First Day of Primary 2 and Kindergarten 1

Kemarin adalah hari pertama Raka di kelas 2 SD (P2)
Hari ini adalah hari pertama Kirana di kelas TK A (K1)

Seperti semua (atau sebagian besar?) anak-anak Indonesia dan seluruh dunia, tahun 2020 adalah tahun yang spesial. Karena pandemi COVID-19, sejak Maret lalu mereka sebenernya sudah belajar online. Tapi karena waktu itu masih darurat sifatnya, rasanya belum terlalu terstruktur dan terasa ‘kurang resmi’. Hanya sekedar cukup untuk mengejar ketinggalan aja.

Tapi tahun ajaran baru ini, rasanya hampir semua sekolah (ya setidaknya sekolah-sekolah yang saya tahu) menerapkan aturan yang sama. Semuanya sekolah online mengikuti jam sekolah reguler dan anak-anak harus pakai seragam.

Teknisnya gimana? Kalau di sekolah Raka dibagi beberapa sesi zoom (masing-masing 30 menit) sesuai subject, jadi ada break 15 menit setiap ganti subject. Setiap hari ada 3 sesi zoom, dilanjutkan mengerjakan tugas secara offline.

Kirana mirip-mirip, tapi karena masih TK, jadi cuma 1 kali sesi zoom per-hari, lalu mengerjakan tugas secara offline. Setiap minggu ada evaluasi anak via Whatsapp-video-call (small-group)

Rasanya gimana? Untuk Raka sih nggak terlalu ada kendala, mungkin karena anaknya juga udah lebih dewasa. Saya tinggal bantu siapin laptopnya lalu tinggal. Cuma kalo saya intipin… duh skeptis apakah efektif belajar kaya gitu ya. Udah mana kadang signal kurang bagus. Kadang masalah dari signal gurunya, kadang dari signal wifi rumah kami.

Cuma mau gimana… mungkin ini kesempatan belajar lebih mandiri dan adaptasi dengan kondisi yang ada.

Buat Kirana jauh lebih challenging. Anak ini kan modelnya lama panasnya. Waktu baru masuk playgroup juga beberapa hari pertama dramaaaa nangis-nangis. Tapi karena waktu itu ‘terpaksa’ diam di kelas, ya jadi mau ga mau akhirnya adaptasi dan mau mengikuti pelajaran.

Nah beda urusannya sama belajar online. Selama belajar online sejak Maret kemarin, jujur sangat melelahkan. Soalnya si Kirana ini nggak suka banget virtual meeting. Ya ketemu langsung aja dia harus ‘memaksa’ diri gimana virtual gini. Deep down saya paham perasaannya karena saya sendiri aja, yang udah umur segini, rasanya nggak suka…. dan kalo bisa menghindari virtual meeting. Lha gimana ini anak bocah (hampir) 4 tahun… Huhu.

Intinya tiap mau jadwal zoom baik itu sekolah maupun SK, pake drama nangis, kabur, harus dibujuk, daaaaaan seterusnya.

Nah entah kenapa semalem pas mau tidur tiba-tiba dia bilang sakit perut yang berujung 2x muntah, baru akhirnya bisa tidur. Padahal seharian sehat-sehat aja dan kami yang lain nggak ada yang sakit (walau makan menu yang sama dengan Kirana). Saya jadi mikir dia sakit gara-gara nervous mau sekolah. Entahlah.

Yang jelas tadi sih lumayan, setidaknya dia mau (most of the time) duduk menghadap layar, walaupun belum mau menjawab kalau ditanya.

Saya feeling hopeful sajalah untuk besok-besok. Semoga semakin lama pelaksanaannya bisa semakin baik dan semakin terbiasa.

Raka terakhir pake seragam masih gombrong, sekarang udah cingkrang aja. Kirana udah pake rok dooong. Tanda bukan anak playgroup lagi.

Sungguh luar biasa ya tahun ini. Feed sosmed yang biasanya dipenuhi foto anak-anak di gerbang rumah atau sekolah dengan caption “first day of school” , sekarang dipenuhi foto anak-anak di depan laptop.

Melihat itu semua perasaan saya sebenernya campur aduk. Antara sedih dan kasihan sama anak-anak ini harus beradaptasi sedemikian, belajar (lebih mandiri), dan nggak bisa ketemu temen. Tapi juga amazed sama keadaan dan kemampuan kita beradaptasi.

Waktu baru memasuki tahun 2020, siapa sih yang menyangka, keadaan akan sampai begininya?

Yang jelas saya yakin masa-masa ‘kelam’ ini bisa jadi bahan cerita berkesan mereka untuk anak cucu nanti.

Seperti angkatan ortu kita cerita tentang G30S 1965…
Seperti angkatan kita cerita tenang kerusuhan Mei 98…
Angkatan anak-anak kita akan cerita tentang pandemi COVID-19.

Oh ya saya juga angkat topi buat pihak sekolah dan guru-guru. Terlepas dari segala kendala teknis, Usaha mereka buat menjalankan pembelajaran online ini pasti luar biasa.

Kalau kita para ortu mumet, saya yakin mereka juga jauh lebih mumet. Mikirin gimana bisa ngejar target kurikulum dengan kondisi yang kaya gini.

Kalau kita denger sesi Zoom yang ribut dan kacau, mereka pasti lebih pusing, gimana bisa ngajar yang efektif di tengah situasi yang nggak kondusif.

Apalagi kalo gurunya punya anak juga, yang home-based-learning juga. Wah, bisa dipastikan warbiasa sekali perjuangan Anda, guru-guru!!!!

Makanya kalo saya pribadi, milih-milih banget kata-kata saya ketika mau kasih masukan/complain suatu masalah ke guru-guru. Saya yakin, tanpa saya ngomong pun, yang complain pasti udah banyaaaaaak.

Yah begitulah tulisan ini buat kenang-kenangan. Supaya nanti di masa depan, saya bisa mengingat lagi masa-masa istimewa ini.

Kalau buibuk, pakbapak, gimana nih menyambut hari pertama sekolah? Aman?

5 thoughts on “First Day of Primary 2 and Kindergarten 1

  1. Beruntung banget rasanya gue di sini, sekolah udah masuk seperti biasa dari tengah Mei. Dan besok si Tilly masuk kindy pertama kali, entahlah gimana anaknya adjust. Yang jelas bersyukur sama Tuhan keadaan di sini baik, dan berdoa juga semoga di negara lain sekolah bisa segera balik normal. Semangat terus ya Raka n Kirana, plus juga papa mamanya.

  2. Pingback: 2020 – Tahun Pengembangan Diri | Cerita Bendi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.