Korea 2019 – Review Hotel

Desember tahun lalu, keluarga kami bareng keluarga Yohan Vira jalan-jalan ke Korea Selatan. Saya sebenarnya udah nyicil nulis postingan sedikit demi sedikit, tapi karena tahu sendiri ya… tahun ini begitu sibuknya, harus jadi guru di rumah, plus sangat minim waktu luang, jadinya, sekalian saya setting post pertama ini di-publish tepat di tanggal keberangkatan kami tahun lalu: 12 Desember. Lalu postingan selanjutnya akan saya publish tiap dua hari. Jadi kalau yang udah nungguin posting Korea, stay tune yaaa.

Tak lupa mengucapkan, happy 5th anniversary, Yohan Vira! Tahun lalu dirayakan di pesawat, tahun ini di rumah saja, hadiahnya blog post ini ya. Semoga semakin banyak hal yang disyukuri.

Sedikit pengantar, duluuuu saya tuh nggak pernah tertarik loh sama Korea. Saya dulu nggak ngerti apa bagusnya Korea. Saya pikir, kalo nggak ngikutin K-Pop atau K-Drama, kayanya travelling ke Korea nggak terlalu ada daya tariknya.

Saya mulai tertarik sama Korea gara-gara Angie pernah bilang, dia lebih suka Korea daripada Jepang karena pemandangannya mirip-mirip tapi lebih sepi. Dari situ, saya mulai cari tahu tentang Korea dan mulai tertarik. Lalu pas ngobrol sama Vira, dia juga pengen liat salju. Setelah discuss panjang lebar, pas travel fair di awal tahun, kita pun mantap beli tiket ke Korea.

Penantian trip kali ini benar-benar melelahkan. Soalnya pas kita beli tiket itu, dikejar waktu kan untuk dapet harga promo, saya terpaksa ngajak Raka ke tour travel. Jadilah dia tahu kalo kita akan travelling di bulan Desember (waktu itu masih bulan Februari atau Maret kalo ga salah). Ya ampun selama hampir setahun full, hampir setiap hari, Raka tanya “berapa lama lagi kita ke Korea?”

Ya ampun tolong…

Tapi trip kali ini bener-bener rasanya diberkati Tuhan terus. Kita berangkat tanggal 12 Desember 2019. Visa baru bisa dibuat paling cepat 3 bulan sebelum, berarti 12 September 2019. Tapi karena kami semua rada deadliners, jadi nunda-nunda, nggak buru-buru.

Nah tahu-tahu di akhir September tiba-tiba diumumkan kalo selama Oktober-Desember 2019, pembuatan visa Korea gratis! Puji Tuhan banget… lumayan banget loh biaya yang kami hemat. Nah tapi karena gratis, peminatnya jadi membludak, banyak applicant yang bermasalah, proses keluar visa jadi lama atau dipersulit. Tapi visa kami semua terbit tepat waktu tanpa kendala berarti. Puji Tuhan lagi.

Selain itu, di awal Januari tiba-tiba mulai ada berita soal pandemi Covid-19 dan Korea Selatan waktu itu termasuk negara dengan kasus cukup banyak. Dari berita, kami tahu kalau Covid-19 ternyata sudah mulai merebak sejak akhir Desember 2019. Sementara kami baru pulang dari Seoul tanggal 23 Desember 2019. Rasanya seperti diloloskan dari masalah.

Ditambah lagi… doa kami buat bisa merasakan hujan salju, dikabulkan. Padahal (kami baru tahu setelahnya) winter waktu itu suhunya agak tinggi sehingga minim hujan salju. Nanti saya ceritakan detailnya tentang ini ya.

Di post pertama ini, saya mau cerita mengenai hotel-hotel tempat kami menginap. Kami stay di Korea tanggal 12-23 Desember 2019. Selama itu, kami menginap di 4 penginapan. Banyak ya….. Tapi nggak menyesal karena kami memilih keempatnya dengan pertimbangan khusus, dan masing-masing punya kelebihannya sendiri.

Hanok Guesthouse Suni, Seoul

Ini adalah penginapan pertama yang kami booking. Dari awal, saya dan Vira udah bertekad harus ada beberapa hari ngerasain nginep di hanok (rumah tradisional Korea). Sejujurnya, bayangan kami tuh penginapan model gini bakal yang mewah dan fasilitasnya lengkap seperti ryokan di Jepang.

Ternyata hanok di Korea kebanyakan berbentuk guesthouse, jadi memang semacam rumah penduduk yang lokasinya di hanok village, lalu dijadikan penginapan. Bukan sengaja disetting untuk jadi penginapan mewah.

Repotnya, rata-rata guesthouse model hanok gini tuh review-nya kurang bagus. Ya mungkin karena dikelola pribadi ya (bukan hotel management), jadi mungkin memang standarisasi service-nya kurang dan mungkin juga ada kendala bahasa. Udah gitu, rata-rata nggak punya manajemen yang jelas, nggak punya website atau sejenisnya.

Di antara banyak pilihan hanok, akhirnya saya ketemu Hanok Guesthouse Suni. Bentuknya bukan bener-bener hanok. Dari luar bentuknya rumah tinggal biasa, tapi interiornya tradisional. Lokasinya bukan di hanok village dan lumayan dekat ke jalan besar. Ini point plus karena kalo di hanok village biasanya lokasi agak masuk-masuk, harus jalan agak jauh dari halte bus atau stasiun kereta. Point plus juga karena mereka bisa provide Korean style breakfast instead of western menu (karena ternyata rata-rata hanok menyediakan western menu – roti, jam, gitu lah). Udah gitu… harganya sangat terjangkau dibanding hanok-hanok lain dengan fasilitas setara.

Tapi yang paling spektakuler…. review-nya itu loh… baguuuus semua. Yang review agak jelek cuma karena masalah dia gak biasa tidur di kasur lipat di lantai, itu pun langsung dikasih matras tambahan sama Suni (pemiliknya). Udah gitu, dari awal saya coba contact Suni untuk tanya-tanya, sangat fast response, perfect English, dan teramat sangat helpful. (FYI, e-mail hotel dan vendor wisata di Korea tuh lamaaa respon-nya, bahkan banyak yang nggak dibalas, sekalipun itu hotel dengan label international).

Karena kami bawa koper (bukan backpack) dan bawa bocah-bocah, jadi kami minta tolong Suni booking shuttle untuk jemput kami di airport. Sampai di guesthouse, Suni, suami, dan anaknya udah siap di gerbang, bantu angkat koper-koper kami. (FYI Suni ini wanita paruh baya, sangat lancar bahasa Inggris dan sangat ramah. Bingung panggil apa sebenernya, tapi karena dari awal e-mail dia memanggil dirinya Suni, ya udah jadi kita manggil nama aja).

Sempet ada misscomm sama driver shuttle. Kami ditagih lebih mahal dari kesepakatan. Ternyata mereka yang salah karena kirim mobil yang lebih besar dari request kami. Tapi ini selesai dengan dibantu Suni.

Waktu sampai, kami cuma titip koper karena belum waktunya check in. Dia langsung make sure, mana keluarga yang bawa 2 anak, mana yang bawa 1 anak, karena dia mau setting kamarnya.

Begitu balik dari jalan-jalan, tempat tidur sudah digelar. Buat kamar kami, karena dia tahu ada bayi (Kirana), digelar matras kecil tambahan lengkap dengan bantal kecil. Baru aja nyampe, Kirana numpahin susu ke kasur. Aduh ga enak hati banget, tapi Suni langsung sigap ambil matras dan ganti yang baru, dengan penuh senyum.

Masuk kamar pertama kali, jujur aja cukup shock. Saya merasa tertipu dengan review yang begitu bagusnya… karena kamarnya ya ampun kecilnyaaaaaaaaaaaaaa. Kamar kecil, kamar mandi kecil. Udah mana kita bawa 1 koper medium 1 koper gede. Kalo mau ambil barang penuh perjuangan. Sebenernya udah tahu kamarnya bakalan kecil, tapi nggak nyangka segitunya. Duh hari pertama rasanya pengap dan menyesal nginep di sini. Udah mana kita nginepnya 4 malam di sini.

ini saya foto bener2 dari pojok kamar mentok. Jadi ukuran kamarnya bener2 cuma segini. Nggak ada lemari, jadi semua coat dan jaket digantung di dinding. Kalo udah bangun, kasur2 harus dilipat supaya kita bisa buka koper.

Tapi itu hanya perasaan hari pertama, karena pas check out, saya nggak jadi menyesal dan ikutan kasih review baguuus ke Hanok Guesthouse Suni. Kenapa?

Karena biar gimanapun, interior Guesthouse Suni cakep. Terasa tradisional, tapi nggak horror (model rumah tradisional gini biasanya potensial kan buat berasa horror? Tapi Guesthouse Suni nggak ada feel kaya gitu sama sekali). Udah gitu semua terlihat bersih, kinclong, nggak suram. Kalo iseng-iseng, boleh deh cek banding-bandingin hanok guesthouse Suni dengan yang lain. Kalau soal ukurannya kecil, rata-rata hanok guesthouse ya seperti ini ukurannya. Jadi sudah risiko kalau pingin ngerasain nginep di hanok. Kami nggak nyesel, karena pengalaman ini unik dan anak-anak seneng banget.

ini lorong menuju gerbangnya. Jadi dari luar nggak keliatan bangunannya, cuma keliatan gerbang kecil.
dari lorong tadi, ngeliat ke arah dalam, seperti ini bentuknya. Udah cuma segini aja ukurannya. Yang ada Kirana itu kamar kami. Di sisi kanan, ada 2 kamar lagi, salah satunya kamar Yohan Vira.
Di balik pintu ini, ada 2 kamar. Yang sebelah kiri kamar Yohan Vira. Yang sebelah kanan kamar orang lain. Udah, total cuma 3 kamar.
Keriweuhan tiap pagi: pakai perlengkapan winter di depan kamar. Secara di dalem sempit banget dan perlengkapan winter banyak banget.
bonus foto Duo Gemash yang sepatunya kembaran

Service-nya Suni nggak usah ditanya. Tiap pagi dia siapin breakfast ala Korea. Menunya lengkap, ditata di meja kecil, cantik deh. Jadi karena kamarnya kecil, tiap pagi dia ketok-ketok kamar kita, anter meja kecil dengan makanan yang sudah lengkap di atasnya. Di hari terakhir, kami harus berangkat dengan shuttle pagi-pagi, Suni siapin kita breakfast untuk di take away.

breakfast hari pertama. Ini masih didominasi menu western karena hari itu, Suni ngaku dengan jujur bahwa dia telat bangun (karena malamnya abis nganterin temennya ke airport), jadi nggak sempet siapin menu Korean.
Menu hari kedua dan ketiga mirip-mirip kaya gini menunya. Enak dan padat gizi banget. Love lah.

Lokasinya juga top banget. Kiri kanan banyak resto, cafe, dan mini market. Jalan dikit ke belakang, ada jalanan penuh pertokoan mirip di Myeongdong. Jalan ke arah depan, langsung ketemu halte bus.

Tapi ya nggak bisa dipungkiri, cukup engap lama-lama nginep di ruangan super sempit gini. Ditambah lagi temboknya tipis, jadi kita selalu kuatir kalo anak-anak agak berisik, takut mengganggu penghuni kamar sebelah. Jadi, kalo mau cobain hanok, saya rekomen banget Hanok Guesthouse Suni. Tapi kayanya ga usah lama-lama nginep di sini. Dua malam aja kayanya ideal. Hehe.

Holiday Inn & Suites Alpensia

Highlight trip kali ini adalah nginep di snow resort. Snow resort ini semacam komplek penginapan dengan tema olahraga salju (ski, snow board, snow sled). Di Korea ada banyaaaak banget snow resort. Setelah menimbang-nimbang, kami pilih Alpensia karena sepertinya paling ramah anak dan jalur ski-nya cocok buat pemula.

Dari awal, kami ngincer Holiday Inn Resort. Tapi karena mahal, kami booking Ramada Pyeongchang yang lokasinya dekat, tapi di luar komplek Alpensia. Nah untungnya 1-2 bulan sebelum berangkat, saya meneliti lagi review Ramada dan menemukan bahwa daerahnya sepi banget kalo malem dan susah cari makan. Lalu belakangan saya baru ngeh, Holiday Inn di Alpensia ada 2 macam: Resort dan Suites. Yang Suites ini ternyata jauh lebih terjangkau.

Jadi kalo Resort itu bentuknya hotel, lebih mewah, luas kamar lebih kecil. Sedangkan yang suites interiornya lebih basic, lebih seperti apartemen, tapi jauh lebih cocok buat kami karena kamarnya guedeeeeeee. Harga kamar basic di resort dan suites sebenernya sama, tapi bedanya kalau di resorts dengan harga segitu, cuma dapat kamar untuk 2 orang, sehingga kami harus upgrade ke family room. Jadilah kami memutuskan book Holiday Inn Suites.

Dan ini adalah keputusan yang tepat. Untuuung ga jadi nginep di Ramada.

Pindah dari Guesthouse Suni ke sini, rasanya legaaaaa, ploooong, bahagia banget. Unitnya gedeee banget, ada ruang tamu dan dapur dengan peralatan cukup lengkap, dan kamar tidur sendiri. Anak-anak akhirnya gelar kasur, tidur di ruang tamu. Bahagia mereka, macam piknik. Papi Maminya juga bahagia akhirnya tidur dengan lega.

Tiap kamar terdiri dari 2 ruangan seperti ini. Satu ruangan ada sofa, ruang makan, dan dapur. Satu ruangan lagi kamar tidur. Legaaaaaaa (foto diambil dari website mereka ya)
Saya pikir kalau snow resort tuh hotelnya akan berdiri di tengah salju, seperti di film-film. Tapi waktu kami nginep ternyata saljunya hanya di area tertentu. Ini foto dari balkon kamar kami
area main salju
Di belakang kami, tempat penyewaan perlengkapan ski
Karena ada dapur, jadi bisa masak-masak dan makan di kamar hotel. Ngirit.
selalu hepi main di playground. Padahal ini dinginnya no play-play.

Dan keputusan menginap di komplek Alpensia ini pun juga sangat kami syukuri. Komplek Alpensia lengkap banget soalnya. Ada supermarket, macam-macam restoran, cafe, dan playground. Mau main salju juga tinggal ngesot aja. Menurut saya sih jauh lebih worth it nginep di Suites daripada di Resort ya, karena toh fasilitasnya sama aja.

Saking lengkap supermarket dan dapurnya, kami sempet masak sendiri di hotel. Asik banget bisa makan banyak dan enak. Anak-anak juga lebih nyaman daripada makan di restoran.

Hotel Skypark Myeongdong I

Setelah keliling ke tempat wisata, lalu ke Alpensia, seperti turis-turis lain, tujuan kami berikutnya tentu Myeongdong.

Karena niatnya emang mau belanja dan jajan di Myeongdong, kami berusaha mencari budget hotel dengan lokasi strategis. Kalo bisa harga semurah-murahnya, review sebagus-bagusnya. Ketemulah grup Hotel Skypark.

Sempet bingung karena di Myeongdong aja ada 3 hotel Skypark. Kami galau menganalisa yang mana yang lokasinya paling strategis. Akhirnya kami pilih Skypark I. FYI, setelah kami tiba di lokasi, menurut saya sih baik Skypark I, II, dan III masih deketan dan semuanya strategis. Tapi kalo kalian suka Line dan SPAO, Skypark I ini lokasinya persis di sebelah Line Store. Jadi mau bolak balik sering-sering pun gampang.

Saya nggak ada complain apa-apa sama hotel ini. Harganya sangat terjangkau. Kami pilih yang triple room, jadi cukup lega. Fasilitasnya standar, OK, dan bersih. Lokasi tentunya sangat strategis. Recommended deh.

Point plus-nya… tamu hotel Skypark, kalau belanja di Chuu dapat tambahan discount (kalau nggak salah 10%). Lumayan banget ini secara kami emang banyak belanja di Chuu.

lokasinya nempel sama SPAO. Foto dari website mereka
Kamar triple-nya persis kaya gini. Simple, fungsional, dan cukup luas. No complain. Image dari website mereka.

Gyeongwonjae Ambassador, Incheon

Kami nggak sengaja ketemu hotel ini pas nyari-nyari review hanok karena hotel ini konsepnya tradisional.

Wah gile langsung jatuh cinta karena kelihatannya hotelnya cakep buanget. Ada private onsen-nya pula di tiap kamar. Rate-nya memang lumayan spektakuler.

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya kami memutuskan nginep di sini di malam terakhir, satu malam saja. Rate-nya dapet discount lumayan karena saya masih ada member Accor. Apalagi dengan pertimbangan, setelah full jalan-jalan, bisa dianggap ini staycation. Pas juga lokasinya di Incheon jadi (kami pikir) kan udah deket tuh sama bandara, sekalian pulang.

Ternyata… walaupun di Incheon, lokasinya jauh dari Myeongdong (pusat Seoul), dan masih jauh pula dari airport. Gila perjalanan ke sini teramat penuh drama, tapi itu diceritakan nanti ya. Yang jelas, nggak nyesel nginep di sini, berasa jadi putri raja sehari.

Daerah ini kayanya memang semacam suburb buat orang staycation sekaligus komplek apartemen lumayan mewah. Dari hasil googling, rumahnya Song Triplets (Return of Superman) ada di daerah sini. Daerahnya sepiiiii tapi kalo jalan dikit ada pertokoan, ada Lottemart juga.

Hotelnya sendiri memang feel-nya mewah banget. Interior kamarnya mewah, dan yang paling juara tentu onsen pribadinya yang ada di kamar mandi. Bentuknya bak mandi kayu lumayan besar, cukup buat kami berempat. Mungkin gedenya seperti plunge pool di Plataran Borobudur.

Karena anak-anak saya kan cinta air banget tuh ya… puas banget deh rendeman terus di situ. Udah mana cuaca dingin banget… enak banget rasanya berendem air hangat.

Tiap kamar juga punya teras dan taman kecil. Tapi karena cuaca dingin banget, kami nggak betah berlama-lama duduk di situ. Minuman di fridge bebas dikonsumsi, dan air mineral bebas minta nambah berapa aja.

Buat saya pribadi sih, seneng dan refreshing banget rasanya mengakhiri perjalanan yang melelahkan dengan nginep di hotel ini. Tapi menimbang lokasi (yang jauh dari mana-mana) dan rate-nya yang lumayan…. saya nggak terlalu rekomen kecuali memang ada waktu dan budget lebih. Rasanya lebih cocok buat penduduk lokal yang mau staycation aja.

di depan komplek hotelnya. Mirip istana raja di drama-drama
Interior kamar, ada terasnya juga. Foto dari website mereka
Yang paling spesial: private jacuzzi yang ada di tiap kamar. Love banget.
pemandangan di teras
teras juga
teras juga. Terasnya gede tapi cuma buat foto-foto. Siapa yang tahan duduk berlama-lama dingin-dinginan di luar? haha
Bagian tengah hotel.

………………..

Sekian review hotel buat mengawali seri postingan trip Korea 2019. Cerita jalan-jalannya lanjut di post berikutnya ya.

11 thoughts on “Korea 2019 – Review Hotel

  1. Pingback: Korea 2019 – First Day in Seoul | Cerita Bendi

  2. Pingback: Korea 2019 – Lotteworld | Cerita Bendi

  3. Pingback: Korea 2019 – Gyeongbokgung Palace dan Insadong | Cerita Bendi

  4. Pingback: Korea 2019 – Nami Island | Cerita Bendi

  5. Pingback: Korea 2019 – Ski Lesson at Alpensia | Cerita Bendi

  6. Pingback: Korea 2019 – Snow Sledding at Alpensia | Cerita Bendi

  7. Pingback: Korea 2019 – Shopping and Eating at Myeongdong | Cerita Bendi

  8. Pingback: Korea 2019 – Everland in Winter | Cerita Bendi

  9. Pingback: Korea 2019 – Snow Showers in Seoul | Cerita Bendi

  10. Pingback: Korea 2019 – Melewati Segala Halang Rintang Menuju Incheon | Cerita Bendi

  11. Pingback: Korea 2019 – Berburu Playground Song Triplets | Cerita Bendi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.