Netherland Trip 2018 – Food and Canal Tour

Tentang Netherland Trip 2018 sebelumnya bisa dibaca di:

Netherland Trip 2018 – Prolog
Netherland Trip 2018 – Strolling Amsterdam
Netherland Trip 2018 – Giethoorn, Zaanse Schans, Volendam

Jadwal hari ini adalah Food & Canal Tour. Yang suka baca blog ini mungkin tahu bahwa hampir tiap travelling, saya pasti nyari food tour. Haha. Maklum hobi saya emang nyobain makanan lokal, dan menurut saya ikut food tour gini lebih efektif buat nyobain berbagai jenis makanan dalam porsi minimalis sekaligus, dapet berbagai informasi tentang culture di tempat tersebut. Kali ini saya book food tour dari Eating Europe.

Karena tournya mulai agak siang jam 10.30, pagi-pagi kami jalan-jalan ke Amsterdam Centraal. Amsterdam Centraal memang sebuah stasiun, tapi di dalamnya banyak cafe dan toko-toko. Di sini kami sempet sarapan di salah satu bakery dan agak menyesal karena…. waktu mulai food tour, kami masih kenyang banget. Hahaha.

Berbagai macam merk dan kemasan stroopwafel di Albert Heijn Amsterdam Centraal. Albert Heijn itu semacam Indomaret atau Sevel lah.

Ada yang tahu apa ini? Ini pintu masuk ke toilet di stasiun. Rata-rata toilet umum di Belanda (baik yang di stasiun, objek wisata, bahkan mall) berbayar dan biasanya model gerbangnya seperti ini. Masukkin koin dulu lalu baru palangnya bisa didorong. Harusnya nggak boleh foto, ini saya ngumpet-ngumpet ((maap abis unik, demi dokumentasi))

Meeting point tournya di Cafe Papeneiland. Sebenarnya dekat dari stasiun tapi kami ke sana naik taksi karena Mami saya takut kecapean. Nanti tour-nya kan banyak jalan kaki. Sampai di sana masih kepagian, kami jalan-jalan di sekitarnya. Daerah sekitar sini tuh cantik banget deh. Kanalnya kecil, rumah-rumahnya terlihat old style. Nggak jauh dari cafe lagi ada semacam bazaar. Kami beli beberapa souvenir di sini.

Cantik banget daerah ini

Jam 10.30 kami balik ke Cafe Papeneiland, bertemu dengan tour guide kami yang super tinggi, namanya Rene. Dan baru tahu bahwa peserta tour hari itu cuma kami berdua. Hahahahahahaha. Sesungguhnya jiwa introvert saya langsung meronta-ronta, berarti saya harus berinteraksi penuh dengan orang asing, dalam bahasa Inggris logat Belanda yang agak susah saya tangkep. Tapi di sisi lain, beruntung banget karena berarti pace jalan-nya bisa santai dan Mami saya nggak perlu kecapean jalan buru-buru.

Tujuan kuliner pertama kami ternyata di Cafe Papeneiland ini. Cafenya kecil mungil, ada barnya. Kami duduk di pojokan dan disajikan Dutch Apple Pie. Apple pienya guede, tebel, dan apelnya penuh di bagian dalam. Enak banget deh beneran. Kami juga boleh pesen minum, saya pesen kopi. Mami saya pesen mint tea sesuai saran Rene. Mint tea ala belanda ternyata bukan daun teh dicampur mint, tapi bener-bener segenggam daun mint segar diseduh dalam air panas. Dan ini enak banget loh ternyata.

Interior Cafe Papeneiland. Itu kue-kue di atas meja apple pie semua

Di dalam etalase kaca, rak bagian atas itu apple pie utuh (yang belum di-slice), rak bawah daunt mint

Rene, tour guide kami hari itu. Gelas di depan saya yang dipenuhi daun, itulah mint tea ala Belanda

Setelah itu kami diajak ke Jwo Lekkernijen. Di sini kami disajikan sample berbagai jenis keju.

Rene tinggiiii buanget

Sample keju buat kami cicipi. yang di mangkok kecil kalo ga salah semacam manisan buat membersihkan palet lidah sebelum coba jenis keju lain.

Berbagai jenis keju

Lalu ke Slagerij Louman, sebuah butcherwill. Di sini kita disajikan berbagai jenis sosis, ham.

Model tokonya mirip-mirip sama di sini.

Liat nggak ada lapis legit di antara deretan olahan daging ini? Spekkoek namanya.

Lalu ke Swieti Sranang. Ini adalah sebuah restaurant Suriname. Seperti yang kita tahu budaya Suriname sangat dekat dengan Indonesia. Jadi di sini kami makan sate ayam dengan kerupuk dan acar. Haha. Jauh-jauh ke Belanda makannya sate ayam. Sate dan bumbunya enak, nggak kalah sama sate senayan. Rene muji-muji banget makanan Suriname, dan dia nampak sangat menikmati makan kerupuk. Macam makanan istimewa aja tuh kerupuk.

Sate ayam dan acar

Warteg ala Suriname

Bersama pemilik resto. Kenapa muka saya girang amat ya?

Lalu ke Tom’s Bread and More. Di sini kita disajikan stroopwafel yang masih anget. Seinget saya ada 1 jenis kue lagi tapi saya lupa apa. Duh maklum ya udah setahun lalu. Sayang yang di sini nggak ada fotonya.

Lalu ke Urker Viswinkel, sebuah toko seafood kecil. Di sini disajikan fish and chips dari ikan cod dan herring! Minumnya dikasih tulip bulb vodka. Toko seafood ini adalah usaha keluarga dan sepertinya Rene kenal akrab dengan pemiliknya. Yang cukup berkesan, waktu ketemu, si pemilik toko udah mau keluar toko sambil gendong anak bayinya di baby carrier. Rene bilang, dia hari ini off jualan setengah hari karena hari itu mau giliran dia jaga anak biar istrinya bisa me time. So sweet.

Toko seafood tapi bisa pesan makanan jadi juga.

Ikan herring di sini disajikan utuh, lengkap dengan kepala dan buntutnya. 

Fish and chips

Lalu…. kami diajak ke dermaga, menunggu dijemput boat buat mengarungi kanal. Perahunya cakep, lebih mewah dari bayangan saya. Di dalam udah disediakan berbagai minuman dingin, termasuk Brouwerij beer, bir lokal Belanda, bebas ambil. Di tengah-tengah kanal, boat sempat berhenti sebentar, lalu Rene ambil sekotak bitterballen. Semacam drive thru pake kapal ya. Haha. Bitterballennya enak banget. Ukurannya gede, dalemnya masih panas ngebul, dan soft di dalam.

Menanti jemputan

Kapal datang. Cakep ya kapalnya.

Kapal pribadi. Isinya cuma berempat, sama Rene dan sopirnya (sopir kapal kecil gini nahkoda juga bukan?)

Beer lokal Belanda

Bitterballen terenak sepanjang hidup saya

Selesai mengarungi kanal, kami ke tujuan terakhir, Cafe de Prins buat makan poffertjes. Ternyata poffertjes asli Belanda tuh bentuknya bukan bulet-bulet kaya di sini, tapi agak gepeng, seperti pancake tapi mini. Rasanya sih mirip sama di sini cuma bagian dalamnya agak lebih lembut.

Poffertjes yang bentuknya mirip kue apem mini

Ternyata lokasi terakhir ini ada di seberang Cafe Papeneiland, meeting point waktu awal tour tadi. Jadi rutenya sebenernya muter.

Sepanjang jalan, selain makan-makan, Rene cerita macem-macem soal culture di Belanda. Daerah Pringseracht yang saya bilang cantik itu memang ternyata adalah daerah perumahan tertua di Belanda dan sekarang jadi daerah perumahan mahal. Dia cerita, dulu di Belanda air bersih pernah jadi sangat langka, sampai anak-anak pun dikasih minum beer karena beer lebih murah daripada air.

Di halaman tengah komplek apartemen pemukiman

Palang di bagian atas itu buat pasang katrol, gunanya untuk naikkin barang besar ke lantai atas (lewat jendela)

Rene cerita, tadinya dia chef. Tapi jam kerja chef tuh gila banget sementara dia sebenernya pengen punya waktu sama keluarga. Jadi pas temennya nawarin dia join jadi tour guide dia langsung join. Pas banget karena dia bisa bahasa Inggris dan ngerti kuliner. Lalu di tengah jalan, dia sempet nunjukkin sekolah anaknya dari jauh. Setelah tour selesai juga dia buru-buru pamit karena mau jemput anaknya.

Dua hari ini, dari cerita-cerita Pak Eka kemarin, cerita pemilik toko seafood, dan cerita Rene, saya jadi menyimpulkan orang-orang Belanda sepertinya cukup family-oriented ya.

Di perjalanan pulang ke hotel ketemu pemandangan ini. Sukaaaa banget sama foto ini.

Ketemu kereta kuda juga. Kudanya kekar dan cakep banget

Selesai tour, kami balik ke Hotel buat istirahat sebentar. Lalu malamnya keluar lagi janjian mau makan malem bareng Ik Hiang, sepupu Mami saya yang tinggal di Almere, dekat Amsterdam. Kami diajak makan Loetje, resto steak di pinggir kanal, di seberang Amsterdam Centraal. Steak ala Belanda beda loh sama steak yang kita kenal. Steak ala belanda menurut saya mirip bistik Jawa (tapi lebih asin), disiram kuah/gravy yang banyak dan gurih.

Loetje lokasinya persis di tepi kanal. Cantik banget pemandangannya di malam hari

Interior Amsterdam Centraal Station. Ini meeting point kami dengan Ik Hiang. Di sini ada piano yang bebas dimainkan siapa saja.

Di Loetje minum mint tea lagi. Kali ini daun mint-nya nggak seheboh di Papeneiland.

Kalau di resto steak di Jakarta, side dish-nya dinner roll, di Belanda side dish-nya…. roti tawar! Makannya dengan cara dicocol ke gravy.

Setelah makan, saya tadinya berniat mau jalan sendiri ke Primark. Tapi karena udara dingiiiiin banget, akhirnya kami memutuskan pulang aja ke hotel. Besok ik Hiang mau ngajak ke Den Haag dan Rotterdam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.