Cantik

Suatu hari, Kirana bercanda pura-pura lupa namanya, lalu saya jawab “Kirana cantik”. Sejak itu, sesekali, dia suka nulis nama di worksheet dari sekolah sebagai “Kirana Cantik.” Dia juga selalu pede, ngaca, atau memuji dirinya sendiri sambil bilang “Kirana cantik”.

Selain itu, tiap malam sebelum bobo, Kirana (dan Raka juga) sering banget bilang “Mami cantik banget”…. yang membuat saya suka malu hati sendiri karena dalam hati suka merasa diri ini kurang cantik.

Saya lumayan yakin, banyak anak yang kaya gini. Yang pede bahwa dirinya cantik dan yakin bahwa mamanya adalah yang paling cantik sedunia. Yang mana sebenarnya ini ideal kan. Semua wanita harusnya merasa pede tentang kecantikannya. Kenapa kok wanita bisa dikategorikan cantik dan nggak? Berdasarkan standar apa? Kan tipe muka manusia beda-beda dan unik semua.

Membuat saya berpikir… kalau rata-rata anak-anak kecil seperti ini, mulai usia berapa standar mereka tentang kecantikan mulai terdistorsi?

Saya jadi mencoba mengingat-ingat sejak kapan standar kecantikan saya mulai terbentuk mengikuti standar dunia. Saya ingat waktu kecil, karena saking seringnya dengar orang-orang memuji kecantikan cici saya, saya tanya ke Mami saya: “cantik itu kaya apa sih?”

Berarti memang di mata anak-anak nggak ada cantik dan jelek ya. Honestly kalau dipikir-pikir, sampai saya sekitar usia SMP pun saya nggak terlalu bisa bedain orang cantik atau nggak. Karena saya inget, saya suka bingung kalau misalnya cici saya komenin bahwa temen saya cantik. Saya waktu itu nggak ngerti kenapa dia sampai bisa dibilang cantik.

Makanya kalau dipikir-pikir sampai usia itu, saya rasanya cukup pede dengan muka saya (muka ya, bukan body, karena urusan body image beda lagi nih bisa 1 post sendiri. Haha). Walaupun dari kecil sering banget dikomenin orang muka bulet, pipi chubby, hidung gede, bibir lebar, kayanya nggak sampai membuat saya insecure. Kenapa? Karena saya nggak ngerti standar kecantikan saat itu adalah muka lonjong, hidung mancung, bibir mungil. Saya nggak ngerti standar kecantikan, jadi nggak bisa insecure. Haha.

Kalau ditarik ke belakang lagi, sepertinya ini jasa orangtua saya. Sekalipun saya sering dikomenin seperti di atas, Mami saya selalu bilang saya ‘menarik’. Iya dia nggak pernah bilang saya cantik dipikir-pikir, tapi dia sering bilang saya ‘menarik’. Muka saya bulat, hidung saya besar, tapi papi saya selalu ngomongnya ‘muka hoki’. LOL.

Karena komen-komen kecil, sehari-hari, tapi positif dari mereka, sepertinya saya jadi nggak terlalu merasa kecantikan itu hal yang penting. Jadi ketika saya tambah besar dan akhirnya terpapar dengan standar kecantikan dunia, momen saya insecure masalah kecantikan terhitung nggak banyak. Bukan karena saya merasa cantik seperti standar dunia, tapi lebih karena saya merasa kecantikan bukanlah hal yang penting-penting banget. It doesn’t really matter gitu loh.

Yah begitulah saya jadi semakin yakin bahwa betapapun mengerikannya standar yang diberikan dunia, kalau seseorang punya value yang kepercayaan diri yang tertanam sejak kecil, rasanya akan lebih kuat menghadapi kejamnya komen netijen. Hehe.

Makanya kepada Kirana (dan Raka juga, tapi terutama Kirana), saya berusahaaaaa banget menahan diri komen negatif soal fisik. Dan juga berusaha mencegah orang lain komen soal fisik mereka secara negatif. Saya berusaha komenin badan mereka lebih ke arah fungsinya, dan rasa syukur buat tubuh yang Tuhan udah kasih.

Contoh, kalau saya ajak mereka olahraga dan minta mereka makan protein supaya tinggi. Saya nggak bilang badan tinggi itu lebih bagus. Tapi saya bilang, kalau sebenernya Tuhan kasih badan kamu potensi tingginya sekian tapi jadi nggak nyampe karena kurang gizi, kan sayang. Semacam itu lah.

Saya juga sering ngomongin soal standar kecantikan yang berubah-ubah sepanjang masa. Dan bahwa Tuhan menciptakan manusia itu macam-macam visualnya, tapi semuanya cantik. Entahlah ya mereka paham atau nggak, tapi harapannya pemahaman ini bisa nyantol di dalam lubuk hati mereka, kalau nanti mereka sudah mulai terpapar standar kecantikan dunia. Hehe.

Yah semoga nanti Raka dan Kirana jadi anak-anak yang percaya diri dengan penampilannya, dan juga nggak menilai orang dengan mudah hanya berdasarkan penampilannya.

Selalu cantik dengan gayanya.

8 thoughts on “Cantik

  1. Gue adalah salah satu orang yang pengen banget bawa Nico dan Ryan konsul ke psikolog, tapi di Makassar susah nemunya apalagi sekarang udah di Biak… Mudah2an suatu saat bisa bawa anak2 ke psikolog… Pengen tau sih soalnya ngedidik ni dua anak juga dikit sulit 😅

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.