… Pak Eka sendiri. Mantaplah Pak Eka ini serba bisa.

Makan dulu di restonya.

Erwtensoep hampir selalu disajikan bersama bacon slice dan rye bread.

Bareng Pak Eka Tanjung.

Teman tour kami hari ini.

Giethoorn adalah sebuah desa kecil tanpa jalanan mobil. Desanya dibelah oleh sebuah sungai, jadi transportasi lebih banyak menggunakan perahu. Suasananya sangat indah dan sepiiiii hampir nggak ada suara, semacam rumah-rumahnya kosong. Tapi kita bisa tahu ada orang di rumah kalau ada asap keluar dari cerobong asapnya.

Di sini kita sightseeing di atas perahu, lalu berhenti di dekat Giethoorn Museum buat jalan-jalan dan foto-foto sebentar. Setelah itu balik naik perahu dan menikmati bonus trip: Pak Eka manggilin burung sambil kasih makan roti tawar. Langsung dateng deh tuh segerombolan burung camar.

The picture doesn’t do the justice.

So quiet

and so pretty!

Mas Ben sebel banget saya pake topi ini, kaya Mario Bross katanya.

Turun dari perahu, foto-foto.

Museum Giethoorn, tapi kita nggak masuk karena nggak cukup waktunya. Entah ada apa di dalam.

Kangen suami

Turun dari perahu, foto-foto.Lempar roti tawar ke atas, lalu nanti burung-burung dateng dan nangkep lemparan roti kita.

Dari Giethoorn, kami menuju Zaanse Schans. Sebelumnya mampir resto dulu buat makan siang. Pak Eka kasih pilihan mau makanan Indonesia atau fish and chips ala Belanda. Saya dan Mami prinsipnya kalo lagi di suatu negara yang makan makanan negara itu. Tapi teman tour kami yang udah 2 mingguan keliling Eropa, kangen masakan Indonesia. Jadi kami ngalah, dan berakhirlah kami di Warung Berkah.

Warung Berkah ini milik orang Indonesia yang udah tinggal di Belanda. Menunya seperti warteg dan sepertinya sih cukup terkenal. Enak nggak? Ya… begitulah, nggak bisa dibandingin sama makanan di Indonesia. Tapi buat yang tinggal di sana dan kangen masakan Indonesia, pasti terobati banget kangennya karena pilihan menunya cukup lengkap.

Yang kedua dari kiri itu pemilik Warung Berkah

di depan Warung Berkah di Zaandam

Setelah makan, jalan nggak jauh lagi, tibalah kami di Zaanse Schans. Zaanse Schans adalah sebuah komplek yang terkenal dengan komplek windmill (kincir angin) dan rumah-rumah tradisional khas Belanda berwarna hijau. ‘Atraksi’ di sini adalah pembuatan wood clog (bakiak tradisional Belanda), pembuatan coklat, dan keju. Tentunya selain bisa liat pembuatannya, juga bisa beli semua souvenir-souvenir itu.

Di Zaanse Schans ini dinginnya tobaaaaat. Udah udara dingin, anginnya kuenceng banget. Ya kalo di logika ga mungkin ya bikin windmill di tempat yang anginnya sepoi-sepoi. Karena dingin ini, saya dan  Mami banyakan keluar masuk toko-toko souvenir. Selain lihat-lihat, belanja, juga menghangatkan diri. Di sini kami belanja banyak keju-kejuan dan minum hot chocolate. Yum!

Bersama barisan windmill. Khas Belanda banget ya.

gloomy but pretty (pemandangannya, bukan saya ya)

Udah kaya postcard blum?

Windmill close up

Kami berdua, kedinginan, dengan latar belakang kincir angin

Di depan toko wooden clog

Kakiku bengkak kebanyakan jalan

Macam-macam model wooden clog

Ada yang buat special occasion juga ternyata

Dengan latar belakang barisan keju

Demo pembuatan keju

Ngeracik hot chocolate sendiri. Puanas banget airnya, tapi begitu keluar, sebentaran langsung suam-suam kuku.

Kami keluar dari Zaanse Schans hampir jam 5 sore, pas komplek ini udah mau tutup. Dari situ langsung buru-buru menuju ke Volendam.

Volendam adalah sebuah desa nelayan. Di sini ciri khas-nya adalah foto studio dengan baju tradisional Belanda. Jadi kalau ada orang yang pulang dari Belanda bawa foto sejenis itu, hampir pasti fotonya di Volendam.

Kami sampai di Volendam udah malam, hari udah gelap, jadi kita langsung diantar ke salah satu studio foto dan memang di sini berderet-deret kanan kiri isinya studio foto, diselingi toko souvenir dan restaurant. Saya dan Mami nggak mau foto, jadi kami berdua nunggu di toko souvenir di lantai bawah, window shopping.

Di depan studio foto, ada food stall seafood. Kami mah lebih tertarik sama makanan daripada foto studio. Haha. Di sini saya beli ikan herring mentah yang diasinkan, salah satu makanan tradisional Belanda. Ikan herring di Volendam disajikan utuh, dengan side dish potongan bawang bombay. Dan… saya suka loh! Di sini kami juga beli fish and chips buat makan malam.

Lalu saya dan Mami jalan-jalan sedikit sambil foto-foto. Sayang hari sudah gelap. Kalau masih terang, pemandangan di sini juga pasti cantik.

Kalau masih terang sepertinya cantik ya pemandangannya.

Kota pelabuhan bernuansa Natal

Deretan resto dan studio foto di Volendam

Seafood stall

Nah itu herring mentahnya

Herring di Volendam disajikan sudah dipotong-potong, makannya sama pickles dan potongan onion. Enak!

Setelah teman tour kami selesai foto-foto, kamipun naik mobil dan kembali ke Amsterdam.

Saya rekomen banget tour dengan Serbalanda. Dengan private tour semacam ini, nggak kuatir kita harus buru-buru karena ditunggu rombongan. Udah gitu tour guidenya berbahasa Indonesia pula kan, jadi bisa puas tanya-tanya tanpa kendala bahasa. Dan yang terpenting (ini saya juga heran)….. murah loh.

Sebagai bandingan, di Viator.com, private tour sejenis yang ke 3 tujuan: Giethoorn, Volendam, Zaanse Schans untuk rombongan 7 orang itu harganya sekitar USD 140 perorang sedangkan dengan Serbalanda untuk rombongan 7 orang, biayanya EUR 80 perorang.

Nah karena kemarin kami cuma berdua, kami minta tolong Pak Eka minta digabung dengan grup lain, jadilah akhirnya rombongan kami berempat. Nah kalo ada yang minat, mengenai ketentuan dan biaya untuk arrangement seperti ini, monggo diobrolin dulu aja sama Pak Eka.

Btw ini saya nggak dapet komisi loh ya. Cuma satisfied customer aja. Kabar baik harus disebar.

Lanjut next day ya.

One thought on “Netherland Trip 2018 – Giethoorn, Zaanse Schans, Volendam

  1. Pingback: Netherland Trip 2018 – Food and Canal Tour | Cerita Bendi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.