Fokus pada Apa yang Kita Bisa

Hari ini, seperti biasa, selesai sesi Zoom sekolah, Kirana langsung mengerjakan worksheet yang ditugaskan. Salah satunya ada subject Mandarin.

Tugas hari ini ‘hanya’ menulis huruf hanzi ‘yue’. Setelah selesai, Kirana minta mengerjakan part di bagian atasnya, padahal part ini belum disuruh kerjakan.

Karena permintaannya positif, OK lah saya mau turutin. Tapi masalahnya, ini buku bener-bener full bahasa Mandarin… termasuk intruksinya pun dalam huruf hanzi. Sementara saya nggak bisa Mandarin sama sekali (dan karena part ini belum dijelaskan, saya nggak paham kan disuruh ngapain).

Langsunglah saya buka Google Translate, lalu mulai mengarahkan kamera HP ke kalimat instruksi.

Belum selesai saya (berusaha) baca, Kirana udah ngomong:

“Ini star sama moon… Terus sama boys.
Ini flower sama sun…. Terus sama mommy. So the sun can help mommy washing clothes.”

Saya amazed sejenak, tapi lalu saya perhatikan gambarnya…. Ya iya sebenernya tanpa ngerti instruksi pun udah cukup obvious ini disuruh ngapain. Pantesan Kirana ngerti.

Ironis ya sebenernya… emang suka gini kan orang dewasa… karena kita semakin banyak tahu, semakin banyak juga sadar apa yang kita tidak tahu/tidak bisa, jadinya kita suka langsung sibuk sama permasalahan yang kita tidak bisa dan tidak tahu. Sementara anak-anak, dalam hal ini Kirana, ya mengikuti insting aja, pada apa yang sederhana dan dia bisa: asosiasi gambar.

Saya fokus pada ketidak-bisaan saya, jadi nggak berusaha melihat kondisi secara keseluruhan, dan langsung sibuk mencari solusi dari permasalahan.

Sementara Kirana nggak pusing walaupun dia belum bisa baca, apalagi baca Mandarin. Dia fokus sama apa yang dia bisa. Permasalahan jadi selesai dengan lebih mudah, cepat, dan sederhana.

Dari Kirana, hari ini saya diingatkan untuk kembali fokus pada apa yang kita bisa, bukan apa yang kita tidak bisa.

Ada orang yang nyebelin di circle kita? Kita tidak bisa mengubah orang, tapi kita bisa mengampuni, lalu belajar lebih cuek dan tidak dimasukkan ke hati.

Sesi zoom sekolah anak-anak tidak efektif? Kita tidak bisa mengubah keadaan, toh seluruh dunia mengalami pandemi ini. Tapi kita bisa enjoy aja, berusaha ngajarin sebisanya, lower our expectation, ga usah pusing anak ‘ketinggalan’ toh semua temannya juga mengalami hal yang sama.

((WOW JADI CURHAT))

Intinya gitu lah ya… Stop overthinking. Fokus pada apa yang kita punya/bisa. Jangan-jangan solusi sebenernya sederhana dan di depan mata.

6 thoughts on “Fokus pada Apa yang Kita Bisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.