Lockdown Rambling

Tak disangka-sanga, trip camping kami 2 minggu lalu jadi trip terakhir sebelum lockdown ketat lagi. Pas kami pulang, besoknya berita-berita kenaikan angka covid mulai bermunculan di mana-mana. Persis seperti tahun lalu, waktu kami ke Yogya, besoknya lockdwon dan mulai school from home.

Tahun lalu, lockdown dimulai dengan hopeful. Waktu itu belum ada bayangan seberapa parah dan lamanya pandemi ini. Pengumuman school from home waktu itu baru 2 minggu saja. Jadi waktu itu lockdown rasanya dimulai dengan sedikit lebih ringan.

Beda dengan saat ini. Setelah 1,5 tahun pandemi, beberapa bulan kemarin situasi sempat terasa sedikit lebih tenang. Kami mulai berani piknik dan staycation walau dengan prokes ketat dan selalu memilih yang outdoor. Mulai consider dan berharap dengan sekolah tatap muka (tadinya ogah 100%). Rasanya mulai ada secercah harapan, eh tapi lalu mendadak terasa dibanting lagi. Malah sekarang rasanya jauh lebih mencekam daripada tahun lalu.

Sudah dua event mendatang yang ditunggu-tunggu terpaksa harus dibatalkan. Sungguh hati kecewa berat, tapi kepala sadar ini pilihan terbaik.

Setiap hari rasanya ada berita “si itu positif, si anu positif” termasuk sampai ke inner circle. Jujur udah nggak sekaget tahun lalu waktu dengar berita-berita serupa, karena sepanjang pandemi ini, sudah cukup banyak orang di inner circle kami yang positif. Tapi ya tetep aja. Udah mana sosmed isinya penuh berita-berita mengerikan tentang pandemi. Apalagi gelombang yang sekarang ini, banyak sekali kena ke anak-anak.

Sebenernya pas baca dan dengar berita-berita itu, saya merasa biasa-biasa aja. Tapi ketika maag mulai kumat, saya mulai sadar sepertinya secara nggak sadar, saya mulai terpengaruh.

Semalam, saya tiba-tiba inget sebelum pandemi, tiap weekend kami suka random jalan-jalan naik Trans Jakarta, berkunjung ke museum, ke Kota Tua, main di Lapangan Banteng. Hal-hal sederhana yang sekarang terasa sangat mewah, dan nggak tahu apakah suatu saat kami bisa seperti itu lagi, sebebas itu.

Boro-boro mikirin travelling ke Bali atau ke luar negeri. Nggak loh, ternyata yang bikin saya mellow hanya hal-hal se-simple itu. Nggak terasa air mata menetes. Ya walaupun sebagian memang salah si hormon sih. Cih.

Jadi, maafkan kalau posting hari ini super mellow dan tidak terstruktur. Saya biasanya nggak suka nulis hal-hal sedih di blog. Tapi rasanya ini bisa jadi kenang-kenangan untuk nanti dibaca di masa depan ketika semuanya (hopefully) sudah lewat, bahwa kita pernah ada di kondisi seperti ini.

Lagian ya emang butuh mengeluarkan segala kegalauan ini aja sih. Bukan berarti tidak bersyukur, saya sadar kami jauh lebih beruntung daripada banyak orang di situasi sekarang. Tapi bersyukur juga bukan berarti nggak boleh sedih once in a while kan.

Sim salabim, pergilah Covid dari muka bumi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.