Kirana dan Miss D

Berbeda dengan Raka yang pecicilan dan social butterfly….sejak bayi, Kirana udah keliatan lebih pemalu dan jaim.

Waktu pertama kali masuk sekolah juga Kirana butuh penyesuaian sekitar seminggu, baru mau pisah dengan sukarela sama saya.

Setelah masa adaptasi, Kirana kelihatan mulai suka sekolah. Suka banget malah sampai pernah mau kita ajak nginep, dia nggak mau karena takut nggak bisa sekolah.

Tapi suatu hari, pulang sekolah, manyun. Pas dijemput, langsung ngomong:

“Nana nggak mau sekolah lagi!”

Nah lo….

Setelah seharian dikorek pelan-pelan, akhirnya dapet jawabannya: dia nggak suka/takut sama seorang guru, sebut saja Ms. D.

Saya tahu Ms.D. Orangnya baik-baik aja, cuma memang perawakannya sedikit lebih tinggi besar, sudah lebih senior, dan raut mukanya tegas. FYI hampir semua guru-guru Kirana yang lain itu fisiknya petite, umurnya masih muda, dan manis-manis banget kaya gula-gula. Haha.

Dan… saya tahu ‘adat’ anak saya yang kalo ditegur dengan cara yang dia gak suka, bisa langsung tersinggung. Hatinya macam tahu lah. Dicolek dikit, ancur 😂 Persis kaya siapa hayooo… kaya maminya lah makanya paham.

Jadi saya yakin nggak ada masalah kekerasan atau aneh-aneh lainnya di sini. Cuma Kirananya aja yang tersinggung/takut sendiri.

Masalahnya ngambeknya Kirana lumayan berkepanjangan. Tiap malem dia tanya…

“Besok bangun tidur kita ngapain?”

“Sekolah dong”

“NANA GAK MAU SEKOLAAAAH”

Besok paginya gitu lagi… baru buka mata, langsung…

“Nana gak mau sekolah. Nana ga mau ketemu Ms. D. Nana mau di rumah aja”

Awalnya saya bujuk dengan cara bilang gini…

“Besok Ms. D nggak ngajar kok… “

Atau

“Ini mami udah WA Ms. A (wali kelasnya). Mami udah bilangin Nana ga mau sama Ms. D”

Intinya saya boong terus karena pusing denger tangisan stereonya. Dan ini efektif. Anaknya langsung diem dan mau sekolah. Besoknya pas dijemput, paling manyun dikit.

“Mami bilang nggak ada Ms.D. Tadi ada….”

Tapi gitu doang. Saya merasa baik-baik saja. Sampai suatu malam seperti biasa Kirana bilang besok nggak mau ada Ms. D. Mungkin saat itu saya disentil Roh Kudus. Saya merasa cara ini nggak baik. Saya merasa ini ngajarin dia buat menyangkal/menghindar dari rasa takut/nggak sukanya dan bukannya menghadapi.

Jadi saya ngomong

“Na, kita itu hidup, nggak bisa milih-milih bakal berurusan sama siapa. Kadang mungkin ada orang yang kita ga suka. Nana ga suka sama Ms.D tidak apa-apa. Nana nggak harus suka. Tapi itu guru Nana dan Nana harus tetep sekolah. Jadi walau ga suka, harus dihadapi dan tetep harus mau diajar Ms.D”

Sumpeh saya berasa bahasa saya keberatan buat anak 3.5 tahun tapi herannya malam itu dia ga bahas lagi.

Tapi jangan senang dulu… besok paginya sebelum berangkat sekolah, mulai drama lagi. Pagi itu karena ada Raka, sekalian saya tanya.

“Raka, ada guru yang nggak disuka?”

“Ada. Mr. S. Soalnya suka marah-marah”

“Tuh, Na… koko aja nggak suka Mr.S, tapi nilai math koko yang diajar Mr.S bagus loh. Berarti koko tetep rajin belajar walaupun nggak suka gurunya.”

Sekali lagi, saya amazed karena Kirana langsung terdiam dan berangkat sekolah dengan hepi tanpa drama.

Saya waktu itu nggak berharap dia paham. Yang penting asal mau sekolah aja.

Eh tapi pas dijemput pulang sekolah, tanpa ditanya, Nana langsung cerita…

“Tadi ada Ms. D. Nana nggak nangis.”

“Wih keren!!”

“Iya dong… Nana pinter kan”.

….

Duh mami bangga banget loh, nak. Dari ‘laporan’ itu, mami bisa tahu, kamu tetap takut/nggak suka, tapi kamu hadapi. Keren!

Karena semua perasaan kamu itu valid, cuma kita harus belajar mengelolanya supaya tidak menghalangi kemajuan diri kita.

Kita belajar sama-sama ya, Na!

Dihadapi perasaannya, jangan tonjok orangnya ya, Na….