Membiasakan Anak Duduk di Car Seat

Udah lama pingin sharing ini, karena dulu ada beberapa orang yang tanya. Tapi dulu belum pede takut nge-jinx terus anak saya mutung nggak mau duduk di car seat lagi. Haha.

Sekarang Raka udah hampir 8 tahun, Kirana hampir 5 tahun, dan keduanya masih taat dan setia duduk di car seat masing-masing. Jadi rasanya boleh lah ya saya sharing.

Dari hasil mendidik dua anak, saya merasakan sendiri kalo membiasakan anak duduk di car seat tuh bisa jadi sangat challenging tapi juga bisa mulus-mulus saja. Jadi kalau ada yang sedih merasa anaknya kok nggak mau duduk di carseat, jangan sedih, bun! Usaha kami pun nggak mulu-mulus saja.

Disclaimer dulu… walau saya pro-car-seat, bukan berarti saya memandang orang yang nggak pakai car seat tuh salah ya. Selama belum ada aturan jelasnya, walaupun saya sangat suggest pemakaian car seat karena alasan keamanan (siapa sih yang tahu kapan kita bisa mengalami kecelakaan?) pakai car seat hanya sebuah pilihan parenting saja. Sama kaya mau milih ASI atau sufor, menu tunggal atau lima bintang, botol dot atau pipet. Masing-masing bisa mempertimbangkan untung ruginya untuk anak-anaknya. Jadi saya sharing ini khusus untuk ortu dan calon ortu yang sudah memutuskan mau pakai car seat, tapi bergumul dengan prosesnya.

Kenapa Pakai Car Seat?

Karena kemungkinan challengingnya sangat besar, menurut saya penting untuk menetapkan di awal dalam hati kita, kenapa sih kita mau disiplin pakai car seat? Ini penting karena di Indonesia belum ada regulasi penggunaan car seat untuk anak-anak dan penggunaan carseat sendiri juga belum terlalu umum.

Jadi bersiap-siaplah menghadapi komentar-komentar Opa, Oma, atau bahkan stranger yang mempertanyakan kenapa kok kita pakai car seat. Juga bersiap-siap menghadapi kegalauan diri sendiri ketika kita mulai lelah menghadapi anak yang menolak duduk di car seat.

Kalau saya sendiri, jujur saja alasan saya pakai car seat, selain keamanan (tentu saja), juga alasan kemudahan.

Saya nggak pernah pakai helper untuk ngurus anak. Sementara Benny kan kerja. Jadi saya ingin punya keleluasaan nyetir sendiri, nggak perlu bergantung pada orang lain kalau mau pergi.

Pergi sendirian bawa dua anak pun, aman….

Saya bisa nyetir dengan tenang, tanpa kuatir kalau ngerem mendadak, dan tanpa kuatir ada anak yang berdiri-berdiri, merengek mau pindah ke kursi depan, atau mau ikutan nyetir di pangkuan saya.

Sekarang ini, saya merasakan banget manfaat car seat. Udah beberapa kali anak-anak tidur di car seat, lalu mobil ngerem mendadak, tapi mereka aman karena ketahan seat belt car seat. Pernah pas mereka nggak pakai car seat, langsung glundung ke lantai mobil.

Selain itu, car seat udah kaya jadi zona pribadi mereka. Anak-anak saya tuh aslinya nggak bisa diem banget. Tanpa car seat, mereka lompat sana sini di mobil. Tapi kalau ada car seat, mereka langsung merasa itu daerah mereka, duduk manis, daaaan karena di antara kedua anak ada jarak, mengurangi peluang berantem di mobil. Haha.

Selain itu, boleh juga googling tentang bagaimana car seat berjasa menyelamatkan anak waktu terjadi kecelakaan. Ini bisa jadi motivasi yang kuat. Coba aja search: Car seats save lives

Kapan Mulai Pakai Car Seat?

Anak-anak saya cuma nggak pakai carseat waktu pulang dari RS setelah lahiran. Setelah itu, hampir selalu pakai car seat sampai sekarang.

Kalau nggak salah, ini Kirana usia satu minggu, kontrol pertama ke dokter anak.

Ada kesempatan-kesempatan tertentu nggak pakai carseat, misalnya kalau ada yang mau ikut mobil kami dan nggak muat pakai car seat, jadi anak-anak terpaksa dipangku. Ini nggak ideal sebenernya. Tapi kalau kami sih masih fleksibel ya untuk urusan ini apalagi menyangkut keluarga.

Tapi tiap kali mereka nggak pakai car seat, kami kasih tahu dulu di awal, bahwa ini kejadian khusus aja, karena ada keperluan lain. Dalam kondisi biasa, mereka tetap harus duduk di car seat.

Pakai Car Seat apa?

Supaya ekonomis, saya pilih convertible car seat yang bisa dipakai dari newborn sampai usia 3 tahun. Tentang pilihan jenis car seat udah pernah saya tulis di sini, tapi karena udah 8 tahun lalu, mungkin pilihan brand dan tipenya udah jadul.

Setelah survey sana-sini, mempertimbangkan size yang cukup di mobil, nggak bikin sempit, dan brand terpercaya, car seat pertama anak-anak adalah Combi Coccoro. Review-nya dulu udah pernah saya tulis di sini.

Combi coccoro punya padding untuk newborn, bisa dipasang rear facing maupun forward facing. Raka pakai ini sampai usia 3 tahun, lalu lahirlah Kirana.

Waktu Kirana lahir, Coccoro dipakai Kirana, sedangkan Raka naik kelas ke Combi Buon Junior, review singkatnya pernah saya singgung di postingan ini.

Bulan lalu, saya lihat, Kepala Kirana sudah melewati tinggi Coccoro-nya. Sebenarnya Coccoro bisa dipakai sampai 3 tahun sedangkan Kirana udah hampir 5 tahun tapi karena badan dia kecil, masih muat-muat aja. Cuma kalau kepala udah lebih tinggi dari car seat, udah harus ganti.

Jadilah Kirana sekarang pakai Combi Buon Junior, sementara Raka naik kelas, pakai unbranded backless booster. Tadinya mau beli Sparco, tapi kok maximum weight-nya cuma 30 kg, sementara Raka udah lebih. Akhirnya beli yang unbranded dari Cina yang klaim maximum weight-nya lebih besar.

The Car Seat LadyWhen is a child ready to use a booster seat? - The Car Seat  Lady
Buon Junior termasuk high back booster. Sekarang Raka pakai backless booster seperti yang di kanan.

Tips Membiasakan Anak Duduk di Car Seat

Setelah prolog yang panjang, sampailah kita di menu utama.

Tips-nya sebenarnya cuma tiga: preparasi, konsistensi, dan durasi.

Preparasi

Sebelum perjalanan, pastikan anak kenyang, dan nyaman. Kalau newborn, pastikan dia nyusu (dan sendawa) dan ganti popok bersih, tepat sebelum berangkat. Jadi kalau nanti dia nanti dia rewel, kita yakin cuma karena protes aja nggak mau duduk di car seat, bukan karena ada penyebab lain.

Karena waktu newborn, posisi car seat-nya rear facing, saya pakai car seat mirror. Saya rekomen banget punya cermin kaya gini. Jadi kita bisa ngecek kondisi bayi sewaktu-waktu dari kaca spion tengah. Dan kalau anaknya udah mulai gede, dia nggak berasa sendirian karena bisa ngeliat muka kita.

Jadi cerminnya dipasang di sandaran kursi belakang, menghadap muka anak (posisi car seat rear facing). Btw ini Kirana gembil amat ya.
Mungkin gambar 1 orang
Lalu dari pantulan cermin tersebut, mantul lagi di spion tengah, jadi kita bisa cek dari depan tanpa harus nengok ke belakang. (Ini Raka btw)

Untuk bayi yang sudah lebih besar dan toddler, mirip-mirip sebenernya. Sebelum pergi, pastikan dia kenyang, hepi, dan udah ke toilet. Tambahannya, bawain mainan favorit, minuman, dan snack yang mudah dimakan, dalam jangkauan tangan dia.

Mungkin gambar 1 orang
Ketiduran sambil pegang snack.

Konsistensi

Ini bagian paling susah. Menurut saya, sebenernya kita bisa ngajarin apapun ke anak, termasuk duduk di car seat. Masalahnya cuma gampang atau susah ngajarinnya. Dan kuncinya ya cuma konsistensi. Kalau ternyata anak kita model yang gampang-gampang saja, ya puji Tuhan. Kalau ternyata mereka yang protesnya kenceng banget, ya terserah kitanya, kuat atau nggak, mau lanjut atau nggak?

Anak molos dari seat belt? Saya nggak pernah ngalamin sih, tapi temen saya ada. Menurut saya mungkin seat belt-nya kurang kenceng. Harusnya dalam kondisi terpasang, seat belt anak nggak bisa ‘dicubit’, jadi memang kenceng banget. Apa iya bayi bisa meloloskan diri kecuali dia Harry Houdini? Tapi mungkin kalau memang ada yang anaknya akrobatik dan lentur banget, mungkin bisa kalau model seat belt-nya 3-point-harness kayak Coccoro. Jadi sebenarnya lebih aman 5-point-harness seperti gambar di bawah. Kalau masih bisa lolos juga, ada yang namanya harness-anti-escape untuk car seat, monggo googling ya.

FAQs – SaskSeats – Child Passenger Safety
Sumber: saskseats.ca

Anak nangis sepanjang jalan? Been there done that. A lot. Kuncinya kembali konsistensi. Jangan gara-gara dia nangis trus kita langsung luluh dan gendong. Makanya perlu memastikan dulu bahwa mereka dalam kondisi aman dan sejahtera, jadi kita bisa yakin mereka cuma complain aja. Untuk yang ini, pepatah berakit-rakit dahulu, bersenang-senang kemudian, sangat berlaku. Oh iya, putar lagu atau white noise kadang bisa membantu juga.

Komentar julid? Duh masih bayi kecil… kasian ditaro di car seat, digendong aja lah. Duuuh anaknya nangis, nggak mau tuh… kasian. Yakinlah bahwa kalau ternyata rem mendadak, bayi lebih aman di car seat daripada di gendongan kita. Dan yakinlah, mereka yang julid ketika prosesnya sulit, tetap akan memuji ketika melihat hasilnya anak-anak kita sampai besar duduk tertib di car seat.

Pasangan nggak tegaan? Ini seriiiing. Kadang saya yang nggak tega, kadang Benny. Untungnya kita selalu bisa saling menguatkan.

Durasi

Nah ini penting tapi sering dilupakan. Ada yang heran kok anaknya nggak betah duduk di car seat lama-lama. Lamanya seberapa?

Kalau saya nggak salah, maksimal bayi duduk di car seat itu 2 jam. Setelah itu harus diangkat, digendong dulu, istirahat dulu lah. Kita aja duduk diem 2 jam pegel kan? Menurut saya malah kalo bisa jangan sampe 2 jam. Satu jam aja kalau buat bayi-bayi dan toddler yang masih kecil.

Jadi jangan merasa gagal kalau anaknya nggak betah duduk diam di car seat dalam perjalanan Jakarta-Bandung.

Sampai Kapan Anak Duduk di Car Seat?

Raka mulai tanya ini pas dia masuk sekolah karena ngeliat temen-temennya nggak ada satupun yang duduk di car seat.

Kalau di Amrik sana aturannya anak-anak duduk di booster seat sampai tingginya 4 feet 9 inch (sekitar 140 cm). Walaupun di sini nggak ada aturannya, saya juga mengikuti pedoman ini. Tujuannya supaya posisi seat belt bisa optimal melindungi dan menahan badan kalau rem mendadak.

Proses belajar tak selalu mulus. Ada kalanya berderai air mata.
Tapi percayalah akhirnya akan bahagia

Choose Your Hard

Listening to your kids crying in their car seat is hard.
Screaming to your kids not to jump in the car is hard.
Choose your hard.

Stay consistent while your kids begging to get out of car seat is hard.
Seeing your kids hurt because of the sudden brake is hard.
Choose your hard.

…..

Ada yang mau ditanyain lagi soal car seat? Monggo tanya di kolom komen ya, kali aja bisa jadi bahan post berikutnya.

4 thoughts on “Membiasakan Anak Duduk di Car Seat

  1. Fotonya ada yang ga keluar Din, antara foto gembil Kirana dan pinch test ada 2 foto yang entah napa ga keluar pas gue baca.
    Ga ditanya tapi gue mau info, gue ga pake car seat karena ga sependapat sama bapake dan males berdebat muahahaha. Selalu kagum sama orang tua yang konsisten pakein carseat ke anak2nya di Indo karena di sini ga umum banget.

  2. Gue termasuk pendukung car seat garis keras. Jauh lebih banyak positivenya sih. Jadi inget ada temen yang anaknya males-malesan pakai carseat, ended up milih susternya yang pangku. Giliran ke LN, road trip, harus pakai car seat, anaknya nangis nonstop setiap perjalanan. Emaknya udah mau gila katanya dan roadtripnya jadi nggak enjoyable. Di LN kan dendanya ganas banget. Makanya mending dibiasain deh, jelas aman, jelas nyaman (buat ortu dan anaknya).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.