Netherland Trip 2018 – Morning in Valkenburg, Evening at Red Light District

Tentang Netherland Trip 2018 sebelumnya bisa dibaca di:

Netherland Trip 2018 – Prolog
Netherland Trip 2018 – Strolling Amsterdam
Netherland Trip 2018 – Giethoorn, Zaanse Schans, Volendam
Netherland Trip 2018 – Food and Canal Tour
Netherland Trip 2018 – Rotterdam dan Den Haag
Netherland Trip 2018 – Valkenburg Christmas Town

Karena waktu yang terbatas, kami cuma semalam menginap di Valkenburg. Pagi ini kami check out untuk kembali ke Amsterdam.

Tapi sebelumnya, kami brekfast dulu di Hotel Jansen.

Karena bentuknya BnB, yang prepare breakfast ya suami istri pemilik BnB ini. Pagi-pagi kami sempat ketemu dengan pasangan muda ini dan anak mereka yang masih balita. Lalu istrinya pergi bawa anaknya (mungkin ke day care ya), lalu suaminya menyajikan breakfast. Menjelang kami selesai breakfast, istrinya balik buat bantu beres-beres.

Di ruang makan, meja-meja sudah di-set dengan cantik. Kami bebas duduk di mana aja. Menu breakfastnya aneka roti, cold cuts, telur, buah-buahan, juice, dan kopi/teh. Nggak bisa milih ya, semua meja dapetnya gini. Sekali lagi, saya seneng merasa dapet pengalaman baru.

Selesai breakfast, kami langsung check out. Halte bus terdekat (entah kenapa) tutup dan dialihkan ke halte bus yang agak jauh. Blessing in disguise, karena kami jadi bisa sedikit sightseeing kota Valkenburg yang ternyata memang cantik. Maklum kemarin kan nyampenya udah hampir gelap. Jadi di kota ini tuh banyak landmark-landmark yang cantik, semacam ruins, dan bukit-bukit… yang jujur saja saya nggak tahu itu semua bangunan apa. Maklum pas ke sini saya cuma cari tahu tentang Christmas Market. Tapi ya memang kota ini kecil, sepiiii, dan fotogenic.

Sampai di Amsterdam, kami check in lagi di Ibis Central (karena kemaren kan check out dulu buat staycation di Valkenburg). Kali ini dapet kamar yang lebih luas entah kenapa. Kami istirahat sebentar, lalu lanjut jalan-jalan lagi. Hari ini kami nggak ada tujuan jelas tapi saya udah bilang Mami, kalo bisa, karena ini malam terakhir, saya pengen liat red light district. Sekedar memuaskan rasa penasaran saya.

Pemandangan dari kamar hotel, menghadap stasiun Amsterdam Centraal

Siang itu akhirnya kami memutuskan ke Dam Square, semacam alun-alun kota Amsterdam. Di sini ramai dan banyak performer. Setelah foto-foto sebentar, tujuan kami berikutnya adalah belanja oleh-oleh, kembali lagi ke daerah Nieuwendijk.

Kami menghabiskan waktu lumayan lama di H&M, Primark, dan Hema. Tapi paling lama di Primark karena Primarknya gedeeee, barangnya macem-macem, lucu-lucu, dan harganya terjangkau. Udah gitu visual merchandisingnya bagus deh kayanya. Saya yang biasanya kurang demen belanja, rasanya pengen borong banyaaaaaak. Untung masih sadar, udah terlanjur buka jastip dan koper kayanya bakal ga muat, jadi belanjanya terkontrol, mostly buat oleh-oleh aja.

Selesai belanja, kami jalan ke arah Red Light District. Penjelasan tentang red light district saya ambil dari Wikipedia aja ya:

red-light district or pleasure district is a part of an urban area where a concentration of prostitution and sex-oriented businesses, such as sex shopsstrip clubs, and adult theaters, are found. In most cases, red-light districts are particularly associated with female street prostitution, though in some cities, these areas may coincide with spaces of male prostitution and gay venues.[1] Areas in many big cities around the world have acquired an international reputation as red-light districts.[2]

The term red-light district originates from the red lights that were used as signs for brothels.

Red light district di Amsterdam ada di daerah de Wallen. Dalam perjalanan ke sana, kami sempet mampir ke Febo. Febo adalah fast food restaurant yang konsepnya unik karena cara penyajian makannya dengan vending machine. Bentuknya seperti restoran biasa, ada counter-nya juga. Tapi ada 1 dinding yang isinya full vending machine dan hampir semua menunya bisa dibeli di mesin ini. Fungsi counter sepertinya buat pesan minuman saja atau tukar recehan kali ya.

Menu yang terkenal di Febo adalah croquette atau bahasa Indonesianya ya kroket. Beneran mirip kroket di sini, cuma ukurannya besar aja, mirip hotdog. Rasanya nggak terlalu berkesan, biasa aja. Jadi yang berkesan ya cuma konsepnya aja yang unik.

Dari Febo, kami lanjut jalan ke arah de Wallen. Semakin mendekati lokasi, semakin banyak sex toy shops dan coffee shops.

Jangan salah… coffeeshops di Belanda nggak jualan kopi aja, tapi specialty-nya justru cannabis (mariyuana/ganja) dan ini legal loh ya di sana. Bentuknya (yang saya tahu) bisa dalam bentuk roll (untuk dihisap) atau dalam bentuk cake.

FYI kalo yang jualan kopi atau croissant itu namanya koffiehuis atau coffee house.

Kami sempet agak nyasar karena di daerah sana banyak gang-gang kecil. Bingung yang mana yang red light district. Tapi akhirnya nyampe juga. Waktu kami datang belum jam 9 malam, jadi sepertinya baru mulai buka. Tapi saya cukup ‘beruntung’ akhirnya bisa meyaksikan dengan mata kepala sendiri etalase-etalase manusia itu.

Ya begitu… beneran wanita-wanita dengan pakaian sangat minim (atau tanpa pakaian sama sekali), berpose di etalase-etalase pinggir jalan. Dari hasil baca-baca sih, kita ga boleh terlalu ngeliatin apalagi ambil foto. Jadi kami cuma lewat pelan-pelan sambil lirik-lirik. Jujur saya cukup amazed liat pemandangan macam itu. Rasa penasaranpun terpuaskan.

Dari sana, kami langsung balik ke hotel karena besok sudah harus terbang ke Jakarta.

Sempat duduk-duduk istirahat dulu sebelum lanjut jalan ke red light district. Pegaaaal.
Blur aja cakep

Besoknya di hari terakhir, nggak ada cerita khusus dan nggak ada foto-foto karena jadwal take off kami jam 11 siang. Jadi pagi-pagi udah berangkat keluar dari hotel menuju ke airport. Yang saya ingat cuma… koper kami beraaat banget hampir mencapai limit. Naik turun kereta bawa 2 koper berat sendirian (nggak mungkin mami angkat koper kan), sungguh saya merasa perkasa. Untung hampir tiap kali dibutuhkan, ada orang baik yang membantu saya.

Perjalanan kali ini singkat tapi berkesan banget. Pertama-tama karena perginya ke Belanda. Tempat-tempat yang kami datangi di sini, setiap sudutnya terasa cantik. Makanannya enak-enak dan orang-orangnya juga terasa ramah. Suasana kotanya terasa pas. Nggak terlalu ramai hingar bingar tapi juga gak sunyi sepi. Selama jalan-jalan juga nggak parno-parno banget masalah keamanan dibanding waktu ke Paris atau Roma misalnya. Saya jadi baru paham kenapa banyak orang yang sukaaa banget dan bolak-balik pergi ke Belanda. Gimana kalo perginya pas festival tulip ya… wah pasti lebih jatuh cinta lagi.

Selain itu, tentu karena ini perginya berdua Mami. Saya terakhir travelling berdua mami saya sepertinya waktu saya SMP. Waktu itu tentunya mami saya yang ngurus semua-muanya. Kali ini gantian saya yang ngurus semua-semuanya.

Saya seperti baru ngeh kalau mami saya yang bener-bener udah beda dengan dulu. Betapa mudah lelahnya kaki Mami saya. Maklum seumur hidup mengenal dia bagaikan superwoman.

Tapi yang nggak berubah, seberapapun tuanya umur saya, tetep aja Mami saya rempong memastikan saya nggak kelaperan dan keinginan saya terpenuhi. Bener ya anak mau umur 5 tahun atau 30 tahun, tetaplah anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.