Keto Diet – Yeay or Nay?

Disclaimer dulu: Saya bukan ahli gizi, bukan dokter, bukan praktisi medis. Tulisan ini berisi pendapat pribadi. Jadi kalau ada yang nggak setuju, let’s agree to disagree. Tapi jangan galak-galak di komen, hatiku seperti tahu, gampang hancur. Haha

Tulisan tentang keto diet ini, jujur sudah saya janjikan sejak 2018 dan ada beberapa orang yang waktu itu nungguin. Tapi maju mundur nulisnya karena dulu belum yakin. Sekarang, dengan berbagai pertimbangan, karena sudah yakin dengan keputusan saya, akhirnya memantapkan hati buat nulis ini. Semoga masih ada yang mau baca dan masih relevan.

Saya dan Benny menjalankan keto diet kira-kira sejak akhir 2017 sampai pertengahan 2018. Dalam waktu singkat itu, Benny turun sekitar 15 kg. Sepuluh kilo pertama hanya dalam waktu 2 bulanan. Sementara saya ‘hanya’ turun 5 kg, dari 59 kg ke 54 kg. Keliatannya kecil penurunannya dan nggak kurus-kurus banget juga, tapi saya terakhir punya berat 54 kg tuh pas SMP. Jadi waktu itu lumayan amazed juga.

Di luar penurunan BB itu, saya juga merasa lebih segar, nggak ngantukan, rhinitis alergi, sakit kepala, dan maag jauuuuh berkurang, jarang banget kambuh. Jadi, bisa dibilang sukses dan bermanfaat kan ya? Tapi pada akhirnya, saya (kami) memantapkan hati untuk tidak menjalaninya lagi.

Nah, kenapa? Mari saya mulai ceritanya.

Awalnya kami kenal keto diet karena ada beberapa kenalan kami yang menjalankan duluan, dan mereka sukses banget menurunkan berat badan. Tapi kami sendiri awalnya skeptis.

Buat yang belum tahu, keto diet itu konsepnya adalah konsumsi 75% lemak, 20% protein, 5% carbs. Karbo itu bukan cuma nasi loh ya, tapi segala jenis carbs dibatasi maksimal 25 gram sehari, termasuk yang terkandung di dalam buah-buahan dan sayur-sayuran. Carbs di sini termasuk segala bentuk gula, bukan cuma gula pasir, tapi termasuk laktosa (gula di susu) dan fruktosa (gula di buah).

Jadi konsep awalnya sendiri, udah mendobrak pengetahuan kami selama ini. Yang selama ini menjauhi lemak, eh sekarang disuruh konsumsi mayoritas lemak, ya walaupun tetap dianjurkan lemak baik, tapi tetap aja ya, awalnya sungguh membuat skeptis.

Tapi karena waktu itu kami sama-sama udah desperate merasa udah olahraga dan kurangin makan, tapi susah banget turunin BB, jadi kami pun iseng-iseng nyoba.

Iseng-iseng seminggu, eh turun banyak, dilanjutkan 2 minggu, daaan akhirnya lanjut karena penurunan BB nya bener-bener signifikan. Seperti saya bilang di atas, saya ngerasain bb 54 kg tuh terakhir pas SMP. Waktu merid aja bb saya sekitar 57 kg.

Di luar itu, saya yang biasanya harus selalu sedia tissue di samping ranjang, karena pagi-pagi pasti meler, eh tissue saya habis, tapi saya nggak nyari ya? Wah rhinitis saya jadi nggak pernah kambuh. Lalu saya yang selalu harus sedia obat sakit kepala dan obat sakit maag, eh nggak pernah minum lagi juga. Loh loh… magic!

Ada efek negatifnya nggak? Ada juga. Beberapa bulan pas awal-awal keto diet, menstruasi saya jadi tidak teratur. Selalu tetap mens sih, tapi jadwalnya jadi berantakan. Padahal biasanya, siklus mens saya tuh sangat-sangat tepat waktu. Tapi waktu itu denial, karena mikirnya yang penting tetep dapet mens lah.

Selain itu, kadang-kadang saya jadi suka kesemutan, tapi karena nggak terlalu menggangu, ini juga saya denial. Yang belakangan, saya paham ini terjadi karena kekurangan mineral-mineral.

Jujur aja, kalau ditimbang antara efek positif dan negatif di atas, seharusnya saya akan jadi lebih pro keto diet kan ya? Tapi ada satu efek lain yang jadi pertimbangan, yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk tidak keto lagi.

Efek psikologis.

Di keto diet, jenis makanan sangat dibatasi. Jadi tuh ada masanya, saya sama Benny kalo nge-date, bingung mau ke mana karena pilihan resto atau cafe yang ada, nggak ada pilihan yang keto-friendly. Atau kalo lagi kumpul-kumpul sama temen, pilihan menu kami jadi sangat terbatas. Bayangin pesen burger tapi rotinya nggak dimakan? Atau makan fried chicken tapi semua kulitnya dibuang? Haha. Sedih loh, karena kami ini aslinya sangat suka kuliner.

Lalu saya juga jadi males bikin roti atau kue buat anak-anak karena saya nggak bisa makan. Saya cuma baking dessert yang keto-friendly, yang mana nggak semuanya disukai anak-anak saya. Kasian kan mereka.

Selain itu, jujur saja, selama menjalani keto diet, hati saya tuh nggak pernah mantep. Selalu macam ada peperangan di hati. Jadi di kepala saya tuh seperti merasa ‘nggak suka’ dan diet model food restriction gini. Rasanya kok ada yang salah. Masa iya mau makan jeruk, apel, atau pisang aja jadi mikir-mikir karena tinggi gulanya? Padahal buah-buahan tersebuh terkenal mengandung banyak vitamin dan mineral kan.

Before-after keto diet. Tapi saking conflicted di kepala, si Benny kalo ditanya orang, diet apa, suka nggak ngaku keto diet.

Tapi karena merasa dietnya sukses, jadi masih suka mencari pembenaran, karena forum-forum keto diet juga banyak loh yang bisa memberikan penjelasan-penjelasan medis di balik keto diet ini.

Dilema terbesar adalah karena saya ingin anak-anak saya punya body image yang baik dan punya lifestyle yang sehat. Gimana mereka bisa seperti itu kalau saya aja hidup dengan food restriction dan body image yang nggak jelas, yang tiap hari mikirin berat badan?

Dilema ini semakin menjadi-jadi, waktu saya perhatikan, Raka mulai concern sama ukuran badannya. Tapi sekali lagi, karena saya masih pengen turunin bb (karena sempat naik lumayan setelah liburan), saya masih agak-agak denial.

Yah intinya prosesnya lama dan pelan-pelan, sampai akhirnya mantep dan post ini saya tulis juga.

Dari 2018, saya mulai beralih baca dan follow orang-orang yang pro diet seimbang dan kontra keto. Dan rasanya semua argumen mereka jauh lebih masuk ke akal saya. Menurunkan berat badan itu ya intinya defisit kalori aja. Kalau udah merasa kurangin makan tapi bb ga turun-turun ya kemungkinan ngurangin makanannya cuma perasaan aja. Coba kalau kalori yang masuk dihitung dengan teliti, kemungkinan besar sih nggak defisit. Saya tahu, karena saya juga dulu begini. Suka merasa udah makan sedikit, tapi hanya perasaan saja. Haha.

Kenapa keto bisa cepet turunnya? Karena carbs itu mengikat air, jadi ya BB lebih cepat turun. Tapi kenapa bisa turun terus? Ya karena ada makanan yang nggak boleh dimakan, jadi mungkin jadi defisit kalori. Biasanya sering makan gula, ini nggak. Biasanya banyak minum susu, sekarang minum air putih aja. Biasanya berasa diet dengan makan buah sebakul, sekarang dibatasi. Kan jadi defisit kalori, toh?

Walau ada sih yang bilang kalau keto diet, walaupun nggak defisit kalori, tetap akan turun, jujur saya skeptis sih.

Jadi bisa disimpulkan, keto diet tuh emang efektif banget buat menurunkan berat badan dengan cepat, dan ini masuk di akal. Tapi untuk jangka panjang, saya rasa kurang baik ya untuk efek psikologis. Jadi macam demonize jenis-jenis makanan tertentu.

Tapi saya tetap bersyukur dengan pengalaman keto diet. Karena melalui keto diet, saya belajar sadar bahwa konsumsi gula kami sehari-hari tadinya emang terlalu banyak, dan ternyata kami bisa hidup dengan minim gula. Gula pasir di rumah kami lamaaaaaaaa banget habisnya. Kalau sesekali mau manis, kami pilih pakai stevia. Kami juga hampir nggak pernah stock minuman manis atau cemilan nggak sehat di rumah. Kalau lagi pingin ya beli atau bikin secukupnya aja. Jadi nggak di stock, karena prinsip saya out of sight, out of mind.

Melalui keto diet, saya juga belajar menghitung kalori, macros, dan membaca nutrition fact. Soalnya waktu keto kan harus memastikan nggak makan carbo lebih dari 20 gram. Nah kebiasaan ini jadi berguna walau sudah nggak keto diet.

Jadi kalau mau defisit kalori, nggak pakai perasaan, tapi bener-bener ditimbang. Karena perbedaan nasi 10 gram aja mungkin cuma 1 sendok makan, atau gula 1 sendok teh mungkin nggak terasa manisnya, atau nambah sambel mungkin nggak terasa, tapi kalau dikit-dikit ini nggak dihitung, ya bisa jadi surplus kalori.

Melalui keto diet, saya juga belajar lebih peka dengan jenis-jenis makanan yang kurang cocok dengan badan saya.

Jadi, walaupun udah lama nggak keto diet, rhinitis, maag, dan sakit kepala saya tetap jarang kambuh. Loh kok bisa? Karena saya jadi ngeh bahwa sepertinya pemicu keluhan-keluhan di tubuh saya itu adalah jenis-jenis makanan tertentu (yang kebetulan tidak dimakan pas keto). Walaupun belum pasti, hanya berdasarkan pengamatan, saya jadi bisa mengira-ngira. Contohnya kebanyakan gula dan gluten bikin saya sakit kepala dan rhinitis. Kebanyakan bawang putih, bikin maag saya kumat. Dan harus lebih hati-hati pas PMS karena pencernaan saya jadi lebih sensi. Udah, itu aja. Ternyata nggak perlu diet se-ekstrem keto buat merasakan manfaat-manfaat itu.

Jadi bisa tetap makan pisang, jeruk, dan apel, menstruasi teratur, dan nggak pernah kebas/kesemutan lagi. Kecuali kalo duduk kelamaan dalam lemari nggak ganti posisi. Eh itu mah Yoon Hye Jin. ((buat yang ngerti aja. haha))

Lalu, setelah nggak keto lagi, apakah bb saya naik? Ya pastilah! Tapi bukan karena nggak keto, tapi karena PPKM… Pelan-Pelan Kami Melar haha. Intinya karena kami nggak defisit kalori lagi. Apakah masih pengen turunin bb? Masih, tapi sekarang cukup hitung kalori aja. Dulu waktu masih belajar, saya niat timbang-timbang makanan. Sekarang pakai kira-kira aja. Turun nggak? Turun kok kalo niat, tapi jujur aja sekarang lagi nggak niat-niat banget. Jadi ya begitulah… Haha.

FYI sekarang ini saya lagi ada di BB tertinggi dalam hidup saya. Tapi body image saya jauh lebih baik. Nanti kapan-kapan pengen share juga soal ini.

Foto terbaru, adanya BW gini. Tanpa keto, bb naik tapi stabil , tapi lebih rajin OR, dan lebih bebas kulineran

Akhir kata, saya pribadi kontra keto diet, tapi saya nggak kontra orang yang memilih keto diet, asal pilih lemak-lemak sehat ya, jangan samcan, gajih, butter melulu. Karena ya menurut saya diet itu pilihan dan cocok-cocokan. Kebetulan badan saya lumayan cocok sama keto tapi pikiran saya nggak cocok.

Kalau ada yang mau tanya, boleh ya, monggo di komen.

6 thoughts on “Keto Diet – Yeay or Nay?

  1. Din, temen kita di sini jg ada yg Keto diet sampai turun 29 kg. Cuma kayaknya mmg jadi ribet kalau kemana2 hrs order special meal utk dia, gak bs sharing dengan yg lain. Gue sendiri in the past pernah diet utk kesehatan krn ngerasa udah gemuk banget dan metodenya counting calories plus olahraga, so tetep bs makan macem2. Back when I was 24 y.o. Turunnya gradual pelan-pelan tapi pasti. But that’s the only time I went on diet. Skrg gue lebih milih yang penting sehat dan bahagia daripada mikirin body bentuknya kayak apa. In the end, my husband is happy, my kids are happy with how I look. Mereka kept saying, mama gendut, tapi cuma sedikittttt. 🤣🤣

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.