Parenting Styles (Updated)

Gara-gara nulis soal jalan-jalan ke Teras Wangun, saya nggak sengajak baca ulang postingan lama tentang parenting styles saya dan Benny. Postingan tersebut ditulis Oktober 2011, berarti hampir 10 tahun lalu. Waktu itu kami belum menikah dan belum punya anak. Jadi tulisan tersebut sebenarnya hanya merupakan prediksi (berdasarkan hasil pengamatan saya) tentang akan seperti apakah parenting style kami.

Kalau dari postingan tersebut, bisa disimpulkan prediksi saya waktu itu adalah sebagai berikut.

Benny:
Protektif, hati-hati, suka memberi nasehat dan kata-kata bijak.

Dina:
Cuek, suka memotivasi, dan mencoba hal-hal baru.

Dan kita berdua sama-sama ingin anak-anak berani mencoba hal baru, adventurous, dan mandiri.

Nah… itu kan predisi 10 tahun lalu ya. Setelah punya anak sendiri, bagaimanakah realitanya? Apakah prediksi saya tepat?

Jawabannya…

.

.

.

.JENG JENG JENG

.

.

.

PERSIS 100%!!!!

Jujur saya tadinya lupa sama sekali kalau pernah nulis postingan tersebut. Tapi waktu saya baca, lumayan amazed karena dari 10 tahun lalu ya kami berdua memang seperti itu dalam bersikap ke anak-anak, baik itu ke keponakan maupun sekarang ke anak sendiri. Ternyata karakter dan standar kami nggak berubah.

Makanya sampai sekarang, Benny yang lebih sering ngobrol panjang lebar sebelum tidur sambil menyelipkan nasehat-nasehat yang inspiring ke anak-anak. Sering tuh mendadak Raka bisa menjelaskan sesuatu dengan ‘dalem’, yang setelah saya tanya, ternyata tahunya dari Papi.

Kalau saya, bagian nanya balik kalau anak-anak nanya, supaya mereka ketemu jawaban sendiri. Saya juga bagian nantangin mereka supaya mau berjuang memberikan yang terbaik dan berusaha jadi versi yang lebih baik dari diri mereka.

Kami berdua juga sepaham, suka cari hal-hal baru yang belum pernah anak-anak coba, biar pengalaman mereka banyak. Makanya dulu sebelum pandemi, kami suka banget jalan-jalan ke macam-macam museum, galeri seni, nonton teater, perpustakaan, taman kota, pantai, juga nyobain berbagai macam kendaraan umum. Oooh… how I miss those days…

Sumber ketidaksepahaman kami juga masih sama, yaitu karena Benny yang (menurut saya) terlalu protektif dan banyak larangan, sementara saya (emang iya) suka terlalu sembrono. Ya menurut saya sih kami yang seperti ini memang disatukan Tuhan supaya mencapai titik kesetimbangan. Karena kalau saya parenting tanpa Benny, mungkin anak saya udah benjol, memar, baret sana sini. Dan kalau Benny tanpa saya, hal-hal yang mereka coba, nggak sebanyak sekarang.

Jadi kalau ada yang bilang idealisme parenting bakal bubar setelah punya anak sendiri, sepertinya itu nggak berlaku di kami karena ternyata kami dari dulu ya kaya gini. Dipikir-pikir bersyukur banget kami udah saling mengenal tentang prinsip dan karakter parenting kami dari sejak pacaran, jadi setelah punya anak, setidaknya udah ada bayangan.

Contoh paling sepelenya ya… misalkan saya pengen ajak anak-anak ke museum, teater, dan galeri, tapi suami saya nggak suka hal-hal macam itu, dan lebih suka ajak anak-anak ke objek wisata yang memang buat anak-anak seperti playground atau kebun binatang. Atau saya pengen ajak mereka camping sementara suami ogah, maunya di hotel aja yang nyaman dan aman. Kan zonk jadinya. Ini masalah nggak prinsip, tapi lebih asik kalau satu minat kan.

Pesan moralnya, buat yang belum punya anak tapi kelihatannya punya parenting style yang beda dengan pasangan, monggo diobrolin dan disepakati dulu loh, biar lebih mulus di kemudian hari.

Sekian posting hari ini. Semoga tahun 2031 saya bisa update lagi, bagaimanakah parenting style kami menghadapi anak-anak usia remaja.

((wow seram))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.