Bendirana ke Museum Bahari

Hari Minggu kemarin, spontan Benny ide ngajak anak-anak ke Museum Bahari sepulang gereja.

Dulu sebelum pandemi memang kami lumayan sering main ke museum atau galeri sepulang gereja. Tapi selama pandemi belum pernah, nih. Kenapa ke Museum Bahari? Nggak tahu juga ya, si Benny tiba-tiba mau aja, menurut dia kayanya bagus tempatnya. Saya langsung setuju karena belum lama ini Raka juga nanya-nanya soal kenapa Belanda jajah Indonesia, tentang VOC, dan rempah-rempah. Cocok lah.

Sampai di lokasi, saya merasa bapak penjaga loketnya sumringah banget. Mungkin karena museumnya sepi banget, jadi seneng kalo ada yang datang? Entah lah. Tapi jujur ya, ini museum di Jakarta yang saya merasa semua staff-nya tuh ramah-ramah dan passionate banget.

Tiketnya cuma Rp 5000 buat dewasa dan Rp 2000 buat pelajar. Saya nanya soal guide, si pak penjaga langsung telepon minta guide-nya dateng, sekalian dia juga langsung tunjukin tulisan bahwa guide di sini gratis. Kami dikasih brosur tentang Museum Bahari dan Taman Arkeologi Onrust, dan waktu anak-anak terlihat curious sama gambar di brosur, langsung dijelaskan oleh bapak penjaga tiket dengan antusias.

si bapak yang dari kami datang sampai kami pulang, ramah dan semangat banget

Setelah itu kami bertemu dengan guide kami. Entah kenapa kami dikasih 2 guide (kayanya liat ada tamu lain, cuma dikasih 1 guide), namanya Nathan dan Adi. Mereka ini masih muda dan cara ngomongnya enak dan semangat. Maklum saya expect-nya guide gratisan di museum tuh…. ya… begitulah. Mungkin ekspektasi saya yang kerendahan.

Sejak awal, mereka menjelaskan dengan interaktif dan pinter menarik perhatian anak-anak. Yang pasti kami tuh bisa merasakan bahwa mereka passionate dengan pekerjaanya. Pengetahuan mereka tentang item-item di museum-nya juga mumpuni, cukup memuaskan Raka dan pertanyaan-pertanyaannya yang terkada nyeleneh. Seneng banget liatnya.

Salah satu pertanyaan Raka, pas ditunjukin radio buat komunikasi di kapal phinisi Nusantara yang ikut event tahun 1986: “Kapalnya ada listrik? Ini kok ada colokannya?”. Yang membuat mas Nathan dan mas Adi terdiam sejenak, lalu baru menjawab: oh iya mungkin ada generator untuk keperluan darurat. Haha.

Buat saya pribadi, banyak hal yang baru saya dengar hari itu dan cukup berkesan.

Seperti tentang proses pembuatan kapal dari satu batang pohon utuh (bukan dari susunan papan-papan), yang dibuang ‘isinya’, lalu diasapi sehingga memuai membentuk kapal.

Lalu tetang kapal Phinisi Nusantara yang pada tahun 1986 ikut event berlayar dari Jakarta ke Vancouver selama 90-an hari sampai dapet international recognition.

Lalu tentang kapan Dewa Ruci yang sudah singgah di puluhan negara dan sekarang dipakai latihant taruna-taruna angkatan laut.

Lalu yang sangat berkesan tuh tentang Laksamana Malahayati, dia pejuang angkatan laut dari Aceh. Setelah suaminya meninggal, dia membentuk pasukan para janda prajurit perang, disebut Inong Balee. Pasukan ini yang akhirnya membunuh Cornelis de Houtman.

Langsung terpesona soalnya keren banget ya kisahnya, macam Wonder Woman gitu. Trus heran, kan Cornelis de Houtman ini tenar banget ya di pelajaran sejarah, tapi kok rasanya saya nggak pernah denger nama Laksamana Malahayati, apalagi mengingat kisahnya yang dramatis gitu. Kok bisa? Atau pas bahas materi ini saya lagi ngantuk di kelas?

Ada juga ruangan dokumentasi kebakaran Museum Bahari. Jadi museum ini pernah kebakaran hebat di tahun 2018. Ruangan ini adalah bagian yang terbakar waktu itu, jadi kita bisa membandingkan bagian lantai yang lama dan baru. Di sini juga dipamerkan berbagai foto dokumentasi kebakaran dan barang-barang yang terselamatkan. Jujur saja walaupun harusnya suram atau malah serem? Ruangan ini malah lumayan fotogenic.

Ada satu lagi yang bikin saya terkesan. Jadi di Museum Bahari ada maket plan kota Jakarta tentang wisata bahari. Di mana perairan-perairan di Jakarta dibuat saling sambung menyambung, sehingga kita bisa jalan-jalan dan stop di banyak tempat wisata, dengan kapal gitu, macam di Venezia.

Rancangan ini dibuat oleh mantan gubernur kita….. Basuki Tjahaja Purnama, yang seperti bisa diduga…. rencana ini akhirnya hanya tinggal rencana. Padahal keren banget loh kalo sampe bisa jadi, walaupun sih pelaksanaannya memang penuh rintangan pastinya. Nggak kebayang berapa banyak tanah yang harus ‘dibebasin’ buat jadiin proyek ini.

Tuh kaya di Venezia kan

Ruangan terakhir yang kami kunjungi adalah ruang pameran project mahasiswa desain interior UPH. Wow almamater saya nih walaupun beda jurusan. Jadi ternyata tugas studio mereka semester lalu adalah redesign interior dan display Museum Bahari. Tentu saja cakep-cakep bener hasil redesign-nya. Tapi kalau dibikin kaya gitu, tiket masuknya sudah pasti tidak Rp 5000. Hehe.

Museum tour hari ini diakhiri dengan naik ke Menara Syabandar. Menara ini masih termasuk di dalam komplek Museum Bahari. Dulunya menara ini adalah titik nol kota Batavia sekaligus bangunan tertinggi di masanya. Gunanya sebagai menara pengawas (sekaligus mercusuar kalo ga salah — yang ini saya lupa-lupa inget).

Kalau bawa anak kecil, boleh dipikir baik-baik sebelum memutuskan naik ke menara ini ya. Nggak tinggi-tinggi banget sebenernya, mungkin sekitar 4 lantai? Tapi tangganya sangat curam dan lumayan bahaya. Apalagi mengingat sebenernya di atas ya nggak ada apaa-apa, cuma bisa melihat pemandangan dari atas aja. Raka dan Kirana naik dan turun dengan aman sih, tapi mamaknya deg-degan. Hehe

Sekian jalan-jalan kami ke Museum Bahari. Sejujurnya secara display, museum ini nggak sekeren museum lain seperti Museum Nasional atau Museum Bank Indonesia misalnya. Lightingnya banyak yang kurang OK, koleksi banyak yang kurang terawat, dan sebagian besar ruangan gerah (entah nggak ada AC atau ada tapi minim). Udah gitu museumnya 2 lantai tapi aksesnya cuma tangga (dan tangganya ini jadul, sepertinya masih bawaan bangunan aslinya yang sudah tua itu), jadi kurang ramah untuk anak dan lansia.

Walaupun kepanasan dan kecapean jalan, Raka sepanjang tour museum kelihatan antusias dan banyak tanya. Sedangkan Kirana jujur aja banyak ngeluh dan minta pulang karena kepanasan. Tapi dia bertahan sampai akhir dan di beberapa koleksi, cukup tertarik juga.

Tapi seperti saya bilang di awal, Mas Nathan, Mas Adi, dan staff-staff lainnya membuat kunjungan museum kali ini jadi paling berkesan dibanding kunjungan kami ke museum-museum sebelumnya. Bener-bener deh staff-staff-nya hari itu ramah semua dan semangat nunjukin kami ini itu. Pas kita lagi istirahat, duduk sambil makan es krim, kedua guide kami juga semangat ngajak ngobrol anak-anak. Luv banget. Saya jadi pengen ngulang ke museum-museum yang pernah kami kunjungi, tapi kali ini dengan guide.

Sedikit info, kita boleh bawa minum dan kamera. Sekali lagi, karena di dalam gerah, bawalah minum yang banyak. Kalau kehabisan minum sih sebenarnya menjelang pintu keluar, mereka jual minuman dingin dan es krim, tapi kalo hausnya di tengah-tengah kan repot ya.

Semoga museum-museum di Indonesia semakin cantik memoles diri, bisa hire staff-staff yang cakap dan passionate.

Mas Adi & Mas Nathan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.