Korea 2019 – Gyeongbokgung Palace dan Insadong

Korea 2019 post sebelumnya:
Korea 2019 – Review Hotel
Korea 2019 – First Day in Seoul
Korea 2019 – Lotteworld

Tahun sebelumnya, waktu ke Jepang, kami sempat galau mau foto pakai kimono atau nggak. Karena pertimbangan anak-anak masih kecil banget, ribet kalau BAK atau BAB, kami sendiri juga ribet jalannya, plus cuaca dingin, kami memutuskan nggak sewa kimono. Sejujurnya, lumayan menyesal.

Nah kali ini ke Korea, kami bertekad kuat harus photo session pakai hanbok. Apalagi hanbok jauh lebih nyaman dan nggak ribet daripada kimono.

Menu hari ini, ternyata masih kebarat-baratan. Tapi karena udah terlanjur sayang sama Suni, dimaafkan. Haha.
Garlic bread, nugget, yoghurt.
Hari ini hari Minggu, pagi-pagi kereta udah lumayan ramai.

Untuk fotografernya, kali ini kami hire Go Plus. Kalau fotografer Frame A Trip adalah orang lokal, fotografer Go Plus adalah orang-orang Indonesia yang tinggal di Korea. Hari ini kami difoto oleh Bryan, seorang mahasiswa di Korea.

Pagi itu, setelah sarapan, kami langsung menuju ke Hanbok Girls, sebuah hanbok rental di dekat Gyeongbokgung Palace. Hanbok Girls ini direkomen oleh admin Go Plus. Karena setelah baca-baca, sepertinya sih mau rental di mana aja, harganya mirip-mirip, barangnya pun mirip-mirip, jadi kami pilih yang udah direkomendasikan aja.

Hanbok Girls ini tokonya kecil, di gang, dan nggak keliatan. Sementara sebenernya di sepanjang jalan itu banyak banget hanbok rental besar. Tapi setelah saya perhatikan , mungkin Hanbok Girls ini direkomendasikan karena service owner-nya yang OK banget. Seorang ibu paruh baya, yang sepertinya pemiliknya, nggak bisa bahasa Inggris, tapi ramah dan memerhatikan kami banget. Dia milihin padanan yang cocok. Dia concern banget pas ngeliat baju hanbok Raka dan Kirana nggak matching, sampe akhirnya dia ganti biar matching sekeluarga. Lalu dia juga menata rambut kami semua, termasuk Kirana, dengan penuh senyum (hair style ini udah include dalam biaya sewa hanbok). Waktu kami minta ganti hanbok karena maunya yang standard aja (biar murah), dia juga tetep baik responnya.

Nggak tahu sih ya kalo dibanding rental lain, tapi selama di Gyeongbokgung, saya ngeliat rata-rata orang yang pakai hanbok, rambutnya nggak di style. Entah karena nggak ada hair styling atau emang orangnya nggak mau, nggak tahu juga sih.

Selama kami di sana, kami ketemu beberapa rombongan orang Indonesia. Padahal yang bawa mereka bukan guide Indonesia. Entah tempat ini memang terkenal atau kebetulan aja, saya nggak paham juga sih ya. Yang jelas, kami bersyukur dateng pagi-pagi karena pilihan hanboknya masih banyak, dan ibu-ibunya jadi gak terburu-buru bantuin kita milih dan hair styling.

Pilihan motif hanbok. Cakep-cakep deh.
Didandanin
bapack-bapack

Balik ke cerita hari itu, begitu dipakaikan hanbok, Kirana senengnya setengah mati. Mukanya langsung berbinar-binar. Didandanin si ibu pun, dia diem aja sukarela. Padahal pas masa-masa itu, Kirana lagi di fase nggak mau sama sekali sama orang asing. Keliatan banget dia seneng didandanin dan berasa cantik.

Setelah semua selesai, kami jalan ke arah Gyeongbokgung, ketemu Bryan di gerbang, lalu mulai sesi foto. FYI kalau pakai hanbok, gratis masuk ke Gyeongbokgung Palace.

Yang kurang saya perhitungkan adalah… saya lupa bawa snack. Di tengah sesi foto, Raka mulai ngambek karena udah laper. Sementara sebagian besar barang kami (termasuk roti yang saya bawa buat snack) dititip di locker di hanbok rental. Jadilah tengah-tengah sesi foto, Mas Ben lari-lari ke arah jalan besar, cari street food vendor buat beli snack. Nah di sini kami kenalan sama yang namanya hotteok. Pancake korea yang diisi gula merah dan kacang-kacangan. Enak!

Jajan hotteok dulu
Best photo of the day

Tadinya kami rencana foto di Bukchon Village, tapi sesuai rekomendasi Bryan, supaya nggak kejauhan dan kecapean, juga supaya nggak terlalu rame (karena katanya di Bukchon Village pasti rame pengunjung banget), akhirnya kami foto-foto di National Folk Museum of Korea. Lokasinya masih di area Gyeongbokgung Palace. Museum ini outdoor dan menampilkan suasana kehidupan tradisional Korea, mirip TMII gitu lah tapi kecil kompleknya.

Berikut ini hasil foto Bryan-Go Plus. Menurut saya Bryan ini bagus dan sigap nangkep moment candid. Cocok buat foto kami yang bawa anak-anak bocah dan sulit diarahin gayanya ini.

Di bawah ini foto-fotonya udah pindah lokasi ke National Folk Museum of Korea
Tim Bengong
Cewe sendiri tapi kelakuan paling-paling
Eh kabur dia

Selesai foto, kami jalan balik ke arah Hanbok Girls. Di jalan kami beli permen buat anak-anak. Karena warnanya coklat muda, tadinya kami pikir cookies. Eh ternyata permen. Permennya dibentuk karakter-karakter dan dikasih stick jadi seperti lollypop. Belakangan baru tahu bahwa permen inilah yang namanya Dalgona. Dan nama dalgona coffee yang sempet trend itu terinspirasi dari Dalgona Candy ini, sepertinya cuma karena warnanya mirip.

Nggak jauh dari stall dalgona candy, kami melewati lagi gerbang utama Gyeongbokgung Palace, kok kelihatannya ramai orang. Penjaga di pintu depan juga seperti memanggil orang-orang buat masuk.

Wah ternyata kami beruntung banget, pas lewat sana, pas jam prosesi penggantian penjaga. Padahal kami sama sekali lupa soal hal ini dan nggak tahu sama sekali soal jadwalnya. Pas aja gitu. Jadi kami masuk lagi ke palace buat nonton prosesi ini. Precious experience.

FYI, setelah googling, kami baru tahu bahwa jadwal chainging of the guards di Gyeongbokgung Palace adalah jam 10 pagi dan jam 2 siang setiap harinya, kecuali hari Selasa.

Efek ngambek tadi, anaknya ngumpet di stroller
Ngambeknya udah selesai. Lucu liat foto ini, jalan pake hanbok beriringan, dorong stroller, backgroundnya gedung-gedung modern

Selesai prosesi, baru kami ke Hanbok Girls, mengembalikan hanbok, lalu late lunch di…. Isaac Toast. Duh jadi kangen geng Hospital Playlist. Kalo mereka sih makannya Egg Drop Toast. Tapi miriplah.

Rasanya gimana? Enak! saya sih doyan. Walaupun egg sandwich (yang biasanya gurih), tapi rasanya lebih dominan manis daripada gurih. Memang kalo dipikir-pikir tuh kuliner Korea dominannya antara manis dan pedas. Pantesan aja saya bahagia selama di sana (saya doyan manis).

Satu-satunya foto di Isaac Toast. Tempatnya seuprit sempit gini. Kayanya kami kelaperan, jadi nggak foto toast-nya.

Selesai makan, kami galau mau ke mana. Sebenernya saya masih pengen liat Bukchon Village. Tapi mempertimbangkan jalannya yang lumayan dan setelah sampai sana, nggak tahu mau ngapain, karena itu kan sebenernya komplek perumahan tapi dengan arsitektur tradisional. Yang ada nanti semua pada kecapean dan anak-anak bete… akhirnya kami memutuskan sightseeing aja di Insadong sekalian nanti cari makan malam.

Insadong adalah daerah gaul yang nuansanya artsy. Bentuknya sebuah jalan kecil, dengan toko-toko kecil dan cafe-cafe di kiri kanan. Kalo buat saya pribadi, feel-nya agak mirip di daerah Gion, Kyoto.

Karena hari itu hari Minggu, ramai banget, dan semua anak kami udah ketiduran, kami memutuskan cari tempat duduk. Mau duduk di kursi jalan, dingin yaaa. Mau cari cafe, penuh. Akhirnya kami masuk ke Insadong Ssamziegil.

Insadong Ssamziegil adalah sebuah mall kecil yang arsitekturnya unik karena tanpa tangga tapi lantainya terus menanjak, sehingga kalau kita jalan terus, tahu-tahu bisa sampai di lantai paling atas. Kami duduk di tengah lantai dasar.

Di lantai dasar ada penjual poop bread (Dong Bbang) yang antri mengular. Isinya bisa pilih red bean atau coklat. Sebenernya kuenya mirip Deli Manjoo atau bungeoppang, tapi yang bentuk poop ya baru ketemu di sini. Rasanya ya enak, sama seperti kue-kue sejenis yang kami temui di Seoul.

Sementara itu di lantai paling atas ada Poop Cafe. Intinya semua menu ada dihubungkan dengan bentuk poop dan aksesorisnya. Misalnya minuman disajikan dalam gelas bentuk kloset. Kami nggak nyoba sih ke Poop Cafe ini.

But seriously…. ada apa sih antara orang Korea dengan poop? Haha.

Setelah anak-anak bangun, sudah menjelang malam, kami jalan buat nyari makan malam. Malam ini kami mau nyobain Korean BBQ yang asli. Setelah baca-baca review, kami ke 853 Restaurant yang katanya best Korean BBQ in Insadong.

Restonya ada di dalam gang kecil, nggak terlalu besar, tapi penuh. Untungnya setelah waiting list sebentar, kami bisa masuk. Dan begitu kami selesai, udah sold out. How lucky we are.

Pengalaman makan Korean BBQ di tempat asalnya, nggak jauh beda dengan di sini. Sistemnya mirip. Duduk, pesan, keluar banchan, keluar daging, lalu daging dimasak di meja kita. Bedanya kalo di Seoul, yang masakkin oppa-oppa yang lumayan enak dipandang. Haha.

O iya, di tiap meja juga disediakan semacam pouch kain besar buat simpan tas dan coat. Jadi tas dan coat kami nggak kena bau asap.

Rasanya gimana? Sebenernya enak… tapi nggak sampai spektakuler. Dan karena harganya termasuk mahal, value for money nya terasa kurang seimbang. Semacam masih berasa lebih puas makan Magal di Jakarta gitu loh… yang banchan-nya banyak, dagingnya nggak mahal-mahal amat… apalagi kalo pake Zomato Gold ((duh bentar lagi dibully deh)).

Selesai makan, bingung mau ke mana, kamipun jalan balik ke arah guesthouse Suni, karena…. Mas Ben dari kemaren penasaran pengen nyoba restoran ayam di sebelah guesthouse.

Loh abis makan, makan lagi? Emangnya nggak kekenyangan? Ya mohon maap, tadinya juga kami semua protes sama Mas Ben, tapi sampe sana, akhirnya semua makan lagi. Dingin cuy…gampang laper ((pembenaran))

Ternyata resto tersebut adalah resto chicken and beer. Katanya resto chicken and beer di Korea tuh bertebaran di mana-mana ya? Tapi jujur saya cuma ngeh ngeliat yang di deket guesthouse ini, itu juga karena Mas Ben yang naksir. Yang kami datangi ini sih restonya sepertinya bukan brand terkenal. Semacam resto kecil aja, tempat nongkrong mahasiswa buat … makan ayam… dan minum beer.

Yang jelas pas kita masuk rame-rame bawa anak bocah 3 ekor, diliatin orang-orang deh. ((haha)) Duh harap maklum ya, namanya juga turis. Jujur pas masuk tuh kirain ini ya resto biasa aja, nggak sadar kalau ini semacam ngajak bocah-bocah masuk Holywings. Ya iya sih restoran chicken wings…. tapi kan… haha. Untung nggak diusir ya.

Btw, ayamnya beneran enak loh. Sayang saya nggak nyatet nama restonya.

Selesai makan, minum, dan ngobrol, kamipun pulang dan tidur. Hari ini, saya semakin jatuh cinta pada Korea.

Besok kami akan ke Nami Island, yang sering jadi lokasi shooting drakor. Dan memang tempatnya cantiiiiik banget. Lanjut ke next post ya.

12 thoughts on “Korea 2019 – Gyeongbokgung Palace dan Insadong

  1. Hanbok sekarang cakep2 yah nggak kaya jaman dulu gw pergi kayanya bener2 biasa hihihi, tapi dulu gw sewanya di area dalem Gyeongbokgung tapi yah ala kadarnya dan seadanya doang…terus cuma boleh dipake jalan2 dan foto di area sekitaran situ doang jadi nggak boleh jauh2 kayanya
    Akhirnya kesampean yah Din foto keluarga pake hanbok, tar kapan2 balik Jepang lagi foto keluarga pake kimono 😄

    • Kayanya sih yang tempat gw sewa ini emang bagusan hanboknya. Bahan dan warnanya kaya premium padahal kita sewa yang paling standar. Kalo liat yang orang-orang pake, banyak yang biasa aja.
      Amiiin nanti bisa balik lagi ke Jepang foto pake kimono di Gion. Haha

  2. Pingback: Korea 2019 – Ski Lesson at Alpensia | Cerita Bendi

  3. Pingback: Korea 2019 – Snow Sledding at Alpensia | Cerita Bendi

  4. Pingback: Korea 2019 – Shopping and Eating at Myeongdong | Cerita Bendi

  5. Pingback: Korea 2019 – Everland in Winter | Cerita Bendi

  6. Pingback: Korea 2019 – Snow Showers in Seoul | Cerita Bendi

  7. Pingback: Korea 2019 – Melewati Segala Halang Rintang Menuju Incheon | Cerita Bendi

  8. Foto2 pake hanboknya cakep cakep 😍😍😍 ah jadi makin halu mau liburan 😭😭😭

    Kapan bisa liburan beneran kudu nyewa fotografer nih. Biar ada foto2 keren.

  9. Foto2 pake hanboknya keren2 😍😍😍

    Kapan bisa liburan lagi kudu banget nih hire fotografer biar ada foto2 yg proper dan keren.

    Huhu halu pengen liburan jadinya 😭😭😭

  10. Pingback: Korea 2019 – Berburu Playground Song Triplets | Cerita Bendi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.