Korea 2019 – Melewati Segala Halang Rintang Menuju Incheon

Korea 2019 post sebelumnya:
Korea 2019 – Review Hotel
Korea 2019 – First Day in Seoul
Korea 2019 – Lotteworld
Korea 2019 – Gyeongbokgung Palace dan Insadong
Korea 2019 – Nami Island
Korea 2019 – Ski Lesson at Alpensia
Korea 2019 – Snow Sledding at Alpensia

Korea 2019 – Eating and Shopping at Myeongdong

Korea 2019 – Everland in Winter

Korea 2019 – Snow Showers in Seoul

Wow judul postingan ini sungguh dramatis, bukan? Yah gimana nggak… tujuan awal kami hari ini mau santai-santai cantik di hotel bagus, malah harus berpetualang melewati segala halang rintang. Perjalanan pindah hotel yang seharusnya memakan waktu cukup 2 jam saja, ditempuh dalam waktu 6 jam.

Karena itu, postingan kali ini sangat minim foto. Ya karena kami emang menghabiskan setengah hari dalam perjalanan, sambil bawa koper segambreng, dan bocah tiga ekor, manalah ada energi buat foto-foto. Tapi… pengalaman hari ini sungguh teramat berkesan dan layak dikenang. Apalagi mengingat bahwa kami melalui semua tantangan tetep sambil ketawa-ketawa aja.

Begini ceritanya…

Hari ini memang tujuannya santai-santai. Jadi pagi-pagi, setelah beres packing dan titip koper di lobby, kami keluar buat cari makan siang. Tujuan kami adalah mau coba makan samgyetang (Korean ginseng chicken soup). Karena ini plan dadakan, saya baru browse lokasi pas udah mau jalan. Saya cari list rekomendasi resto samgyetang di Myeongdong dan memilih salah satu. Jujur lupa nama restonya, karena…..

ini adalah pengalaman makan terburuk selama di Korea.

Waktu kami baru masuk, disambut dengan sangaat ramah tapi agak pushy. Pas kami duduk dan mau order, kami tuh berencana pesan samgyetang-nya 1 aja (karena emang feeling nggak semua suka), lalu kami mau pesan lauk yang lain. Mbak-mbak-nya ‘maksa’ kami pesan 4 porsi karena menurut dia itu porsinya untuk 1 orang. Jujur, saya sampai sekarang masih sanksi apa iya, karna porsinya tuh gede banget.

Setelah agak ngotot, akhirnya kami total pesan 2 samgyetang dan 1 ayam panggang. Wah mulai dari situ, service yang tadinya sangat lebay ramahnya, berubah jadi kasar. Jelas-jelas banget perubahan sikapnya dan sengaja ngomongin kami di belakang pakai bahasa Mandarin (bukan Korea- kami nggak ngerti kedua bahasa itu tapi bisa bedain). FYI memang staff dan ownernya sepertinya Chinese, bukan Korean.

Hati udah berasa nggak enak, tentu saja makanan juga langsung berasa nggak enak.

Ya saya tahu sih, di beberapa negara, kalau di resto tuh sebenernya ada culture untuk wajib mesen 1 porsi/orang. Saya nggak tahu apakah waktu itu case-nya begitu, makanya mereka kesel banget sama kami. Tapi tetep aja sih, selama ini (di negara manapun) belum pernah ngalamin dikasarin begitu.

Btw, karena penasaran, saya googling berusaha mencari nama restonya. Dan setelah baca Goggle review-nya, beberapa kasih review bagus banget, katanya rasanya sangat authentic. Mungkin bener sih ini rasanya mungkin authentic (kami nggak ngerti, tapi mungkin karena terlalu authentic, rasanya pun kurang masuk di lidah kami). Dan kelihatannya yang kasih review bagus Chinese-speaker.

Tapi beberapa orang kasih review jelek banget dengan alasan yang sama dengan kami: owner dan staff tidak friendly, harus pesan 1 porsi per orang dan ketika pesan di bawah itu, langsung dijutekin, dan rasa sup-nya tawar. Persis lah seperti review saya, jadi sepertinya cukup objektif penulisan saya.

Jadi kalau menurut saya, kalau kalian big-eater, bisa ngomong bahasa Chinese, dan mau coba samgyetang tradisional yang authentic, mungkin ini pilihan yang tepat. Tapi kalau kalian turis macam kami, yang nggak bisa Chinese maupun Korean, dan cuma pengen icip-icip aja (jadi nggak mau makan dalam porsi besar), mungkin bisa cari resto lain aja yang lebih mainstream. Nama dan alamat restonya saya tulis di sini ya.

백제삼계탕 South Korea, Seoul, Jung-gu, Myeongdong 2(i)-ga, Myeongdong 8-gil, 8-10

Ya sudah lah ya… memperkaya pengalaman. Setelah itu, kami belanja jajanan di GS25, ke Line Store (lagi) untuk beli oleh-oleh, balik ke hotel buat ambil koper, lalu berangkat ke stasiun buat naik subway ke hotel terakhir: Gyeongwonjae Ambassador Hotel.

Menurut Naver Map, lama perjalanan kami adalah sekitar 1,5 jam. Naik 2x subway dan 1x bus. Setelah encok pegal linu ngangkat koper-koper dan anak-anak bocah yang ngantuk, sampailah kami di halte bus terakhir. Wow antriannya panjang, outdoor pula (dingin jadinya kan ya).

Waktu bus-nya mulai datang satu persatu, kami mulai feeling nggak enak karena bentuk bus-nya macam bus AKAP (bus yang tinggi dan padat kursi, bukan model yang tengahnya lowong macam MRT/LRT seperti bus-bus di dalam kota Seoul) dan padat penumpang banget.

Yohan mulai nyeletuk, “Waduh, kalo kita nggak boleh naik (karena bawa koper gede-gede plus stroller), gimana nih?”

Saya, si maha woles yang pede jaya nyaut, “Nggak laaaah… masa iya sih nggak boleh naik? Minta bukain bagasi bawahnya aja tuh.”

Trus beneran kejadian dong. Setelah kami antri lama (20 menitan kayanya), sampai di paling depan, bus-nya sampai, driver-nya ngeliat barang-barang kami cuma lambai-lambai tangan, nggak kasih naik, lalu pergi.

JENG JENG JENG JENG.

Sempat-sempatnya mengagumi tanaman entah apa ini, di depan stasiun

Mulai panik, udah mana anak-anak udah cranky dan kedinginan… Di halte bus kami coba minta tolong 2 anak muda, nanya gimana cara manggil taksi ke sana. Mereka berusaha bantu, telepon temennya buat tanya-tanya, tapi sepertinya mereka juga kebingungan.

Setelah diskusi, akhirnya, kami memutuskan kembali ke subway station, dan cari jalur yang tidak naik bus (semuanya pakai train).

Singkat cerita, akhirnya kami berhasil menginjakkan kaki di hotel jam 7 malam, dalam kondisi badan rentek karena gerek koper, stroller, dan anak-anak teler, dan semua belum makan malam. FYI kami berangkat dari Myeongdong sekitar jam 1 siang.

LUAR BIASA

Selama perjalanan yang melelahkan itu, kami banyakan cuma menertawakan diri sendiri “Gile ini kalo naik pesawat udah sampe Jepang ini… Kalo naik mobil dari Jakarta udah sampe Yogya”. Padahal kan ini kondisi rawan berantem banget ya, bisa saling menyalahkan, atau bete-betean. Di sinilah saya merasakan pentingnya punya travel partner yang sehati… Luv banget lah sama mereka.

Kembali ke cerita hari itu…. Dari stasiun kan kita jalan kaki sekitar 20 menit sampai di hotel. Baru liat penampakan hotelnya dari kejauhan aja tuh rasanya spirit udah kembali 80% karena hotelnya beneran cakeeeep. Apalagi kami sampe kan malem-malem, jadi lampu-lampunya udah pada nyala, mirip istana Korea jaman dulu.

Apalagi begitu masuk kamar dan ngeliat private onsen-nya. Oh Wow. Sooo happy. Onsen-nya dari kayu, ada di dalam kamar mandi. Kamarnya sendiri nggak terlalu gede, tapi cantik, standar hotel bintang lima lah. Semua snack di mini bar free, air mineral bisa minta tambah, dan ada teras di depan.

Untuk makan malam, saya dan Vira jalan ke GS25 terdekat (jalan kaki sekitar 10 menit), beli macam-macam ramen, lauk, buah-buahan lalu bawa pulang dan makan di kamar.

Sepanjang malam itu kami benar-benar menikmati leha-leha di kamar dan most of the time, rendeman di onsen aja. Gile nikmat dunia. Apalagi setelah cape banget di perjalanan, rasanya sempurna banget.

Nggak terasa, besok kami udah harus kembali ke Jakarta. Waktu nyusun itinerary, 13 hari rasanya lama banget. Tapi pas dijalani, nggak terasa ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.