Obrolan Setelah Menonton Turning Red

Saya denger tentang Turning Red pertama kali dari Raka dan Kirana karena mereka nggak sengaja lihat trailernya. Karakternya red panda gitu kan lucu banget ya, jelas aja mereka tertarik.

Seperti biasa, saya cari-cari review dulu sebelum ajak anak-anak nonton film. Saya biasanya suka lihat review dari ortu-ortu lain commonsensemedia.org. Situs ini, para ortu bisa memberi review film tertentu. Mereka juga menginfokan usia anaknya. Dari review-review ini, kita jadi bisa mengira-ngira apakah film tersebut benar-benar apprpriate untuk anak kita dan sesuai dengan value keluarga.

Apalagi Turning Red temanya tentang puberty, jadi saya lumayan worry. Takutnya ada sisipan isu-isu yang nggak sesuai dengan value keluarga kami. Tapi akhirnya saya putuskan masih OK ditonton asal saya bener-bener dampingi, jadi bisa langsung dibahas dan diluruskan kalau ada yang aneh-aneh.

FYI usia Raka 8,5 tahun dan Kirana 5,5 tahun.

Ternyata nonton film ini jadi membuka diskusi dengan Raka, yang menurut saya cukup bermakna dan saya bersyukur karenanya. Kalau Kirana sih dia ikut-ikutan nonton tapi nggak terlalu fokus, cuma seneng liat red pandanya aja.

Btw Spoiler Alert ya….

.

.

.

.

.

Tentang orangtua yang tidak sempurna

Setelah beberapa kali adegan mamanya marahin Mei, Raka mulai komen.

R: “Jahat ya mamanya”
D: “Kenapa?”
R: “Ya, mamanya marah-marah terus”
D: “Iya, bener sih. Tapi sebenarnya mamanya cuma pengen jagain Mei, takut dia terluka.”
R: “Iya, terus mamanya nggak mau denger penjelasan Mei, nggak tahu Mei sukanya apa.”
D: “Iya sih, itu salah. Makanya ortu emang juga bisa salah. Tapi anak juga perlu cerita ke Mamanya, kalau nggak gimana ortunya bisa ngerti?”
R: “Ya, itu kan udah bilang mau nonton konser, tapi nggak diijinin.”
D: “Coba, kenapa ga diijinin? Karena tiketnya mahal, dan memang mamanya juga nggak ngerti betapa pentingnya nonton konser itu buat Mei. Mamanya cuma ngelarang aja tanpa kasih penjelasan atau solusi.”
R: “Iya!”
D: “ya, makanya menurut Mami sih, memang mamanya Mei banyak salahnya. Tapi Mei sebagai anak juga harus bantu mamanya buat mengerti dia. Kan sebenarnya hubungan mereka di awal baik tuh, ada scene bikin bapao bareng, mereka ngobrol sambil bercanda, tapi Mei nggak cerita ke mamanya soal apa yang disuka. Mungkiiin… mungkin kalalu mamanya tahu bahwa Mei segitu sukanya sama boyband itu, mamanya bisa lebih ngertiin. Ya sama-sama salah lah mereka berdua. Buat sebuah hubungan, hubungan apapun, termasuk hubungan ortu dan anak, harus ada usaha dari dua-duanya. Jadi kita juga gitu ya, Ka. Kamu sampe gede harus terbuka sama mami tentang perasaan kamu, masalah kamu, apa yang kamu suka dan ga suka. Nanti makin kamu gede, punya kemauan sendiri, mungkin ada hal-hal yang bikin kita berantem, tapi kamu juga harus bantu Mami buat mengerti kamu.”

…………

R: “Iya, terus mamanya juga maunya nilai Mei sempurna terus.”
D: “Ya salah satu tugas orangtua kan mempersiapkan anaknya supaya siap mandiri waktu dewasa nanti. Mamanya merasa kalau anaknya punya banyak skill dan prestasi, hidupnya akan lebih mudah. Apalagi dia ngeliat anaknya memang pinter.”
R: “Iya, mamanya juga pasti digituin juga sama mamanya dulu (neneknya Mei)”
D: “Nah! Itu kamu tahu. Semua ortu tuh pasti sedikit banyak ngikutin gimana ortunya ngasuh dia dulu. Kaya mami ngasuh kamu, pasti ngikutin caranya gimana dulu Oma ngasuh Mami, tapi mungkin yang menurut Mami kurang baik, diperbaiki. Semua ortu pasti gitu kok, tapi ya tetep aja nggak akan sempurna. Kaya mamanya Mei, dia kan uda lebih baik daripada neneknya dulu. Mamanya sama neneknya kan telepon aja nggak mau, tapi mamanya dan Mei bisa cukup akrab. Yah itulah, ortu berusah kasih yang terbaik buat anaknya, tapi ya pasti tetap nggak sempurna.”
R: “Papa di surga sempurna.”
D: “Haha, iya bener. Cuma Dia yang sempurna”

…..

About blessing and curse

R: “Kenapa ya kok (ability to change into) red panda itu tadinya dianggep blessing, tapi terus malah mau dihilangin (ability-nya)?”
D: “Menurut kamu, kalo kamu punya ability itu, buat kamu jadi menyenangkan apa ngerepotin?”
R: “Menyenangkan”
D: “Masa sih? bukan ngerepotin? Nanti pas emosi lagi nggak terkontrol tahu-tahu berubah?”
R: “mmm… kalo gitu, satu hal yang sama, bisa dianggep blessing, bisa dianggep jelek?”
D: “Yes! Bener! Pas Mei pertama denger soal ini kan dia bilang: this is a curse, not a blessing! Tapi ya bener yang kamu bilang, sebuah hal bisa dianggep blessing atau curse, tergantung gimana kita melihatnya. Makanya kan Papi Mami selalu ingetin kamu penting punya ‘skill bersyukur’. Karena dalam kondisi apapun, kamu bisa pilih mau lihat itu sebagai blessing atau curse. Dan pasti kita lebih sukacita kalau selalu bisa ngeliat berkat Tuhan dalam segala kondisi. Contohnya keadaan Covid ini. Ada banyaaaaak banyak yang bisa kita keluhin. Tapi kalau kita mau ‘cari’ blessing-nya, bisa juga. Oooh… karena harus stay at home, kita jadi bisa banyak family-time. Apalagi pas awal-awal, papi WFH, hampir tiap hari kita main di luar, main bola, piknik di luar, main bubble, tembak-tembakan air, inget nggak?”
R: “Oh iya! bener juga ya”

….

Inilah yang saya suka dari nonton film atau baca buku bareng, karena jadi bisa membuka obrolan lebih mendalam.

Sampai jumpa di obrolan bareng Raka berikutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.