Mengakhiri Tahun dengan Bouldering

Dari zaman masih sekolah dulu, saya selalu tertarik sama wall climbing. Nggak tahu kenapa, rasanya penasaran gimana rasanya manjat. Tapi dulu saya sadar diri fitness level saya rendah banget karena nggak pernah olahraga, jadi nggak pede buat nyoba. Gimana kalo nggak kuat naik sama sekali? Ditambah lagi waktu itu fasilitas wall climbing masih jarang.

Sampai akhirnya saya punya Raka. Waktu Raka umur 5 th, ada promo film Spiderman into the Spider-verse di mall dan ada wall climbing-nya. Raka langsung minta coba. Dibandingkan ukuran badan dan umurnya yang masih kecil waktu itu, Raka lumayan berani dan cepet sampe atas. Mas-mas yang jaga sampe bilang, “De, manjatnya nggak mau sekali lagi aja? Cepet amat kelarnya.” haha.

Karena Raka suka, beberapa bulan berikutnya, Mei 2019, kami ajak Raka ke Bremgra buat cobain manjat fun-wall-nya. Nah karena ini standar anak-anak dan waktu itu saya udah lumayan rajin olahraga, saya cukup pede buat nyoba. Saya dan Raka hepi banget.

Setelah itu, kami udah bahas mau balik lagi atau nyoba tempat lain, tapi lalu…. pandemi datang.

Sampai… di bulan Desember, Sasa share pengalamannya nyoba bouldering di IG story. Mumpung ada temennya, singkat cerita, akhirnya kami, bareng Pearly juga, janjian coba bouldering di Indo Climb, FX Sudirman. Hepinya lagi, anak-anak juga bisa ikutan.

Di Indo Climb ini, biaya masuknya Rp 155.000 seharian (tapi kemarin itu kita high season jadi Rp 175.000). Biaya ini sudah include kelas-kelasnya, tapi harus daftar dulu karena 1 sesi dibatasi maksimal 4 orang. Ada beberapa jenis kelas, tapi kemarin kami ikut yang interval bouldering. Untuk anak-anak juga ada kelasnya sendiri, bisa dari usia 5 tahun. Durasi kelas 1,5 jam, tapi setelah itu mau latihan terus sampe gumoh atau sampe mall tutup juga boleh.

Jadi wall climbing ternyata banyak jenisnya. Yang biasa sering saya lihat, pakai tali, itu namanya top-rope. Yang hari ini kami mau coba, namanya interval bouldering. Bouldering wall-nya nggak terlalu tinggi, mungkin sekitar 2,5 meter, dipanjat tanpa tali, tapi di bawahnya ada matras tebal, jadi kalau jatuh tetap aman. Kata coach-nya, bouldering ini buat belajar teknik-teknik dasarnya.

Di wall-nya bouldering, point pegangan dan pijakannya ada banyak banget, tapi bagian yang diinjak dan dipegang nggak boleh sembarangan dan tujuannya bukan sekedar sampai atas. Kita harus ikutin color guide dan urutan tertentu. Di situlah tantangannya. Coach-nya ngarahin kita dengan laser. Ya macam lagi cosplay jadi kucing gitu lah ngejar-ngejar sinar laser. Haha.

Level pertama lupa warna apa, tapi saya lewati dengan lumayan gampang. Level dua warna biru jauh lebih menantang, sempet jatuh tapi akhirnya bisa finish (walaupun harusnya sekali jalan tanpa jatuh baru dihitung finish ya). Level tiga warna hijau, tinggal sisa beberapa step terakhir, saya nggak bisa-bisa, jatuh terus. Akhirnya nyerah karena tangan juga udah lemes dan kebas.

Sempet coba bouldering problem juga. Kalau ini ada titik start dan finish-nya, bebas mau injek dan pegang yang mana asal warna yang sama. Ini juga ada level-levelnya. Saya bisa sampai level 2. Pas nyoba level 3, jatuh di tengah-tengah, mau coba lagi, tangan udah ga sanggup. Otot telapak tangan saya macam udah berubah jadi jelly.

Satu-satunya dokumentasi saya lagi manjat. Sepertinya paksu fotografer terlalu terpesona sampe lupa foto dan video. Haha

Jadi 1,5 jam itu, dengan bergantian 4 orang, udah energy-draining banget buat saya. Pulang-pulang upper-body sedap banget rasanya, plus bonus kulit telapak tangan ngelupas. Pedih banget tapi sedep.

Selesai sesi, kami nontonin anak-anak. Sesi anak-anak hampir sama. Tapi coach-nya ya lebih pinter handling anak-anak, nggak dipaksa juga. Yang pasti Raka dan Kirana seneng banget.

Ini pengalaman pertama buat Kirana, dia sama sekali belum pernah coba wall climbing sebelumnya. Awalnya sempat agak takut-takut, tapi kemudian dia malah lebih semangat daripada Raka. Sampai nggak mau pulang. Pas kita udahan, mau makan malam, dia masih bilang setelah makan mau balik lagi. Haha luar biasa.

Lalu mau balik lagi, nggak? Mau deh kayanya. Saya nggak suka-suka banget sampai pengen menekuni rutin, tapi sebagai rekreasi sih saya suka. Sense of achievement-nya itu menyenangkan banget. Haha. Apalagi anak-anak juga pengen balik lagi.

Yah begitulah kegiatan akhir tahun kami. Hepi banget bisa mengakhiri tahun dengan mencoba sesuatu yang baru barengan. Kalau akhir tahun kamu, ngapain?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.