Korea 2019 – Snow Showers in Seoul

Korea 2019 post sebelumnya:
Korea 2019 – Review Hotel
Korea 2019 – First Day in Seoul
Korea 2019 – Lotteworld
Korea 2019 – Gyeongbokgung Palace dan Insadong
Korea 2019 – Nami Island
Korea 2019 – Ski Lesson at Alpensia
Korea 2019 – Snow Sledding at Alpensia

Korea 2019 – Eating and Shopping at Myeongdong

Korea 2019 – Everland in Winter

Hari ini kami nggak punya banyak agenda mau ke mana. Intinya hari ini free day deh. Cuma kepikiran mau ke Harry Potter Cafe lalu jalan-jalan di daerah Hongdae.

Di Korea ada beberapa cafe bertema Harry Potter. Cafe-cafe ini cuma mengambil tema dekorasinya aja, sepertinya nggak punya lisensi resmi dari Harry Potter.Yang mau kami datangi adalah 943 King’s Cross Cafe, karena ini yang kelihatannya punya dekorasi paling bagus dan lokasinya nggak terlalu jauh.

Karena hari ini emang nggak ada destinasi yang menyenangkan buat anak-anak, dari pagi saya memancing atusiasme Raka dengan bilang mau ke cafe Harry Potter. Strategi ini berhasil, Raka langsung excited sampai mau pake syal-nya (yang memang udah kami bawa dari Jakarta).

Sampai di lokasi, langsung terlihat sapu terbang di bagian depan. Di sini bebas foto, banyak orang-orang lewat yang antri foto dengan tertib. Setelah puas foto-foto, kamipun masuk.

Begitu masuk harus order dulu di front desk, baru boleh masuk ke ruangan-ruangannya. Tapi sementara saya dan Vira (mau) order, bapak-bapak dan anak-anak udah sempet nyelonong liat-liat sebentar sih (makanya ada beberapa foto, jangan ditiru, ini sebenernya nggak boleh)

Kami udah tahu kalau di theme cafe di Korea rata-rata punya minimum spend. Sempet baca-baca kalau minimum spend di sini adalah KRW 8.000/orang. Nah kami udah ngincer mau pesen 1 platter makanan dan 4 minuman saja. Dengan pertimbangan, minumannya kebanyakan kopi dan teh, yang anak-anak nggak bakal banyak minum, jadi kami pikir mendingan pesenin mereka diorderin makanan. Kami kira, yang dihitung hanya total spending-nya saja.

TERNYATA… cara mereka hitung minimum spend-nya adalah, masing-masing kepala (termasuk Ben dan Kirana yang baru 3 tahun), HARUS pesan MINUM. FYI harga minumnya itu starts from KRW 7.500 (kami bertujuh jadi total KRW 52.500). Jadi walaupun kami memang niat mau pesan makanan dan 4 minuman aja yang total harganya sama, tetap nggak boleh. Pokoknya harus pesan 7 minuman (di luar makanan), sementara pilihan minuman untuk anak-anak tuh sedikit sekali.

Sejujurnya ya, saya sebenernya udah pengen jadiin aja (sebagian besar karena Raka udah excited banget) tapi waktu itu udah terlanjur SEBEL BANGET sama attitude waitress-nya yang dari awal nggak ramah. Kerjaannya tuh langsung ‘ngusir-ngusirin’ orang yang baru mau masuk, disuruh order dulu, dengan ekspresi tanpa senyum. Pas kami tanya soal minimum order, cara dia jawab tambah nyebelin, padahal itu masih pagi loh. Walaupun kalau dipikir-pikir mungkin dia juga udah pusing karena hari itu Sabtu, mungkin banyak turis yang nanya melulu kayak kami.

Tapi tetep aja, saya jadinya udah keburu bete, Vira juga nggak merasa worth it harus spend segitu.

Jadi kami cancel.

Dan ngambeklah Raka. Huhu.

Nangis sedih banget…. banget…banget…. Sampe sekarang saya masih keinget ekspresi dan tangisan dia. “Udah siap-siap dari hotel… udah pake syal… katanya mau ke Harry Potter Cafe”

Karena udah mendekati jam makan siang, kami masuk ke resto kecil di sebelahnya. Di sini Raka masih nangis sedih. Kami sempet goyah, Benny mulai minta pendapat saya, apa dia aja masuk berdua sama Raka ke sana. Jujur saya juga pengen banget ngijinin, apalagi ini lagi travelling, nggak tahu kapan ke sini lagi. Tapi… hati ini merasa ‘salah’ kok mengubah keputusan karena ‘nggak tahan’ tangisan dia, padahal kami udah tegas dari awal.

Kali ini masalahnya udah bukan soal uang tapi soal didikan. Dilema banget deh rasanya… Susah ya jadi orangtua.

Pada akhirnya kami tetap nggak masuk ke cafe itu. Raka berhasil agak terbujuk dengan rayuan nanti sampe Jakarta kita ke Mall Taman Anggrek aja, pas lagi ada dekorasi Harry Potter. tapi terus nggak lama setelah kami sampai Jakarta, banjir dan MTA tutup lama banget sampe bubar tu Harry Potter, lalu lanjut PSBB. HAHAHA EMANG GA JODOH!

Intermezzo… kalo dipikir-pikir kejadian ini tuh nyebelin banget deh. Soalnya Raka tuh sebenernya nggak suka-suka amat Harry Potter. Dia baru kenal Harry Potter tahun lalu pas ke Universal Studio Osaka. Pulang dari sana, dia baru mulai nonton beberapa film-nya tapi itu juga keliatan nggak terlalu ngerti dan terkesan. Jadi dia ngambek lebih karena ada kejadian yang tidak sesuai rencana dan ekspektasi awal. Sedangkan yang menaruh ekspektasi itu siapa coba? KAMU, DINA! Haha senjata makan tuan.

Yah sudahlah… Kembali lagi… inilah seninya travelling bawa anak. Seru!

Balik ke cerita hari itu…. setelah makan siang, kami jalan kaki ke daerah Hongdae yang memang nggak jauh-jauh amat (tapi ya sebenernya jalan kaki sih berasa juga. haha haha haha). Hongdae adalah daerah gaul anak muda. Sepanjang jalan banyak toko-toko kecil yang jual fashion item dan jajanan.

Begitu sampai di jalan besar, ada daerah yang sepertinya memang disediakan untuk para street performer. Ada yang nyanyi, nari, main alat musik. Apalagi hari itu hari Sabtu, jadi sepertinya memang lagi ramai-ramainya. Menyenangkan deh suasananya.

Di tengah jalan, beli Oreo Churros dulu untuk menghibur hati Raka yang sedih.

Sambil sightseeing, kami menuju ke tujuan berikutnya: Sappun Store. Vira mau beli sepatu. Nah, menjelang sampai di Sappun, Vira mulai komen:

“Ini apa sih? salju, ya?”

Tapi karena masih dikit banget dan setetes-setetes, kami masih ragu apakah itu salju atau gerimis aja. Waktu sampai di Sappun, semakin jelas bahwa itu beneran salju! Emang dikiiiiiit banget sih, tapi kami udah kegirangan.

Maklum ya, dari Jakarta saya dan Vira udah berdoa supaya kami bisa ketemu salju beneran. Udah tenang karena kami pikir pasti ketemu salju di snow resort. Eeeeh ternyata di Alpensia saljunya buatan. Nunggu-nunggu hujan salju, nggak dateng-dateng. Makanya… ngerasain salju seiprit aja kami udah bahagia.

Oiya.. puji Tuhan, salju yang seiprit ini cukup buat mengembalikan mood Raka sepenuhnya. Sebelumnya udah mulai hepi karena di jalanan Hongdae banyak instalasi unik-unik, tapi pas ketemu salju seiprit ini, langsung hepi banget. Padahal bapak-bapak dan anak-anak nunggu lama di luar toko Sappun (karena di dalam rame) tapi mereka cukup hepi.

Dari Sappun, kami jalan ke toko Kwani. Kali ini saya yang mau belanja, udah lama naksir tas mereka. Sebenernya ini rute jalannya lumayan, nggak deket banget. Tapi buat naik bus atau train juga terlalu merepotkan. Jadi kita jalan kaki santai aja.

Naaaah pas udah mau sampe, salju yang turun tambah lama tambah deras… woooow snow shower!

Sementara orang lokal langsung pada buka payung, kami bertujuh malah ujan-ujanan salju kegirangan sambil foto-foto. Ya monmaap, norak dan bahagia….

Saya dan Mas Ben sebenernya udah pernah ngerasain hujan salju beneran tahun 2015 di Mount Titlis. Tapiii waktu itu mah badai salju. Nggak keliatan apa-apa dan dingin banget. Sedangkan ini tuh hujan salju yang cantik di tengah kota.

Selama di dalam Kwani store, hujan salju terus turun. Waktu kami keluar, sudah mulai mereda, dan sebagai gantinya, jalanan dan pohon-pohon tertutup salju putih tipis. Cantiiiiiiik.

Bersyukur banget deh karena hujan salju itu nggak tahu kan kapan datangnya. Selama 12 malam kami di Korea aja cuma ngerasain sekali gini. Banyak temen-temen kami yang pergi di bulan-bulan yang sama tapi nggak ngerasain hujan salju. Feel so blessed. Tuhan kasih kami hadiah hujan salju di hari yang paling nggak kami rencanakan. Perfect jadinya, setiap hari terasa berkesan.

Setelah foto-foto (heran kok begitu ada background salju, tone fotonya langsung jadi cakep-cakep), kami ngopi-ngopi di Starbucks sambil ngobrol, menikmati pemandangan, dan mikir mau ke mana setelah ini.

Akhirnya kami memutuskan memenuhi hasrat Benny liat-liat kamera Leica di salah satu counternya di daerah Gangnam, sekalian sightseeing. Setelah melalui perjalanan lumayan panjang, counter Leica-nya udah tutup dong. Sepertinya itu adalah kantornya, bukan toko, dan itu hari Sabtu.

Akhirnya karena udah di area yang sama, kami memutuskan jalan kaki ke daerah Gangnam, mau cari makan malam. Tapi ini menjadi sebuah drama penuh rasa lelah dan lapar.

Daerah Gangnam itu berupa jalan raya sangat besar dan banyak simpangan. Dari kantor Leica ke daerah ramai Gangnam aja tuh kita udah jalan lumayan jauh. Lalu buat nyeberang jalan ke daerah yang banyak resto, nggak bisa lewat atas, harus lewat underground. Sementara saat itu kami bawa stroller berisi anak-anak yang udah kecapean dan kelaperan.

Pe Er benget deh.

Kami berhasil turun ke underground, tapi pas mau naik lagi di sisi seberang, tangganya tuh penuuuuuuuuh manusia kaya halte busway Harmoni pas jam pulang kantor. Jangan tanya lift-nya gimana, wong tangganya aja kaya gitu.

Akhirnya kami naik ke arah mana ajalah yang masih manusiawi keramaiannya. Lalu bingung mau makan apa dan akhirnya kami makan The Halal Guys dong. Ke Korea makan Halal Guys. Eaaaaa. Bodo amat, udah laper berat.

Selesai makan, kami langsung balik ke Myeongdong. Malam terakhir di Myeongdong, jadi kami belanja sedikit oleh-oleh yang masih kurang dan puas-puasin jajan-jajan lagi (mirip-mirip di Jakarta, street food kebanyakan buka di malam hari).

Hari ini diakhiri dengan packing karena besok kami mau pindah ke hotel terakhir. Karena hotelnya hotel bagus, kami rencananya mau santai-santai macam princess besok. Little did we know, tomorrow we will face another unforgetable adventure.

Lanjut di post berikutnya ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.